
MUSE S5
EPISODE 23
S5 \~ SELAMATKAN AKU
\~Selamat tinggal, Lucas. Mungkin kau benar, kita tidak pernah ditakdirkan untuk bersama. Setidaknya terima kasih karena telah memberiku seorang anak yang akan menggatikan cintamu padaku.\~
________________
AUTHOR POV
“Nick!! Nick!!!” Kalila berteriak dari bawah tangga untuk memanggil anak laki-lakinya.
“Iya, Mom. Sebentar.” Nick masih asyik menggambar di atas kasur jadi menjawab seadanya.
“NICK!!”
“Kak, dipanggil, Mommy terus tuh!” Gabby yang sedang asyik membaca komik di kamar Nick pun ikut menimpali.
“Nanggung banget, nih!” Nick mengasir sketannya, bakatnya menurun dari Kalila, sayangnya satu Nick menggunakannya untuk menggambar ...
“Emangnya lagi gambar apa, sih??” Gabby langsung menyahut buku gambar Nick.
“Ee ... eh!!!” pekik Nick kelabakan, ia hampir terjatuh saat mencoba melindungi gambarnya.
“Wah!!! Daebak!! Dasar laknat emang!! Di sekolah aja sok image cowok cool, di rumah kelakuanmu b*ngsad emang!! Hahaha ...! Otaku mesum.” Gabby tertawa dan mengumpati kakaknya begitu melihat hasil gambar Nick. Ia menggambar k*men rider dan monster cewek sedang melakukan hubungan intim.
“Heleh!! Kamu juga sama ajakan, sukanya baca komik pornoo!!” Nick menyahut buku gambarnya, wajahnya memerah.
“No, bukan pornnoo, ini komik romance!!”
“Dengan bumbu adegan sekks hampir di tiap lembarnya itu namanya pornoo!!” Nick hendak keluar dari kamarnya, namun pintu kamar mendadak terbuka, membuat kepalanya terantuk pintu.
DUK!!
“Aduh!!” pekik Nick.
“Puft ...!” Gabby menahan tawa.
“Anak ini!! Mommy panggil sampai serak nggak turun-turun!!” Kalila langsung ngomel.
“Aduh sakit, Mom.”
“Ngapain sih dari tadi ndekem di kamar?” Kalila berkacak pinggang.
“Ini, Mom, Kak Nick gambar ini.” Gabby melaporkan perbuatan laknat kakaknya.
“Hei!! Gab!!” Nick hendak menyahut gambarnya, tapi Kalila sudah terlebih dahulu menerimanya.
“Dasar anak ini!!” Mata Kalila membelalak saat mengetahui hasil kerja anaknya. Dengan buku gambar itu Kalila mengeplak berkali-kali kepala Nicholas.
“Ampun, Mom. Ampun!!”
“Rasain!!” Gabby menjulurkan lidahnya bahagia.
“Gabby juga, Mom. Dia baca komik pornoo.” Nick mengadu, mata Gabby langsung melotot tajam padanya.
“Benarkah?” Kalila langsung melihat ke arah Gabby.
“Nggak kok, baca buku biologi.” Gabby menyembunyikan komiknya di balik buku pelajaran.
“Bohong banget!!” sergah Nick.
Kalila menyahut buku pelajaran biologi Gabby dan menemukan sebuah komik berisikan kisah cinta antar sesama jenis! Bagaimana Kalila nggak syok coba??
“Gabby!!! Dasar maling teriak maling!!” Kalila menjewer telinga Gabby.
“Aduuuh ...!” lengguh Gabby panjang.
“Kalian berdua, ya?!! Aku kira kalian yang paling normal karena Inggrid dan Levin mirip Arvin!! Ternyata tetap darah emang lebih kental dari pada air!!” Kalila naik darah, ia menghukum ke dua anaknya berdiri dengan satu kaki dan saling menjewer telinga.
“Gara-gara kamu!!” lirih Nick sebal ke arah Gabby!!
“Gara-gara Kakak!!” Gabby nggak mau kalah, ia menjewer telinga Nick lebih kencang.
Kalila menghela napas panjang, kelakuan nakal mereka benar-benar membuatnya kesal. Yah, Kalila harus maklum, Arvin juga seperti itu, bukan?
“Kenapa cari Nick, Mom?” tanya Nick, pertanyaannya membuat Kalila tersadar.
“Oh, iya bener. Daddy mu meninggalkan dokumen pentingnya untuk rapat sore ini. Bisa kau antar ke sana, Nick?” tanya Kalila.
“Siap laksanakan!!”
“Segeralah berangkat!! Sepertinya mendung.” Kalila melirik ke arah awan gelap yang menyelimuti langit sore.
“OK!! Nick naik motor deh biar cepetan sampai.” Nick menyahut jaket dan juga kunci motornya.
“Ikutan!!” Gabby merenggek.
“Nggak!! Kamu tetap berdiri sambil jewer telingamu!” Kalila menghentikan langkah kaki Gabby, gadis manis itu kembali pada hukumannya sambil memanyunkan bibir.
“Rasain!!” Nick masih sempat mengejek Gabby sebelum keluar dari kamarnya.
— MUSE S5 —
BELLA POV
Aku terus terdiam pasrah, aku merasa sakit dan bersalah karena tak bisa melindungi anak yang kukandung. Aku terlalu lemah, terlalu naif, dan terlalu bodoh. Harusnya dulu aku tak menyerahkan tubuhku pada Lucas, harusnya aku tak mengandung anak ini, harusnya kau tak pernah hadir dalam hidupku, jadi aku tak perlu merasakan pahitnya kehilangan dirimu.
Maaf, ya, bahkan kau masih terlalu kecil untuk mengerti, terlalu kecil untuk merasakan rasa sakit ini. Sekali lagi maaf, aku gagal menjagamu. Pikirku.
Aku berjalan pasrah mengikutin ke dua orang pria yang menyeret tubuhku. Aku gagal melindungi anakku, aku gagal menepati janjiku yang akan menyayanginya saat dia lahir nanti.
Suasana koridor klinik begitu suram dan dingin. Angin basah berhembus sangat kencang, sepertinya hujan deras akan segera turun. Aku terdiam, tak bisa lagi berkata-kata, hanya memilih untuk menghabiskan sisa waktu bersama anakku dalam balutan nyeri yang menggores hati.
“Hemp ...!” Rasa mual kembali terkecap, aku memuntahkan sedikit air kecut dari mulutku dan membuat kedua pria itu merasa jijik.
“Hei!!! Kenapa muntah di tanganku??”
“Maaf, perutku mual. Aku wanita hamil, aku tak bisa mengontrol rasa mualnya,” jawabku.
“Sialan!! Ini menjijikan!” bentaknya.
“Tolong ijinkan aku muntah terlebih dahulu.” Pintaku, aku melirik ke arah mama yang mengikuti kami dari belakang.
“Lepaskan dia!!” Mama mengizinkanku masuk ke dalam kamar mandi untuk melanjutkan reaksi tubuh akibat hormon kehamilan itu.
Aku bergegas berlari ke kamar mandi, memuntahkn lagi semua isi perutku yang hampir tak tersisa. Aku mengelus perutku sambil menangis, rasa mual ini menandakan bahwa dia benar-benar berdetak di dalam tubuhku. Nyawa kecil ini benar-benar sedang berjuang untuk hidupnya. Kenapa aku yang lebih besar dan punya kekuatan malah tidak memperjuangkan hidupnya??!
Maaf, tak seharusnya aku menyia-yiakan keberadaanmu.
Aku bergegas bangkit, mencari sesuatu yang bisa mengganjal pintu toilet. Aku mengganjalnya dengan gagang pel dan juga mengunci pintunya. Untung saja klinik ini adalah bangunan lama dengan jendela-jendela yang cukup besar.
Kumohon, Sayang, kuatlah!! Mama akan berjuang untukmu, dan kau berjuanglah untuk Mama!! Pegangan yang kencang, kita pergi dari semua hal memuakkan di dunia ini. Kita bangun dunia indah yang penuh cinta kasih untuk kita berdua.
PRANG!!!
Aku memecahkan kaca jendela dan meloncat keluar dengan memanjat closet. Aku tak peduli lagi dengan luka gores yang menyayat siku dan lututku. Darah segar langsung mengalir, membuat bajuku basah dan berubah warna.
Aku menengok ke bawah, cukup tinggi juga, namun aku sudah bertekat kabur, aku tak boleh takut atau pun menyerah. Aku melepaskan tanganku dan terjatuh pada tanah, meringis kesakitan, aku memeriksa perutku sebelum beranjak bangkit. Untunglah tak ada pendarahan atau pun nyeri.
Anak baik, teruslah bertahan OK, pintaku dalam hati.
Kedua orang suruan mama tak tinggal diam, mereka langsung menggedor pintu begitu mendengar suara kaca yang ku pecahkan.
JRESS!!!
Seperti yang ku duga sebelumnya, hujan turun dengan deras, bercampur dengan angin dingin. Derasnya hujan semakin memperlambat langkah kakiku, ditambah dengan luka pada lututku yang membuatku berjalan terpincang-pincang.
“Hah ... hah ... hah ...!” Aku mulai kehabisan napas dalam derasnya hujan dan ketakutan.
“BERHENTI!!! Dasar sialan!!” teriakan mereka berdua membuatku semakin panik.
Aku tak boleh menoleh kebelakang, menoleh kebelakang hanya akan menghambat langkahku. Aku tetap berlari lurus, menembus masuk ke dalam tanah kosong di samping klinik. Penuh pohon pisang dan juga tanaman rambat yang tak ku ketahui namanya.
Kakiku terseok-seok, membuat mereka semakin mudah mengejarku. Namun aku tak boleh menyerah, aku harus pergi!
“Tertangkap Kau!!! Dasar pel4cur kecil!! Larimu kencang sekali!!”
“Ach!!” teriakku.
Sialan!! Mereka berhasil menangkapku. Aku kembali ketakutan, dadaku bergerak naik turun karena deruan napasku yang tak menentu, lelah, sakit, amarah, dan keberanian yang datang entah dari mana bercampur menjadi satu. Dengan sekuat tenaga aku menggigit tangannya.
“ARGH!!! SIALAN!!!”
PLAK!!
Lelaki itu menamparku, membuatku terjungkal dan terperosok pada turunan curam. Aku menggelundung beberapa kali, tergores ranting dan juga dedaunan kering.
“Aaahh!!!” Rasanya sangat sakit Ya Tuhan!! Tulang-tulangku berasa remuk redam.
Hujan masih turun, aku melihat ke arah langit luas. Masih berusaha menemukan fokus pengelihatanku dan juga menata tubuhku. Genangan air membuat wajahku penuh dengan lumpur, bajuku tak lagi berwarna merah, telah berganti menjadi coklat karena noda lumpur yang sama.
“Dia jatuh!! Kita ke sana!!”
“Cepat!! Cepat tangkap dia!!”
Aku masih bisa mendengar dengan samar suara mereka. Aku tersadar, saat ini bukan saatnya meratapi kesakitanku. Aku harus bangkit atau aku akan kehilangan dirinya.
Tinggal sedikit lagi, Nak!! Bertahanlah!!
Aku kembali bangkit, berjalan cepat sambil terpincang-pincang menuju ke jalan raya. Derasnya hujan membuat jalanan sepi. Aku nekat berusaha menghadang kendaraan yang lewat untuk menolongku.
Sebuah motor membuatku terkesiap, cepat-cepat aku meloncat ke tengah jalan dan membentangkan tanganku untuk menghentika lajunya.
Kumohon kumohon!!! Berhentilah!!! Pekikku dalam hati, aku memejamkan mataku karena reflek akan rasa takut saat hendak tertabrak,
CITTT!!!!
Motor itu berhenti, membuat kelegaan memenuhi hatiku.
“Kumohon tolong aku!! Kumohon!!” Aku mendekati pengendara motor, aku tak bisa melihat wajahnya karena helm racing yang dipakainya menutup semua kepala.
Dia hanya diam dan melirik ke arah arlojinya. Sesaat kemudian dia mengamatiku.
“HEI!! BERHENTI! JANGAN KABUR!!!” teriakan orang suruan mama kembali terdengar.
“Kumohon!!! Tolong aku!!” Aku kembali memelas padanya.
“Baik, naiklah!!” Ia memberi kode dengan jempolnya agar aku naik.
Tanpa menunggu lagi aku menaiki motornya, aku memegang erat tubuhnya yang basah karena hujan deras. Motor sport hitam itu melaju pergi membawaku keluar dari neraka ini.
“Hei, apa yang terjadi??” tanyanya di tengah perjalanan.
....
Aku hanya diam, aku tak bisa menceritakan semuanya karena ini adalah aib yang begitu memalukan.
“Bagaimana aku bisa menolongmu kalau kau tidak menceritakan keadaannya,” katanya lagi.
“Maaf, aku tak bisa menceritakannya. Bisa kau antarkan aku ke alamat ini?” Aku memintanya untuk mengantarku pulang.
“Baiklah! Kebetulan searah.”
Setelah berucap, pria itu memutar gas motornya, melaju cepat dalam derasnya hujan dan sepinya jalanan. Aku terus memegang perutku, tubuhku menggigil kedinginan dan aku tak ingin anakku ikut merasakan rasa dinginnya.
“Sampai.”
“Terima kasih, aku pasti membalas budimu!!” Aku menuruni motornya.
“Baiklah, aku ada urusan penting jadi harus pergi. Aku harap masalahmu segera berakhir.” Dia langsung bergegas pergi meninggalkanku tanpa mengucapkan namanya.
Aku hanya sempat melihat tangan kirinya, pada buku jari tengahnya ada sebuah tanda lahir berbentuk seperti bintang.
Kalau kita bertemu lagi, aku pasti akan membalas kebaikanmu, janjiku.
Aku tak punya waktu untuk bersantai, dengan cepat aku masuk ke dalam rumah, mengguyur cepat lumpur yang mengotori tubuh dan rambut. Aku memotong rambut panjangku dengan pisau dapur. Rambut baru akan membuat mereka tak bisa mengenaliku. Setelah selesai, cepat-cepat aku melepaskan baju kotor dan membuangnya sembarangan. Lantas, bergegas mengambil kaos kering dan memakainya.
Tanganku tak berhenti bekerja, memasukkan beberapa pakaian ganti, dompet, dan juga ponsel ke dalam tas. Lalu aku memakai sepatu kets yang nyaman. Aku menghentikan darah yang keluar dari pelipis dan juga siku dengan menekankan perban seadaanya dari kotak P3K.
GRAK!! BRAK!! BRAK!!
Aku terbelalak, cepat sekali mereka telah berhasil kembali?!
Tanpa menunggu lagi, aku menyahut tasku dan keluar dari pintu belakang. Menutup kepalaku dengan tudung jaket dan berlari masuk pada sebuah bis yang kebetulan berhenti di halte dekat rumah. Aku tak tahu ke mana bis ini akan membawaku pergi. Yang pasti aku harus segera pergi menunggalkan kota ini!!
Meninggalkan semua kesesakkan!!
Meninggalkan semua cinta!!
Meninggalkan semua masa lalu!!
Untuk meraih cinta dan masa depan yang baru, tentu saja dengan malaikat kecilku.
Selamat tinggal, Lucas. Mungkin kau benar, kita tidak pernah ditakdirkan untuk bersama. Setidaknya terima kasih karena telah memberiku seorang anak yang akan menggantikan cintamu padaku.
— MUSE S5 —
SEKILAS INFO
Author: weits ketemu lagi di sekilas info. Lama nggak bikin soalnya episode-episode lalu bikin nyesek bin nangis.
Author celingak celinguk mencari bintang tamunya hari ini.
Jay : hallo thor. Lama ga jumpa.
Author: JAY!!! (Langsung peluk cium Jayden sampai lemes)
Jay: stop thor ini ilernya nempel semua.
Author ma happy ketemu kamu kales Jay.
Jay : Thor kok JAKA nggak lanjut-lanjut?
Author: JAKA lagi proses pindah di Novel Me soalnya nggak terkontrak di mangantoon.
Jay : Oh Begitu.
Author : mana di sini Jaka juga nggak ada yang baca!! Kan sedeehh!!!
Jay : cup cup cup!! Aku doain deh thor, author rengginan segera jadi author femes 😘😘
Author : (semaput karena di cium Jayden)
Jay: yah yah yah... jangan pingsan donk Thor. Ya udah gaes sembari nungguin author sadar kalian jangan lupa klik like dan bagi commentnya ya. Jangan lupa juga Vote.. kasihan author rengginan kalau nggak femes-femes 😂😂😂