
...MUSE S7...
...EPISODE 02...
...S7 - PROLOG...
...- As a lily among brambles, so is my love among the young women. -...
...Song of Solomon 2:2 ...
...\~Mata Leoni berkaca-kaca melihat kehadirannya. Namun berusaha tegar agar air mata itu tak tertumpah, bukankah dia sedang ngambek padanya? Sedang marah?\~...
____________________
Musik klasik mengalun lembut, beberapa orang gadis remaja dengan rok tutu dan pakaian ketat berwarna pink melenggok dengan luwes. Tangan mereka berpegangan pada besi stenless di depan kaca-kaca besar. Mereka sengaja berpegangan agar posisi tarian mereka bisa seimbang.
“Good, pertahankan!”
Seorang wanita muda dengan tongkat kayu pipih berjalan menyelusuri mereka semua. Mengamati sambil mengayunkan tongkat itu. Sesekali ia membetulkan posisi anak-anak, tak jarang menepuk punggung atau kaki mereka yang kurang lurus. Posisi balerina harus selalu tegap, harus selalu penuh ketegasan, namun sekaligus lembut dan indah.
Mata sipitnya menuju ke seorang gadis, —yang dari tadi kakinya gemetaran. Gadis itu kehilangan keseimbangan. Pandangan matanya lurus, tangannya terangkat sempurna, namun kakinya sedikit tidak seimbang. Rasanya sakit sekali, harus menahan beban tubuhnya dengan satu kaki, berjinjit pula.
“Leoni! Ck, kau pasti tidak fokus lagi!” tuduh wanita itu, ia berjalan mendekati Leoni, memukul pelan bahu Leoni dengan tongkat kecilnya. Lalu menepuk posisi kaki Leoni agar berjinjit semakin tegak.
“Ugh, aku lelah, Miss. Tak mau lagi melakukannya,” hela Leoni, bibir mungilnya menghembuskan napas panjang. Lelah mendera kaki dan juga punggungnya. Kalau bukan karena perintah Kanna, mamanya, Leoni pasti tidak akan mengikuti kelas balet ini.
Leoni menyerah, ia memerosotkan tubuhnya, duduk bersila di lantai karpet. Meluruskan pelan-pelan kakinya yang kesemutan. Wajah cantiknya meringis.
“Istirahat sebentar, Ladies!” seru Miss Yoana. Teman-teman Leoni ikut menurunkan kaki mereka sembari menghela lega.
“Kau sudah berlatih balet selama dua tahun, masa mau menyerah?!” Miss Yoana bersedekap, dengan tongkat kecil itu, gayanya mirip dengan para witch di film Harry Potter.
“Ck, dua tahun dan kau belum mengizinkanku tampil.” Leoni berdecak.
“Jadi kau menyalahkan orang lain karena kesalahanmu sendiri? Came on, Girl! Kau sudah hampir 18 tahun! Bukan lagi anak kecil, kau sendiri tahu kemampuanmu seperti apa! Membuatmu tampil hanya akan mempermalukan dirimu dan juga tim!” Miss Yoana duduk bersimpu di samping Leoni. Ia menggerai rambut hitam panjangnya yang dari tadi dicepol ke atas.
Leoni tak pernah serius menjalankan latihan baletnya. Gadis itu hanya menghindari omelan mamanya dan juga mengalihkan pikirannya yang terus menerawang ke mana-mana.
“So ... kenapa juga kau tidak mengeluarkanku dari akademi ini? Aku juga sudah muak, aku merasa seperti orang bodoh.” Leoni mencibirkan bibirnya.
“Aku berteman baik dengan Kanna! Kalau bukan karena mamamu ingin kau menjadi anak gadis yang feminim tentu saja aku tak akan menerima murid lewat batas umur sepertimu.” Miss Yoana terkikih, ia menunjuk dahi Leoni pelan.
“Dasar perawan tua!” sergah Leoni.
“Apa kau bilang? Dasar anak nakal!” Yoana mencepit tubuh kurus Leoni dan menggelitikinya. Walaupun belum menikah di usia 40 tahun belum tentu dia tidak laku, ke singleannya saat ini adalah pilihan hidup.
“Adududuh ... ampun ... ampun, Miss!” Leoni belingsatan. Geli sekali.
“Sepertinya suasana hatimu sedang tidak bagus. Kelas juga sudah hampir berakhir, lebih baik kau dinginkan kepalamu dulu.”
“Heh? Di mana? Di kulkas?”
“Yah, boleh, di dalam mesin cuci juga boleh, kali aja otakmu jadi bersih lagi.” Yoana bangkit.
“Oke, Ladies, kita sudahi sesi latihan hari ini. Terus pertahankan postur tubuh kalian. Jaga berat badan. Aku tidak mau saat tampil nanti ada seorang yang bajunya terlihat jelek karena tonjolan lemak.” Yoana menepuk tangannya, memberikan wejangan sambil tertawa.
“Baik, Miss.”
“Cih, kalau aku akan tetap makan.” Leoni terkikih, peduli amat dengan masalah bentuk tubuh, toh bentuk tubuhnya tak pernah berubah meski ia makan satu karung beras.
Leoni bangkit, menuju ke ruang ganti bersama dengan para gadis muda lainnya. Rata-rata berumur 15-20 tahun, mereka sudah mengikuti kelas balet sejak kecil. Hanya Leoni yang mengikuti kelas ini sejak dua tahun yang lalu. Sejak ia mulai menangis karena memikirkan cowok brengsek berstatus pacarnya itu, — yang pergi mengejar impian bodohnya. Kanna yang khawatir menyuruh Leoni untuk memikirkan hal lain, mengisi waktu dengan kegiatan berfaedah. Siapa tahu anak gadisnya nanti bisa punya postur tubuh yang anggun dan feminim. Setidaknya mirip dengannya, bukan kasar dan beringasan seperti papanya, Leon.
“Kau sedang PMS? Kenapa aura di sekeliling wajahmu gelap sekali?” tanya salah seorang dari mereka pada Leoni di ruang ganti.
“Nggak, terbalik! Suasana hatiku sedang bagus, hanya saja aku juga sedang memikirkan sesuatu. Sesuatu yang rumit.” Leoni tersenyum kecut.
“Gadis aneh! Apa yang begitu rumit sampai membuat wajahmu tertekuk, hah?!” Kikihnya sambil menutup pintu loker, memandang ke arah Leoni yang masih sibuk dengan sisir rambutnya.
“Huft ... aku akan bertemu dengan pacarku sebentar lagi, dia bilang akan menjemputku.” Leoni menutup pintu lokernya.
“So?! Ya baguskan, kenapa kau malah menghela napas?! Kenapa malah menganggap ini suatu hal yang rumit?”
“Dia sudah dua tahun tidak pulang! Dan aku gugup, aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi perasaanku padanya.” Leoni bersandar pada lemari loker, mengantukkan kepalanya pelan dengan pintu loker.
“Nggak, kami masih saling mencintai. Dih, sebel!” Leoni tertunduk, tumitnya terus menendang kaki lemari besi. Tak tahu bagaimana harus mengungkapkan rasa bimbang di dalam hatinya.
“So what?? Kalian bisa melepas rindu setelah sekian lamakan? Kenapa mesti sebal?” tanyanya heran.
“Aku benci saat melihat wajahnya karena aku akan merasa kalah. Aku benci saat melihat wajahnya karena aku akan kembali luluh. Kau tahu, aku sangat benci dengan impiannya. Dia meninggalkanku selama dua tahun karena impian bodohnya. Dan kini aku harus bertemu lagi dengannya, berdebat untuk sesuatu yang tidak penting baginya, tapi penting bagiku!” Leoni memejamkan matanya. Hatinya begitu membenci cowok itu, tapi juga sangat mencintainya. Susahkan!!
“Wah, wah, emangnya apa impiannya?”
“Dia ....”
“Leoni, ada yang mencarimu!” Tiba-tiba, ada yang menyela obrolan mereka. Melambai-lambai pada Leoni dari balik pintu masuk ruang ganti.
Teman-teman yang lain juga terperana dengan kehadiran seorang cowok di sanggar khusus wanita itu. Yang lebih membuat mereka tak berkedip adalah, cowok itu ganteng banget.
“Ya, Tuhan, ganteng banget!” celetuk mereka.
“Ugh, berdiri saja aura panasnya bikin meleleh.”
“Gerah!”
“Siapa?” Leoni bergegas keluar, teman-temannya mengekor.
Leoni terkesiap melihat siapa cowok yang mencarinya. Tubuh jangkung dan perawakannya tetap sama. Bahunya tetap tegap, wajahnya masih tampan dan bahkan kini jauh lebih tampan. Hanya rambut dan kulitnya yang berbeda, rambutnya sedikit gondrong dan kulitnya kecoklatan. Sepertinya dia banyak berjemur akhir-akhir ini.
Mata Leoni berkaca-kaca melihat kehadirannya. Namun berusaha tegar agar air mata itu tak tertumpah, bukankah dia sedang ngambek padanya? Sedang marah?
“Leoni! Di ... dia ... dia Levin kan?? Pemenang Grand prix termuda tahun lalu?!” Mata mereka membelalak. Kaget, kagum, heran membaur jadi satu. Pria itu tak lain adalah Levin, juara dunia motor GP 250 cc, mengendarai Duc*ti. Tahun lalu saat usianya 16 tahun, Levin mengalahkan para saingannya yang jauh lebih tua, muncul sebagai kuda hitam yang tak diperkirakan.
Wajahnya langsung menghiasi layar kaca dan juga majalah-majalah ototmotif. Membuat decak kagum pada pecinta olah raga yang mengutamakan teknik dan kecepatan ini.
“Hoo.” Leoni mengangguk.
“Di .. dia pacarmu??” gagap mereka, tak pernah menyangka bahwa pacar Leoni adalah orang sehebat itu.
“Iya.” Leoni mengangguk lagi.
“Ko ... kok kau nggak bilang kalau pacarmu dia! OMG!! Gila dia benar-benar Levin!!”
“Hla?? Kaliankan nggak pernah nanya, lagian buat apa pamerin cowok menyebalkan seperti dia.” Leoni menatap lagi punggung cowok berhodie itu. Tangannya masuk ke dalam sak, memandang ke luar dinding kaca besar. Ia terlihat sedang menunggu Leoni dengan sabar.
“Levin,” panggil Leoni. Cowok itu terkesiap, ia memutar tubuhnya.
“Hallo, Baby!” Senyuman terkembang pada wajah tampannya.
Levin membuka lengannya, memberi kode agar Leoni segera menghambur masuk dalam pelukkannya.
Leoni mencibirkan bibirnya, menatap Levin dengan mata berkaca-kaca. Sekajap kemudian gadis itu berlari, Levin sudah bersiap siaga, menerima pelukan kekasihnya, ingin segera mendekap hangat dalam pelukkannya.
Namun ...
Leoni bukannya mengambur masuk dalam pelukan Levin malah keluar dari sanggar dan berlari pergi. Meninggalkan Levin yang masih mematung, syok dengan respon Leoni. Harusnyakan mereka berpelukan setelah sekian lama tidak bertemu.
“Hei!! Hei!! Singa!!” Levin berteriak memanggil nama kekasihnya —yang ngambek— sebelum berlari menyusul Leoni.
Sebenarnya kenapa sih? Leoni begitu sebal dengan Levin?
...— MUSE S7 —...
...Muse up!!!...
...Jangan lupa dikomment, dilike, divote!!!...
...Biar authornya bahagia, semangat update!!...
...Mon maaf, dikit dl ya, lama nggak nulis MUSE otaknya macet. Perlu diisi dengan kemanisan-kemanisan yang bikin meleleh dulu. ...
...Baca novel baru saya, judulnya My Lily, kasih masukkan, kasih like tiap episodenya biar bisa naik ke beranda....
...Makasih...
...🥰🥰🤣🤣...