MUSE

MUSE
S2 ~ EPILOG



MUSE S2


EPISODE 91


S2 \~ EPILOG


\~ Kenyamanan ini begitu luar biasa, kesederhanaan ini membuktikan bahwa romantisme tak harus sesuatu hal yang mahal dan mewah. \~


•••


“Sudah pegangan?” tanya Arvin.


“Sudah,” jawabku.


Aku melingkarkan tanganku pada pinggangnya. Memeluknya dengan erat. Kami berkendara dengan motor malam ini. Arvin baru saja membeli sebuah motor racing berwarna hitam.


“Ingat, jangan ngebut!!” Aku mewanti-wanti dirinya sebelum motor itu melaju masuk ke dalam ruas jalan.


“Oke, Baby.”


Kami memakai jaket kulit berwarna hitam lengkap dengan sarung tangan dan juga helm racing. Hari ini kami akan pergi minikmati bulan madu kami di sebuah gunung. Arvin sengaja membeli villa kecil di sana.


Oh, iya, banyak yang belum kalian ketahui bukan? Kami sudah menikah minggu lalu. Papa dan Mama Arvin langsung mengajukan lamaran begitu Arvin mengenalkanku pada mereka malam itu.


Aku baru tahu kalau Arvin berbohong. Bukan dia yang bertunangan malam itu, tapi keponakaanya. Dasar Om-Om nakal, tapi kenapa, ya, aku bisa cinta banget sama Om nakal yang satu ini?


Setelah satu bulan persiapan pernikahan, kami menikah pada sebuah chapel kecil di pinggir pantai. Kami tak menggelar pesta besar, kami menyumbangkan semua uang yang seharusnya untuk pesta resepsi pada yayasan amal.


Hanya orang-orang terdekat yang kami undang. Aku juga membawa foto Papa dan Mamaku agar mereka ikut menyaksikan pengesahan pernikahan kami berdua.


Melody bilang aku tampak cantik dengan gaun pernikahan berwarna putih ini. Gaun penuh broklat berhiasakan taburan mote-mote putih. Gaun model sabrina dengan lengan panjang, roknya mengerucut kebawah. Gaun itu memang sederhana, namun terlihat begitu cantik bagiku. Aku tak pernah menyangka akan memakai gaun pernikahan dan berjalan di pelaminan dengan seorang pria yang aku cintai.


Angga menggandengku dari pintu masuk sebagai ganti Papaku. Dia menyerahkan diriku pada Arvin, dengan senyuman manisnya dia melepaskan semua rasa yang pernah kami alami berdua. Mengharapkan kebahagian dalam kehidupanku ke depannya. Aku pun berharap demikian, aku harap Angga akan menemukan cintanya yang baru. Yang begitu mencintainya dengan tulus dan sepenuh hati.


“Jaga, Kalila!” hanya itu pesan Angga sebelum ia memberikan tanganku pada Arvin.


“Sure.” jawab Arvin.


Kami saling memegang tangan saat mengucapkan janji suci dan bertekat untuk membangun sebuah rumah tangga yang harmonis dan saling mengasihi.


“Aku akan mengasihimu, Kalila.”


“Aku akan tunduk kepadamu, Arvin.”


“Dalam suka dan duka. Dalam susah dan senang. Dalam sakit dan sehat.” ucap kami bersamaan.


“Dan cincin ini adalah tandanya.”


Di dalam cincinnya terukir namaku, dan di dalam cincinku terukir namanya. Apa kalian tahu kenapa cincin yang dipakai untuk mengikat janji saat pernikahan? Kenapa bukan kalung ataupun gelang?


Itu karena cincin berbentuk lingkaran, dan lingkaran tak berujung. Jadi saat cincin dikenakan, secara tidak langsung kita berjanji pada pasangan kita bahwa cinta kita tidak akan berkesudahan. Karena cincin tak memiliki ujung, akan lingkarannya akan berputar abadi selamanya.


“Selamat, Boss!!” teriak Caca sambil memelukku.


“Congratz, La. Ku harap kau bahagia.” Melody ikut memelukku.


“Elamat... Maami...” Keano ikut menirukan.


“Makasih, Ken!” Aku menggelitik perut gendutnya. Keano tertawa geli.


“Selamat, La.” Angga memelukku.


“Hei!!” protes Arvin.


“Kenapa?” tanyaku kaget.


“Dia istriku.”


“Ck, dasar!” Aku kembali memeluk Angga.


“Aku akan kembali ke Luar Negeri, La. Menyelesaikan studyku.” kata Angga.


“Kapan?”


“Minggu depan.”


“Hati-hati, ya, baik-baik, dan ku harap kau akan menemukan wanita yang baik.”


“Semoga. Kau sendiri juga harus bahagia, ya! Kalau Arvin menyakiti, aku akan datang dan menjemputmu.” goda Angga.


“Hahahaha, baiklah,” jawabku sambil mengelus punggungnya. Aku sendiri tak tahu harus berkata apa? Bagiku Angga adalah laki-laki yang baik dan paling memahami diriku.


Kalau Arvin adalah cintaku, maka Angga adalah temen terbaikku.


“Sudah, ah, kelamaan!” Arvin melerai pelukkan kami.


“Kau cemburu?” senyumku sambil bergelayut manja pada lehernya.


“Iya! Aku cemburu!” teriak Arvin lalu ia melanjutkan rasa cemburunya dengan menciumku begitu lekat.


“Berhenti, aku nggak bisa bernapas, Kak!!” protesku.


“Jangan peluk pria lain lagi, OK!!” cubitannya bersarang pada hidungku.


“OK!!”


Aku tertawa melihat bibirnya yang ikut berwarna merah. Hasil melumatt bibirku yang penuh dengan lipstik, aku menarik pundaknya agar ia menurunkan tubuhnya, “merunduklah, Kak!”


“Merah semua, ya?” senyumnya geli.


“Iya.”


Tak lama Mama dan Papa datang, mereka memeluk Arvin lalu memelukku secara bergantian. Aku masih agak canggung di depan mereka. Aku takut mereka tak bisa menerima kekuranganku. Aku takut tak bisa memenuhi karakteristik menantu baik yang selama mereka idam-idamkan. Tapi ternyata ketakutanku sia-sia saja, karena bagi mereka menantu idaman itu...,


“Berikan kami banyak cucu!” teriak Mama Rose.


“Perempuan lima, laki-laki lima.” tambah Papa Kai.


Aku langsung memandang wajah Arvin yang juga ikut bersemu merah karena ucapan ke dua orang tuanya.


“Terserah Kalila saja, Pa, Ma.” Arvin malah melimpahkan pertanyaan yang menakutkan itu kepadaku.


“Kalila, jangan pernah KB!! Buat anak yang banyak!!”


“Apa?” jawabku syok! Mereka pikir hamil dan melahirkan itu gampang.


Ah, tapi kalau dipikir-pikir, hidup dengan banyak anak mungkin juga bukan sebuah hal yang buruk. Aku terkikih membayangkan Arvin mengganti semua popok dan memandikan anak-anaknya.


“Baik, Pa, Ma, Kalila bikin satu lusin cucu untu kalian!!” jawabku mantab.


“SATU LUSIN???!!!” Arvin langsung mendelik tak percaya.


“Iya, Kak. Asal kau yang mengurus mereka semua,” tawaku pecah.


Kami menutup malam yang indah itu dengan menerbangkan ratusan lentera. Mengisi gelapnya langit malam dengan cahaya.


“I love you, Kalila!”


Ku kecup bibirnya, rasa manis dan hangat kembali terasa.


— MUSE S2 —


•••


Aku membuka lenganku lebar-lebar, merasakan terpaan angin dingin yang terus menerpa karena kecepatan stabil yang dihasilkan oleh tenaga motor.


“Nanti masuk angin!!” teriak Arvin.


“Bawel!”


“Ayo pegangan lagi!”


“Bilang aja kakak minta dipeluk!” seruku.


“Itu juga, sih!”


“Dasar, siapa yang meong kalau begini?” ku cubit perutnya.


Kami melintasi jalanan berkelak kelok pada kaki gunung, sebelum akhirnya sampai pada sebuah rumah kecil yang tanpak begitu asri.


Villa yang dibeli Arvin tidak terlalu besar, namun bangunannya cantik dan modern. Banyak sekali tumbuhan dan juga bunga hias pada pekarangan depan. Di belakang ada beberapa kursi malas dari rotan dan juga perlengkapan api unggun.


“Dingin nggak?” Arvin mengelus wajahku.


“Sedikit,” jawabku. Padahal aku kedinginan, sampai-sampai napasku berembun.


“Ayo masuk!” ajak Arvin. Aku menurut dan mengekor padanya.


Meong...!


Seekor kucing putih dengan motif belang sapi terlihat di depan pintu. Ia menggeliat manja pada kakiku, mengitarinya pelan.


“Hei, manis, kau sendirian?” Aku berjongkok untuk mengelus kucing itu.


“Baby, dia jantan.” sahut Arvin.


“Memangnya kenapa?”


“Kau memanggilnya manis, harga dirinya sebagai laki-laki pasti terluka.” kikih Arvin.


Aku langsung memandang tajam pada Arvin, melihatnya menggodaku membuatku sebal, “lalu aku harus panggil dia apa?”


“Bagaimana kalau Si Macho? Atau Si Kekar?”


“Nggak imut!!” seruku.


“Ck, galak banget, sih, hari ini? PMS, ya?” Arvin langsung menyentil dahiku.


“Aduh!!”


“Ayo bangun, kita bikin api unggun.” Arvin membantuku berdiri. Ah, melihatnya memandangku dengan lembut langsung menghilangkan amarah di dalam hatiku.


Aku langsung menggenggam gandengannya sambil menggendong Si Manis. Kasihankan kucil itu kedinginan di luar. Sampai pemiliknya datang aku akan merawat dan memberinya makan.


“Aku siapkan apinya, ya.” Arvin melepaskan semua jaket dan tas berisi perlengkapan menginap kami.


“Oke, aku akan membuat minuman hangat.”


Setelah memberikan Si Manis susu, aku bergegas membuat dua cangkir coklat panas dan membawanya ke taman belakang. Arvin sedang berusaha membuat api pada kayu arangnya rata. Ia membolak balik kayu bakar dengan sebuah besi panjang.


“Ini, Kak,” kataku sambil memberinya secangkir coklat.


“Thanks, Baby.”


Arvin duduk santai pada kursi malas di depan api unggun. Menikmati kehangatan lidah api yang terus bergoyang karena terpaan angin. Aku mendekatinya dan duduk pada pangkuannya. Melingkarkan tanganku pada lehernya, mendekap erat dan mencium bau parfum mahalnya yang maskulin.


Aku merebahkan kepalaku di atas dadanya, menikmati degupan jantungnya yang berdetak penuh irama. Aku menyukai kenyamanan ini. Arvin merangkul pundakku, kami menikmati pemandangan langit malam yang penuh dengan bintang.


“Kau suka?” tanya Arvin sambil mengecut keningku.


“Huum, aku suka,” anggukku. Kenyamanan ini begitu luar biasa, kesederhanaan ini membuktikan bahwa romantisme tak harus sesuatu hal yang mahal dan mewah.


Arvin mengangkat daguku dan mencium lekat bibirku. Menguluumnya dengan penuh perasaan. Kami mulai terbawa pesona kenikmatan akan rasa cinta yang meluap. Aku membalik badanku agar ciuman kami jadi lebih mudah. Aku berpegangan pada pundaknya yang lebar, sedangkan tangan Arvin melingkar pada pinggangku.


Kami kembali berciuman, padahal sudah berkali-kali kami melakukannya, tapi tetap saja rasanya manis dan menggairahkan.


“Pindah ke kamar?” tanyanya. Aku mengangguk sebagai jawaban.


Arvin langsung membopongku pada pundaknya tanpa seizinku. Membuatku menggeliat karena rasa gelinya. Dasar! Pria ini memang suka berbuat seenaknya sendiri.


Arvin menyalakan lampu pada kamar kami, dengan segara ia melemparkan tubuhke ke atas kasur. Kelopak bunga mawar merah bertebaran di atas kasur, nampaknya dia telah sengaja menyiapkan semua ini untuk menyenangkanku.


Arvin bangkit dan mulai menanggalkan satu persatu pakaiannya. Aku tersipu melihatnya, tubuh kekarnya memang selalu terlihat mempesona.


Aku mengalihkan pandangan ke arah jendela yang langsung menembus ke arah kolam renang. Mencoba untuk tidak terkesima pada dirinya. Arvin tau tingkahku yang selalu malu-malu ini. Makanya ia langsung menggodaku.


“Kemari, Meong!!” Arvin menarik kakiku agar mendekatinya.


“Hahaha,” tawaku. Aku selalu merasa geli saat dia memanggilku Meong.


Arvin melepaskan semua pakaianku juga, “kau mau apa, Om Ganteng.”


“Mengisi perutmu dengan selusin bayi.” Arvin menyatukan hidungnya dengan hidungku.


“Baiklah, ayo kita buat banyak bayi,” tawaku kembali pecah mendengar gurauannya.


Arvin mengambil kaosku dan mengikatkannya pada pergelangan tangan. Mengunci tanganku ke atas kepala. Dengan perlahan ia mencuim perut, naik ke atas dan semakin atas, sampai akhirnya kembali mencium bibirku.


“Ah, geli banget!” protesku, tapi aku tak berkutik karena ia mengikat tanganku.


Arvin mendekatkan mulutnya ke arah telinga dan berbisik,


“Ready, baby?!” tanyanya.


“Always!” jawabku manja.


— MUSE S2 —


Siapa yang cinta sama Arvin???


Like dan comment ya.


Jangan lupa tetap VOTE!!!!


I lap yu readerskuh ❤️❤️❤️


VOTE YANG BANYAK YA, biar dapet kenang-kenangan dari Author ❤️🥳



(Kredit to owner)


Saya kasih gambar biar baper ^^