MUSE

MUSE
S5 ~ SEORANG AYAH



MUSE S5


EPISODE 50


S5 \~ SEORANG AYAH


\~Terima kasih, Sayang. Sudah hadir kedunia ini. Terima kasih karena berkatmu aku menjadi seorang ayah\~


___________________


LUCAS POV


Darah merang mengalir dari lipatan siku lengan menuju ke sebuah kantong. Kantong itu terus bergerak berputar perlahan di atas sebuah alat. Aku tak tahu nama alat itu, mungkin tujuannya membantu agar darah yang keluar tidak cepat membeku.


Mereka hanya mengambil satu kantong, namun aku bersikeras menyuruh mereka mengambil dua kantong darah. Aku bisa, aku masih bisa menahannya agar Aiden bisa mendapatkan donor darah segera. Aku juga telah menghubungi Miller menyuruhnya mencari orang dengan golongan darah B, seperti Aiden.


Kepalaku terasa pening dan berkunang-kunang. Kehilangan banyak darah memang membuatku lemas, tak heran para pendonor aktif mengatakan, ‘kalau mau nge-fly secara sehat ya dengan donor darah’. Kini aku tahu maksud mereka.


“Lucas!” Bella memapahku begitu aku keluar dari ruangan. Ia membantuku duduk pada kursi besi di koridor RS.


“Di mana Aiden?”


“Di ICU, dokter membuatnya mendapatkan perhatian ekstra.” Tangis Bella kembali terdengar.


“Tenang, Ella. Aku yakin dia akan baik-baik saja, dia mirip denganku, bukan? Aku yakin dia juga kuat sepertiku.” Aku hanya bisa merengkuh pundaknya, memberikan kehangatan dan ketenangan pada tubuh Bella yang terus bergetar ketakutan.


“Lucas, terima kasih.”


“Kenapa? Aiden juga anakku. Kau tak perlu berterima kasih padaku.”


“Aku tahu, tapi tetap saja aku harus berterima kasih padamu. Terima kasih, Lucas,” isakan berubah menjadi raungan keras.


Lagi-lagi aku hanya bisa mendekapnya, dan mengelus lengan Bella. Membuatnya tenang.


“Aku akan menemui Aiden, Ella. Kau mau ikut?” tanyaku lembut.


“Iya, aku mau.” Bella mengangguk, aku membalasnya dengan senyuman.


Kami berdua berjalan beriringan masuk ke dalam ruang ICU, pertama dokter tak mengizinkan karena bukan jam besuk. Namun setelah mendengar penjelasan bahwa aku belum sempat menemuinya membuat dokter piket itu iba.


“Baiklah, sebentar saja. Pasien butuh istirahat.”


“Terima kasih, Dokter,” ucapku.


Kami berdua memakai baju pelindung khusus, mencuci tangan, dan memakai serandal karet dari RS, saat masuk kita sebisa mungkin tak membawa kuman dari luar.


“Silahkan, Tuan.” Seorang suster menyuruhku masuk ke dalam, Bella mengekor.


Terbaring seorang pria kecil, suster telah mengganti pakaiannya dengan piama rumah sakit. Wajahnya terlihat tenang karena tertidur dengan obat penenang, ada dua buah selang, yang pertama infus, yang kedua selang transfusi darah, selang itu bertemu pada satu jalur. Aku melihat bahwa kantong berisi darahku telah disalurkan padanya.


Bibir mungil Aiden terlihat pucat, punggung jemarinya yang mungil sedikit lebam karena pengaruh transfusi darah. Pasti rasanya sangat menyakitkan. Dengan cepat aku mencari kasa alkohol, mengelus punggung tangan itu agar tidak terlalu nyeri.


“Biar aku saja, Lucas. Kau pasti lemas karena kehilangan banyak darah.” Bella mencoba untuk menarik tanganku, namun aku mencegahnya.


“Biarkan aku melakukannya, Ella. Biarkan aku menjadi seorang ayah yang baik untuknya.” Mataku berkaca-kaca, entah dari mana datangnya kesesakkan ini? Yang pasti aku merasa sangat bersalah karena tak pernah mengetahui keberadaannya sampai usianya 4 tahun.


“Aku bahagia bisa melihatnya, Ella. Sungguh.” Air mataku akhirnya menetes, tak pernah aku kira bahwa aku akan menjadi secengeng ini di hadapan wanita yang ku cintai.


“Lucas.” Bella langsung memelukku, ia mendekap erat tubuhku.


“Izinkan aku merawat kalian, izinkan aku memberikan keluarga yang utuh untukmu dan juga Aiden. Aku berjanji akan menjadi suami yang baik dan ayah yang luar biasa, Ella,” lirihku.


Bella tak menjawab, aku tahu hatinya masih dipenuhi oleh kehadiran pria itu. Aku tahu kekosongan yang kutinggalkan telah terisi oleh cinta yang lain.


“Aku akan membelikanmu susu dan makanan. Kau harus tetap kuat saat Aiden membutuhkanmu.” Bella melepaskan dekapannya.


“Baiklah. Aku akan di sini sampai waktunya habis,” kataku padanya.


Kursi bulat dari plastik berderap saat aku menariknya keluar dari kolong ranjang. Dengan perlahan aku duduk, memandang wajah putraku dari samping. Aku masih mengelus punggung tangannya perlahan. Sesekali menyeka keringat dingin yang muncul dipelipisnya.


“Kau benar-benar mirip denganku,” gumamku pelan, tak ingin mengganggu istirahatnya.


Hari demi hari yang ku lalui tanpa kehadiran Bella cukup menyiksa batinku. Ditambah dengan penuturan Fransisca yang mengatakan bahwa Bella mengandung anakku saat ia pergi, semakin membuat rasa bersalah mengglayuti hatiku.


Aku mencarinya dengan keras, berharap bisa menemukannya.


Nyatanya,


Setelah bertemu, aku harus menelan kenyataan pahit bahwa Bella tak lagi mencintaiku. Bahwa anakku sendiri menolakku. Aku sadar betul bahwa semua yang terjadi adalah salahku. Aku sadar betul bahwa penolakan mereka adalah hukuman bagiku. Namun, hatiku yang keras membuatku tak bisa melepaskan Bella.


Tapi begitulah manusia, cinta bisa membuatmu mulia atau bahkan menjadi manusia paling hina di dunia. Seperti Papa yang memilih untuk meninggalkan Mama demi cintanya. Seperti Fransisca yang tega menggugurkan kandungan Bella demi cintanya. Seperti itu pula aku yang tega membunuh lelaki itu demi cintaku.


Aku meleburkan semuanya, hati nurani dan sisa kemanusiaan, hanya untuk memenuhi hasratku dalam mencintai seorang wanita.


Wanita yang memang layak untuk dicintai.


Wanita yang mengandung dan melahirkan anak untukku.


Wanita yang dengan tubuhnya membuatku menjadi seorang ayah.


Aku rela semua orang memandangku hina, aku rela seluruh orang di dunia membenciku, menghujaniku dengan hujatan mereka. Asalkan aku bisa kembali padanya, asalkan aku bisa beroleh kembali hatinya.


Pip ... pip ... pip.


Bunyi alat pendeteksi tanda vital Aiden berkedip dengan teratur. Bunyi itu membuatku miris, pria yang merasa kuat dan hebat sepertiku bahkan bisa takut saat mendengar bunyi seperti ini.


Ah, apakah ini rasanya menjadi seorang ayah?


Apakah ini rasanya mencintai sesuatu yang berasal dari dalam dirimu?


Cinta yang berbeda, yang jauh penuh dengan kasih dan ikatan.


Aku merasa begitu memilikinya, aku merasa begitu mengenalinya, aku merasa begitu menyayanginya, padahal kami sama sekali belum pernah bertemu sebelumnya.


Oh, Hinanya aku, Tuhan. Hinanya aku yang telah mengabaikan ciptaan indah yang kau hadiahkan kepada kami.


“Cepat sembuh, Sayang, Papi akan bawakan satu truk mainan untukmu.” Aku berbisik pada telinganya, air mataku menetes jatuh di atas wajah tampannya.


“Erm ...!” Aiden menggeliat pelan, sepertinya tangisanku membuatnya terbangun.


“Kau bangun, Sayang. Maaf.” Pintaku, aku masih mengelus rambutnya dengan lembut.


“Uncle siapa?” Suara Aiden terdengar lirih.


“Namaku, Lucas.”


“Namaku, Aiden.”


“Iya, sudah tahu.”


“Uncle tahu?”


“Iya, karena kau berasal dariku, Sayang. Aku Papimu, Papi kandungmu.” Aku mencoba memberikan penjelasan selembut mungkin pada Aiden.


“Kau Papi-ku? Selain Papi Nick?” tanya Aiden bingung.


“Iya, selain Papi Nick.”


“Wah, jadi kini Aiden punya dua orang Papi! Teman-teman tak akan mengejek Aiden sebagai anak haram lagi.”


Hatiku berdesir saat mendengar pengakuan menyakitkan itu keluar dari bibir mungilnya. Siapa yang telah mengecapnya sebagai anak haram?? Siapa yang telah menghina anakku?!


Ah, pada akhirnya semua itu kembali lagi padaku. Karena dirikulah Aiden di bully, karena ketidak mampuanku menjaga Bella Aiden dicerca. Karena ketidak mampuanku mempertahankan cintalah yang membuat mereka berdua dirundung orang.


Papi sunggung menyesal, Nak.


“Kenapa Papi menangis?” Dengan tangan mungilnya Aiden menghapus air mataku.


“Tidak.”


“Kata Mami anak laki-laki tak boleh menangis. Nanti terlihat jelek di depan wanita. Kata Mami, Papi sangat kuat dan tak pernah menangis, dia selalu memenangkan pertandingan tinju.” Aiden menghiburku, aku terkikih, mengapa justru yang sakit yang menghibur? Harusnya yang sehat yang memberi semangat.


“Kau sungguh lucu, Nak.” Aku mengusik pucuk kepalanya, lalu mencium keningnya.


Aiden tersenyum hangat.


“Terima kasih, Sayang sudah hadir ke dunia ini. Terima kasih karena berkatmu aku bisa menjadi seorang ayah.”


— MUSE S5 —


Nangis terooosss...


Hiks hiks... othot baperan.


Gini we nangis.


Dahlah, pokok e kudu di like, comment, sama vote!!!