MUSE

MUSE
S7 ~ TANGGUNG JAWAB!



MUSE S7


Episode


S7 \~ TANGGUNG JAWAB


Lama kelamaan, Levin dan Johana menjadi dekat. Oh, benarkah cinta bisa datang karena terbiasa?


____________


Levin terlihat syok saat membaca isi pesan Leoni yang menyuruhnya datang dalam waktu lima menit. Saat itu Leoni kira Levin ada di rumahnya. Rumah mereka kan berada di dalam satu komplek yang sama, tentu saja waktu lima menit bakalan cukup.


Namun sayangnya, saat itu Levin ada di sebuah toko kue, mengambil kue pesanan Kalila untuk merayakan ulang tahun Arvin. Toko kue dengan jarak lima kilo, mana mungkin lima menit cukup.


Levin tancap gas, mobil hitam mewah yang dibelinya untuk Leoni kini kembali ke tangannya. Tanpa sempat membalas pesan Leoni, ia langsung bergegas menemui gadis itu. Harusnya lima menit tidak akan cukup, namun setidaknya sebagai laki-laki ia telah berusaha secepat mungkin untuk sampai.


“Terima kasih, Neng! Ini kembaliannya.”


“Makasih, Bi.”


“Hati-hati, ya. Berat hlo!”


“Tenang aja, kurus begini saya wonder woman kok, Bi!!” Johana membeli sekantong beras dan sebuah galon air di warung kelontong dekat rumah.


Dengan motor metic ia meletakkan galon di antara kedua kakinya, bagian depan yang cukup legang untuk menaruh ukuran galon yang besar.


Johana bersiul ringan sembari pulang menuju ke rumah mungilnya. Tanpa Johana sadari, dari arah lain, sebuah mobil hitam mewah mengebut di jalanan sepi.


Johana menyebrang sedangkan Levin juga hendak menyebrangi perempatan jalan. Keduanya terkesiap, terkejut bersama. Tanpa menunggu aba-aba refleks Levin menginjak gasnya dalam-dalam dan memutar kendali mobil supaya tidak menabrak Johana. Sementara Johana kehilangan keseimbangannya karena galon air yang berat lalu limbung dan terjatuh.


“AAAKKHH!!” Pekik Johana kesakitan. Kakinya tertindih motor dan juga air sementara tangannya menahan tubuh agar kepalanya tidak terantuk aspal.


“Astaga!!” Levin terkejut, ia langsung bergegas keluar dan melihat keadaan Johana.


Semua orang berkerumun untuk membantu Johana bangkit. Johana terjatuh, meski sepertinya tubuhnya baik-baik saja tapi kakinya tidak.


“Bagaimana ini??” Johana terduduk sembari menangis, ia melihat galon airnya pecah dan berasnya berhamburan. Ah … padahal harus menghemat uang asuransi kematian orang tua untuk menunjang kehidupannya sampai lulus sekolah. Kini ia harus mengeluarkan uang untuk membeli lagi galon air yang baru dan juga beras satu minggu kedepan. Argh ... sangking sedihnya ia sampai tidak sadar kalau tangan dan kakinya berdarah.


“Kau tidak apa-apa??” Levin menghampiri Johana, kelalaiannya membuat gadis itu hampir saja terluka parah dan bahkan mungkin kehilangan nyawa.


“Tak apa gimana sihh?? Nggak lihat Enengnya terluka!! Ayo tanggung jawab!” Para warga menghujat Levin.


Levin sadar dengan kesalahannya. Ia langsung membopong tubuh lemas Johana untuk berobat ke rumah sakit.


“Ayo ke rumah sakit. Aku akan meminta orang untuk mengantarkan motornya ke bengkel.” Levin menenangkan hati Johana.


Johana mengangguk pasrah, Keduanya menaiki mobil Levin menuju ke rumah sakit. setelah beberapa saat ia baru merasakan rasa sakit yang teramat sangat menggerogoti kaki dan lengannya. Keringat dingin menetes sepanjang perjalanan ke rumah sakit, membuat Levin panik.


“Maafkan aku, tolong bertahanlah.”


Johana pucat pasi, Levin mempercepat laju kendaraannya sampai tiba di rumah sakit. Ia tak peduli dengan ponselnya yang terus berdenting karena pesan masuk dari Leoni.


Sesampainya di rumah sakit, Levin meminta dokter terbaik untuk merawat Johana. Lalu setelah Johana mendapatkan pertolongan, Levin mengurus semua kekacauan yang ia timbulkan.


Menyuruh beberapa orang kepercayaan sang ayah untuk membawa motor Johana ke bengkel. Mengganti galon air dan beras. Juga ada satu buah mobil yang tak sengaja terserempet oleh mobilnya saat oleng ke trotoar.


Levin pun mengurus semua administrasi rumah sakit. Ia berjanji untuk membayar semua pengobatan Johana sampai ia sembuh total.


Tanpa sadar, baterai ponselnya habis. Jangankan menghubungi Leoni, terbersit sedikit pun tidak karena Levin benar-benar panik kala itu. Ia hampir membunuh seseorang tanpa sengaja.


“Bagaimana Dok?” Levin menanyakan keadaan Johana.


“Begitu ya, syukurlah. Pokoknya lakukan tindakan yang terbaik dok. Saya akan membayar berapa pun biayanya. Berikan dia kamar yang terbaik.” Levin mengangguk.


“Baik. Kalau begitu silahkan hubungi keluarganya untuk mengkonfirmasi tindakan medis.”


Levin beralih pada Johana yang tertidur lemas di ranjang ruang gawat darurat sebelum dipindahkan ke ruang rawat inap.


“Hei, bagaimana keadaanmu?” tanya Levin, Johana hanya tersenyum tipis dan mengangguk sebagai kode bahwa ia baik-baik saja.


“Mereka butuh data pasien dan juga persetujuan keluarga. Boleh aku minta nomor orang tuamu?”


Johana bergeleng, bukan tidak boleh, namun ia tidak punya keluarga. Johana hidup sebatang kara.


“Eh?? Serius kau tidak punya keluarga? Satu pun yang bisa dihubungi?” Levin terkesiap, ia hampir saja menjatuhkan dagunya bila saja dokter tidak masuk untuk mendesaknya.


“Bagaimana?”


“Ah, biar orang tuaku yang menggantikan orang tuamu!” Levin akhirnya menghubungi kedua orang tuanya dan menyelesaikan urusan administrasi.


Lantas siapa yang akan menjaga Johana sampai ia sembuh? Tak ada orang yang mengenal Johana karena gadis itu baru beberapa bulan berada di kota itu. Ia pendatang. Dan keluarga pun tak ada.


“Hei, boleh aku tahu namamu?” tanya Levin saat mengisi data pasien.


Johana melihat wajah Levin dan membandingkannya dengan foto-foto idolanya. Juara dunia motor GP tahun ini. Kenapa wajahnya mirip sekali?? Mungkinkah Levin punya kembaran?? Kan Levin memang berasal dari Indonesia. Tidak Levin tak punya kembaran, jadi dia pasti adalah Levin idolanya.


“Hei, siapa namamu??” tanya Levin lagi.


Johana diam saja, wajahnya justru bersemu kemerahan saat mendengar suara Levin yang begitu jantan.


“Hei …”


“Johana! Namaku Johana.” Johana menyahutnya dengan ceria.


“Ok.” Levin mengangguk.


Johana terus menatap wajah Levin yang begitu tampan dan sempurna. Sungguh model yang sempurna untuk menjadi Muse dalam karyanya. Ah sayang sekali, ia tak bisa meneruskan patung wajahnya karena tangan kirinya terluka. Dokter memasangkan gips untuk beberapa hari ke depan.


“Levin??” tanya Johana lirih.


“Bagaimana kau tahu namaku??” Levin terkesiap, ia sudah menutupi wajah dengan tudung jaket.


“Kau sungguh Levin??” Johana berseri-seri, ia tersenyum manis sembari mengulurkan tangannya yang tidak terluka, ponsel Johana menyala, penuh dengan wajah Levin saat mengikuti pertandingan balap.


“Ah … ketahuan!!” Levin tak menyangka ponsel dengan layar remuk itu bisa menguak jati dirinya.


“Aku penggemarmu!!” Johana tersenyum. Levin menghela napas panjang.


Akhirnya Levin menjaga Johana. Ia juga menyerahkan ponselnya untuk sementara waktu pada Johana karena ponsel Johana rusak total terlempar di aspal jalan. Kasihan bila Johana mati bosan karena tak ada kegiatan.


Selama rawat inap, Levin tak pernah meninggalkan sisi Johana dan berada di sampingnya. Tiap detiknya begitu berharga bagi Johana, namun begitu menyiksa bagi Leoni. Levin tak menghubunginya karena sibuk merawat Johana. Bahkan setelah Johan diijinkan pulang pun Levin masih menjaga Johana di sisinya karena Johana belum bisa melakukan apa pun sendirian.


Lama kelamaan, Levin dan Johana menjadi dekat. Oh, benarkah cinta bisa datang karena terbiasa?


Hmm … bolehkah aku berharap? Batin Johana saat ia melihat Levin dengan telaten menyuapinya makan.


...— MUSE S7 —...


Nah, Hlo …. Leoni!! Saingan cintamu keluar nih!!