
MUSE S5
EPISODE 35
S5 \~ TULIS ULANG
\~ Memang belum ada cinta yang tumbuh dan mengakar begitu dalam seperti saat bersama dengan Lucas, tapi kenyamanan hati yang diterimanya jauh lebih membuat Bella bahagia saat ini.\~
___________________
AUTHOR POV
Bella mengakat tangannya ke atas saat mereka melaju dengan kencang di atas motor sport hitam itu. Membelah jalanan dan juga angin kencang. Udara malam membut kaku wajah Bella, namun kesegarannya membuat hatinya begitu lepas. Tak terasa mereka sudah sampai ke tujuan.
“Masuklah, Nick!” Bella melangkah riang dan membuka pintu rumahnya.
“Yup.”
“Kau mau coklat panas, kopi, atau teh?” Bella menguncir rambutnya naik ke atas, membentuk bun dan memulai aktifitanya memasak.
Bella yang saat itu melepaskan kemeja kotak-kotak merahnya dan hanya berbalutkan tank top hitam serta jeans membuat Nick terpaksa menahan gejolak di dalam dadanya.
Ck, kenapa dia sexy sekali?! Oh, came on, Nick!! Lupakan pikiran kotormu!! Jangan jadi sampah!! umpatnya dalam hati.
“Kau kenapa? Wajahmu memerah?” Bella meletakkan secangkir coklat panas di depan Nick.
“Ti-tidak kok!” Nick panik, ia langsung meminum coklatnya.
“AH!! Pa ... panas!!” pekik Nick.
“Haduh!! Kau tidak apa-apa, Nick?” Bella bangkit.
“Nggak apa-apa, kok. Bagaimana kalau aku membantumu memasak?” Nick bergegas bangkit agar bisa mengalihkan fokusnya dari kemolekan tubuh Bella.
“Baiklah, ayo!” Bella mengeluarkan bahan-bahan masakkan dan mulai meraciknya.
“Bagaimana?” Bella menyendokkan sedikit pasta agar Nick mencicipinya.
“Enak sekali. Ternyata tak hanya tarianmu yang luar biasa, masakkanmu pun begitu ... luar biasa!!!” Nick mengangkat kedua jempolnya.
“Benarkah?” Bella senang saat ada orang yang memujinya.
“Huum, kau benar-benar calon istri yang baik.” Nick mencubit kedua pipi Bella.
“Auch, sakit tahu.” Bella cemberut.
“Ah, Kenapa kau begitu menggoda, Bella?” Pertanyaan Nick langsung membuat Bella mengerutkan alisnya, wajahnya berubah, sendu, penuh kesedihan.
“Kenapa, Bella? Apa aku salah bicara?”
“Kau mengingatkanku padanya, Nick!” Bella langsung memeluk Nick, tiba-tiba saja Bella menangis, membuat Nick kebingungan.
“Maaf! Maaf!!” Nick mengelus punggung Bella dan mendekapnya.
“Sudah, aku tidak apa-apa. Ayo makan!” Bella menghapus air matanya dan bergegas mempersiapkan makan malam.
Nick terdiam, tak tahu harus berbuat apa. Begitu susahnya masuk ke dalam hati Bella yang telah terisi nama Lucas di dalamnya. Tak bisakah ia menggesernya? Sedikit saja?
Akhirnya Nick memutuskan untuk tidak terburu-buru. Mungkin belum waktunya, mungkin belum saatnya. Perlahan-lahan saja, batu saja bisa pecah jika tertetes air terus menerus. Ketulusan memang sesuatu yang tak nampak, tapi bisa dirasakan, bukan?
“Bagaimana?” tanya Bella.
“The best!” Kikih Nick.
“Akhir Minggu ini aku akan pulang ke desa, Nick. Dua sampai tiga hari.” Bella menyendok masuk pasta ke dalam mulutnya.
“Boleh aku ikut, Bell?” tanya Nick antusias, ia memutar pasta pada garpu sebelum menikmatinya.
“Tentu saja boleh, Nick. Aiden sudah menanyakan kabar Papinya setiap hari, aku sampai bingung menjawabnya.” Bella membereskan makan malamnya.
“Cepat sekali makanmu!”
“Aku lapar.”
“Wah, kecil-kecil perutmu kaya karung,” goda Nick.
“Sorry, ya, aku butuh banyak kalori buat latihan menari.” Bella menepis godaan Nick.
“Ajari aku, Bella.”
“Kau mau berlatih pole dance?”
“Tentu saja. Siapa tahu itu bakat terpendamku,” tukas Nick.
“Baiklah, kita latihan kapan-kapan. Aku lelah dan mengantuk,” Bella merenggangkan tangannya, “mau mandi lalu tidur. Kau mau pulang atau tidur di sini? Ada kamar tamu,” tanya Bella.
“Em, aku pulang saja.”
“Baiklah, hati-hati, ya.” Bella mengecup kening Nick sebelum masuk ke dalam kamarnya.
— MUSE S5 —
“Mami!! Papi!!” Aiden langsung berlari lalu melompat dalam pelukan Bella.
“Hallo, baby! Apa kau jadi anak baik selama Mami pergi?” tanya Bella.
“Tentu saja, Mami. Aiden sangat baik dan penurut. Aiden adalah Batman, dan Batman tidak nakal.” Suara Aiden begitu jelas walaupun masih terdengar cedal sesekali.
“Beri salam pada Unc ... e, Papi Nick.” Bella agak canggung juga membahasakan anaknya dalam menyebut panggilan untuk Nick.
“Hei jagoan, Papi punya hadiah untukmu.” Nick mencari sesuatu dari dalam tas backpack nya.
“Tara!!”
“Wah!!!” Mata Aiden berbinar bahagia. Nick memberinya boneka figure Batman lengkap dengan batcar dan batmotor.
“Nick?! Bukankah itu mahal?” Bella memang tak tahu harga pastinya, namun dia tahu kalau semua koleksi Nick adalah barang mahal.
“Ck, hanya koleksi lama.”
“Jangan sampai hilang, OK.” Bella memperingati anaknya.
“Siap, Mami.”
“Hlo, kalian sudah datang? Kok nggak masuk ke dalam?” Elise keluar dari pintu gerbang kayu, menyambut kedatangan Nick dan Bella.
Bella menunjukan kamarnya pada Nick, dia akan tidur dengan Sekar malam ini. Sedangkan Aiden terbiasa tidur dengan neneknya.
“Maaf, ya, sederhana.”
“Nggak kok, nyaman.”
“Istirahatlah, Nick. Kau pasti lelah memboncengkanku begitu jauh.”
“Iya.”
“Sampai ketemu saat makan malam.” Bella tersenyum hangat.
“Oke.”
•
•
•
Setelah makan malam dan menyelesaikan kegiatan cuci piringnya. Bella menghampiri Nick dan Aiden yang asyik bermain pada sanggar yoga. Mereka berdua asyik berimajinasi tentang tokoh super hero kesukanan masing-masing.
Bella tersenyum dari kejauhan, melihat Nick begitu menyayangi anaknya mulai menggelitik hatinya dengan rasa lega.
“Tampan, baik, dan sayang sama anakmu! Kau cari yang bagaimana lagi?” Tiba-tiba pertanyaan Elise mengagetkan Bella.
“Duh, Aunty bikin kaget saja.” Bella mengelus dadanya.
“Lihat mereka, cocok! Kalau orang tak melihat wajah, mungkin mereka kira Aiden benar anak Nick.”
“Bukalah hatimu, Bella, lupakan lelaki yang pernah merendahkanmu itu, tak ada gunanya kau mencintainya!” Elise sedikit geram karena mengingat prilaku Lucas yang merendahkan Bella sampai menyuruhnya merangkak seperti anj1ng.
“Iya, Aunty. Bella akan berusaha.” Bella mengangguk.
“Baiklah, temani mereka. Aunty selalu berdoa untuk kebaikanmu.” Elise menepuk pundak keponakannya beberapa kali sebelum beranjak pergi.
Bella menyusul keduanya, duduk sambil melihat hamparan sawah yang gelap. Bulan purnama memberikan cahaya remang pada pendopo sanggar. Suara kerikan kangkrik dan nyanyian burung tekukur menemani ketiganya.
Nick, Aiden, Bella merebahkan diri, menengadah ke hamparan bintang di langit malam.
“Liat itu, Papi!! Bintangnya sangat bersinar.”
“Wah, iya, luar biasa.”
“Mami, lihat!!”
“Iya, Aiden. Kau bisa membentuk gambar dengan menyatukan beberapa bintang dengan tanganmu.” Bella mengelus rambut Aiden.
“Benar? Wah, Aiden akan menggambar Papi, Mami, dan Aiden sedang bergandengan menuju ke sekolah, jadi Aiden tak dihina oleh teman-teman.”
Hati Bella langsung mencelos, tak menyangka bahwa di sekolah Aiden banyak disindir oleh teman-temannya. Bella hampir menangis, namun Nick langsung mengelus pucuk kepalanya.
“No, Bella!” Nick memberi kode agar Bella tak terlihat lemah di hadapan Aiden. Bella mengangguk dan menggigit bibirnya.
“Besok Papi akan menemanimu berangkat ke sekolah. Biar semua teman-teman Aiden tahu Batman tidak sendiri, dia punya Robin dan Catwoman.”
“Wkwkwk, siap Papi.” tawa Aiden lebar.
“Sekarang kita terbang!!” Nick mengayunkan tubuh Aiden dengan kedua tangannya.
“Asyik, Papi!! Asyik!”
Bella ikut tertawa dengan kebahagian anaknya. Tak butuh waktu lama saat Aiden mulai merasa lelah dan mengantuk. Nick menggendong dan menepuk punggung Aiden sampai bayi itu tertidur.
“Biar aku, Nick. Kau pasti lelah!” Bella hendak mengambil alih gendongan Aiden.
“Stt ...!” cegah Nick, dia masih betah menggendong Aiden.
•
•
•
“Bagaimana?” Nick melirik ke arah Bella yang baru saja kembali dari kamar Elise untuk merebahkan tubuh Aiden.
“Sudah tidur.” Bella duduk di samping Nick.
“Dingin, ya, udara gunung. Padahal sudah pakai jaket.” Nick menyelempitkan telapak tangannya pada ketiak, mencari kehangatan.
“Aku sih sudah biasa,” tukas Bella.
“Ah, dingin, sayangnya aku tak bisa memelukmu untuk mencari kehangatan.” Nick menggoda Bella dengan kode keras.
“Ck, dasar! Kemarilah!” Bella membuka syalnya dan menyelimutkan kain tebal itu pada punggung keduanya. Berbagi kehangatan.
“Ntar kau kedingingan.”
“Kan ada kau yang bisa memelukku.” Bella merebahkan kepalanya pada pundak Nick.
Nick tersenyum dan merangkul punggung Bella. Ia mengelus lembut lengan Bella, sama-sama menyalurkan suhu tubuh yang menghangat.
“Aku akan belajar mencintaimu, Nick.” Bella mengangkat kepalanya, memandang wajah Nick yang terkesiap dengan ucapannya.
“My Queen?! Apa aku tidak salah dengar?” Nick menampar pelan pipinya sendiri.
“Hahaha ... LOL banget sih! Kau membuat suasana romantisnya menghilang.” Bella bergelenh.
“Habisnya aku sangat terkejut, Bella! Seminggu yang lalu kau masih menolakku.” Nick membalas kikihan Bella.
“Hem, jadi nggak mau, nih?!”
“Mau!!” teriak Nick. Bella sampai harus menutup telinganya.
“Ck, dasar.” Bella mencibir kelakuan Nick dan kembali masuk dalam dekapannya.
Nick mengambil jari jemari Bella dan menautkan jari mereka. Menggenggamnya erat. Bella merasakan rasa hangat yang nyaman. Memang belum ada cinta yang tumbuh dan mengakar begitu dalam seperti saat bersama dengan Lucas dulu, tapi kenyamanan hati yang diterimanya saat ini jauh lebih membuat Bella bahagia.
Bella memandang cincin yang telah menemaninya selama empat tahun lebih itu. Ia melepaskan cincin itu dan melemparkannya jauh ke hamparan sawah yang gelap.
Selamat tinggal, Lucas. Aku akan menulis ulang kisah cintaku bersama dengannya. Pikir Bella sembari memandang Nick.
— MUSE S5 —
Sudah seminggu semenjak kedatangan Lucas di Pulau B. Ia dan anak buahnya menyelusuri tiap-tiap daerah, menyisir setiap wilayah, namun masih nihil. Belum ada tanda dari Bella. Lucas seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.
Sampai suatu ketika seorang anak buahnya mendengar kabar tentang seorang primadona club dengan nama panggung BQ.
“Kita ke club itu.”
“Baik, Tuan.”
Lucas membawa beberapa anak buahnya menghampiri sebuah club tempat Bella pernah bekerja dulu. Bella hanya satu kali kontrak dengan club itu.
Seperti biasa, hingar bingar, musik keras, hentakan tarian, bau alkohol dan juga bau rokok memenuhi atmosfernya. Lucas duduk pada ruangan VVIP, beberapa penari striptis dan gadis penuang minuman masuk untuk menemani Lucas.
“Apa kau kenal dengan Bellaciaquin?” tanya Lucas pada pria tua di depannya. Dia memakai udeng, ia adalah pemilik dari club malam ini.
“Benar, dia pernah bekerja dengan kami selama tiga bulan.”
“Di mana dia sekarang?” Lucas menyalakan rokok dan menghisapnya dalam-dalam.
“Tidak tahu, dia tak pernah menetap lebih dari tiga bulan.”
“Itu bukan jawaban.” Lucas memberi kode pada anak buahnya. Dengan cepat ia menyergap dan mengunci tangan pria tua itu ke belakang. Lalu mendorong kasar pria itu sampai kepalanya menempel pada kaca meja.
“KYYAAA!!!” Para gadis berteriak, mereka langsung berjengit dan menghambur keluar karena adanya kekerasan.
“Di mana dia sekarang? Di mana dia tinggal?” Lucas membungkuk untuk bertanya kembali.
“Su—sungguh aku tidak tahu, Tuan. Dia tak pernah meninggalkan alamat ataupun pengenal. Bahkan ia selalu meminta syarat agar tak ada yang mengambil video maupun fotonya,” gagap pria itu ketakutan.
“Hajar dia, Mile!” Perintah Lucas.
“Tunggu!!! Sungguh aku tidak tahu!!” Pria itu memelas.
“Sudah aku bilang itu bukan jawaban!!” Lucas meniupkan asap rokoknya di depan wajah pria itu.
BUK!! Dalam satu kali pukulan wajahnya menghantam keras meja kaca sampai meja itu pecah, membuat darah segar keluar.
“Tu—tuan, tolong ampuni saya!!” Renggeknya memohon iba.
“Jadi? Apa jawabannya?”
“Saya akan mencari info dan menemukannya untuk anda,” katanya sembari menahan rasa sakit.
“Good! Itu baru jawaban!” Lucas menyeringai, ia lalu bangkit dan mengelapkan sepatunya yang terciprat darah pada tubuh pria itu sebelum keluar dari ruangan VIP.
“Bunuh dia kalau tak berhasil menemukan Bella dalam waktu seminggu.” Perintah Lucas pada Mile, orang kepercayaannya sebelum masuk ke dalam mobil.
“Baik, Tuan.”
— MUSE S5 —
Wah, Lucas garang sekarang!!
LIKE
COMMENT
VOTE