MUSE

MUSE
S6 ~ MISTERIUS



MUSE S6


EPISODR 23


S6 \~ MISTERIUS


\~Gabby sangat yakin, ada orang lain yang membuntutinya, Gabby berputar, mencari keberadaan sosok manusia, namun tak ada penampakan apapun.\~


______________________


Dua hari kemudian, Gabby merasa semakin aneh. Setiap hari ia merasa ada seseorang yang misterius tengah membuntutinya. Seperti saat berjalan ke minimarket dekat apartemen malam ini untuk membeli camilan, ada derak langkah pelan yang seakan berjalan di belakangnya.


“Siapa itu?” Gabby menoleh, tak ada orang.


“Keluarlah! Jangan jadi pengecut!!” sergah Gabby lagi.


...


Hening. Gang kecil di belakang apartemennya sepi, tak lama kemudian ada kendaraan lewat.


Apa hanya perasaanku saja? Semenjak pulang dari hotel aku semakin paranoid. Gabby melengguh kesal di dalam hatinya.


Gabby mempercepat langkah kakinya, berjalan pulang menuju ke gedung apartemen. Keluar dari gang kecil yang biasanya dia gunakan untuk memotong jalan.


“Besok lagi aku lewat jalan raya saja.” Gabby memeluk lengannya sendiri karena merinding.


Sesampainya di trotoar depan apartemen seseorang memeluk Gabby dari belakang, lagi-lagi Gabby harus berjengit sangking kagetnya.


“Dari mana malam-malam, Schatz?”


“Ivander?! Berhentilah membuatku kaget!!” Gabby mencibirkan bibirnya sebal, ia memukul dada Ivander,


“Kau kenapa, sih?” Ivander melepaskan pelukkannya karena pukulan Gabby. Wajah tampannya berkerut. Keheranan, padahal dia sama sekali tak mengendap-endap, bahkan Ivander menutup pintu mobilnya cukup keras. Gabby yang melamun, gadis itu yang paranoid.


“Hei, aku biasa saja, Sayang! Kau yang melamun.” Ivander mengusap lengan Gabby, menenangkan hatinya.


“Huft, aku benar-benar ketakutan tahu! Seperti ada orang yang membuntutiku akhir-akhir ini.” Gabby mengeluh, kakinya lemas.


“Benarkah! Cih, pasti pria itu!!” Ivander berdecis.


“Pria itu?” Gabby menautkan alisnya.


Ivander menceritakan keperluannya datang malam ini. Ia telah berhasil mendapatkan data tentang Park Jae Hyung, ingin segera menyampaikannya pada Gabby. Namun Gabby tengah keluar, apartemennya terkunci. Dan diluar pintu apartemen ia bertemu dengan seorang pria, ia sedang bersandar pada pintu kamar, juga menunggu Gabby.


“Oh, ya??” Gabby mencelos, siapa pria yang mendatanginya malam-malam?


“Benar, aku bertanya apa keperluannya, dia malah bertanya balik. Sialan! Aku hampir mengajaknya bertengkar karena berkata dia tidak sopan kepadaku!” Ivander mengesak tangannya ke dalam saku celana.


“Seperti apa perawakannya, Van? Seperti apa wajahnya?” tanya Gabby bingung.


“Dia memakai celana training, sepatu jordan, jaket hoodie yang lengannya dilipat sampai ke sikut, ada tatto pada lengan dan lehernya. Rambutnya berhigh light pirang, sisi pinggirnya habis, tapi bagian tengahnya panjang dan ia menguncirnya macam samurai jepang. Kalau wajahnya tak terlihat, dia memakai masker.” Ivander mencoba mengingat postur dan busana yang dikenakan pria itu.


“Apa gambar tato pada lengannya?” tanya Gabby.


“Oh, sepertinya tatto malaikat.”


“Malaikat Michael?”


“Dunno, tak terlalu jelas.”


“Oh, jangan hiraukan dia.” Gabby langsung mengenali cowok misterius yang disebutkan oleh Ivander.


“Siapa dia, Gabby! Jangan bilang kau punya lelaki lain selain aku.” Ivander cemburu karena Gabby terlihat sangat mengenalnya.


“Aku punya banyak pria dalam hidupku, Van. Bukan hanya dirimu.” Gabby tertawa, dengan cepat ia menaiki lift, Ivander mengerkornya.


“Yang benar saja?!” Ivander mendelik marah.


“Bagaimana? Tidak enakkan dimadu? Lalu kenapa dulu kau menyakiti hati banyak wanita?” Gabby menarik sudut bibirnya.


“Itukan dulu, sekarang aku sudah berubah. Setia hanya kepadamu, Liebie!” Ivander menarik sikut tangan Gabby, membuat wanita itu memandang kesungguhannya.


“Puft ... kau menanggapinya dengan serius?” Gabby terkikih, “aku mencintai Krystal sebelum mencintaimu, Van. Aku hanya tertarik pada wanita, bukan pria.”


“Lalu siapa pria itu?” Ivander menunjuk ke arah cowok yang berdiri tegap di dinding koridor depan apartemen Gabby, ia masih pada posisinya tadi sembari melipat tangannya di depan dada. Bedanya ada satu lagi pria dengan postur tubuh sama, memakai jaket bomber berwarna coklat muda, tangannya masuk ke saku jaket.


“Ah, sudah ku duga.” Senyuman Gabby terulas begitu lebar.


“Hei, Nuna!! Sialan! Ke mana ponselmu? Aku cemas karena tak bisa menghubungimu! Aku sampai menghubungi, Kak Nick!” sergahnya begitu Gabby mendekat, ia menatap tajam ke arah Ivander.


“Nuna?” Ivander mencelos.


“Dia adikku, Levin, ini Kakakku, Nick. Mereka lelaki lain di dalam hidupku.” Gabby memeluk Levin, mengelus pucuk kepalanya. Lavin menikmati usapan tangan Gabby, kangen dengan cara Gabby memanjakannya.


“Jadi ...?” Ivander mengkerutkan alisnya, pria yang diajaknya beradu mulut barusan adalah adik Gabby.


“Hei, putuslah dengan Kakakku! Cowok kasar sepertimu tak pantas untuknya.” Levin menatap sebal pada Ivander.


“Puft ...,” Nick menahan tawanya, hanya mereka yang tahu kalau Gabby adalah wanita yang jauh lebih kasar dari kebanyakan pria pada umumnya.


“Sialan! Mikirin apa?!” Gabby menginjak kaki Nick.


“Aduh! Cewek kok kasar!”


“Ayo masuk! Kita ngobrol di dalam!” Ajak Gabby, mereka berempat masuk ke dalam.


Levin baru saja sampai di ibu kota, ia langsung menuju ke apartemen Gabby karena kangen dengan Kakak tercintanya. Namun setibanya di apartemen, pintunya terkunci dan ponsel Gabby tak bisa dihubungi. Karena cemas, Levin bergegas menghubungi kakaknya, Nick. Tak lama Ivander datang, mereka beradu mulut sampai akhirnya Ivander turun dan memilih untuk menunggu Gabby di dalam mobil.


“Jadi sudah sampi mana?” tanya Levin. Nick langsung mengeplak kepala Levin.


“Abang sialan!” umpat Levin.


“Apa maksudmu menanyakan hal itu anak kecil?” Wajah Gabby memerah.


“Ehem ....” Ivander hanya bisa berdehem.


“Aku bukan anak kecil, umurku sudah 23 tahun!” Levin berdecak.


“Tetap saja kecil di mataku!” Kikih Gabby.


“Kau di Indo sampai kapan?” tanya Nick.


“Sampai Leoni mau aku bawa ke Eropa,” jawab Levin.


“Kalian bertengkar?”


“Sudah dari SMP kami tidak akur.”


“Tapi cintakan?” Nick menempeleng kepala Levin.


“Cintalah, kalau nggak ngapain aku pulang jemput dia?” Levin menghenyakkan punggungnya pada sandaran kursi.


“Aku roaming!” bisik Ivander pada telinga Gabby, ia benar-benar tak mengerti dengan obrolan mereka.


“Leoni itu pacar adikku,” jawab Gabby.


“Kenapa mereka berpisah?”


“Levin pembalap, dia tinggal di Eropa. Leoni tak mau punya pacar pembalap, takut kecelakaan, takut kehilangan.” Gabby berbisik pada Ivander.


“Ah, begitu, heh!! Apa baru saja kau bilang dia pembalap??” Mata Ivander membelalak.


“Iya, Motor GP, joki salah satu brand milik Jepang.” Gabby mengangguk bangga dengan prestasi adik bontotnya itu.


“Großartig!” puji Ivander.


(Hebat sekali.)


“Hei lepaskan tanganmu dari Kakakku!” sergah Levin.


“Hei! Aku pacar Kakakmu, berarti aku calon abangmu!” tandas Ivander tak mau kalah dengan bocah ini.


“Tetap saja, aku belum bisa menerimanya. Kau dan Kakakku pacaran,” tandas Levin,


“Hei, Levin!! Ayo kita pulang, kau tidur di apartemenku saja!” Nick mengajak Levin pulang ke rumahnya, tak ingin membuat suasana semakin rancu,


“Hah ... OK!” Levin menurut setelah membuang napasnya kasar.


“Kami pulang dulu, Gabby. Kau yakin baik-baik saja? Kau terlihat pucat?” Nick mengecup pipi Gabby.


“Aku baik-baik saja, Kak. Hanya kurang tidur.” Gabby mengangguk.


“Masih memikirkan Krystal? Bukankah sudah ada Ivander yang menggantikan keberadaannya? Berhentilah mencari pembenaran Gabby, berbahaya.” Nick menasehati adiknya.


“Krystal punya arti tersendiri dalam hidupku.” Gabby mengulum senyuman simpul, mencoba menghilangkan rasa pahit yang kembali muncul.


“Hah, baiklah! Jaga dirimu, ya.”


“Ok,” jawab Gabby.


“Bye, Nuna. Aku membelikanmu tas LV, tapi aku tinggal di rumah.” Levin memeluk Gabby.


“Thankiss, Boy! Istirahatlah! Kau pasti lelah.” Gabby lagi-lagi mengusik rambut adiknya.


“Jangan mau dihamili olehnya, Nuna! Pakai pengaman!” ucapan Levin membuat wajah Gabby bersemu merah, malu sekaligus kikuk.


“Anak kecil tahu apa?” Jewer Gabby.


“Aduduh ... dibilang aku bukan anak kecil lagi!” Levin berseru sebal.





Akhirnya keributan berakhir saat keduanya meninggalkan kediaman Gabby. Ivander tersenyum melihat bagaimana akurnya para saudara Gabby. Orang tuanya pasti mendidik mereka dengan baik.


“Adikmu sepertinya tak suka padaku?” Ivander menerima Gabby saat gadis itu masuk ke dalam pelukkannya.


“Hahaha ... dia memang begitu sejak dulu.” Gabby terkekeh.


Gabby memeluk Ivander di atas sofa, menikmati aroma tubuhnya yang maskulin. Merasakan kenyamanan dan kedamaian, beberapa hari ini hidupnya terasa melelahkan karena terus dibayangi ketakutan. Hawa dingin yang menusuk terus hadir ke mana pun dia pergi.


“Jadi bagaimana dengan Hyung?” tanya Gabby.


“Dia seorang pilot, pernah mengikuti wajib militer dan menjadi pasukan udara sementara. Dia pernah mendapatkan latihan sebagai pasukan militer khusus,m. Selain itu dia sudah pernah punya istri yang sangat kaya, namun meninggal karena kecelakaan. Lalu Hyung mewarisi semua harta kekayaan istrinya itu,” tutur Ivander panjang lebar.


“Jangan-jangan dia membunuhnya juga! Siapa tahu demi harta?” Gabby berspekulasi.


“Mungkin.” Ivander mengangkat bahunya.


“Sepertinya Hyung yang punya motif paling kuat,” desis Gabby, walaupun hanya mengandai-andai, tapi Gabby merasa begitu janggal dengan tingkah Hyung.


“Lagi pula, kenapa harus menginap di lantai 14? Kenapa harus di belakang kamar Krystal?” Gabby memijit pelipisnya, semakin pusing dengan kemungkinan-kemungkinan yang ada.


“Sudahlah! Berhenti memikirkan Krystal! Sudah malam, lebih baik kau istirahat.” Ivander mengecup kening Gabby:


“Baiklah.” Gabby mengangguk.


“Jangan lupa kunci pintunya, selalu pakai mobil, hindari gang-gang sempit yang sepi.” Ivander memperingatkan Gabby.


“Baik, Van.” Gabby tersenyum.


“Gutes Mädchen!” Ivander mengecup bibir Gabby sebelum meninggalkannya. Mereka berpanggutan cukup lama dan dalam.


(Gadis pintar)


Tak lama kemudian Ivander sudah berbelok pada ujung koridor. Meninggalkan Gabby untuk kembali ke kediamannya.


— MUSE S6 —


Plok ... Plok ... Plok ...!


Para penonton berdiri dan memberikan tepukan tangan mereka untuk penampilan Gabby malam hari ini. Setelah vakum cukup lama karena tangannya terluka, hari ini Gabby muncul kembali menjadi pengisi acara sebuah teater musik klasik.


“Terima kasih,” ucap Gabby sambil membungkuk. Ia menyapu sekeliling, Ivander tidak terlihat hadir untuk menontonnya. Padahal dia sudah memberikan tiket VIP padanya. Gabby berdesis sebal, mungkinkah Ivander lupa? Atau memang sengaja lupa karena telah memiliki wanita lainnya? Kalau sampai hal itu terjadi Gabby pastikan Ivander akan kehilangan belalai gajahnya esok!


“Ok, beres, aku tinggal untuk meringkas barang lainnya ya?” Pamit manager Gabby setelah membantu Gabby berganti pakaian.


“Thanks, ya.” Senyum Gabby lebar, ia telah berganti dengan celana panjang dan jaket kulit, menyandang biolanya dipunggung seperti biasa saat menaiki motor. Gabby melupakan nasehat Ivander, dia menaiki motor karena jam pentasnya mepet, tak akan sempat bila ia harus menaiki mobil dan membelah macetnya jalanan ibu kota.


“Aku pulang,” pamit Gabby pada crew.


“Hati-hati!” salam mereka.


Gabby menyelusuri anak tangga menuju ke basement parkir motor. Parkiran mulai sepi karena malam telah larut. Para penonton juga sudah pulang ke kediaman mereka. Hanya beberapa motor dari para crew dan tim panggung yang masih terlihat.


Gabby menderapkan langkahnya, membelah diagonal lapangan parkir yang luas agar bisa segera sampai ke motornya.


Tap, tap, tap


DEG!!


Gabby menghentikan langkah kakinya, ia memasang pendengarannya, suara napas pelan dan derap langkah kecil mengikutinya. Gabby sangat yakin, ada orang lain yang membuntutinya, Gabby berputar, mencari keberadaan sosok manusia, namun tak ada penampakan apapun.


“Keluarlah!! Siapa di sana?” teriak Gabby.


“Shit!!! Jangan bersembunyi!! Keluar dan hadapi aku!” Gabby kembali berteriak.


Tak ada suara, hening, hanya udara dingin dan suasana mencekam. Sesekali terdengar suara kendaraan dari arah jalan raya. Gabby mulai berkeringat dingin, tangannya bergetar hebat. Ketakutan melanda hatinya, siapa yang membuntutinya??


“KELUAR!!!” teriakkan Gabby menggema pada ruangan bawah tanah itu.


Hening ...


“Shit!!” Gabby akhirnya memutuskan untuk berlari lebih cepat ke arah motornya.


Tak lama seseorang ikut berlari, menerjang dengan cepat ke arahnya. Dengan lincah ia meloncati beberapa balok pengaman ban mobil. Tangan kanannya membawa tongkat pemukul baseball.


Gabby membelalak ketakutan, ia terus berlari!


“TOLONG!!!” teriak Gabby ketakutan.


Dengan segera ia mengayuhkan tangannya. Tanpa penahan apapun sebuah pukulan benda tumpul mengenai kepala belakang Gabby. Lebih tepatnya pada bagian punggung dan lehernya. Seketika itu juga Gabby oleng, tubuhnya ambruk, rebah ke bawah lantai beton yang keras.


Kepalanya terasa begitu sakit dan pening, pandangannya mulai kabur. Gabby samar-samar masih bisa melihat ke atas, mencoba untuk mengenali siapa yang memukulnya. Rambutnya panjang dan berwarna merah kecoklatan, seringai kepuasan mewarnai wajahnya. Terlihat dari sudut bibirnya yang memincing. Bibir yang sangat merah, aroma pekat parfumnya membuat Gabby semakain pusing dan akhirnya tak sadarkan diri!


“Wanita brengsek!! Beraninya kau mengambil Ivander dariku!” geramnya marah.


— MUSE S6 —


Yo Muse up!!


Like


Comment


Dan


Vote


Sudah aku kasih spoiler MUSE S7, Ya, tentang Levin dan Leoni, karena MUSE S6 sudah hampir berakhir. tapi sebelum lanjut ke S7, author mau hiatus satu bulan. Tetep ditunggu ya. ❤️❤️