MUSE

MUSE
S3 ~ TEKAT



MUSE S3


EPISODE 101


S3 \~ TEKAT


\~ Terima kasih Leon, kau menggoreskan kenangan akan indahnya dicintai dengan sepenuh hati.\~


_______________


Aku menuruni beberapa anak tangga menuju ke sisi samping lapangan. Hari ini Leon eskul basket dan aku sudah berjanji untuk melihatnya bertanding. Sebenarnya aku hendak menolak, aku malu, dan aku juga nggak mau semua memandang rendah Leon karena berpacaran dengan gadis sepertiku.


“Hai, namaku, Kalila, kelas X-A.” tiba-tiba seorang gadis cantik menyapaku, ia mengulurkan tangannya.


Aku mengamatinya. Matanya bulat, rambutnya yang hitam dan panjang terurai begitu lembut, hidungnya mancung dan bibirnya begitu merekah merah. Tubuhnya sangat langsing, dadanya juga pas. Kalau di nilai dia pasti punya angka yang sempurna.


Dia sangat cantik, berbeda denganku yang sangat jelek. Andai saja aku punya sedikit bagian dari dirinya, mungkin aku tak akan malu bersanding dengan Leon.


“Hai juga, namaku, Kanna. Kelas X-C.”


“Nama yang cantik, Kanna. Secantik orangnya.” puji Kalila.


“Kau jangan bohong.” Aku menggeser sedikit posisi dudukku, mencoba untuk tidak membandingkan diriku dengan dirinya.


“Siapa yang bohong? Sebel deh! Kau itu cantik!! Leon selalu memggembor-gemborkan dirimu saat berkumpul bersama.” Kalila menaruh kedua telapak tangannya pada wajah bulatku.


“Leon bilang begitu?”


“Iya, aku bahkan iri padamu. Pria yang kau cintai begitu mudah mengekspresikan cinta. Sedangkan aku, hanya bisa menunggu.” Kalila tersenyum, ah senyumnyapun manis. Aku juga ingin terlihat manis seperti itu.


“Kau menyukai Angga?” tanyaku ragu.


“Iya, terlihat, ya?” senggol Kalila dengan sikunya.


“Kalian bakal jadi pasangan yang serasi.”


“Kau juga.”


“Kau bohong, lihatlah kami, seperti angka 10 saat berjalan bersama.” Aku memanyunkan bibirku tanda tak setuju dengan ucapan Kalila.


“Hei, angka 1 tanpa 0 tak akan menjadi angka 10. Dan angka 1 akan punya nilai yang sempurna saat bersanding dengan angka 0.” Kalila kembali melihat ke arah lapangan.


Aku tertegun dengan ucapannya. Benar juga, angka sepuluh adalah angka yang besar, satu hanya akan menjadi angka terkecil tanpa kehadiran angka nol di sampingnya.


“YEEEE...!!!” Sorakan penonton semakin terdengar riuh, apa lagi saat Angga berhasil mencetak skor.


Aku kembali berfokus pada lapangan basket. Melihat Leon menggiring bola, sesekali ia melingsut untuk menghindari rebutan lawan. Keringannya mengucur deras, membasahi wajah juga tubuhnya. Leon terlihat begitu keren saat bermain basket, aku tak bisa tak tersipu karenanya.


“SEMANGAT LEON!!” teriakku. Aku hampir meneteskan air mata haru saat memberinya semangat. Tak pernah terbesit sekalipun dalam benakku bisa memiliki pria yang luar biasa sebagai pacar. Dan pacaraku sekarang tak hanya luar biasa, dia sempurna!!





Tanpa terasa pertandingan berakhir. Leon dan tim-nya memenangkan pertandingan ini. Aku bersorak girang dengan Kalila. Saling meloncat dan bertepuk tangan.


“KANNA!!!” Leon berteriak dari tengah lapangan, membuat semua orang berfokus pada diriku.


“Kenapa kau berteriak Leon?!” tanyaku heran.


“JUST WANNA SAY!!”


Huuuuu..... sorakkan dan hentakan kaki kembali terdengar riuh, menggemparkan arena basket.


“YOU’RE MY GIRL!!!!” Leon menunjuk diriku dari dalam lapangan sambil berteriak sekencang mungkin.


Aku sangat syok sampai tak bisa menutup mulutku. Di tengah hiruk pikuk dan banyaknya manusia ia menyatakan cintanya padaku. Ah, Leon, kau benar-benar membuatku kehabisan kata-kata. Entah apakah aku bisa menerima semua pesonamu ini, karena sepertinya aku akan pingsang akibat terlalu bahagia.


“Leon...!” teriakku.


Aku bahagia, Leon. Bahagia.


“Kau hebat, Kanna. Bisa membuat seekor singa bertekuk lutut padamu.” Kalila menjawil lenganku.


“Iya,” jawabku.


“Aku harap kita bisa sekelas saat kelas XI.”


“Iya, La.” jawabku.


Aku meninggalkan Kalila dan berlari untuk memeluk singa milikku. Leon telah membuka lengannya dan menyambut pelukanku.


“Bau acem!!” Aku menggodanya karena tubuhnya penuh dengan keringat.


“Benarkah? Sini aku ketekin!!” Leon malah tertawa dan menjepitku dengan lengannya.


— MUSE S3 —


•••


Kami berjalan pulang berdua, bergandengan tangan seperti biasa. Sesekali aku mencuri pandang ke arah wajahnya, sekarang Leon sangat jangkung. Padahal dulu tinggi tubuh kami hampir sama, sekarang aku hanya setinggi bahunya.


“Leon, terima kasih, ya,” kataku. Aku berterima kasih karena hari ini Leon menyelamatkanku, memberikanku keberanian untuk tampil, juga menyatakan cintanya padaku.


“Hanya ucapan saja?” Leon menghentikan langkahnya.


“Huh??” Aku ikut berhenti untuk memutar tubuhku.


“Aku mau imbalan, Kanna!” seru Leon.


“A—apa yang bisa aku lakukan untukmu, Leon?” tanyaku bingung. Baru kali ini Leon pamrih padaku, dan akupun tak tahu harus memberi apa saat berpacaran. Akukan tak pernah pacaran sebelumnya.


Leon mendekat, ia menarik tanganku dan membuatku masuk dalam pelukkannya. Sekejap kemudian Leon telah meletakkan tangannya di belakang tengkukku, ia menciumku begitu lekat.


Astaga Tuhan, bahkan daun yang berguguranpun terlihat begitu indah. Terpaan angin sorepun terasa begitu nyaman. Aku memejamkan mataku untuk menikmati lumattannya. Aku berharap rasa ini bertahan lama, aku ingin memilikinya, aku ingin memonopoli Leon.


“Leon...,” panggilku lirih.


“Hmm?”


“Enak,” senyumku.


“Kau mau lagi?”


“Mau. Tapi malu, kitakan di tengah jalan.”


“Who care?!” setelah mengatakan hal itu Leon kembali menciumku, as he said, who care? Kami tak peduli dengan pandangan orang yang lewat, mungkin karena rasa cinta kami berdua terlalu meluap-luap saat itu. Yap, Aku kembali menikmati ciumannya. Lembut, hangat, dan basah. Rasa manisnya merasuk sampai ke dalam hatiku.


Terima kasih Leon, kau menggoreskan kenangan akan indahnya dicintai dengan sepenuh hati.





“Aku akan membuatkanmu bekal makan siang besok, Leon.”


“Serius?” mata Leon berbinar.


“Iya, kita makan bareng saat jam makan siang, ya.” pintaku.


“Siap, Cimut!!!” Leon merangkulku. Aku suka sekali dengan panggilan sayangnya untukku, terdengar imut.


“Kau mau makan apa?”


“Apapun yang kau buat aku suka.”


“Bagaimana kalau nasi goreng?”


“Boleh. Duh, jadi nggak sabar makan bekal buatan pacar!” cengir Leon.


Dih, lebay-nya, tapi entah mengapa aku suka sekali dengan ekspresi cintanya. Semoga perasaan kami tak pernah berubah selamanya.


— MUSE S3 —


•••


Aku senyum-senyum sendiri membayangkan ekspresi wajahnya saat memakan nasi goreng berbentuk singa buatanku. Singa makan singa.


“Oke, done.”


Aku memasukkan wadah makan ke dalam kantong kain dan bergegas pergi ke sekolahan. Dengan ceria aku melangkah masuk ke kelas. Namun, ekspresi ceriaku tak bertahan lama, karena di atas mejaku banyak corekan sarkastik yang menghinaku.


BAB1 jauhi Leon!!


Kau tak pantas untuknya.


ENYAH GENDUT!!!


GENDUT JELEK!!


Tanpa sadar air mataku tumpah. Aku menyentuh pipiku yang mengeluarkan air mata. Aku memandang ke sekeliling berharap ada seorang teman yang menenangkan diriku. Tapi ternyata, mereka hanya memandangku dengan hina. Seakan-akan mereka ingin menyampaikan bahwa tulisan itu benar. Aku tak pantas untuk Leon.





Aku menyelusuri koridor kelas menuju ke area kelas 2, membawa bekal yang ku buat untuk Leon. Aku merasa sedih dan lesu, mengingat tulisan di meja membuatku merana. Apakah memang aku sejelek itu sampai-sampai mereka sangat membenciku?


Kelas XI-S2


Kelas Leon, aku mendekati pintu, mengambil napas panjang untuk menyembunyikan rasa gundah di dalam hatiku. Namun lagi-lagi sebuah kekecewaan terjadi.


“Leon, kau bodoh!! Di saat semua cewek cantik mengantri kau malah memilih Kanna?!”


“Iya, Leon! Aku sampai heran, apa bagusnya Kanna? Dia gendut dan matanya sipit.”


“Aku yakin kau pasti pacaran karena kasihan padanya, bukan?!”


DEG..., kasihan?


Jantungku berdebar begitu cepat dan tak beraturan. Benarkah Leon mau menerimaku karena ia kasihan? Kasihan karena kami berteman dari kecil dan aku sering di kucilkan? Aku tak kuat mendengar jawaban dari Leon.


“Benar, aku kasihan pada Kanna.” suara Leon terdengar.


DEG...,


Aku langsung melingsut dan berlari pergi. Aku tak kuasa menahan air mataku, rasanya menyakitkan. Hatiku sakit, padahal aku kira Leon benar-benar mencintaiku. Ya, Tuhan. Kenapa semua berakhir begitu cepat. Padahal rasa manisnya saja belum menghilang dari indra pengecapku.


BRAK!!!


Aku kembali membuka pintu atap sekolah. Menangis tersedu-sedu seorang diri. Tidak ada yang tahu kesedihanku, tak ada teman yang mau menolongku. Tidak ada seorangpun yang peduli padaku. Pada akhirnya aku tetap bab1 buruk rupa, si gendut bernama Kanna yang bahkan tak layak menerima sedikitpun kebahagiaan dan cinta.


Aku terperosot pada lantai beton, membuka kotak bekal yang harusnya aku makan bersama Leon dengan hati yang bahagia. Kotak bekal itu telah hancur karena aku membawanya berlari bersamaku. Kotaknya terkocak-kocak dan isinya hancur. Tak ada lagi bentuk singa yang lucu.


Ironi sekali, isi kotak bekal itu hancur, sehancur hatiku saat ini. Percuma saja aku bangun petang untuk menyiapkan semua ini. Percuma saja jariku terluka saat mengiris bahan-bahannya, percuma saja aku menahan diri untuk tidak makan karena aku ingin makan bersamanya.


Leon...., kau jahat!!


Air mataku menetes, rasanya menyakitkan sekali. Kenapa dia harus membuatku begitu mencintainya kalau dia hanya kasihan kepadaku?


“Kau jahat, Leon!” lirihku sembari memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutku.


“Hiks..., hiks..., HUWA!!!!” Aku menangis kencang. Nasi di dalam mulutku terasa begitu hambar, padahal aku membumbuinya dengan benar pagi ini.


Air mata menggenang pada pelupuk mataku. Membuat bayangan dirinya seakan-akan samar. Namun bayangan samar itu tak segera menghilang malah semakin mendekat.


“Kanna? Kenapa kau menangis? Siapa yang membuatmu menangis?” Leon memandangku dengan iba.


Lagi-lagi, pandangan iba itu lagi, sorot mata yang mengasianiku itu lagi. Apa benar dia hanya kasihan kepadaku?! Hatiku berdesir karena perih, air mataku menetes membasahi bekal yang ku buat untuknya. Memberikan rasa asin pada hambarnya hatiku.


“Leon, maafkan aku. Bekalmu hancur karena jatuh.” Aku berbohong.


“Kanna?!” Leon mencengkram lenganku, ia masih menginginkan jawaban atas air mataku.


“Aku akan buatkan lagi untukmu besok, Leon. Maaf, ya.” Aku tertunduk, aku tak bisa menatap wajahnya saat ini. Karena aku pasti tak akan bisa menahan rasa sakitnya.


“Katakan, Kanna? Apa aku menyakitimu? Apa aku mengecewakanmu?”


“Tidak, Leon.” Aku bergeleng, “siapa aku sampai berani kecewa pada seorang Leon?” Aku membuang wajahku kembali.


“Kanna!!!” bentaknya.


“Hiks, hiks, aku sadar diri Leon! Aku tak berhak untuk marah padamu. Kau begitu sempurna, dan aku begitu penuh kelemahan. Kau begitu bersinar dan aku begitu suram!! Tak heran kau kasihan padaku, Leon,” akhirnya aku membuka semuanya, mencurahkan isi hatiku. Air mataku terus menetes dan tak mau berhenti. Aku padahal telah berusaha, namun seakan bukan otak yang mengatur lelehannya.


“Siapa yang bilang aku kasihan padamu?! Siapa yang bilang kalau aku mau pacaran hanya karena rasa kasihan?!” garis wajah Leon menegas, otot lehernya menegang, apa ia marah padaku?


“Kau yang bilang sendiri. Aku mendengarnya di depan pintu kelasmu,” jawabku dengan sesenggukkan.


“Hah....” Leon menghela napasnya panjang dan menarik kepalaku agar jatuh di atas dadanya.


“Kenapa tak mendengar keseluruhannya?”


“Apanya?”


“Ucapanku..., kenapa hanya mendengar sepenggal saja?” Leon mengelus rambutku, memberikan rasa nyaman.


“Aku kasihan padamu, Kanna. Kasihan karena kau hanya mendapatkan laki-laki seperti diriku. Aku bukan anak orang kaya yang bisa memberimu segalanya. Aku bahkan tak bisa mengajakmu berkencan dan memberikanmu boneka saat menyatakan cinta.”


“Leon?!” Aku bangkit dan memandangnya.


“Maafkan aku, Kanna. Aku tak bisa memberikanmu apapun seperti cowok-cowok lain.”


“Tidak,” ku gelengkan kepalaku pelan.


Tidak apa-apa, aku tak butuh apapun selain dirimu Leon. Aku tak butuh boneka ataupun barang mahal. Aku hanya butuh rasa cinta dan perhatianmu.


“Maafkan aku, Leon! Aku bodoh, lagi-lagi aku ceroboh.” Aku tertunduk dan mengakui kesalahanku. Kenapa aku terlalu cepat berkata-kata dan lambat saat mendengar?! Menimbulkan salah paham di antara kami.


“Boleh aku memakan bekalnya?!” Leon menghapus air mataku. Ia bersila di depanku, tangannya merebut kotak bekal dari tanganku.


“Sudah hancur, Leon. Sudah kotor kena air mataku.” Aku merebutnya kembali.


“Tidak apa-apa! Bekal buatanmu paling enak.” Leon merebutnya kembali, kali ini dia begitu cepat saat menyendok isinya masuk ke dalam mulut.


Leon mengunyahnya tanpa jeda dan menghabiskan isinya dengan cepat. Aku melihatnya dan kembali menangis. Kenapa aku bisa begitu bodoh karena meragukan cintanya yang begitu besar?


Kau bodoh Kanna!! Kau hampir membuang satu-satunya kebahagian di dalam hidupmu. Satu-satunya pria yang membuatmu merasa tidak lagi takut. Satu-satunya tempatmu bersandar.


Saat itu, aku mengepalkan tanganku dan bertekat, “aku akan menjadi wanita yang cocok bersanding denganmu.”


Cinta itu rapuh, cinta itu begitu buta. Tapi Cinta jugalah yang membuatku bertekat teguh untuk mengubah diriku. Tanpa aku sadari itulah awal dari segala obsesi dan kehancuran hubunganku dengan Leon.


— MUSE S3 —


Duh aku baper abis sama Leon tuh!!


Gemesin...


Yuk bantu Vote agar kisah Leon dan Kanna semakin di kenal orang!!


MUSE UP!!


YUK DUKUNG CINTA KANNA DAN KISAH HIDUPNYA.


VOTE, LIKE, dan COMMENT


PASTIKAN KALIAN PENCET TOMBOL LIKE DAN VOTE YA BAE!!!


Terima kasih sudah membaca,


Terus Sebarkan rasa cinta untuk banyak orang. Dan berbuat baik bagi sesama


Love,


Dee ❤️❤️❤️