
MUSE S7
EPISODE
S7 \~ PERPISAHAN
******* mesra dari Leoni terasa begitu manis pada indra pengecap Levin, begitu pula sebaliknya. Walaupun hanya sekejap saja, namun cukup untuk merasakan betapa besar cinta yang tumbuh di antara kedua remaja itu
____________________
Bioskop terlihat padat oleh berbagai macam manusia, ada orang tua ada anak-anak, bahkan ada pelajar sekolah yang baru saja pulang dari ujian tes masuk. Mereka menunpahkan penat dan stress yang menumpuk selama satu hari pada senja ini.
Levin berjanji mengajak Leoni berkencan setelah patung rancangannya selesai dibuat. Dengan sabar Levin menunggu Leoni di depan pintu masuk gedung bioskop, sesekali ia melirik arlojinya.
Tubuh tinggi Levin terlihat pas mengenakan celana pensil hitam dengan bahan kain tebal keluaran adedas, ada garis vertikal pada kedua sisi. Untuk atasan tentu saja kaos lengan panjang nyaman dengan warna putih bergambar abstrak. Rambut Levin sedikit panjang karena ia tak memotongnya sejak tangannya sakit -waktu menyelamatkan Leoni. Sekarang ia memilih untuk menguncir rambut itu separuh ke belakang.
Levin menghentakkan tumitnya yang terbungkus sepatu model warrior ke dinding tempatnya bersandar.
Para cewek mulai berkeliaran di depan Levin, mengagumi wajah tampan remaja yang baru saja lulus SMP itu. Mereka berkasak-kusuk sambil mencuri-curi pandang. Ada yang bahkan memotret wajah Levin diam-diam.
"Otoke!! Dia berdiri aja ganteng banget!!" Puji cewek-cewek seumuran Levin yang juga menunggu film diputar. Di belakang mereka ada Leoni yang kebetulan baru saja keluar dari toilet.
Ya Tuhan, cewek-cewek itu lagi ngomongin Levin? Pacar aku itu ma! Leoni berjalan sewot, ia bahkan sengaja menyenggol kedua remaja itu dengan bahunya.
"Jalan nggak pakai mata!" umpat mereka.
"Bilang sory kek!" Tambah yang lain.
"Cih, dasar cewek nggak tahu diri!"
Leoni geram, ia berbalik dan menghampiri mereka berdua.
"Kalian yang nggak tahu diri!! Ngapain liat-liat pacar orang sampe mata mau copot keluar??" Leoni berkacak pinggang, dadanya terbusung. Membuat kedua remaja di depannya langsung merasa kalah. Yah, Leoni kini semakin dewasa semakin mirip Kanna. Dadanya mulai berisi, tak lagi tepos bak papan penggilasan seperti dulu.
"Leoni! Ada apa?" Levin berjalan mendekati mereka bertiga.
"Beneran pacaranya," bisik yang satu.
"Iya, bener. Duh, gila! Kita pergi aja yuk."
"Kenapa, Singa?"
"Nggak apa-apa kok, kami yang salah. Kami minta maaf ya!" Kedua cewek tadi langsung nyelonong pergi dari sana.
"Kenapa?"
"Nggak papa, cuma salah paham aja." Leoni meninggalkan Levin masuk ke gedung bioskop terlebih dahulu. Ia mencibirkan bibirnya kesal.
Kalau di Indo saja banyak cewek yang menyukai Levin, bagaimana kalau nanti di sana? Apa Levin tetap akan mencintainya? Atau akan dengan mudahnya mendapatkan wanita lain di sana? Bukankah banyak cewek cantik di luar negeri? Dengan body dan kepribadian feminime.
Memikirkan hal itu Leoni langsung kehilangan mood, film komedi yang baru diputar sama sekali terlihat tidak lucu, padahal Levin terus terpingkal karenanya. Leoni mencomot pop corn dan memakannya dengan kasar. Ia kesal karena Levin seakan biasa saja menghadapi perpisahan mereka ini.
“Kok nggak ketawa? Nggak lucu?” Levin menengok ke arah kekasihnya.
“Iya nggak lucu, bosen,” jawab Leoni ketus.
“Ngambek? Kenapa?” Levin mencubit hidung Leoni, membuat gadis itu semakin marah.
“Iihh, sakit tahu! Paan sih?” Leoni bergegas berdiri dan keluar dari studio.
“Hei, Singa, filmnya belum habis.” Levin mengejar Leoni, tapi terlambat, tubuh ramping kekasihnya sudah keluar.
Levin mengejar Leoni sampai ke pintu depan bioskop. Leoni terlihat kusut dan menahan air matanya sekuat tenaga.
“Kenapa sih?? Aku salah apa?” Levin menarik sikut lengan Leoni.
“Nggak kok!! Nggak salah, aku yang salah karena nggak bisa ngontrol emosiku. Aku sedih, Vin. Aku takut, aku marah, aku benci, aku ... aku ... huwaaaa!!!” Akhirnya pecah sudah tangisan Leoni.
“Jangan nangis di sini donk, Singa! Ya ampun, ayo ke sana!” Levin menggandeng tangan pacarnya ke bangku kayu di dalam mall. Beberapa orang masih melirik ke arah mereka karena penasaran ada suara tangisan.
“Dih, udah besar juga masih nangis aja!” Levin sewot, ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Selain malu, Levin juga sedikit bingung.
“Aku juga nangis gara-gara kamu tahu!! Cowok nggak peka!!”
“Ya ngomong donk, biar ngerti, biar paham. Kalau nggak ngomong gimana aku bisa peka?? Ayolah Leoni, kita bukan anak SD, sudah nggak jaman ngambek sama nangis.” Levin menyangga kepala dengan kepalan tangan.
“Aku nggak mau kamu pergi!! Please, Vin. Nggak bisa ya di Indo aja?!” Leoni tersengal.
“Ya elah, aku kira masalah apa?! Ya ampun sayangku, manisku, bebebku, singaku!! Bukannya kita sudah bicarain hal ini beberapa hari yang lalu? Bukankah kita sudah janji bakalan saling jaga hati? So? Apa lagi yang bikin kamu khawatir?” Levin merangkul Leoni, menepuk pelan punggungnya.
“Soalnya kamu keknya nggak sedih, biasa-biasa aja padahal kita sudah hampir pisah. Aku ngerasa cuma aku aja yang ketakutan, cuma aku aja yang sedih dengan perpisahan ini.” Leoni melepaskan pelukkan Levin, menyeka ingus dan air mata terlebih dahulu.
“Siapa bilang? Tiap hari aku galau, gimana kalau di sana nggak bisa? Gimana kalau kemampuanku nggak cukup? Gimana kalau aku ternyata kurang ahli? Gimana kalau aku bikin kecewa daddy, mommy? Aku juga mikirin, gimana kalau perasaan Leoni berubah saat aku nggak ada?! Aku mikirin itu semua, Girl!! Aku nggak mau hubungan kita juga berhenti di tengah jalan. So, please jangan berpikir seakan-akan cuma kamu yang takut dengan perpisahan ini.” Levin menggenggam tangan Leoni.
Leoni menatap intens pasa manik mata Levin yang juga berkaca-kaca. Sebagai pria ia memang lebih menyimpan perasaan dan mengutamakan logika. Jadi Levin tak mengungkapkan isi hatinya dengan jelas pada Leoni.
“Aku akan pulang tiap ada kesempatan.”
“Ga boleh cari cewek lain!”
“Iya, iya,” jawab Levin.
“Janji, Singa.” Levin menautkan jari kelingking dan menyegelnya dengan jempol.
Akhirnya seulas senyuman kembali terbit pada wajah Leoni. Levin ikut menyeringai senang saat Mood Leoni mulai kembali membaik.
“Aku sudah bilang sama daddy. Setelah semua urusan administrasi selesai, aku boleh menggambar tatto di lenganku.”
“Benarkah??”
“Huum, Apa papamu punya rekomendasi seniman tatto yang bagus?” Levin menggandeng tangan Leoni sambil berjalan menuju ke parkir motor.
“Sepertinya ada, besok aku tanyain ya.” Leoni tersenyum manis.
“Oke.” Levin menyerahkan helm pada Leoni.
Mereka berdua menghabiskan malam yang indah dengan balutan angin dingin. Berkendara di atas motor, mengitari seluruh jalanan kota. Memacu kegembiraan dan menghilangkan kegundahan, meminta angin membawa semua rasa itu pergi.
ooooOoooo
Satu bulan kemudian, bandara internasional.
“Hiks, hiks.” Lagi-lagi Leoni menangis dalam pelukkan Levin.
“Hei!! Jangan menangis!! Nanti aku ikut menangis. Kan nggak keren kalau cowok menangis.” Levin menepuk punggung Leoni.
“Huwaaaa!!!” Leoni malah tambah menjerit.
“Ya ampun anak ini bikin malu saja!” Kanna menarik tangan anak gadisnya agar tidak memonopoli Levin. Kelurganya juga pasti ingin berpamitan sebelum Levin meninggalkan Indo.
“Huwaaa!!!” Leoni semakin keras menjerit, terpaksa Leon menyumpal mulut anak gadisny dengan roti. Kebetulan mereka sarapan roti di perjalanan karena takut terlambat mengantarkan kepergian Levin di bandara.
“Jaga diri ya, Nak! Jangan telat makan, jangan sampai sakit, hati-hati saat latihan. Jangan lupakan sekolahmu.” Tak hanya Leoni, Kalila juga menangis saat memberikan wejangan pada si bontot.
“Tenang aja, Mom. Levin bukan anak kecil lagi.” Levin memeluk Kalila.
“Ayo Levin, kita sudah harus cek in.” Arvin menepuk pundak Levin.
“Aku pergi dulu, jangan bersedih dan doakan saja agar Levin sukses.” Arvin mengecup kening, pipi, dan bibir Kalila beberapa saat sebelum meninggalkannya. Rencananya Arvin akan mengantarkan dan menemani Levin selama sebulan di Madrid sebelum melepaskan anak itu merantau secara mandiri.
“Jaga diri, Kak, jaga Levin.” Kalila masih terisak.
“Iya, iya.”
“Huwaaaa!!!” Suasana romantis digagalkan oleh tangisan Leoni lagi.
“Ya ampun!” Kanna menepok jidatnya, ia mengusap ingus Leoni yang belepotan.
“Kemari, Singa!” Levin memeluk Leoni terakhir kali sebelum pergi.”
“Ingat janjimu!! Jangan terluka saat pertandingan! Jangan sampai jatuh!!” Leoni mengecup dalam pipi Levin.
“Iya, aku akan berhati-hati, Sayang!” Levin menangkup wajah Leoni sampai penyot lalu mengecup bibirnya.
“Aku ingin berciuman dengan mesra sebelum berangkat, tapi dari tadi papamu melotot galak ke arahku.” Levin berbisik, wajah Leoni menghangat.
“Shit!! Persetan sama amarah Papa!” Leoni menarik leher Levin dan ******* bibirnya dalam-dalam. Levin melepaskan topi dan menutupi wajah mereka berdua.
******* mesra dari Leoni terasa begitu manis pada indra pengecap Levin, begitu pula sebaliknya. Walaupun hanya sekejap saja, namun cukup untuk merasakan betapa besar cinta yang tumbuh di antara kedua remaja itu.
“Aku pergi dulu, Singa.” Senyum Levin.
“Kau harus jadi pemenang! Kau harus memberikan mendali pertamamu kepadaku.” Leoni terisak lagi.
“Tak hanya yang pertama, kedua, ke tiga, dan seterusnya akan menjadi milikmu.” Levin mengelus pucuk kepala Leoni.
Setelah mengecup lagi bibir Leoni yang sempat di lirik oleh Leon, Levin mengecup pipi Kalila dan memeluknya.
“Levin pergi, Mom.”
Setelah Kalila, masih ada Leon dan Kanna. Levin membungkuk sedikit sambil berpamitan.
“Dasar anak nakal!! Kemari!!” Leon memeluk Levin, Kanna mengelus lengan bocah itu.
“Go, jadilah juara!” Leon melepaskan pelukkannya.
“Levin pergi, Om, Tante.” Senyum Levin hangat.
Semua melepaskan kepergian Levin dan Arvin dengan perasaan haru. Leoni bahkan berlari mengejar punggung Levin sampai benar-benar menghilang dari pandangan.
“Kau harus kembali padaku,” lirih Leoni. Air mata menetes dari pelupuk matanya.
...ooooOoooo...
...Aku tulis ulang ini gaes, demi cintaku kepada kalian 🥰🥰🥰...
...Tanganku sampe kiyu ini, jadi kalau nggak di kasih jempol sama komen kebangetan, wkwkwkwkwkkwk...
...Kalau ada typo mon maaf ya, sambil nelongso soalnya nulis ulang. Hati sedih 😌😌😌...