MUSE

MUSE
S3 ~ LIKE IT



MUSE S3


EPISODE 111


S3 \~ LIKE IT


\~ Leon memandang wajahku, akupun melakukan hal yang sama. Pandangan kami bertemu, saling menyiratkan rasa cinta yang begitu besar, aku mengasihinya, aku merindukannya, aku menginginkannya.\~


_______________


(Warning mengandung konten 21+, bagi yang belum cukup umur mohon dilewatkan saja. Tidak akan berpengaruh pada jalan cerita. Mohon bijak dalam membaca dan menyikapi, ya readers.❤️ )


•••


Aku menggigit bibir bawahku gemas saat melihat wajah tampan Leon begitu serius. Tubuhnya bertelanjang dada, dan hal ini semakin membuatku merasa ingin meleleh. Ia menungguku membersihkan diri dengan duduk tenang di pinggir ranjang.


Om Leo juga punya banyak tatto di tubuhnya, nggak heran hobi anehnya menurun kepada Leon. Sepertinya Leon mulai menyukai seni melukis di atas kulit manusia itu. Tubuh Leon kini banyak dihiasi tatto, ada tatto lingkaran YIN YANG yang terlilit naga pada punggung sampai ke bagian pinggang. Di tangan sebelah kanannya terlukis indah wajah singa jantan dengan surai yang mengembang. Ada juga tatto dengan aksara jawa pada sisi kiri pinggang, dan sebuah aksara cina di belakang lehernya.


Argh..., ditambah dengan otot-ototnya itu, bagaimana mungkin aku tidak meleleh? Bagaimana mungkin aku tak menginginkannya? Iih..., gemes banget!! Ingin rasanya segera memeluk dan berpeluh dengannya, berbagai rasa juga alunan napas.


Hanya dengan berbalutkan handuk aku kembali menghampirinya, mencium tengkuknya, kecupan demi kecupan yang ku berikan membuatnya menggila. Leon langsung menarikku ke atas ranjang miliknya. Mengunci pergelangan tanganku dan langsung mencumbu leherku. Ranjang dengan seprei biru langit itu langsung kusut begitu kami bergerak untuk saling mengadu rasa juga sentuhan sensual.


Ciuman Leon membuatku terus melengguh kasar, aku begitu menikmati ciuman dan sentuhan tangannya pada sekujur tubuhku. Area-area sensitifku semakin menegangg tak karuan saat indahnya persatuan mulai terjadi.


Leon memandang wajahku, akupun melakukan hal yang sama. Pandangan kami bertemu, saling menyiratkan rasa cinta yang begitu besar, aku mengasihinya, aku merindukannya, aku menginginkannya.


“Kanna, sakit?”


“Sakit banget!!” tak ku sangka rasanya sangat sakit dan perih. Seperti terhujam benda tajam, namun ada rasa yang begitu aneh saat Leon mulai bergerak pelan. Walaupun sakit aku merasa ingin lagi dan lagi. Lebih dalam dan cepat! Ergh..., kenapa aneh sekali rasanya?


Aku tak bisa berhenti merancau, walaupun aku sudah mencoba untuk menahan suaraku, tetap saja desahan napasku terus menderu. Leon tertawa melihatku menahan desahan napas. Bisa ku lihat juga peluh menetes dari wajah tampannya, rambut hitamnya basah karena keringat. Pesona kenikmatan ini seakan membius kami berdua. Aku mencakar punggungnya untuk menahan rasa sakitku ini.


Leon kembali mencium dan menyesap tiap-tiap area sensitif milikku disela-sela gerakannya. Membuat tubuhku bergetar semakin hebat!


“Kau sensitif sekali, Kanna.” bisiknya, aku bingung, itu pujian? Araukah sesuatu hal yang aneh? Aku benar-benar tak mengerti, ini pertama kalinya bagiku.


“Se..., seharusnya bagaimana, Leon? Apa kau tidak suka?” Aku menjambak rambutnya, masih mencoba untuk menahan tegangan keras yang berasal dari bawah sana.


“Hahaha..., aku suka Kanna. Itu bukan hal yang aneh, itu hal yang menyenangkan. Kau sangat cantik.”


“Benarkah? Jadi kau suka?”


“Yes, i like it!” Leon tersenyum sangat manis seraya kembali menciumku bibirku.


Oh, Leon...,


Hentakan lembutmu membuatku terbang entah ke mana.


Oh, Leon...,


Perih dan panas yang menghujam membuatku merasakan rasa cintamu yang begitu besar.


Miliki aku Leon!! Seutuhnya...,


— MUSE S3 —


•••


Leon tertidur di sampingku, aku melihat wajahnya yang kelelahan. Bagaimana tak lelah, ia telah menempuh perjalanan yang jauh sebelum kami bermain cukup lama. Leon benar-benar menghabiskan tenaganya saat bercinta denganku.


“Rambutnya mulai panjang,” senyumku sembari mengelus lembut rambut hitamnya.


Muncul ide untuk menjahilinya, aku berjinjit agar tak membangunkannya. Aku mengambil tasku dan merogoh isinya. Aku teringat membawa pouch make upku.


Aku menguncir rambut Leon dalam beberapa bagian kecil dengan karet rambut. Lalu menghias wajahnya dengan ciuman, tapi aku terlebih dahulu memoleskan lipstik merah. Cap bibirku membanjiri wajahnya, membuatku geli sekaligus senang. Terakhir aku menyapukan blush on tebal pada pipi dan juga eye shadow gelap di sekitar matanya. Leon hanya sesekali melengguh dan mengolet pelan karena kelakuanku. Sepertinya tidurnya memang kelewat pulas.


Aku mengabadikannya dalam beberapa jepretan kamera ponsel. Setelah puas aku menciumkan bibirku agar bibirnya berwarna merah. Aku cekikikan dengan kelakuanku dan juga wajahnya. Leon terlihat sangat lucu, membuatku tak bisa berhenti tertawa.


“Hish...! Salah siapa ninggalin aku setahun lebih! Ini hukumanmu tau?!” towelku sebal.


Aku bersenandung ringan sambil membereskan peralatan make upku. Merapikan isinya sebelum naruhnya kembali di dalam tas.


Leon menggigau pelan sebelum sedikit tersadar dari tidurnya, “temani aku tidur, Kanna!” tangannya menarik tubuhku agar mendekatinya.


Leon memelukku dari belakang, tangannya bersarang di pinggang, sementara tangan yang lain menjadi sandaranku tidur. Aku melirik ke arah jam dinding, pukul 8 lewat, masih belum terlalu malam. Sepertinya masih sempat tidur satu sampai dua jam dulu sebelum jam malamku berakhir.


“Kenapa tanganmu naik?” protesku saat tangan Leon berpindah ke depan dada.


“Yang ini lebih empuk dan hangattt....” desisnya pelan.


“Ck, dasar singa mesum, tapi aku cinta, jadi aku maafin,” kikihku dalam hati.


“Selamat tidur, Leon!”


“Selamat tidur, Kanna.”





SRAT..!!


Aku tercengang dan langsung menyibakkan selimutku. Aku panik dan mencari jam dinding, ingin mengetahui pukul berapa saat ini?


“WTF!!! Jam 1 Malam????!!” seruku kaget. Sudah lewat dari jam malamku.


Aku melirik ke arah ponsel. Ada 10 miss call dari Papa juga Mama. Aduh gawat bisa di cerca habis-habisan ini.


“Leon, bangun!!”


“Leon, sudah jam 1 malam. Papa dan Mama bisa membunuhku.”


“HAH? Leon sama paniknya denganku.”


“Bagaimana ini?”


“Aku akan menemanimu pulang.”


“Jangan, bisa-bisa Papa memukulmu,” cegahku.


“Lewat jendela, Kanna. Berani, nggak? Aku akan menyebrang ke sana terlebih dahulu dan membantumu melompat.


“Bisakah?” tanyaku.


“Bisa, dulu saja bisa.” jawab Leon, dulu kami memang pernah tidur berdua sebelumnya, Leon saat itu juga melompat masuk ke dalam kamarku lewat jendela.


“Hah..., baiklah! Kita coba, ya!” aku menghela napas panjang sebelum memantapkan niat.


Leon melompat, masih dengan rambutnya yang penuh kunciran, juga wajahnya yang penuh make up. Aku tertawa geli, nampaknya Leon belum menyadarinya.


“Ayo, Kanna.” Leon mengulurkan tangannya dan mengajakku melompat.


“Pegangin, ya!” Aku agak ketakutan, walaupun tak terlalu tinggi, tapi kalau jatuh pastinya akan sangat menyakitkan, bukan?


“Aku tarik, satu, dua, tiga...!” Leon menghitung dengan lirih.


Akhirnya aku berhasil melompat masuk ke dalam kamarku sendiri.


“Oke, aku akan turun. Kau kembalilah, Leon.”


“Oke, see you, Kanna.” Leon mengecup bibirku.


Setelah merapikan diri dan menghela napas beberapa kali aku bergegas turun dari kamar. Aku berpura-pura seakan-akan aku telah tertidur di dalam kamar dan merasa haus. Aku akan mengatakan pada mereka kalau aku kembali dari jam 10 tadi. Mungkin Papa dan Mama hanya tak menyadari kepulanganku.


“Kanna???” seru mereka.


“Kok Papa sama Mana nggak tidur?” Aku pura-pura tak tau. Aku menuang air minum dan meneguknya dengan cepat.


“Kapan kau pulang?” tanya Papa dan Mama yang menungguku di ruang tamu, mereka kaget aku menuruni tangga.


“Sudah dari tadi kok, Ma,” jawabku, aku menguap beberapa kali, meyakinkan mereka kalau aku telah tertidur dari tadi.


“Padahal tadi Mama tengok di kamar kamu belum pulang?? Kok bisa?” Mama mendelik tak percaya.


“Mungkin Kanna pas lagi di kamar mandi, Ma,” cepat-cepat aku bergegas naik agar rasa penasaran mereka terhenti.


“Tunggu, Kanna!” Papa mengekorku naik ke atas, dan masuk ke dalam kamar.


Papa celingukkan, ia nampaknya curiga aku kembali dari rumah Leon dengan cara melompat ke dalam jendela.


“Kenapa, lagi, sih, Pa? Kanna, ngantuk, nih!” protesku. Aku berpura-pura marah, padahal hatiku sangat khawatir kalau akan ketahuan telah jadi anak yang nakal malam ini.


“Kau nggak melompat dari sanakan?” Papa menunjuk ke arah jendela Leon, membuatku menelan ludah dengan berat.


“Ma..., mana mungkin? Papa ngomong apa, sih?” Aku bergegas mendekati Papa untuk menarik tangannya keluar.


“Tunggu!!” Papa belum menyerah, ia membuka daun jendela dan melihat ke arah sebrang.


Dari sebrang jendela, kamar Leon terlihat begitu gelap dan hanya ada bayangan manusia yang terus mendekat. Kepalanya begitu besar karena ada lima buah kuncir rambut yang membuat rambutnya berdiri tegak. Lingkaran matanya sangat hitam, dan sudut bibirnya tergores warna merah seperti darah.


Spontan Papa mendelik lalu berteriak...,


“HA..., HANTU...!!!!!”


Papa kabur dan langsung ngibrit keluar kamar. Aku melongo melihat kelakuannya. Pandanganku langsung beralih ke arah jendela kamar Leon. Dari sebrang sana Leon sedang memandangku dengan sebal.


“Kau apakan wajahku, Kanna?”


“Hahahaha...!!” tawaku pecah.


Wajahmu garangmu sangat imut, Leon!


— MUSE S3 —


Suka Versi Kanna atau Leon nih? ❤️


Versi Leon saya edit, bisa di baca ulang kalau sudah lolos review, ya, gaes.


Kemarin soalnya pas bikin sama ngantuk, jd feelnya kurang kena.


Semoga feelnya semakin kena setelah baca POV KANNA.


MUSE UP!!


YUK DUKUNG CINTA KANNA DAN KISAH HIDUPNYA.


VOTE, LIKE, dan COMMENT


PASTIKAN KALIAN PENCET TOMBOL LIKE DAN VOTE YA BAE!!!


Terima kasih sudah membaca,


Terus Sebarkan rasa cinta untuk banyak orang. Dan berbuat baik bagi sesama


Love,


Dee ❤️❤️❤️