
MUSE S2
EPISODE 56
S2 \~ KEMBALI
\~ Bayangan Kalila tak pernah menghilang dari kehidupanku. Dia masih terus membayangi malam-malamku. Aku masih merindukannya, aku tak bisa menghapus rasa cintaku padanya. \~
•••
“Kita putus saja, Ngga.”
Keputusan itulah yang diambil oleh Kalila saat aku berpamitan padanya untuk pergi ke luar negeri demi melanjutkan study -ku.
“Kenapa? LDR-kan bisa?” Aku masih berharap dia mengubah keputusannya.
“Pokoknya, kita putus saja.” tapi Kalila tetap menginginkan kami putus.
Derasnya hujan menemani langkah kakinya menjauhiku.
Aku hanya bisa membeku saat melihat punggung gadis yang ku cintai itu menjauh pergi.
Dan hanya bisa terdiam tanpa suara.
Aku ingin mengejarnya. Memeluk bahunya yang merosot karena seakan- akan tak ada lagi harapan yang tersisa.
Tapi aku terlalu pengecut untuk melakukan hal itu.
Aku memilih untuk meninggalkannya pada masa-masa terberat dalam kehidupannya.
Kenapa aku begitu bodoh?
Andai saja saat itu aku mengejar dan memeluknya, mungkin saat ini kami masih bersama.
— MUSE S2 —
•••
Aku mengingatnya, hari ini adalah hari ulang tahunnya. Aku sengaja mengundur keberangkatanku agar aku bisa merayakan momment bahagianya bersama. Tapi Kalila lebih memilih untuk putus denganku.
Aku membelikannya sebuah jam tangan sebagai kado ulang tahunnya. Aku ingin dia selalu mengingatku, sama banyaknya dengan saat-saat ia mengingat waktu. Tapi aku tak memiliki kesempatan untuk memberikannya secara langsung. Aku memilih untuk meletakkan kotak hadiah itu di depan rumahnya.
“Ayo Angga, kita masih harus mengejar pesawat!!” Mama sudah mulai mengomel.
“Iya, Ma,” sahutku. Aku bergegas kembali masuk ke dalam mobil dan semakin menjauh pergi dari rumah Kalila. Dalam hati aku berharap dia menemukan hadiah itu.
Sesampainya di bandara aku membuka ponselku. Aku mengirimkannya sebuah chat.
Happy Bday Kalila.
Aku berangkat, ya.
Lama aku menunggu, tapi nyatanya Kalila tak membalas pesanku. Sampai saat ini Kalila tak pernah membalasnya.
Begitu sampai di luar negeripun, Kalila adalah orang pertama yang ingin aku hubungi. Bahkan aku menomor duakan orang tuaku demi dirinya. Demi kabarnya.
Tapi ponselnya mati. Waktu itu aku kira hanya sementara, tapi ternyata nomor ponselnya tak pernah lagi aktif selamanya.
Aku hanya bisa pasrah dan melepaskan cintaku padanya.
Waktu itu aku kira aku bisa,
Aku kira aku akan melupakannya,
Aku kira aku bisa menggantinya dengan wanita lain,
Aku kira aku bisa membunuh perasaanku untuknya,
Tapi,
Bayangan Kalila tak pernah menghilang dari kehidupanku. Dia masih terus membayangi malam-malamku. Aku masih merindukannya, aku tak bisa menghapus rasa cintaku padanya.
Tiap malam aku berpikir untuk kembali padanya.
Iya, aku akan kembali padanya. Aku bersumpah aku akan mencarinya. Aku akan menebus semua kesalahanku padany. Aku berjanji akan memberikan rasa cinta yang begitu besar padanya.
“Aku mencintaimu Kalila, tunggu aku kembali.”
— MUSE S2 —
•••
Aku belajar sekaligus bekerja dengan keras. Mencoba mengalihkan bayang dirinya dengan belajar dan bekerja.
Hasil kerja kerasku tak sia-sia. Aku punya banyak penghargaan di bidang grafis dan animasi. Aku ikut dalam beberapa project film kelas dunia, menjadi animator, dan juga iklan product. Aku terbilang cukup mapan saat ini, setidaknya aku bisa membayar uang kuliah dan biaya hidupku sendiri.
Sudah dua tahun aku terpisah darinya, dan rasa hati ini semakin tak menentu. Hatiku seakan remuk redam saat aku mengingat akan dirinya. Aku terus merasa ada sesuatu yang kosong dalam hidupku, padahal jadwalku saat ini begitu padat.
Nampaknya aku sudah tak bisa menahan lagi rasa rinduku padanya.
•
•
•
“Ngga, ini nggak salah? Kamu mau cuti setahun?!” dosen pembimbingku begitu kaget mengetahui aku mengambil cuti kuliah sangat lama.
“Iya, Pak. Saya akan bekerja di Maxsoft,” ujarku.
Sebenarnya aku ingin pulang karena merindukan Kalila. Tapi karena semalam ada iklan lowongan kerja yang menggelitik jiwaku sebagai pencinta game bikinan Maxsoft. Aku semakin memantapkan niatku dan memutuskan untuk pulang.
Aku memang penggemar game, tapi yang paling aku sukai adalah RPG online bikinan Maxsoft. Aku selalu memainkannya sampai lupa waktu. Dulu Kalila sering mengomel karena aku lupa dengan kencan kami sangking asyiknya bermain game.
“Wah, sayang sekali. Karirmu di sini terbilang sedang menanjak.”
“Saya akan berusaha kembali, Pak.”
“Baik, saya doakan kamu sukses. Cepat kembali Angga, kamu asdos yang trampil dan cekatan. Saya akan merindukanmu membantu saya mengajar.” dosen tua itu menepuk pundakku beberapa kali.
•
•
•
Sesampainya di Indonesia, aku langsung pergi menuju ke rumahnya. Aku berharap dia akan membukakan pintu sambil tersenyum padaku. Ah.., aku begitu merindukan senyumannya yang manis.
Ternyata bukan Kalila yang membukanya, tapi seorang kakek yang baru saja kehilangan istrinya. Rumah itu telah di jual pada sepasang lansia yang saling mencintai rupanya.
Aku juga mencoba menghubungi satu per satu teman-teman sekelasnya. Mereka berkata Kalila putus sekolah setelah orang tuanya meninggal. Aku tertunduk lesu, kenapa aku begitu pengecut dulu? Kenapa aku meninggalkannya?
Dulu,
Dia pasti sangat ketakutan,
Dia pasti sangat rapuh dan terluka,
Dia pasti sangat sedih dan kehilangan,
Dia pasti sangat membutuhkanku dan aku meninggalkannya..
Seminggu di Indonesia aku habiskan dengan percuma. Aku hanya berputar-putar tanpa arah untuk mencari keberadaannya. Segala upaya aku lakukan tapi tetap saja aku tak bisa menemukannya.
“Kalila, di mana lagi aku harus mencarimu?” desahku lesu.
Aku berharap Tuhan mempertemukanku dengannya. Aku akan menebus semua rasa bersalah yang menumpuk di dalam hatiku.
Krrrinnng... 🎶
Bunyi ponsel menghentikan lamunanku. Aku mengangkatnya.
“Selamat siang, Tuan Angga. Saya Aleina, sekretaris pribadi Tuan Arvin. CEO Maxsoft.”
“Ya? Ada yang bisa saya bantu?”
“Tuan Arvin telah menerima resume yang anda ajukan. Beliau ingin mewawancarai anda secara langsung.” ujarnya dari balik speaker ponsel.
“Kapan jadwal wawancaranya?”
“Tuan Arvin meminta anda menemuinya di kota S secepatnya. Saya akan kirimkan tiket pesawat, penerbangan paling pagi. Tuan Arvin tak suka menunggu, jadi jangan terlambat.”
“Baik.”
Setelah menutup ponsel aku kembali ke rumah. Membereskan beberapa pakaian dan juga peralatan kerja. Memasukkannya pada sebuah koper cabin size. Aku tak membawa banyak barang. Mestinya aku tak akan lama berada di sana.
Wanita itu bilang akan ada sopir yang menjemput kami di bandara untuk mengantarkan kami menemui Tuan Arvin. Seorang CEO perusahaan besar memang beda, dia bisa seenaknya sendiri menyuruh orang bekerja kapanpun dan di manapun dia mau.
But, itulah resiko menjadi budak kooperat. Kau harus tunduk pada atasanmu, karena merekalah yang memberimu penghidupan.
— MUSE S2 —
•••
Setibanya di kota S, kami telah ditunggu oleh seorang sopir. Ia mengantarkan kami berdua menuju ke lokasi yang telah di tunjuk oleh Tuan Arvin.
“Kota ini walaupun kecil ternyata cukup modern dan bersih.” pikirku saat melihat ke arah luar jendela.
Sepanjang perjalanan aku memilih diam dan menikmati pemandangan. Langit mulai sedikit meredup karena sudah hampir jam 3 sore. Tak terasa tujuan kami telah berada di depan mata.
Aku menuruni mobil dan melihat ke arah cafe. Cat biru langit dan pink terlihat dominan, beberapa warna-warna pastel lainnya ikut melengkapi bagian facade bangunannya. Ada Neon sign warna warni membentuk tulisan Palette cafe. Kalau Kalila melihatnya dia pasti akan sangat menyukainya.
“Itu, Tuan Arvin.” Aleina menunjuk sebuah mobil sport berwarna oranye yang baru saja datang.
Seorang pria berusia 30-an keluar dari dalam mobil. Ternyata dia masih sangat muda, aku kira pemilik Maxsoft sudah berumur, yah... setidaknya pasti sudah separuh baya.
Dia pasti bekerja keras untuk membangun semuanya menilik usianya yang masih sangat muda. Oh, atau mungkin dia hanya meneruskan warisan orang tuanya.
“Arvin,” salamnya terangkat. Tak biasanya seorang boss menjabat tangan pegawainya lebih dahulu.
“Angga,” salamku balik.
“Lama tak bertemu, Tuan.” senyum Aleina.
“Hallo, Na. Bisa kau pesankan kopi untuk kita?” Arvin menyuruh Aleina masuk ke dalam cafe. Sedangkan kami duduk pada meja outdoor dan mulai bercakap-cakap.
“Kau punya banyak pengalaman dalam industri ini, lalu kenapa memilih Maxsoft?” Tuan Arvin menyalakan rokoknya.
“Saya fans game buatan Maxsoft,” jawabku dengan antusias.
Kami mengobrol cukup lama. Pria ini ternyata pribadi yang begitu mengagumkan. Dia tak hanya berperan sebagai seorang boss yang suka menuntut. Tak nampak juga sebagai seorang anak orang kaya yang memperoleh segalanya dengan instan. Dia seakan-akan menguasai semuanya, tiap detail dalam perusahaannya.
Akupun dengan mudah bisa menjelaskan visi dan misiku begitu aku diangkat menjadi manager perencanaan. Aku akan mengembangkan karakter-karakter lama game Maxsoft dan membuatnya dalam proporsi baru sesuai perkembangan zaman. Yah, semacam remix. Karena karakter-karakter lama malah begitu membekas pada angkatan pertama penggemar game buatan Maxsoft.
“Dia tak mau memberikan billnya, Tuan.” Aleina tiba dan ikut bergabung dalam obrolan kami.
“Tak apa, Aleina. Dia memang unik.”
“Siap yang unik?”
“Pemilik cafe ini.” jawab Tuan Arvin.
“Anda mengenalnya.”
“Luar dan dalam,” kikihnya pelan. Aleina juga terkikih. Aku hanya bisa ikut tersenyum karena tak mengerti maksud keduanya.
“Mari lanjutkan.” pintanya, masih dengan asap rokok yang mengepul di sampingnya.
“Maaf ini kopinya.” seorang pelayan menyela obrolan kami, ia mengantarkan nampan berisi tiga cup kopi dingin.
“Thanks, Kalila.” Tuan Arvin tersenyum.
“Kalila??”
Apa dia bilang? Kalila? Nama pelayan itu Kalila? Dengan spontan aku beranjak dari tempat dudukku. Melihat ke arah wanita berapron coklat. Bau kopi dan parfun bercampur. Tercium lekat dan menggelitik ingatanku. Iya, itu parfum Kalila, aku masih mengingatnya. Manis dan lembut.
Pandangan kami bertemu.
Sudah lama aku tak melihatnya.
Gadis yang pernah mengisi masa-masa putih abu-abuku menjadi lebih berwarna.
Gadis yang pernah mendengarkan alunan gitar yang ku petik.
Aku begitu mencintainya.
Aku selalu bermimpi untuk bisa kembali bertemu dengannya.
Kembali bersamanya.
“Angga...?”
“Kalila...?” Matanya terlihat sama terbelalaknya denganku.
Terima kasih Tuhan, kau mengabulkan doaku.
— MUSE S2 —
MUSE UP
Tolong di LIKE
Tolong di COMMENT
Tolong di VOTE
Biar SaYa SEMANGAT!!!
Ada kenang-kenangan menarik dari saya untuk 3 voter terbanyak. So jangan lupa kumpulin poin kalian buat Vote MUSE.
Kapan lagi ngeVote dapat giveaway?
Thxque sayangkuh...
Luv yu..