MUSE

MUSE
S5 ~ INDAHNYA RASA



MUSE S5


EPISODE 11


S5 \~ INDAHNYA RASA


\~Jari jemari kami saling bertaut, Lucas menggenggamnya dengan sangat erat. Membuatku tak kuasa menahan luapan rasanya.\~


__________________


AUTHOR POV


Lucas tak mengindahkan panggilan Bella, ia lebih menikmati aroma manis yang dikeluarkan oleh kekasihnya. Aroma yang terus menarik dirinya untuk semakin penasaran dengan apa yang ada di balik dress berwarna merah itu.


“Hentikan, Lucas!”


“Aku sangat ingin memilikimu, Ella.” Seringai muncul pada wajah tampan Lucas.


“Lucas berhenti! Kita di tempat umum,” sergah Bella, ia menghindari bibir Lucas yang menyapu lehernya dengan penuh gairah.


“Kalau di tempat sepi berarti mau?” Lucas menahan tubuh Bella agar tidak meronta.


“Tidak mau juga, nggak ada dalam perjanjian kerja,” tolak Bella, wajahnya cemberut.


Lucas tak menjawab Bella, ia menurunkan lagi resleting baju Bella dengan perlahan-lahan. Membuat Bella mendorong tubuh Lucas lebih kuat. Namun, tubuh lelaki di hadapannya ini terlalu besar, Bella hanya setinggi dadanya mana mungkin dia bisa mengimbangi tenaga Lucas?


“Lu—lucas!! Berhenti!!”


“Tanganku tak mau berhenti Bella.” Lucas memincingkan sudut bibirnya, tersenyum licik pada Bella.


“Hentikan!! Ini terlalu memalukan!” Bella masih menghindar. Ia menggelengkan kepalanya agar Lucas tak bisa meraup bibirnya.


Lucas hampir menyentuh bibir Bella saat tiba-tiba sebuah suara yang berasal dari perut Bella membuatnya tertawa.


Krruukk ... cuuukk ...


“Hahaha ... kau lapar?” Lucas menarik tubuhnya.


Bella mengangguk, lalu merosot lemas ke bawah lantai. Kenapa Lucas tak henti-hentinya membuat Bella kehabisan napas? Tiap sentuhan tangannya membuat jantung Bella berdegup kencang.


Bella menatap pria di depannya dengan sebal, kenapa dia begitu mudah bisa menarik perhatian dan juga memainkan perasaannya?!


Lucas berjongkok, membatu Bella melepaskan dress merahnya. Bella dengan segera menutup bagian depan dadanya dengan tangan. Membuat Lucas bergeleng pelan, ia memberikan bra dan juga baju seragam Bella.


“Ini pakai, aku tunggu di luar! Bagaimana kalau kita makan pizza, huh?” Lucas mengecup pundak Bella sebelum beranjak.


“Pizza??” Mata Bella berbinar.


“Sepertinya kau setuju.” Lucas meninggalkan Bella untuk memakai bajunya kembali.





Lucas baru saja selesai membayar semua baju yang dipilihnya, ia juga membungkus beberapa pasang sepatu dengan model yang berbeda-beda. Lucas menyuruh pegawai toko untuk mengirimkan semua pakaian itu ke rumahnya sore nanti.


“Ayo!” Lucas menggandeng tangan Bella keluar dari toko.


Bella tersenyum saat merasakan genggaman tangan Lucas yang terasa begitu hangat.


Ya, Tuhan, walupun cuma pacar kontrak tapi kenapa rasanya begitu nyaman? Begitu hangat? Begitu luar biasa? Sepertinya tak ada salahnya mencoba untuk menyukai Lucas. Batin Bella.


“Kau mau pizza rasa apa?” Lucas menghentikan langkahnya dan mengajak Bella masuk ke sebuah resto Pizza yang terkenal.


“Meat lover, terus bulgogi, terus peperoni dengan sour cream.” Bella memilih beberapa macam.


“Habis?” tanya Lucas heran.


“Iya.” Angguk Bella.


“Baiklah, kita beli semua varian-nya.”


“Hah??? Kalau itu nggak habis.”


“Loyang kecil?”


“Emm ....” Bella berpikir.


“Kita lomba siapa makan paling banyak! Yang kalah harus mengabulkan permintaan yang menang.” Lucas mengelus pucuk kepala Bella.


“Siapa takut?” Bella menerima tantangan Lucas.


Sekarang sudah ada 10 loyang kecil pizza dengan berbagai macam varian rasa. Bella menatap bulatan-bulatan roti panggang dengan berbagai macam topping di atasnya itu dengan mata berbinar. Air liurnya sudah mulai keluar saat menghirup wanginya keju dan juga daging yang terpanggang di samping arang kayu pohon oak.


Peperoni, onion, paprika, nanas, dan berbagai macam keju serta irisan daging berpadu sempurna membentuk sebuah satuan cita rasa yang menggoyang lidah. Di tambah dengan baluran saus pedas yang nikmat.


“Ready?” Lucas mengambil ancang-ancang. Bella menaikan alisnya, ikut bersiap.


“Go!!”


Bella langsung mencomot sepotong pizza dan memakannya dengan cepat. Lucas tak mau ketinggalan, ia juga memakan dengan cepat sepotong pizza di tangannya. Keju yang meleleh membuat Bella terkikih, Lucas ikut melakukannya, mereka terawa bersama.


“Enak?”


“Enak banget.” Angguk Bella.


“Coba yang ini, ada pedas juga asamnya, tidak terlalu berat di lidah.” Lucas memberikan pizza dengan potongan nanas, cabai paprika merah, dan juga ayam asap.


“Ini enak banget!!” seru Bella bahagia.


Lucas memandang wajah cantik Bella yang terus berseri bahagia karena makanan enak. Tak menyangka bahwa gadis ini terlalu mudah untuk disenangkan. Lucas tak bosan-bosannya memandang wajah Bella, sampai Bella akhirnya tersadar dan berhenti makan.


“Kenapa? Ada yang aneh dengan wajahku?”


“Cara makanmu rakus sekali, Ella. Tapi terlihat cantik. Apa ada saat di mana kau tidak terlihat cantik?” Pertanyaan Lucas membuat Bella menghentikan kunyahannya.


“Erm, saat menangis mungkin.” Bella mengangkat bahunya.


“Kalau begitu jangan menangis. Aku tak akan membiarkan siapapun membuatmu menangis.” Lucas mengusap saus di dekat bibir Bella.


Bella menundukkan wajahnya, ia tak bisa lagi menatap wajah Lucas karena pasti dia akan langsung jatuh cinta saat ini juga.


“Aku makan 22 slice, sudah pasti aku yang menang.” Lucas mengangkat tangannya ke atas, Bella melirik tajam ke arah Lucas, dia saja baru berhasil makan 12 slice dan sudah kekenyangan.


“Kau pasti curang.” Tuduh Bella.


“Nggak kok, hitung saja.” Lucas bangkit dan mengelus perutnya yang kekenyangan.


Bella memanyunkan bibirnya karena dia kalah dari Lucas. Bella menatap sisa pizza di depannya dengan sebal. Pikirannya dipenuhi pertanyaan, apa yang akan diminta Lucas darinya?


“Ayo!! Jam kerjamu hanya tinggal 1 jam.” Lucas menyuruh Bella bangkit untuk mengikutinya.


“Kita mau ke mana lagi?” Bella kesusahan mengimbangi langkah kaki Lucas yang jenjang.


“Rahasia.”


— MUSE S5 —


BELLA POV


Sebenarnya dia mau mengajakku ke mana?


Aku menurut saja saat Lucas kembali memberikan helm kepadaku. Dia ikut mengancingkan pengaman pada helm juga membantuku menaiki motornya.


“Apa kau sudah siap? Pegangan, ya, aku akan mengebut,” kata Lucas begitu menutup kaca helmnya.


“Jangan ngebut Lucas! Aku takut.”


“Dekap saja aku dengan erat, Ella.” Lucas memutar gasnya. Menimbulkan suara motor yang memekakkan telinga.


Angin kencang langsung menyapu wajahku. Aku terpaksa menutup kaca depan helmku agar tidak terlalu dingin. Jalanan masih basah karena hujan deras baru saja berakhir. Entah dia mau membawaku ke mana, yang pasti dia harus menghitung upah lemburanku.





Motornya menepi pada sebuah pantai, senja sudah menghilang, indahnya sunset tak lagi terlihat. Hanya langit yang berwana kelabu yang terlihat karena hari hampir gelap.


“Di mana ini?”


“Villa pribadi, pinggir pantai.”


“Kenapa mengajakku kemari?” tanyaku heran. Kami menghabiskan satu jam lebih perjalanan agar bisa mencapai tempat ini.


“Jangan bercanda!” geramku.


“Siapa yang bercanda? Bukankah kau memang ingin berciuman dengan suasana paling romantis?” Lucas duduk bersandar pada motor dan melingkarkan tangannya pada pinggangku.


Aku tak melihat ada suasana yang romantis. Matahari sudah tenggelam dari tadi, bintang pun tidak terlihat karena mendung. Pantai sudah gelap, bahkan jalanan pun semakin sepi. Hanya angin laut yang lengket dan suara deburan ombak yang menemani suasana malam ini. Lantas di mananya yang romantis?


“Tak ada hal yang romantis di sini,” tandasku heran.


“Tunggu saja.” Lucas mengajakku menyelusuri jalan menuju ke sebuah Villa.


“Ini villamu juga?” Aku heran, ada berapa banyak rumah yang dia punya?


“Iya, bisnis Papaku bergerak di bidang properti. Tentu saja dia banyak memiliki aset berupa gedung, rumah, apatemen, dll,” terang Lucas.


“Kau bisa mandi atau berganti pakaian Bella.” Lucas memberikanku sebuah handuk dan baju.


“Jangan bilang kau mau mengintipku lagi!!” Aku menyahut handuk dari tangannya.


“Sudah ku katakan, aku tidak suka mengintip, aku lebih suka melihatnya secara langsung.”


Aku kehabisan kata-kata saat mendengar ucapannya. Dengan sebal aku meninggalkannya masuk ke dalam sebuah kamar, untung saja kali ini sebuah kamar mandi yang umum. Ada dinding, ada pintu, dan bisa dikunci.


Aku bergegas mandi, membersihkan diri dengan air hangat. Mencoba puluhan baju dan makan sangat banyak membuatku gerah. Akhirnya setelah seharian ada oasis yang bisa menyegarkanku dari keringat dan juga bau badan yang menempel.





Aku memakai dress panjang berbahan kain pantai yang dingin. Berwarna ungu pastel dengan motif bunga-bunga kamboja putih. Model kemben dengan tali terikat pada leher.


Kapan dia menyiapkan baju secantik ini?


Aku tersenyum dan bergegas untuk keluar dari dalam kamar. Memasukkan kembali baju seragamku ke dalam tas sekolah.


“Lucas?” Aku memanggil namanya.


Di mana dia? Kenapa tidak terlihat? Pikirku sambil bertolah toleh.


Aku mencari sampai ke sisi lain ruang tamu, masuk lebih dalam ke pantry dan juga kamar lainnya. Tapi dia tidak ada.


Pandanganku menangkap siluet cahya remang di belakang villa. Aku bergegas keluar dari pintu belakang untuk mencari tahu, mungkinkah Lucas di luar?


Benar saja, aku melihatnya sedang duduk di sebuah gazebo kayu. Ada selambu putih pada keempat sisinya yang melambai pelan saat terkena angin lembut. Lampu-lampu kuning kecil berkerlap kerlip menerangi gazebo dengan cahaya remangnya. Di anak tangga ada beberapa lilin-lilin aromateraphy yang tertutup kaca agar tidak mati karena hembusan angin.


Lucas duduk di pinggir gazebo, ia bertelanjang dada, hanya memakai celana pendek semotif dengan pakaianku. Memamerkan tatto yang bersarang di lengannya yang kekar. Matanya memandang ke arah lautan tenang yang memantulkan bayangan bulan purnama berbentuk bulat sempurna.


Kenapa dia tidak pakai baju? Apa dia tidak takut masuk angin? Atau mau sengaja pamer badannya? Cih, dasar mesum emang!


Aku berjalan perlahan, merasakan lembutnya pasir pantai menggores telapak kakiku. Lucas menoleh mengetahui kehadiranku, dia lantas tersenyum padaku. Wajahnya yang terterpa cahaya remang dari gemerlapnya lampu kuning membuat langkahku terhenti, aku terpana pada ketampanannya.


“Kemarilah, Ella! Aku sudah menunggumu.” Lucas mengulurkan tangannya padaku dan aku menerimanya.


Ia membantuku menaiki tiga buah anak tangga untuk duduk di sampingnya. Lucas hanya tersenyum, tidak banyak bicara atau menampilkan ekspresi apa pun. Aku juga diam saja, lebih menikmati kebersamaan dan hembusan angin yang terasa begitu nyaman.


“Bagaimana? Apa ini cukup?” Lucas merangkul pundakku.


“Cukup.” Aku menyandarkan kepalaku pada lengannya yang kokoh.


Lucas menggosok pelan lenganku dan ikut menyandarkan kepalanya pada kepalaku. Aroma tubuhnya yang hangat bercampur dengan bau laut yang segar. Membuatku semakin dalam tenggelam dalam pesonanya.


“Jantungku berdebar, Ella.” Lucas membuyarkan kisah romantis kami.


“Dasar!!” Aku bangkit dan memukul lengannya.


“Aku nggak bohong!! Apa kau tidak bisa mendengarnya?”


Benar, aku bisa mendengar debaran jantungnya yang berdetak sama kerasnya dengan milikku saat ini. Saling bersahutan, membentuk irama yang sangat indah.


“Coba kau rasakan sendiri debarannya.” Lucas menarik tanganku dan meletakkannya pada dada.


Ah, Tuhan, wajahku menghangat, aku menyukainya. Aku menyukai tiap irama denyutan nadinya yang berdegup karena memikirkanku.


“Aku cinta padamu, Ella.” Lucas langsung menyahut tubuhku dan memeluknya.


“Lucas.” Aku memanggil namanya, aku juga ingin mengakuinya, mengakui kalau aku juga telah merasakan hal yang sama. Aku juga mencintaimu.


Aku hanya terdiam. Mengelus rambutnya yang sedikit kasar karena angin malam. Aku memejamkan mataku dan merasakan keindahan rasanya.


Lucas membuatku duduk dalam pangkuannya. Ia menyatukan dahi kami, napasnya yang panas membuat perasaanku semakin menggila. Sepertinya aku benar-benar gila, aku menginginkan Lucas saat ini. Aku menginginkannya, ya, aku mulai mencintainya.


“Ini.” Lucas mengeluarkan sepasang cincin dari saku celananya.


“Cincin? Kau melamarku?”


“Iya, bukan barang mahal, sih. Aku hanya menemukan yang biasa karena terburu-buru mempersiapkan hal ini.” Lucas menyematkan salah satunya ke jari manisku. Aku menerimanya dengan bahagia, senyuman tak berhenti terkembang pada wajahku.


“Aku ingin mengulanginya, Ella. Mengungkapkan perasaanku dengan benar padamu. Jangan anggap hubungan kita sebagai pekerjaan, karena perasaanku begitu serius terhadapmu,” ucapan panjang Lucas membuatku menitikkan air mata, aku menangis haru.


“Jadilah kekasihku, Ella. Apa kau mau?” Lucas mengangkat cincin lainnya.


“Mau!” Aku mengambil cincin dan menyematkannya ke jari manis Lucas.


“Good, Ella. Kini kau milikku, tak ada yang boleh menyentuhmu selain aku. Tak ada yang boleh menggodamu selain aku, tak ada yang boleh melihat senyuman manismu selain aku. Tak ada yang boleh menghapus air matamu selain aku.” Lucas menghapus air mataku dengan ibu jarinya.


“Iya.” Anggukku dengan mantap.


Lucas mendorong tubuhku, membuat tubuh kekarnya berada tepat di atasku. Aku menghindari tatapan matanya yang berkaca-kaca dengan penuh pengharapan. Bayangan wajahku dan juga nyala lilin-lilin kecil memenuhi binar matanya yang gelap.


Jari jemari kami saling bertaut, Lucas menggenggamnya dengan sangat erat. Membuatku tak kuasa menahan luapan rasanya.


“Kini katakanlah kalau kau juga mencintaiku, Ella.”


“Aku mencintaimu, Lucas.” Akhirnya aku mengakuinya, akhirnya aku menyuarakannya, rasa yang membuncah di dalam hatiku ini.


Rasa yang terus membuat jantungku berdegup karena memikirkannya.


Rasa yang terus membuat tubuhku berdesir saat aku menyentuhnya.


Rasa yang terus membuat hatiku sesak sekaligus bahagia.


Penuh debaran, penuh desiran, penuh keindahan.


Nyatanya, indahnya bayangan bulan di balik luasnya lautan kalah dengan indahnya rasa yang terkecap saat bibirnya menempel pada bibirku.


Lucas mendaratkan sebuah ciuman yang begitu hangat dan basah. Ah, ada getaran yang semakin terasa aneh saat bibirnya bergerak pelan mengabsen bibirku.


Bibir Lucas bergerak lembut dan mendekap bibirku dengan begitu dalam. Lumattannya terasa semakin cepat sampai sama sekali tak memberiku kesempatan untuk sekedar mengambil napas.


Rasa manis yang terkecap membuatku tak ingin melewatkannya barang sedetik pun.


Deruan napasnya yang panas membuatku kehabisan udara semakin cepat.


Ah, Aku benar-benar ketagihan dengan kenikmatannya. Syaraf-syarafku meresponnya dengan rasa bahagia yang tak terungkapkan.


Beginikah rasanya berciuman?


Sedasyat inikah?


Seindah inikah?


Ya, Tuhan, aku bisa pingsan karena debaran ini.


— MUSE S5 —


owih Bell... selamat ya bibirmu tak lagi perawan 😘😍


Duh, Lemas aku


Iri aku..


Ya ampung bang Lucas.. ciney ciney peluk dulu.


YO MUSE UP


LOVE


LIKE


COMMENT


VOTE


❤️❤️❤️