MUSE

MUSE
S4 ~ DAEBAK!



MUSE S4


EPISODE 13


S4 \~ DAEBAK!


\~ Sekarang aku mulai panik. Debaran jantungku begitu melaju dengan kencang. Membuat keringat menetes dari dahi dan pelipisku. Oh, apakah ini benar-benar akan terjadi? Melepaskan diri untuk bersatu dengannya?\~


________________


Kak Daffin membantuku menghapus air mata yang meleleh supaya tidak merusak riasan wajahku. Dia mengusapnya dengan tisu secara perlahan.


“Sudah, sudah, aku minta maaf, berhentilah menangis Inggrid.” kata Kak Daffin sambil menepuk punggungku.


“Kau tidak salah, Kak.”


“Aku menyatakan cinta padamu, padahal tau kau sudah punya pacar.”


“Bukan salahmu, Kak. Mereka memang b*rengsek!” lirihku.


“Mereka???” Kak Daffin bingung.


“Ma..., maksudku dia, iya, dia b*rengsek!” Aku mengganti kata ganti orang menjadi tunggal bukan jamak.


“Sudah, ayo kembali. Kita menari dan berteriak agar moodmu membaik.” ajak Kak Daffin, aku mengangguk dan mengikutinya kembali ke tengah riuhnya pesta malam ini.


Menari dan berteriak, melupakan sejenak akan amarah dan rasa kesalku pada Ken dan Ra. Terutama Ken!! Kenapa bisa dia kalah dengan Ra? Apa jiwanya terlalu lemah? Tak bisakah dia melawan jiwa Ra demi diriku?


— MUSE S4 —


•••


Esoknya aku berskate sendirian ke taman kota, berayun menuruni cekungan dan berputar untuk melompat lalu kembali lagi pada cekungan. Aku melakukannya beberapa kali sebelum akhirnya mengakhiri sesi latihanku karena perasaanku tak kunjung membaik. Aku masih marah, bahkan sampai sore inipun si Ken tak datang untuk meminta maaf padaku.


“Kenapa? Hari ini mainmu jelek sekali?” Kak Daffin menghampiriku dengan skateboardnya. Kakinya menginjak bagian belakang agar menghentikan laju papan seluncur itu.


Kak Daffin ikut menenteng papannya dan berjalan di sampingku. Mengitari taman kota sampai ke area perumahan sekitar rumahku. Kami hanya mengobrol ringan dan sesekali tertawa. Lelucon Kak Daffin mau tak mau membuatku tertawa geli dan melupakan Keano.


“Inggrid!” panggil seseorang, otomatis aku menoleh.


“Mau apa?” tanyaku sewot, entah dia Ken atau Ra, aku marah pada ke duanya saat ini.


Dia memandang Kak Daffin dengan pandangan tak suka, Kak Daffinpun membalas pandangannya tak kalah tajam.


“Aku mau bicara, girl.”


“Mau bicara apa? Di sini saja.” kataku dengan acuh.


Keano memandang ke arah Kak Daffin, kehadirannya tentu membuat pembicaraan kami tidak nyaman. Namun aku memang sengaja, aku malas mendengar celotehannya saat ini.


“Inggrid, ku mohon.” pintanya.


“Kau tidak dengar Inggrid memintamu mengatakannya di sini?” kata Kak Daffin.


“Kak, aku mohon. Aku minta maaf atas kesalahanku kemarin. Izinkan aku bicara empat mata dengan Inggrid.” Ken membungkukkan sedikit badannya sebagai permintaan maaf pada Kak Daffin.


Kak Daffin tentu saja langsung mengerunyit keheranan, begitu pula aku. Bagaimana mungkin sikap seseorang bisa berubah 180 derajat ke arah yang berlainan hanya dalam waktu satu menit?


“Er..., kau salah makan apa?” tanya Kak Daffin sambil menggaruk kepalanya kikuk. Ken masih terus memohon maaf dan meminta Kak Daffin meninggalkan kami.


“Tolonglah, Kak. Aku benar-benar harus meminta maaf pada Inggrid dan meluruskan kesalah pahaman di antara kami.” Ken mengangkat kepalanya, sorot matanya terlihat begitu serius kali ini.


“Baiklah! Jangan sakiti Inggrid lagi, OK!” Kak Daffin dengan berat meninggalkan kami karena tak tahan dengan perlakuan Ken yang begitu merendahkan dirinya demi diriku.


“Ayo kita bicara, girl!” Ken beralih pada ku begitu kak Daffin meninggalkannya.


“Mau bicara apa?” tanyaku sebal.


“Aku mau minta maaf atas perlakuan Ra padamu!” Ken meminta maaf padaku.


“Cih, kenapa bukan dia sendiri yang meminta maaf padaku? Apa dia sudah kehilangan kepercayaan dirinya? Sudah jadi pengecut sekarang?” tanyaku pada Ken.


“Siapa yang kau bilang pengecut?! Tarik kata-katamu cewek bar-bar!!” Ra mencengkram lenganku.


“Ra!! Jangan buat situasinya memanas! Aku sedang meminta maaf pada Inggrid! Kau jangan keluar.” Ken melepaskan cengkramanku.


“Cewek sialan!! Kenapa bisa kau suka padanya?!”


“Diam Ra!!!” bentak Ken pada dirinya sendiri.


Oke, now I’m freaking out!!!! Melihat mereka bertengkar dalam satu tubuh membuatku merasa takut dan juga aneh. Aku kira kepribadian ganda bukanlah sebuah masalah besar. Tapi yang ku lihat di depanku saat ini benar-benar sebuah masalah besar.


“Eee, boleh aku pergi sembari kalian bertengkar?” selaku.


“Tidak! Kami belum selesai bicara.”


“Oke. Cepatlah karena hampir turun hujan.” Aku mengalah, menurunkan skateboard yang dari tadi kuselipkan di antara lengan dan pinggang.


Aku duduk di atas skate sembari menunggu Ken dan Ra bertengkar dalam satu tubuh mereka. Lama-lama aku merasa seperti ikutan gila. Hahaha, Inggrid kenapa nasibmu bisa seaneh ini? Menyukai orang dengan dua kepribadian sekaligus?


“Hei cewek bar-bar!! Pulanglah!! Jangan hiraukan kami.” Ra mengusirku.


“Oh, baiklah.”


“Jangan Inggrid. Aku masih ingin bicara denganmu.” Ken manarik lenganku.


“Ah, Baiklah.” Aku kembali duduk, memangku kepala dengan telapak tangan.


Sudah setengah jam kami seperti ini. Aku merasa semakin aneh. Rasa marahku kini berangsur-angsur menghilang dan berganti dengan rasa heran dan juga takut pada sosok Keano.


“Sebenarnya kenapa kau menciumku kemarin Ra?” tanyaku di sela-sela pertengkaran mereka.


“Kenapa?” Ra malah balas bertanya. Aku mengangkat bahuku, kan dia yang harusnya memberi jawaban.


“Karena kau terlalu gampangan. Mudah sekali menerima ciuman dari cowok lain!!” Bentaknya, sialan!! Kenapa dia malah menuduhku cewek murahan?!


“Apa kau bilang?!”


“Kau begitu mudahnya menerima ciuman dari Daffin!! Kau tak serius mencintai Ken! Akupun hanya mencoba untuk mempermainkanmu!” ucapannya membuat hatiku semakin sakit, Kak Daffin belum sempat menciumku. Lagi pula aku juga tak ingin Kak Daffin sampai menciumku. Ken adalah satu-satunya cowok yang aku cintai.


PLAK!!


Aku menampar pipinya. Ucapannya sungguh keterlaluan. Aku bergegas berlari meninggalkan Keano. Aku menangis sambil berlari. Walaupun aku tau Ra yang mengucapkannya tetap saja hatiku terasa begitu perih.


“Inggrid!!” panggilnya.


“Pergi kau b*rengsek!!” usirku.


“Aku Ken!! Jangan pergi, Inggrid. Maafkan aku.” Ken mengejarku, kenapa jadi begini sih? Aku bingung?! Seperti menghadapi malaikat dan iblis secara bersamaan.


GLEGAR!!


Suara petir menandakan datangnya hujan. Hujan deras langsung turun dan mengguyur kami berdua. Langkah kakiku terasa berat karena jaket hoodieku basah. Aku tak bisa berlari lagi dan menghindari kejaran Ken.


“Girl!!!” Ken menyahut lenganku dan membawaku masuk dalam dekapannya.


“Lepaskan!! Kau dan dia sama saja!! Kalian menyebalkan.” Aku menarik tanganku dari cengkramanya.


“Maaf, maaf Inggrid! Aku membuatmu sakit hati.” Ken terus memelukku dalam guyuran hujan.


“Lepasin, Ken! Aku mau pulang!” tangisku pecah, namun tertelan oleh derasnya hujan.


“Ayo pulang! Aku ingin bicara.” Ken menggenggam tanganku dan membawaku ke rumahnya. Memang rumah Ken lebih dekat saat ini di bandingkan rumahku.


Aku terdiam sesaat dan akhirnya menurut. Hal ini lebih baik dibandingkan menangis di tengah hujan dan terlihat begitu menyedihkan.





“Mandilah, girl.”


Aku menyahut dengan kasar baju dan juga handuk darinya.





Ken telah berganti baju kering juga, ia menatap ke luar jendela yang masih basah karena hujan deras bercampur dengan angin kencang. Ken memasukkan tangan ke dalam saku celananya. Kaca matanya terlihat mengembun karena perbedaan suhu ruanganan yang dingin dan napasnya yang panas.


“Kau sudah selesai?” Ken langsung menghampiriku begitu tau aku masuk ke dalam kamarnya.


Ken tersenyum manis sembari menggiringku duduk di bibir ranjang. Ia membantuku mengeringkan rambut dengan handuk. Tangannya terus bekerja dan itu membuatku nyaman.


“Maaf Inggrid. Aku tau kata maafpun tak akan menyelesaikan masalah ini.” Ken mulai memecah keheningan di antara kami.


“Sudahlah, Ken.”


“Tak bisakah kau memberikan kesempatan padaku, girl? Aku serius begitu mencintai dirimu?!” Ken menaruh dahinya pada pucuk kepalaku.


“Lalu kenapa kau tak melawan Ra? Kenapa kau tak hadir menjadi Keano saat aku ulang tahun kemarin? Kenapa kau biarkan Ra menggantikanmu?!” Aku kembali menitikkan air mata. Apakah tekat Ken dalam mencintaiku tak sekuat tekat Ra yang membenciku?


“Maaf, Inggrid. Aku sudah berusaha, namun tekat Ra tetap lebih kuat.”


Aku terdiam. Mencintai Ken lebih berat dari pada dugaanku. Dulu aku begitu sesumbar menganggap bisa menundukkan Ra dan menerima Ra sebagai bagian dari Keano. Huft..., hanya mendengarkan kata-kata kasar dari Ra saja sudah membuatku sesakit ini, apa lagi mau menundukkannya.


“Inggrid.” Ken memanggilku dengan lembut, suaranya membuat rasa rindu muncul dari dalam hatiku.


Ken mencium pundakku yang sedikit terbuka karena kaos yang kukenakan begitu besar. Napasnya yang panas menyentuh kulit, membuat tubuhkupun bergetar saat menikmati irama hembusannya.


“Ken, apa kita coba hypnoterapi?” Aku memutar tubuhku dan memandang wajahnya. Berharap menghilangkan sosok Ra dalam dirinya.


“Baiklah, aku akan mencoba mencari psikiater yang bisa membantuku.” Ken tersenyum, ia memandang lekat pada kedua mataku. Aku langsung memeluknya, memilih menikmati dekapan hangat dari tubuhnya.


Ken mengencangkan pelukkannya, ia kembali mencium cerukan leherku. Ken menarik napasnya panjang untuk menghirup aroma tubuhku. Akupun merasa sangat nyaman dan aman dalam dekapannya.


“Aku mencintaimu, girl.”


“Aku juga, Ken.”


Ken mendekatkan wajahnya, perlahan sampai akhirnya bibirnya melekat pada bibirku. Kami berciuman, membagi rasa manis dan alunan lembut yang begitu menggairahkan. Aku beranjak untuk masuk ke dalam pangkuannya, kami saling berhadap-hadapan dan Ken mempercepat tempo gerakan bibirnya. Ada gairah yang terpercik dalam tiap lumattannya.


Kini tak hanya bibir, Ken pun bermain dengan lidahnya. Mengabsen seluruh rongga mulutku, menautkannya dengan milikku. Ia menggigit pelan bibirku sebelum memberikan jeda pada ciuman kami. Ken membenamkan wajahnya tepat di depan dadaku.


“Hei!” Aku menggeliat geli.


“Ah, aku rindu padamu Inggrid.” Ken mempererat dekapannya. Memang akhir-akhir ini kami jarang bertemu, tubuhnya selalu di dominasi oleh Ra.


“Ken.”


Ken mengangkat wajahnya yang merona merah. Debaran jantungku pasti membuatnya semakin menginginkanku. Aku merasakan tangan Ken mengelus masuk ke dalam kaos kedodoran yang ku kenakan. Kaos putih bergambar **** the frog itu tersibak dan tiba-tiba saja sudah berhasil terlepas dari tubuhku karena tangan nakal Ken.


“Ken?”


“Inggrid, kau mau?”


“Erhm....,” Aku tak bisa menjawabnya.


Ken menjatuhkan tubuhku ke atas ranjang. Sedangkan ia menahan tubuhnya dengan siku tangan agar tak terlalu menindiih tubuhku. Aku masih berusaha menutupi tubuhku dengan tangan. Pandangan kami bertemu, sorot matanya yang lembut membuatku ingin menyerah dan jatuh pada pesonanya.


Ken mengangkat tubuhnya dan ikut melepaskan kaos. Menampilkan otot dan juga bentuk tubuhnya yang indah. Aku terpaksa harus memejamkan mata agar tak melihatnya, aku bisa mimisan kalau terus melihatnya dalam keadaan seperti ini.


“Argh...!” Aku menggeliat geli saat Ken mulai mencium perut rampingku dan semakin mengarahkan kecupannya naik ke atas.


Rasanya sangat aneh! Basah dan hangat, namun juga menggairahkan. Membuat tiap syaraf dalam tubuhmu meresponnya dengan bahagia. Getarannya membuatmu tak bisa berhenti dan menginginkan lebih.


“Ken.” panggilku.


“Ya, girl?” Ken menghentikan sesapannya dan beralih untuk memandangku, menunggu kata selanjutnya terucap dari bibirku.


“Rasanya aneh!! Aku merasa aneh.” kataku dengan tersendat-sendat, aku masih tak bisa menahan gejolak dan debarannya. Jantungku seakan ingin melonjak keluar tiap kali Ken mencium dan mengelus kulitku.


“Kau menikmatinya?!” Ken menyatukan hidungnya dengan hidungku.


Detik berikutnya ia kembali berhasil mencium bibirku, melumattnya dengan rakus. Tangannya yang hangat dan sedikit kasar masih bersarang pada pinggangku, beralih naik secara perlahan sampai di depan dada.


“Ugh!!” Lagi-lagi rasa aneh dan rancaun pelan keluar dari bibirku.


“Inggrid, kita lakukan yuk!” ajak Ken.


Melakukan apa? Jangan bilang membuat bayi!! Bukankah itu seperti Daddy dan Mommy? Wah!! Daebak! Pengalaman pertama, sayangnya aku tak tau harus bagaimana?!


Ken hanya tersenyum dan mulai melanjutkan aksinya! OK, Sekarang aku mulai panik. Debaran jantungku begitu melaju dengan kencang. Membuat keringat menetes dari dahi dan pelipisku. Oh, apakah ini benar-benar akan terjadi? Melepaskan diri untuk bersatu dengannya?


Ken tak menunggu jawabanku, dia terus menggerakkan tangannya pelan. Membuatku semakin kehilangan akal dan juga napas. Napasku terus terasa berat dan tersengal, begitu juga Ken. Sesekali Ken mencium bibirku dan daerah lain yang lebih sensitif. Akh, ya ampun! Aku harus bagaimana?


Tangan Ken kembali beralih, lebih turun lagi dari pinggang. Wah! Mau kemana tujuannya? Huwa Mommy!! Aku belum siap!! Aku spontan mendorong tubuh Ken dengan sekuat tenaga.


“Ki— kita masih SMA!” Duh, akal sehat kenapa kau kembali?


Ken melongo mendengar perkataanku. Ah, aku lupa Ken sudah mahasiswa sekarang. Aku yang masih SMA!! Hm..., lagian kalau malam pertama bukankah harus di lakukan seromantis mungkin? Harusnya berhiaskan. bunga dan juga lilin aromatherapy.


“Kau benar Inggrid. Maafkan aku.” Ken menarik dirinya dan bergegas memakai kaos.


“Maaf, Ken. Apa kau kecewa?” tanyaku, akupun ikut bangkit dan bergegas memakai kembali baju yang dipinjamkan Ken.


“Tidak Inggrid. Justru aku yang mengecewakan, kau pasti benci padaku! Aku melakukan hal yang lancang.”


“No, Ken.” Aku mendekapnya dari belakang.


Ken mengelus rambutku dan membalas dekapanku juga.


“Aku masakkan sup agar tubuhmu hangat, Ok?!” tanyanya.


“OK.” Aku mengangguk sebagai jawaban.


Ah, Ken pasti merasa sangat kecewa. Maaf ya Ken! Aku belum siap.


— MUSE S4 —


Duh kasihan Ken,


Pasti cenat cenut...


🤣🤣🤣


Ah dasar author suhu mesum!


Terus Ra bakalan gimana ya?


Tolong bagi VOTENYA bae!!! Yang banyak!!


Wkwkwkwkw ngarep toh biar author rengginan jd femes 😂🤣


Di like juga teros di comment.


Jangan lupa di sayang-sayang authornya.


Noted:


(Sedikit tentang kepribadian ganda.)


Kepribadian ganda atau gangguan identitas disosiatif adalah kondisi di mana seorang individu memiliki dua atau lebih kepribadian yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Umumnya gangguan ini disebabkan oleh kejadian traumatis yang dialami individu tersebut di masa kecilnya. Bentuk trauma ini bisa berupa kekerasan fisik atau emosional yang terjadi secara berulang-ulang.


Dalam istilah psikologi, kepribadian lain tersebut dinamai alter ego. Alter ego bisa muncul pada situasi tertentu, namun biasanya dipicu stress karena kondisi sosial. Saat alter ego mengambil alih kesadarannya, penderita seolah memiliki riwayat dan identitas diri yang sangat berbeda dengan identitas asli penderita, baik nama, usia, jenis kelamin, wawasan, dan suasana hati.


Sumber: alodokter.