MUSE

MUSE
S2 ~ MANIS



MUSE S2


EPISODE 54


S2 \~ MANIS


\~ Aku merasa begitu bersalah padanya. Andai saja dulu aku membuang semua keegoisanku dan memilih untuk mengenalnya. Mungkin hal ini tak akan pernah terjadi.\~


Aku melihatnya bergetar begitu hebat. Kalila ketakutan, hatiku ikut hancur melihatnya begitu terluka.


“Kalila.., Kalila....” hanya namanya yang bisa ku panggil


“Aku takut... malam itu begitu menakutkan.” lirihnya.


“Bodohnya aku, Kalila. Aku menyakitimu, aku membuatmu menangggung rasa sakit itu sendirian.”


“Hiks...,” tangisnya masih menggema.


“Aku akan menanggungnya bersamamu, Kalila. Bagilah rasa sakit itu denganku.”


Aku memandang wajahnya yang kacau, keringat dan air mata bercampur menjadi satu.


“Aku tidak bisa.”


Aku menyatukan dahinya pada dahiku, “aku akan membantumu, Kalila. Sedikit demi sedikit, sampai hatimu pulih, dan kau bisa mencintaiku.”


Kalila menggelengkan kepalanya lagi, “bisakah sampai gambar itu tergambar sempurna?”


“Ya.. sampai gambar itu tergambar sempurna.” Ku kecup keningnya.


Aku merasa begitu bersalah padanya. Andai saja dulu aku membuang semua keegoisanku dan memilih untuk mengenalnya. Mungkin hal ini tak akan pernah terjadi.


Kini sebelum menyembuhkan diriku, aku harus mengobati luka batin Kalila terlebih dahulu. Aku harus mendekatinya kembali, memintanya untuk menerimaku kembali. Membuatnya mencintaiku.


— MUSE S2 —


•••


Esoknya..


Aku membuka e-mail dari Aleina, dia sudah mengirimkan laporan tentang latar belakang Kalila semalam. Tidak ada yang sepesial darinya, selain nilai dan kemampuan menggambarnya yang menonjol. Kalila putus sekolah tepat seminggu setelah kami bertemu. Ia pindah ke kota S, tempat kelahiran Mamanya.


Dengan uang penjualan rumah Kalila membangun bisnisnya dan menyewa apartemen kecil di dekat palette cafe. Ternyata dia tidak tinggal di cafe.


“Aleina,” panggilku melalui ponsel.


“Ya, Tuan?”


“Aku mau kamar di sebelah kamarnya.”


“Baik, Tuan.”


“Lalu aku akan mengundur kepulanganku ke kota J.”


“Tapi, Tuan. Bukankah anda ingin menemui designer baru itu sendiri?” Aleina mengingatkanku akan posisi Manager Perencanaan yang kosong saat ini, aku memang ingin bertemu langsung dengan designer muda yang telah ku pilih sendiri.


Aku harus mengetahui kemampuannya, bagaimana cara kerjanya, dan kompetensinya. Aku tak ingin manager yang baru kembali mengulang kesalahan yang sama. Tak punya ide kreatif, meniru, dan akhirnya tuntutan kembali dilayangkan kepadaku.


“Suru dia ke kota S, Aleina. Suru dia menemuiku.”


“Baik, Tuan. Akan saya atur jadwalnya.”


“Kau boleh ikut, Aleina. Belilah sebuah gedung untuk anak cabang perusahaan kita di kota ini. Kita bisa bekerja dari sini.”


“Baik, Tuan Arvin.”


Klik...


Aku menutup panggilanku.





“Mau ke mana, Vin?” tanya Mama begitu aku menginjakkan kakiku pada lantai dasar.


“Ngopi, Ma.”


“Kamu itu jarang pulang, sekali pulang nggak pernah diam di rumah. Keluyuran terus.” Mama mendengus sebal.


“Ck, Mama kaya nggak pernah muda aja.”


“Hish...,”


“Arvin pergi, ya, Ma, jangan kebanyakan ngomel ntar keriputnya nambah!” seruku menggodanya sembari berjalan keluar menuju garasi.


“Doain aja pulang bawa menantu,” batinku ikut terkikih.


Aku sudah tak sabar untuk menemui Kalila. Dia pasti sedang meracik kopi dengan jari jemarinya yang lentik. Aku tersenyum saat membayangkannya berdiri di belakang meja sembari membuat latte. Rambutnya yang hitam dan lurus diikat naik ala ponny tail, Kalila selalu menyisakan sedikit rambut halus pada kedua telinganya.


Ah... dia pasti terlihat sangat cantik.


Krrriiingcllinggg Kliiing 🎶


“Welcome to Palette cafe.” suara si cewek tomboi terdengar. Kenapa bukan Kalila yang menyapa, sih?


“Hallo, Kak. Mau pesan apa?”


“Kalila...,” belum sempat ku selesaikan kalimatku dia sudah menjawabnya.


“Maaf boss kami tidak di jual.” cengirnya. Anak ini gemar sekali bercanda rupanya.


“Maksudku, Kalila ada di mana?”


“O.., Boss sedang mengajarkan pengasuh Keano kebiasaan-kebiasaan si monster kecil di kamar belakang.”


“Ah, begitu.”


“Jadi anda mau pesan atau tidak?” tanyanya kemudian.


“Boleh, Americano saja,” pintaku.


“Oke.”


“Berapa?”


“Gratis.”


“Heh? Lagi?”


“Iya, boss bilang khusus Kak Arvin gratis terus saja.”


“Oke, thanks, ya.”


Aku duduk di meja bar, menunggu Kalila keluar untuk membuatkan pesananku. Namun bukannya Kalila, si cewek tomboi yang datang.


“Ini, Kak, pesanananya.”


“Kok bukan Kalila yang buat?”


“Dibilang boss lagi sibuk. Lagian cuma kopi item, siapapun juga bisa bikinlah.” ujarnya.


“Pliss, deh, Kak. Kaya bucin aja, apa-apa musti Kalila! Dikit-dikit Kalila.” gerutu Caca.


“Apa itu bucin?” tanyaku heran.


“Budak Cinta!! Wah emang, ya, kita beda generasi.” ledeknya padaku. Sialan, cewek ini nggak kapok-kapok nyangkutin ucapannya sama masalah umur.


“Ck...,” decakku sebal.


“Panjang umur tuh yang diomongin nongol.” Caca menunjuk kedatangan Kalila.


“Kak Arvin? Ke sini lagi? Emang nggak ada kerjaan?” tanya Kalila heran.


“Kangen,” lirihku.


“Tuh-kan bucin. Boss sikat aja boss. Laki-laki bucin ma nggak banyak!” bisik Caca pada Kalila, tapi aku masih bisa mendengarnya. Aku harus berterima kasih padanya.


“Dasar.” Kalila menggelengkan kepalanya pelan. Lalu kembali berfokus pada pesanan.


“Bagaimana keadaan Keano?”


“Good, dia sudah mau nempel sama Nannynya. Thanks, ya, Kak.”


“Sama-sama. Kau bisa bekerja dengan tenang sekarang.”


“Iya.” senyumannya kembali terkembang. Ah, senyuman yang manis.


“Bagaimana perasaanmu Kalila?” setelah kejadian yang terjadi di antara kami semalam, tidak bisa membuatku untuk tidak mengkhawatirkan keadaannya.


“Baik, Kak.”


Aku memandang cukup lekat pada Kalila. Melihatnya menyelesaikan pesanan terakhir dari pelanggan.


“Apa ada yang ingin kau tanyakan, Kak? Kenapa memandangku begitu lekat?” Kalila menaruh lap dan membalas tatapanku.


“Banyak yang ingin aku tanyakan padamu, Kalila. Aku terlalu penasaran bagaimana kau menjalani hidupmu sampai saat ini?”


“Juga kenapa kau tak melanjutkan sekolahmu?”


Kalila memandangku dengan lembut, lalu menjawab, “aku malu, Kak.”


“Malu? Karena malam itu?! Lalu kenapa dulu kau tak pernah menghubungiku lagi? Kenapa kau tak meminta pertanggungan jawab dariku?” cercaku.


“Aku tak ingin jadi orang yang serakah, Kak. Kau sudah memberikan kehidupan yang layak untukku.” Kalila menengok ke sekelilingnya.


Yah... tak dapat di pungkiri, bagi Kalila cafe ini adalah hidupnya. Dan aku yang memberikannya untuk Kalila secara tidak langsung.


“Mungkin kalau kau tak memberikanku uang itu, aku masih akan berakhir dengan tubuh terlentang di atas ranjang demi ranjang. Tanpa tahu siapa yang akan menjamahku.” Kalila bergidik.


Kalila berjalan dan duduk di sampingku. Dencitan kursi terdengar saat Kalila memutarnya agar kami bisa saling berhadapan.


“Aku juga ada pertanyaan untukmu, Kak.”


“Heum?”


“Bagaimana kau bisa menemukanku?” binar matanya terlihat begitu cantik saat memandangku.


“Dari Game. Aku membuat event pada game online produksi perusahaanku. Meminta para gamers membantuku untuk menemukanmu, Kalila.”


“Ah... pantas. Hari itu banyak sekali orang yang menginginkan fotoku.” ucap Kalila, wajahnya tersipu malu.


“Dan aku menyesal tak melakukannya dari dulu,” tambahku sambil mengelus pipinya yang merona merah.


“Wah, ternyata Kakak romantis juga.” tiba-tiba Caca si gadis tomboi menyembulkan wajahnya di antara kami. Tangannya masih membawa nampan berisi sisa-sisa cangkir kotor. Entah mulai dari mana dia menguping pembicaraan kami.


“Ca.., bisa nggak sih nggak nongol tiba-tiba gitu?!” protes Kalila.


Caca tertawa dan membenamkan semua cangkir pada bak cuci. Lalu kembali pada kami dengan wajah penuh rasa ingin tahu.


“Sebenarnya hubungan kalian itu bagaimana, sih?”


“Hu... hubungan kami?” Kalila malah balas bertanya.


“Iya, hubungan kalian. Kalian pacaran? Gebetan? mantan? Kenapa Kak Arvin tiba-tiba muncul?”


“Eee...?!” Kalila melirikku, seakan memberi kode, meminta bantuanku menjawab pertanyaan Caca.


Tapi aku hanya diam dan tersenyum. Memandang wajahnya yang semakin mirip kepiting rebus.


“Kenapa juga setiap Kak Arvin datang, kau selalu salah tingkah?!” Caca mulai mendera Kalila dengan pertanyaan maut.


“Siapa yang salah tingkah?” Kalila kelabakan.


“Yaelah, boss. Tiap kali Kak Arvin datang boss pasti langsung senyam-senyum sendirikan?!”


“Caca!!” teriak Kalila, kini dia benar-benar salah tingkah dibuatnya.


“Jadi apa hubungan kalian?” Caca beralih padaku.


“Yang pasti hubungan yang panas dan menggaira..., ehmp!!!” Kalila menutup mulutku dengan telapak tangannya.


“Jangan ngomong macem-macem, Kak!!” teriak Kalila.


“Wah... Wah... pake rahasia segala!! Jadi sudah sejauh mana ini?” Caca menyangga dagunya dengan telapak tangan, menanti jawaban kami.


“Jawab dia, baby! Bagaimana rasaku?” Aku berbisik menggoda Kalila, tersenyum sambil memamerkan deretan gigiku yang rapi.


“Arvin!!!!” Kalila memukulku dengan spatula yang diambilnya dari dalam meja bar.


Aku masih bisa tertawa walaupun pukulannya terrasa sangat sakit.


“Kau terlalu manis saat marah, baby.”


— MUSE S2 —


Muse up..


Hihihi...


Duh duh..


Arvin so sweet banget sih...


Dukung kisah cinta mereka ya Rederskuh..


JANGAN LUPA DI LIKE


JANGAN LUPA DI COMMENT


JANGAN LUPA DI VOTE


AUTHORNYA NGEGAS..


Wkwkwkkwkwkwkwkkwk...


MAKASIH


AKU CINTA KALIAN SEMUA..


❤️❤️


Jangan lupa buang sampah pada tempatnya!!! Hemat penggunaan plastik.