
MUSE S2
EPISODE 55
S2 \~ DIA
\~ Aku dulu pernah mencintainya.
Aku dulu pernah bermimpi untuk selalu bersamanya.\~
•••
Aku sebal dengan Arvin yang terang-terangan menggodaku di depan Caca. Hish.., kenapa sih laki-laki ini suka sekali melihatku marah?
“Pulang sana, sudah malam! Kami sudah tutup!” usirku.
“Kau tak pulang juga?”
“Aku tinggal di sini sementara. Aku harus menjaga Keano,” jawabku.
“Aku akan kembali lagi besok.” Arvin bangkit dari kursinya dan berjalan keluar.
“Nggak bosen apa minum kopi tiap hari?” ledekku, entah setan apa yang merasukinya. Tiap hari dia selalu datang ke cafe.
“Minum kopinya bosan. Kalau bertemu denganmu aku tak pernah merasa bosan.” lagi-lagi ucapannya mengandung racun. Aku selalu salah tingkah saat mendengarnya.
“Gombalanmu basi, Tuan!!”
“Siapa bilang itu gombalan?”
“Aku yang bilang. Sudah sana cepetan pergi!” Aku mendorong tubuh Arvin, memaksanya keluar dari cafe.
“Boleh aku cium keningmu?”
“No!!”
“Cih.., pelit.” rajuknya seperti anak kecil.
Hah, apa dia tak mengingat berapa usianya saat ini?
“Bye, Baby. See you.”
“Bye, Kak,” ku lipat tanganku di depan dada, menutup diri dari terpaan angin malam yang dingin.
Aku kembali masuk, menemui Keano yang telah terlelap.
Krrringg.... 🎶
Bunyi ponsel membuatku terperanjat.
Melody is calling...
“Kenapa Melody menelepon malam-malam begini?” pikirku heran, Melody pasti tahu jadwal tidur Keano, tak mungkin ia meneleponku saat ini kalau bukan karena ada suatu hal yang penting.
“Hallo, ada apa, Mel?”
“Bagaimana keadaanmu, La? Apa Keano rewel?” tanya Melody.
“Keano baik-baik saja. Ada seorang baby sitter yang membantuku mengasuhnya,” jawabku.
“Hah??? Emang kita punya cukup uang untuk menggaji satu lagi pegawai?” Melody kaget.
“Arvin yang bayar,” kataku, sebenarnya aku ingin membayarnya dengan uangku sendiri, tapi Arvin bersikeras ingin membayarnya sebagai balas budi karena boleh minum kopi gratis di cafe setiap hari.
“Arvin?? Siapa dia?”
“Iblis berwujud malaikat.”
“Apa?? Yang benar saja?! Kau gila, Kalila? Bagaimana kalian bisa bertemu lagi?” Melody mencercaku dengan berbagai macam pertanyaan.
“Panjang ceritnya. Kau sendiri bagaimana? Kenapa meneleponku?” tanyaku heran.
“Ah..., aku akan pulang dua hari lagi.” jawab Melody, ia akan pulang dua hari lebih cepat dari perkiraan.
“Kenapa? Kau merindukan Keano?”
“Tidak, La. Ayahku sudah meninggal sore tadi.” suara Melody mulai terdengar sedikit sengau.
“Apa?? Sory, Melody. Aku turut berduka cita.” Akupun ikut tak percaya mendengar beritanya. Padahal baru kemarin Melody menunjukan Keano pada Ayahnya lewat Video Call.
“Yah, mungkin sudah waktunya.”
“Kau tegar sekali, Melody.”
“Aku sendiri bingung, La. Apa aku masih punya perasaan sedih untuknya?” Melody memang tak pernah menyayangi Ayahnya. Mungkin karena kekejaman sang Ayah merubahnya menjadi wanita yang berhati dingin.
“Mel, kalau mo nangis, nangis aja.”
“Iya, La.”
“Keano akan baik-baik saja. Kau urus dulu Ayahmu dengan baik. Setidaknya kau sudah jadi anak yang berbakti disaat-saat terakhirnya,” berbeda denganku yang malah melakukan dosa pada saat-saat terakhir kehidupan orang tuaku.
“Hiks... thanks, La.” Melody terisak, akupun ikut terisak.
“Tegarlah, Mel. Demi Raffa dan Keano.”
“Iya.”
Setelah mengobrol cukup lama Melody menjadi tenang dan berpamitan padaku. Ia akan menguburkan Ayahnya di samping makam Ibunya. Akupun memintanya untuk beristirahat malam ini. Supaya tenaganya pulih saat penguburan besok.
“Ya, Tuhan... aku tahu rasanya pasti sangat menyakitkan.”
Bagaimanapun aku tahu rasanya karena aku pernah mengalami kehilangan itu.
— MUSE S2 —
•••
Kriinncingg kling...🎶
“Welcome to Palette cafe,” sapaku pada seorang pelanggan. Si gadis yang memfotoku untuk event game masuk bersama pacarnya. Aku yakin dia sudah mendapatkan jacpot 10.000 coin emas dan item langka.
“Mau pesan apa, Kak?” senyumku padanya.
“Stawberry latte, dan hot chocolate .”
“Atas Nama?”
“65.000, Cash? E-money?”
“Cash, Kak.”
“Oh, iya, Kak. Ada progran di cafe kami. Kakak bisa membeli gambar dan mewarnanya. Hasil penjualannya kami sumbangkan pada anak-anak penyandang kangker. Dan gambarnya akan kami tempel pada papan foto spot selama satu minggu.”
Aku memberikan beberapa pilihan gambar beserta palette warna. Inilah kenapa cafe kami bernama Palette Cafe. Karena kami menjual gambar dan juga palette warna.
“Boleh, Kak.” senyumnya manis.
“tambah 25.000, ya, Kak.”
Setelah membayar, aku memberikannya buzzer dan juga gambar.
Gadis itu kembali ke tempat duduknya. Ia mulai menggambar dengan asyik pada meja bulat. Teman laki-lakinya membantu mewarnai. Sesekali mereka tertawa dan saling mengejek.
Kriinncingg kling... 🎶
Lonceng kembali berbunyi nyaring. Seorang wanita dengan setelan blezer dan celana panjang berwarna merah masuk ke dalam cafe. Wajahnya cantik, dengan rambut bergelombang berwarna dark brown.
“Mau pesan apa?”
“Apa yang biasa di minum oleh, Tuan Arvin di sini?” tanyanya. Siapa wanita ini? Kenapa ia mengenal Arvin.
“Pandan latte? Americano? Caramel latte? Dia selalu memesan kopi yang berbeda setiap harinya,” jawabku.
“Oh... Americano saja dua dan Red velvet latte untukku. Lalu apa kau punya brown sugar?”
“Maaf aku kehabisan, tapi pegawaiku sedang membelinya. Aku akan mengantarkannya bila sudah datang.” Aku tersenyum padanya.
“Ok.. Berapa?”
“Atas nama?”
“Aleina.”
“Baik, ini buzzernya.”
“Tidak bayar?”
“Gratis untuk Tuan Arvin.”
“Saya bukan Tuan Arvin. Saya sekretarisnya. Mana billnya?” pemilik nama Aleina itu memaksaku untuk menyerahkan billnya.
“Tidak perlu, Kak.” Aku memaksa.
“Baiklah, aku akan bilang pada Tuan Arvin.”
“Dia ada di sini?”
“Iya, kami ada meeting kecil hari ini. Ada designer baru yang baru datang dari luar negeri. Tuan Arvin ingin menilai sendiri kinerjanya.”
“Ah, begitu.” Aku mengangguk tanda mengerti.
“Ternyata kau sangat cantik.” Aleina menatapku tanpa berkedip.
“Ya???”
“Lupakan kata-kataku, kau milik Tuan Arvin.” gumamannya membuatku bingung.
“Terima kasih, akan aku antar brown sugar nya nanti.”
“Baik, kami tunggu di area outdoor, ya.” Aleina melangkah keluar dengan sepatu stiletto heels tingginya dengan anggun.
•
•
•
Aku memencet buzzer dengan angka 15, buzzer itu milik Aleina. Wanita anggun yang memesan kopi untuk meeting kecil mereka sore ini.
“Kok nggak datang-datang, sih?”
“Apa mungkin batrai buzzer nya habis?”
Akhirnya aku memutuskan untuk mengantarkan kopi mereka beserta dengan brown sugar. Caca sudah kembali bebelanja kebutuhan cafe dan juga mencari cake untuk kudapan. Dia bisa menggantikanku di mesin kasir.
Aku melangkah keluar dengan nampan berisi tiga buah cup kopi. Arvin terlihat sedang mendengarkan pembicaran dari pria yang duduk membelakangiku. Pembicaraan mereka terlihat cukup serius. Aku tak menyangka Arvin bisa terlihat lebih tampan saat bekerja.
“Maaf ini kopinya,” kuletakkan nampan itu pada meja mereka.
“Thanks, Kalila.” Arvin tersenyum padaku.
“Kalila??” pria yang duduk membelakangiku spontan langsung berdiri. Membuatku langsung menoleh padanya.
Pandangan kami bertemu.
Sudah lama aku tak melihatnya.
Pria yang pernah mengisi masa-masa putih abu-abuku menjadi lebih berwarna.
Pria yang dulu pergi untuk mengejar impiannya itu kembali. Berdiri tepat di depanku.
Aku dulu pernah mencintainya.
Aku dulu pernah bermimpi untuk selalu bersamanya.
“Angga...?”
— MUSE S2 —
MUSE CRAZY UP TODAY...
minta dukungannya ya Readers..
Jangan lupa Vote, Like, comment.
Jangan lupa buat vote sebanyak-banyaknya karena akan ada kenang-kenangan dari author untuk 3 orang voter terbanyak.
Di tutup 15 mei 2020
Makasih sayangkuh.
❤️❤️❤️