MUSE

MUSE
HASRAT



MUSE


EPISODE 21


HASRAT


\~Untuk kedua kalinya aku membiarkan punggung itu menjauh tanpa bisa berkata apapun.\~


Namaku Amanda, anak ke dua dari tiga bersaudara, Mama dan Papa sangat sayang dengan kakak perempuan dan adik laki-lakiku. Mungkin bagi mereka aku hanyalah anak yang terlanjur hadir di tengah-tengah, dan yang nggak seharusnya ada.


“Kamu itu bodoh banget!! Soal gampang gini aja nggak bisa.” omelan Mama selalu terngiang jelas di telingaku.


“Lihat kakakmu, selalu peringkat pertama. Adikmu selalu juara.” Mama kembali mengomel, dia melemparkan buku raport tepat di depan wajahku.


“Mau jadi apa kamu besok??” Papa juga selalu bertanya hal yang sama.


Aku kesepian..


Aku haus akan kasih sayang..


Aku juga ingin semua orang menyayangiku..


Sejak kelas 5 SD aku putuskan untuk merubah nasibku. Aku belajar mati-matian supaya bisa mendapatkan juara di kelas. Aku berharap dengan prestasi yang kumiliki aku bisa mendapatkan secuil perhatian dari kedua orang tuaku, setidaknya mereka tidak akan marah lagi kepadaku.


Tapi ternyata Mama dan Papa tetap tidak memandangku..


Tapi di luar perkiraanku, teman-temanku menyukai sosok diriku yang pintar. Mereka memberikan perhatian yang nggak pernah aku terima saat bersama orang tuaku. Aku kini menjadi semakin rajin, sampai berhasil mendapatkan juara pertama.


Nggak sampai di situ saja, saat SMP aku mulai belajar berdandan karena ajakan teman-temanku. Aku mulai menguncir rambutku dengan rapi, menata bajuku, memilih pakaian yang cantik. Untung saja baju kakak yang dilungsurkan padaku masih cukup bagus.


Aku menikmati masa-masa sekolahku karena banyak yang menyukaiku, menyayangiku, dan mencintaiku. Aku selalu jadi pusat segalanya saat berada di sekolahan.


Dan yang paling membuatku bahagia saat itu adalah pengakuan cinta dari Alex.


“Kakak, aku suka, mau pacaran denganku?” wajah Alex bersemu merah, aku memandang tubuhnya yang kurus tinggi. Anak ini sangat imut dan tampan.


Alex adalah adik tingkat 2 tahun di bawahku. Aku kelas 3 dan dia kelas 1 SMA saat itu. Sebenarnya Alex cukup menonjol di sekolahan, jadi banyak anak cewek di kelasku juga menyukai Alex. Maka itu aku putuskan untuk mencoba menerima cinta Alex. Mencoba berpacaran dengan seseorang, mencoba menerima banyak cinta dan kasih sayang.


“Boleh, ayo kita pacaran.” Aku tersenyum dan menerima tangan Alex. Alexpun tersenyum saat menggenggam erat tanganku.


Saat itu aku merasakan kehangatan yang menjulur masuk ke dalam hatiku. Walaupun aku belum mengenal Alex, tapi aku ingin percaya bahwa dia adalah jodohku. Orang yang akan kucintai seumur hidupku.


Kami berpacaran hampir satu tahun, kadang bertengkar, kadang jahil, kadang manis, kadang menyesakkan. Aku begitu menyukai Alex, mencintai setiap kenangan yang pernah terjadi dalam hubungan kami. Aku bahkan rela mati untuknya saat itu.


Alex sering melukis, dia mencintai lukisan. Aku juga sangat menyukai lukisan Alex, lukisannya benar-benar hidup. Alex pernah melukisku 1 kali, aku membawa lukisan itu pulang tapi Papa menghancurkannya.


“Kau pacaran dengan anak bodoh itu!?”


“Alex bukan anak bodoh, dia berprestasi,” baru kali ini aku membantah orang tuaku, dan itu demi Alex.


“Sekarang kau jadi kurang ajar!! Jadi pembangkang!!” Papa menampar wajahku. Panas dan perih, namun perihnya tamparan papa tidak sesakit hatiku.


“Cuma cinta monyet! Putus saja!!” Mama ikut-ikutan menyerangku.


“Lihat kakakmu, dia menikah dengan pria kaya dan baik. Sekarang kehidupannya menjadi berkat untuk keluarga kita.” Papa menunjuk foto pernikahan kakak yang tertempel cantik di dinding ruang tamu. Papa dan Mama selalu membanggakannya saat ada tamu yang datang.


“Aku nggak mau menikah! Aku masih mau bersekolah.” Aku memohon pada Papa.


“Anak gadis di desa sekolah tinggi-tinggi untuk apa? Menikah saja, cari pria yang baik dari keluarga kaya.” Papa kembali terlihat emosi, seluruh urat di lehernya menegang.


Aku tak menjawab, aku hanya menangis.


“Menikah saja Amanda.” suara Mama akhirnya terdengar lembut.


“Nggak, Ma. Amanda nggak mau.”


“Ada anak teman Papa yang baik, ganteng, dan dari keluarga baik-baik.”


“Tapi, Ma.. Amanda masih mau kuliah.”


“Kuliah setelah menikah juga bisa!” Papa melanjutkan amarahnya.


“Mumpung dia mau menikahimu, kesempatan tidak datang dua kali.” Papa meninggalkanku.


Aku tersungkur di depan Mama, aku masih menggenggam kencang rok Mama saat itu. Menangis dan terisak, aku tetap bergeleng tanpa henti, mencoba mencari belas kasihan dari Mama.


Kenapa aku harus selalu menuruti perintah mereka agar mereka menyayangiku??


Kenapa aku harus mengorbankan diri dan perasaanku demi mereka?


Lalu Alex..


Aku mencintai Alex..


Aku nggak mau berpisah dengan Alex.


—MUSE—


“Alex kita putus saja. Aku akan kuliah ke kota,” itulah hal terakhir yang aku katakan kepada Alex sebelum kami berpisah.


Semula Alex memohon, tapi aku hanya diam saja.


Sampai akhirnya dia menyerah dan berpaling meninggalkanku. Dalam hati aku berfikir untuk mengejarnya, mengejar punggung lebar yang terus menjauh dariku. Aku ingin berteriak agar dia nggak menyerah terhadapku, aku ingin dia bertahan di sampingku.


Namun tenggorokanku tercekat, bahkan tidak ada satu bulir pun air mata yang menetes dari mataku. Aku terlalu kecewa untuk menangis, terlalu sedih untuk berteriak, terlalu sakit untuk mengingat.


Setiap malam aku kesepian, kesepian yang dulu menjadi temanku kini kembali menemaniku. Aku hampir gila karena rasa rinduku pada Alex. Setiap malam samar-samar aku bisa mencium aroma tubuhnya, mengingat hangat dan manisnya bibir Alex saat mencium bibirku. Setiap malam aku merintih karena hatiku sangat sakit.


Walaupun aku harus gila, aku nggak akan menyesal kalau itu karena dirimu..


—MUSE—


Dua tahun aku berada di kota setelah menikah, namun sosok Alex tetap tak tergantikan. Kini aku punya segalanya, berkat suamiku yang kaya aku bisa membeli apapun yang aku mau. Aku mencoba mengusir rasa rinduku padanya dengan berbelanja, menghamburkan uang, mempercantik diri.


Aku sendiri juga nggak pernah mengelak, aku menerima setiap pukulannya sebagai hukuman atas perbuatanku kepada Alex. Mungkin ini karma yang aku terima karena pernah menyia-yiakan cintanya. Membuang cinta Alex yang tulus kepadaku.


Sampai pada suatu titik aku mengalami kejenuhan, aku kembali pulang ke rumah orang tuaku karena Papaku sakit. Aku tidak peduli dengan sakit yang di derita Papa, bagiku cukup memberikan suplay uang dari suamiku, aku sudah menjadi anak yang berbakti. Saat ini aku hanya berharap bisa bertemu dengan Alex di desa.


Ternyata Tuhan masih mengijinkanku untuk bertemu dengan Alex. Aku hampir menangis karena bahagia saat bertemu dengannya. Alex tampak begitu tampan, dan aku sangat menginginkannya.


Aku berjanji untuk membantunya kuliah di kota, dengan begini kami masih bisa berdekatan. Aku bisa memandang wajahnya setiap saat.


Aku berpura-pura mencintai suamiku di depan Alex. Aku nggak mau dia merasa kasihan kepadaku. Aku mau dia tahu aku bahagia dengan kehidupanku. Sehingga pengorbanannya dulu tidak sia-sia. Namun kelihatnnya aku malah justru semakin menyakiti hatinya.


Kesepian di hatiku..


Keegoisanku..


Rasa Cintaku..


Merubahku menjadi seorang wanita yang bahkan tidak layak menerima cinta dari Alex maupun suamiku. Aku menghianati mereka berdua dalam sebuah hubungan yang rumit. Hubungan yang penuh dosa.


Nafsu..


Cinta..


Hasrat..


Manakah yang aku dahulukan?


Aku sudah melupakannya..


Yang aku butuhkan hanya kehangatan..


Rasa ingin di cintai dan di kasihi..


Ingatanku yang begitu mencintai Alex.. atau ingatan yang begitu membutuhkan suamiku.. mana yang aku pilih untuk aku pertahankan?


“Amanda aku sudah nggak bisa melanjutkan hubungan kita.” Aku kaget saat Alex dengan tegas mengatakannya kepadaku siang ini.


“Kenapa?”


“Ada wanita lain yang aku cintai.” Alex tersenyum, rona merah memenuhi wajahnya.


Aku membuang muka, aku tahu akan tiba waktunya Alex mencintai wanita lain dan meninggalkanku.


Aku pernah menghianati dan meninggalkannya dulu, dan ternyata rasanya begitu sakit. Alex pernah mengalami hal ini, aku teringat aku juga pernah mengucapkan hal yang sama.


Ternyata rasanya sangat sakit, perutku sampai terasa mual, butir demi butir air mata mengalir dari pelupuk mataku.


Aku meremas kemeja Alex, menangis di dadanya.


Aku nggak mau dia mencintai wanita lain.


Aku nggak mau dia menyerah terhadap diriku.


Aku nggak mau kembali kesepian.


Aku nggak mau...


Nggak mau...


“Aku mencintainya Amanda, seperti aku pernah mencintaimu dulu.” Alex mengusap lembut rambutku, menyelipkan di belakang telinga setiap helai rambut yang mulai acak-acakan.


“Kenapa?”


“Karena dia juga mencintaiku.” jawab Alex.


Jawaban itu semakin membuat hatiku hancur. Aku juga mencintaimu, Lex. Cintakupun nggak kalah besar, walaupun aku selalu berbohong padamu.


“Cium aku untuk terakhir kali,” pintaku.


Tanpa mendengar jawaban Alex aku melingkarkan lenganku ke lehernya, mencium bibirnya.


Rasa manis dan hangat menyeruak, membuatku terbius. Aku ingin menikmatinya untuk terakhir kali, merasakan nafas pria yang kucintai dengan sepenuh hatiku.


“Alex.” sebuah suara menggetkanku.


Mataku terbelalak melihatnya, seorang gadis manis dengan kulit sangat putih muncul di balik pintu masuk. Wajahnya terlihat sangat kaget dan syok, aku pun tak menduganya.


“Alex itu..”


Alex tercengang melihat gadis itu, matanya juga terbelalak dan tubuhnya kaku. Mereka saling memandang sampai akhirnya suara Alex memecah keheningan.


“Lenna.”


Saat Alex memanggil namanya, air mata keluar dari mata gadis itu.


Dia berlari dan Alex mengejarnya. Alex terus memanggil namanya, berkali-kali masih terdengar sampai akhirnya samar-samar dan menghilang.


Aku memejamkan mataku, dan air mata kembali mengucur. Aku terjatuh di lantai, tubuhku lemas, kakiku tak bertenaga.


Untuk kedua kalinya aku membiarkan punggung itu menjauh tanpa bisa berkata apapun.


—MUSE—


Like, comment, and +Fav


Follow dee.meliana for more lovely novels.


❤️❤️❤️


Thank you readers ^^