MUSE

MUSE
S2 ~ DETIK



MUSE S2


EPISODE 58


S2 \~ DETIK


\~ Dulu setiap aku memandang detik demi detiknya. Aku berharap aku bisa menghabiskan sisa waktuku bersama dengannya.


“Pertahankan aku, Kalila.” ucapan Angga begitu terngiang-ngiang dalam benakku.


“Angga, kita sudah putus,” tolakku.


“Tapi aku masih mencintaimu. Kemohon Kalila, izinkan aku menjagamu.” Angga menggenggam tanganku lebih erat.


“Tak ada lagi rasa cinta dalam hatiku untukmu, Angga.”


“Aku akan mengisinya kembali, Kalila.” Angga masih tak mau menyerah terhadap perasaannya.


Aku menarik tanganku dari genggamannya dan melipatnya di depan dada. Aku menaruh lipatannya pada lutut.


“Apa karena, Tuan Arvin? Apa kau punya hubungan dengan bossku, Kalila?” tanya Angga lirih, ia juga melakukan hal yang sama denganku.


“Tidak ada hubungannya dengan dia, Ngga.”


“Lalu kenapa? Kenapa aku tak bisa memperoleh kesempatan itu?” Angga kembali mendesak.


Brrruummm...


Tiba-tiba suara motor ojol yang membawa pesanan kami menyela. Menghentikan obrolan kami, “nasi goreng atas nama Angga?”


“Saya, Pak.” Angga menerimanya.


“Makasih, minta bintang limanya, ya, Mas.”


“OK.”


Angga kembali dengan sebungkus nasi goreng di tangannya.


“Makan?”


“Ayo.”


Kami kembali masuk ke dalam cafe, menikmati makan malam kami dalam diam. Baik Angga maupun diriku masih tersisa rasa canggung karena obrolan kami barusan.


“Kenyang,” seruku puas. Sudah lama aku tak makan nasi goreng.


“Enak?”


“Iya, enak. Duh, habis kenyang terbitlah kantuk!” kikihku.


“Istirahatlah, Kalila. Aku akan menemuimu lagi saat ada kesempatan.” Angga bangkit dari kursinya.


“Thanks, ya, nasi gorengnya.”


“Pikirkan ucapanku, Kalila. Kembalilah padaku.”


“Angga...,”


“Ssttt.... jangan di jawab. Pikirkan saja dulu.” Angga menaruh jari telunjuknya di atas bibirku.


“Aku pulang, Kalila.”


“Hati-hati.”


— MUSE S2 —


•••


“KEANO!!”


“MAMA...!”


Melody langsung meneluk Keano begitu ia turun dari taxi online. Keanopun langsung meronta-ronta dari tangan Bi Yem. Tak dipungkiri bayi kecil itu juga begitu merindukan pelukan Mamanya.


Melody langsung menggendong Keano. Memberikan rentetan serangan manis, Keano terkikih geli karena perutnya yang gembul selalu menjadi target utama ciuman Mamanya. Aku juga, sih, aku suka sekali mencium pipi dan perut gembulnya. Keano juga masti sangat sebal kalau aku sudah mulai menggodanya.


“La, makasih, ya. Udah jagain Keano.” ucap Melody.


“Dibilang nggak usah sungkan, Ken-Ken sudah aku anggap kayak anakku sendiri,” jawabku.


“Tetep aja kamu pasti kesusahan, jagain bayi sambil kerjakan nggak gampang.”


“Ada Bi Yem yang bantuin.”


“Oh, iya, La. Bagaimana ceritanya, sih? Kok bisa ketemu lagi sama si first man itu?” Melody menatapku dengan serius. Ia tampak penasaran.


Dia menyebut Arvin sebagai lelaki pertama. Kenapa disebut demikian? Alasannya simple, emang karena Arvin adalah laki-laki pertama bagiku. Dan memang hanya Arvin yang membantuku merasakan jatuh bangunnya kehidupan. Ia yang memberikan rasa sakit sekaligus nikmatnya sebuah hubungan intim, juga arti dari dosa dan pengharapan dalam selembar kertas cek. Tanpanya, dulu aku tak berdaya.


Arvin adalah iblis berwajah malaikat, atau mungkin juga malaikat yang jatuh menjadi iblis. Kau pasti bisa menilainya sendiri.


“Kamu pasti nggak akan percaya, Mel. Orang sampai sekarang aja aku masih agak bingung.” Aku menggaruk kepalaku.


“Cerita, donk!” desak Melody.


“Dia bilang sudah mencoba mencariku dulu, tapi karena aku pindah jadi nggak ketemu.” Aku mengawali ceritaku.


“Dia ngadain event game, bagi yang bisa menemukan wanita yang mirip dengan karakter game itu akan ada hadiahnya,” lanjutku.


“Wow.. romantis gila, terus gimana?”


“Terus ada pelanggan yang minta foto. Malamnya dia langsung kemari. Kebetulan banget nggak, sih? Sampai sekarang juga aku masih heran.” Aku kembali ke belakang meja bar untuk menyeduh kopi.


“Wah, daebak! Jodoh emang nggak ke mana.” Melody bertepuk tangan menggodaku.


“Kau yakin dia jodohku?” Aku melirik tajam pada Melody.


“Kau nggak mau? Bukankah kau menghabiskan dua tahunmu dengan menggambar dirinya?” ledek Melody, dan yah, ledekkannya tepat sasaran. Aku memang menghabiskan waktu dua tahun menggambar dirinya tanpa pernah sekalipun berhasil menyelesaikannya.


“Dunianya dan duniaku berbeda, Mel.”


“La, kamu tu sampai kapan mau minder kaya gini? Sudah saatnya kembali pada kenyataan, jangan terus menangisi dirimu.” Melody mengerutkan dahinya, mungkin sebal dengan sikapku yang terus mengasihani diri sendiri. Tapi aku benar-benar takut, aku benar-benar trauma.


“Mel, kau mau tahu kejutan berikutnya, nggak?” Aku duduk di sampingnya.


“Apa?”


“Aku ketemu Angga kemarin.”


“Hah??? Serius? Yang telah pergi akhirnya kembali?” Melody sama syoknya denganku.


“Dia kerja di perusahaannya Arvin,” anggukku meyakinkan Melody.


“What? Waw, daebak! Kebetulan yang luar biasa. Jodoh emang nggak ke mana?!” Melody menekan ucapannya satu per satu, seakan memberikan makna lebih dalam pada setiap katanya.


“Hish..., dari tadi, kok, ‘jodoh nggak ke mana’ terus!” gelengku sebal.


“Jadi pilih yang mana?” Melody mengekorku masuk ke belakang meja bar.


“Entahlah. Aku tak mencintai Arvin. Akupun juga sudah tak lagi mencintai Angga.” jawabku.


“Bohong banget, boss.” tiba-tiba Caca teriak dari depan meja. Ia baru saja datang dan langsung nyambung ke obrolan kami.


“Dih, bikin kaget aja, sih?” gerutuku.


“Salah sendiri pintu depan dikunci. Jadi aku lewat belakang, deh.” Caca menaruh helm, tas, dan jaketnya di dalam lemari.


“Hallo, Ca.” sapa Melody.


“Kak Mel, aku merindukanmu. Lebih tepatnya rindu roti buatanmu.” Caca memeluk erat Melody. Tubuhnya yang tinggi membuat Melody terlihat sangat pendek bila bersanding dengan Caca.


“Iya, ini juga lagi mau bikin.” Melody melepaskan diri.





Baik Arvin maupun Angga tak datang berkunjung ke cafe hari ini. Mungkin mereka di sibukkan dengan urusan-urusan pekerjaan. Aku sendiri tak begitu peduli dan tetap bekerja seperti biasanya. Yah, walaupun sepertinya sedikit ada yang kurang, sih.


“Pulang dulu, Boss.” pamit Caca.


Tak terasa memang sudah jam 8 malam. Weekend begini cafe selalu ramai, jadi kami tutup lebih awal karena out of stock. Melody juga sudah mengemasi barang-barang Keano dan bersiap untuk pulang.


“Jalan, yuk!” ajak Melody.


Aku mengangguk dan mengikuti langkah kaki Melody. Kembali pulang ke apartemen. Apartemen Melody satu kompleks dengan apartemenku walaupun kami beda gedung. Melody menempati apartemen yang lebih luas karena dia sudah memiliki Keano.


“Hati-hati, ya, La. Sekali lagi thanks, ya.” lambainya, aku membalas lambaiannya dan kembali berjalan pulang.


Apartemenku nggak terlalu jauh dari cafe. Jadi aku bisa mengirit ongkos perjalanan dengan berjalan kaki. Kira-kira 10-15 menitan.


Aku memandang langit malam. Gelap, tak ada bintang yang terlihat. Mungkin juga sedang mendung. Musim hujan hampir berlalu, hujan mulai jarang. Hanya awan mendung yang sesekali terlihat, juga gerimis kecil yang menghilang sebelum terjatuh pada tanah.


Aku masuk dan menghidupkan lampu. Agak sedikit pengap karena aku tak membuka jendelanya hampir satu minggu. Selama 5 hari ini aku menghabiskan waktu di cafe bersama Keano.


Setelah membersihkan diri dengan air hangat, aku duduk pada pinggir kasur dan membuka laci nakas. Mengambil kotak berbungkus kado.


“Kenapa kau kembali?” Aku membuka kotak hadiah itu, jam tangan pemberian Angga masih aku simpan dengan baik. Dulu setiap aku memandang detik demi detiknya. Aku berharap aku bisa menghabiskan sisa waktuku bersama dengannya.


Air mataku menetes, aku tak paham dengan perasaanku sendiri. Aku merasa begitu bodoh.


— MUSE S2 —


MUSE UP


LIKE LIKE LIKE


VOTE VOTE VOTE


COMMENT COMMENT COMMENT


makasih sayangkuh..


Lope yu


Jangan lupa ada hadiah untuk voter terbanyak, di tutup 15 mei ya,