MUSE

MUSE
S5 ~ DI MANA KAU, QUEEN?



MUSE S5


EPISODE 42


S5 \~ DI MANA KAU, QUEEN?


\~Berderu lelah dengan peluh yang tak kalah deras mengucur dari wajah. Kami berdua mengadu pandangan penuh ketidak sukaan. Menabuh genderang perang, tersulut kemarahan dan juga rasa cemburu pada hati kami masing-masing. \~


_______________________


NICK POV


Citt...


Bunyi suara rem beradu dengan ban motor dan aspal jalan. Aku bersenandung riang saat menuruni motorku. Hari ini proposal tugas akhirku mendapatkan titik terang, tak banyak revisi, hanya perlu segera menemukan model untuk memulai shooting video clipnya. Well, aku berharap tahun ini aku bisa segera lulus, lalu kembali ke kota S dan mengenalkan Bella pada keluargaku. Aku akan meminta daddy dan mommy untuk melamarnya secara resmi. Aku yakin mereka akan menerima Bella.


Tapi nyatanya ....


Kebahagianku tak berlangsung lama karena mendapati pintu depan tercongkel, rusak, sepertinya ada orang yang masuk secara paksa ke dalam rumah.


Seluruh otot wajahku menegang, aku menghambur masuk ke dalam, mencari keberadaan Bella, mencari keberadaan Queen ku.


Kamar begitu berantakan, pakaian Bella berserakan, air bercecer di mana-mana, selang shower belingsatan karena keran masih menyala, noda bercak darah menyiprat ke mana-mana. Aku berdesir miris, darah siapa itu?


Aku mulai panik, keringat membasahi wajahku. Apalagi setelah mendapati begitu banyak darah di atas ranjang.


“Bella??”


“QUEEN?!!! Di mana kau?”


Aku menelisik ke setiap ruangan lainnya, mengharapkan keberadaannya. Tak ada. Nihil, Bella tak terlihat di mana pun?


Panik ...


Bingung ...


Gelisah ...


Marah ...


Geram ...


Sedih ...


Semua rasa itu berkecambuk menjadi satu, membuat dadaku ingin meledak!


Ya, Tuhan, apa yang terjadi??!! Apa yang telah terjadi saat aku tak ada??


Aku hanya meninggalkannya dua jam dan keadaan berubah semengerikan ini!!


Kau bodoh, Nick!! Harusnya kau bawa saja Bella! Kau paksa dia bila perlu.


Aku menjambak rambutku bingung. Termangu-mangu dengan deruan napas yang tak beraturan. Aku benar-benar tak tak tahu harus bagaimana!! Kenapa aku seperti pecundang saat ini!!


Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?


Aku bangkit, menggeledah tas Bella, mencari ponsel. Mungkin Mark tahu sesuatu, dia yang selama ini menemani Bella selama di atas panggung, mungkin dia mengenal beberapa para fans fanatik Bella.


Tanganku bergetar saat menggenggam ponselnya untuk mencari kontak ponsel Mark.


Argh ... sialan!! Tolong berhentilah bergetar. Ku maki diriku sendiri.


“Ha—halo, Mark! Ini aku Nick.” Aku bergegas menyapa begitu suara terdengar dari seberang.


“Hallo, Nick?? Kamu Nick?” tanya suara asing dari speaker.


“Siapa kau? Bisa aku bicara dengan Mark?! Ini penting.”


“Aku William, kekasih Mark,” jawabnya. Ah, aku tahu William, Bella sering cerita tentangnya.


“Bisa aku bicara dengan Mark. Bella menghilang, aku tak tahu harus bagaimana?? Aku ... hiks ... hiks ...!” Aku menangis, kenapa aku jadi begitu cengeng?! Kenapa aku jadi pecundang lemah seperti ini?!


“Apa yang terjadi dengan Bella? Berhenti menangis, Nick!! Katakan dengan jelas!!” bentak William.


“Bella sudah tidak ada di rumah saat aku pulang. Pintu tercongkel paksa. Noda darah menyiprat ke mana-mana, Bella menghilang, Will!!” jawabku masih dengan terisak.


“Ya, Tuhan, apa yang terjadi dengan Bella??!!” William ikut terkejut.


“Apa sebaiknya aku lapor polisi?!”


“Tunggu, jangan gegabah, Nick!! Aku akan pastikan sesuatu. Tunggu kabar dariku, jangan terburu-buru dan tenangkan dirimu!! Aku yakin dia tak akan menyakiti Bella.” Setelah mengucapkan hal itu William langsung memutuskan panggilan.


Dia??? Siapa dia?? Apa William tahu sesuatu?


Otakku menjadi kosong saat ini, terlalu banyak kemungkinan malah membuatku tak bisa memikirkan apa pun. Aku takut, sangat takut saat membayangkan hal-hal mengerikan bisa saja terjadi pada Bella.


Kembali terlindas pada benakku bayangan senyumannya yang manis dan begitu menggoda. Aku terisak pelan, hanya bisa berdoa agar tak ada hal buruk yang bisa melukainya.


Kuharap kau baik-baik saja, My Queen.





Beberapa menit yang terasa berabad-abad karena rasa cemas yang menusuk sanubari. Aku tersentak saat ponsel Bella berbunyi. William akhirnya menelephone, aku bergegas untuk bangkit, mengambil ponsel di atas meja. Terburu-buru sampai akhirnya tersandung, membuatku terpleset dan jatuh terjungkal menghantam tepian nakas. Sialan!! Rasanya sangat menyakitkan.


“Halo.”


“Nick, Bella tak apa, dia aman. Bisa kita bertemu?” tanya William.


“Benarkah??” Aku menurunkan bahuku yang sembari tadi menegang, sedikit lebih relaks karena kabar dari William.


“Benar, tapi ada masalah yang lebih mendesak kau tahu!! Siapkan hatimu karena ini akan membuatmu ... ah, sudahlah, lebih baik kita bertemu,” tukasnya.


“Di mana?”


“Rumah sakit pusat D.”


“Baiklah.”


Tut ...


Sebenarnya hal apa yang begitu mendesak??


Huft ... tak ada waktu untuk kebingungan, aku harus bergegas menemui William.


— MUSE S5 —


Aku setengah berlari saat tiba di rumah sakit, membelah kerumunan manusia yang berbondong keluar karena jam besuk telah berakhir. Aku nekat masuk, menerobos dan menaiki tangga darurat agar tak ketahuan satpam. Untung saja Mark di rawat di lantai 3 bukan lantai 6.


“Mark?!!” Wajahku berubah masam saat mendapati Merk tergolek tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Tubuhnya babak belur dan terbebat perban karena luka lecetnya cukup parah.


“Nick? Apa kau Nick?” Seorang pria gemulai mendekatiku, aku yakin dia pasti William, kekasih Mark.


“Iya, aku Nick. Kau William? Apa yang terjadi dengan Mark?” tanyaku heran.


“Panjang ceritanya, Nick. Yang pasti ini berhubungan dengan Bella.” William menyuruhku keluar mengikutinya.


Kami duduk pada kursi besi di ruang pasien, William memberikan kopi panas yang baru saja dibelinya dari mesin penjual otomatis. William menyuruhku tenang, aku mendengus, walaupun susah aku berusaha untuk tenang.


“Apa Bella pernah cerita tentang mantannya?” tanya William.


“Iya, pernah, namanya Lucas bukan?”


“Dia yang membawa Bella!”


Uhuk!! Uhuk!! Otomatis aku menelan kopi yang berada di dalam mulutku, membuatku tersedak. William menepuk punggung dan memberikanku tisu.


“Apa kau bilang?!” seruku kaget.


“Dia jugalah yang menghajar Mark sampai seperti itu, Nick. Maafkan aku, aku yang memberi tahunya rumah Bella. Dia hampir membunuh Mark, dan aku tak punya pilihan.” William tertunduk malu.


Aku tak bisa berkata-kata, mau kecewa atau marah? Aku tak berhak, mereka hanya melakukan itu untuk melindungi diri mereka sendiri. Yang patut di salahkan adalah Lucas, pria b4jingan itu tak hanya menyakiti Mark tapi juga menculik Bella.


“Saat ini Lucaslah yang membawa Bella.”


“Kau tahu dari mana?”


“Aku menelepon Lucas. Dia meninggalkan nomornya dibagian keuangan rumah sakit. Menyuruh mereka menagihnya untuk semua biaya pengobatan Mark.”


“Apa yang dia katakan?”


“Dia bilang akan menjaga Bella. Akan membawanya pulang ke kota S, membawa juga Aiden,” lirih William.


“Ini tidak adil, Will!! Aku mencintai Bella dan Bella mencintaiku!! Dia tak bisa membawanya begitu saja.” Aku geram, tanpa ragu aku mengepalkan tanganku dan bangkit berdiri.


“Jangan gegabah Nick.” Will menarikku duduk kembali.


“Aku akan lapor polisi!”


“Jangan!! Dia bukan orang yang bisa ku lawan dengan hukum!” sergah William, “dia itu mafia, uangnya banyak, dukungan dari dunia gelap pun banyak! Kalau dia bisa tersentuh hukum, sudah dari dulu Lucas dipenjara.”


“Kalau begitu aku akan menantangnya, aku akan mengambil Bella darinya. Bella tak layak dipermainkan seperti ini, Bella tak layak disakiti dan kembali bersedih,” tukasku geram.


“Huft ... kau bukan tandingannya Nick. Sudah, biarkan Bella yang menentukan jalan hidupnya, kau tunggu saja. Kalau jodoh, kalian pasti akan kembali bersama.” William mengelus punggungku.


“Kau menyuruhku diam?! Kau menyuruhku menyerah sebelum bertanding? Kau menyuruhku mengakhiri semuanya seperti seorang pengecut?!”


“Nick ... bukan begitu maksudku.”


“Kau boleh saja menjadi pecundang karena Mark dalam bahaya! Tapi aku selamanya tidak akan menjadi pecundang yang menyerah sebelum bertanding.” Aku menatap nanar pada William.


“Bella adalah cintaku, sampai dia sendiri yang berkata agar aku menyerah aku tak akan pernah menyerah pada perasaanku.” Lanjutku.


“Kumohon tunggu kabar dari Bella, Nick. Aku hanya tak ingin kau terluka karena kebodohanmu sendiri,” tutur William.


“Tidak!! Aku tetap akan mencarinya.”


“Baiklah, kau memang tak bisa dinasehati. Bella ada di kawasan tengah kota D, kau pasti tahukan hotel-hotel termewah di sana?!” William memberi informasi.


“Tentu saja.”


“Ingat!! Jangan gegabah!! Bella bukanlah wanita yang bodoh, Nick, dia pasti tahu apa yang harus dia lakukan.”


“Iya, aku tahu.”


Secepat kilat aku berlari, kembali menerobos kerumunan pembesuk. Berlari bak orang gila yang kehilangan akal hanya untuk menderukan kembali mesin motor dan bergegas menuju kota D.





Aku masuk ke hotel termewah di sana, tak ada pemesan atas nama Lucas. Terpaksa aku harus mengitari beberapa hotel mewah lainnya hanya untuk menemukan nama b4jingan itu.


ARGH SIALAN!!! Umpatku, hari mulai sore dan aku sudah kehabisan tenaga.


“Di mana kau, Queen?!”


Di tengah-tengah pencarianku aku mendapati seorang wanita tengah berlari. Keluar dari sebuah hotel mewah, hotel terakhir yang menjadi incaranku. Ia berlari pada terotoar jalan, posisinya berada dia berada di seberang jalanku. Berlari dengan sekuat tenaga.


“Bella??”


Benar, itu Bella, itu kekasihku. Senyuman belum hilang dari wajahku saat melihat beberapa orang lelaki tegap ikut menyusulnya, lalu seorang pria dengan tato naga pada lengan kirinya pun ikut mengejar Bella.


Cepat-cepat aku menyusulnya, mencari jalanan tikus yang menembus pada sisi lain jalan itu. Untung saja aku sudah lama tinggal di sini, tak sulit bagiku menemukan jalanan yang bisa ku lalui dengan motor.


BRUK, aku menaruh motor sembarangan. Beberapa orang yang melihat kelakuanku berjengit kaget. Aku tak peduli dengan pandangan mata mereka, yang aku pedulikan hanyalah keberadaan Bella, keberadaan Queenku yang begitu berharga.


Aku menempuh trotoar dengan berlari, kepalaku tak henti bertolah toleh untuk mencari sosok Bella. Harusnya aku tidak salah, harusnya Bella akan menembus jalanan ini kalau dia terus berlari lurus.


“Bella!! Bella?!!” Aku berteriak memanggil namanya saat aku menemukan sosoknya.


“Nick???” Bella terlihat kaget.


“Kemarilah!!” teriakku.


Bella mempercepat kakinya, membelokkan langkah, mengikis jarak, hendak meraih tanganku yang terulur untuk menggapai tangannya.


“BELLA!!” panggil seorang pria yang juga terus mengejarnya.


Bella menoleh ke belakang, wajahnya ketakutan. Karena menoleh saat berlari, tanpa sadar Bella terjerembab. Dia terjatuh.


“Bella!!” seruku.


“Bella!!” serunya.


Napas kami berdua sama ngos-ngos-annya. Berderu lelah dengan peluh yang tak kalah deras mengucur dari wajah. Kami berdua mengadu pandangan penuh ketidak sukaan. Menabuh genderang perang, tersulut kemarahan dan juga rasa cemburu pada hati kami masing-masing.


“Jangan mendekat, Lucas!! Lepaskan aku!!” Bella merangkak mundur lalu bangkit perlahan-lahan.


Aku baru tahu, ternyata pria itu adalah Lucas. Pria yang di cintai Bella jauh sebelum kami saling mengenal. Dia adalah ayah kandung Aiden, dan juga saingan cintaku. Tubuhnya memang kekar dan pandangan matanya sangat tajam. Tak ayal Mark sampai kalah darinya, bahkan Williampun mencegahku mencari masalah dengannya.


“Kenapa kau kabur dariku?” Lucas menatap Bella dengan nanar, seperti ada rasa kecewa yang luar biasa di dalam sorot matanya.


“Bella, kemarilah!” Aku berteriak pada Bella. Teriakkanku membuat Lucas memicingkan mata padaku, tanda geram.


Bella terus menoleh ke kanan dan ke kiri, ia memang berdiri tepat berada di tengah-tengah kami, Lucas - Bella - Aku. Wajah paniknya terlihat kebingungan. Bella menggigit bibirnya yang tebal dan sensual.


“Kemarilah, Bella!! Kembali padaku!” teriak Lucas, ia maju selangkah.


“Jangan dengarkan dia, Bella!! Kau mencintaiku!” Aku berteriak pada Bella, aku juga maju selangkah.


Bella menatap sesaat ke arah Lucas, lalu beralih padaku. Kebingungan berada di tengah dua orang lelaki yang sama-sama berpengaruh dalam hidupnya.


Siapa yang kau pilih, Bella?


— MUSE S5 —


Sekilas inpo :


Readers Budiman : Thor kemarin dapet daging berapa kilo?


Author : cuma satu kilo.


RB : di masak apa Thor?


Author : oseng-oseng pete.


RB : pantes aja napasnya bau pete. (Kasak kusuk)


Author : all hail PETE!! Sedap!! 🤤🤤


RB : Thor ilernya ketes ke mana-mana.


Author : wah, iya. Mon maap di lap dulu Ye.


Kali Kalian masak apa gengs??


RB : pengen tahu Thor?


Author: iyalah, kali aja author di bagiin.


Jadi para readers yang budiman masak apa nieh???


Tulis jawaban kalian di kolom komentar ya, 4 orang dengan jawaban terunik bakalan dpt pulsa dari Otor Rengginan. @25 rb.


Ditunggu sampai besok Minggu tgl 2 Agustus 20. Ntar barengan sm voter terbanyak.


Oh iya jangan lupa masih ada give away 10rb pulsa tiap minggunya buat votter yang vote terbanyak dan tercinta. 😘🥰