
MUSE
EPISODE SPESIAL NATAL
PART II
Kata orang cinta pertama itu adalah cinta yang paling membekas di hati.
Kata orang cinta pertama itu adalah cinta yang paling sulit untuk dilupakan.
Kata orang cinta pertama itu adalah cinta yang paling indah.
Genggaman tangan pertama.
Pelukan hangat pertama.
Ciuman pertama.
Dan bahkan hubungan intim pertama kali.
Benarkah?
Benarkah cinta pertama begitu dahsyat? Sampai kau bahkan susah untuk bisa membuka hatimu bagi cinta yang baru? Atau bahkan setelah membuka hati, kau bahkan membandingkan cinta pertama dengan cinta yang sekarang?
Desiran halus saat pertama kali bercengkrama. Degup jantung yang terdengar bersahutan saat pertama kali berciuman.
Apakah hal itu masih ada pada cinta kedua, ketiga, keempat?
•
•
•
“Bagaimana Queency? Apa kau mau ikut?” tanya Nick.
Queency menggigit bibirnya dengan sebal, haruskah dia ikut ke rumah mantan pacar dari kekasihnya? Bahkan sampai detik ini pun Queency masih cemburu pada Bella. Tapi bagaimana kalau Nick bermain mata di sana? Bagaimana kalau Bella menggoda kekasihnya? Memikirkan hal ini langsung membuat darah Queency mendidih.
“Aku ikut, Nick. Tunggu, aku ambil tas dulu.” Queency mengambil tas sekaligus berpamitan pada keluarga besar Nick.
“Bella tak lebih cantik darimu, Queen,” bisik Gabby.
“Dia hanya terlalu seksi.” cela Levin, Gabby dan Leoni langsung melotot galak.
“Kan memang ben—“
“Stop it!” Leoni sebal.
“Aku tan akan kalah,” ucap Queency.
Tak butuh waktu lama, Nick dan Queency telah masuk ke dalam mobil. Keduanya bergegas menuju ke rumah Bella. Queency hanya diam sepanjang jalan. Nick juga tak berusaha memulai pembicaraan apapun, memilih untuk fokus mengetir.15 menit berkendara, akhirnya mereka sampai di depan rumah Lucas dan Bella.
“Kita sampai.” Nick membantu Queency menuruni mobil. Mata Queency menyapu rumah mewah itu. Rumah yang besar, sepertinya perekonomian mereka cukup kuat.
“Ayo kita masuk.” Nick menggandeng tangan Queency. Gadis itu mengangguk. Mengerkor di belakang Nick. Mengikuti langkah jenjang itu dengan cepat, berusaha mengimbangi.
Ting Tong.
Bell berbunyi, tak lama pintu baja besar terbuka. Seorang wanita mungil dengan wajah cantik dan bibir seksi keluar. Rambut hitam panjangnya terkuncir ala ponny tail. rona kegembiraan tergambar betul di atas wajah cantiknya. Ia langsung memeluk Nick, bercipika cipiki. Membuat Queency mengepalkan tangannya menahan rasa cemburu.
“Sudah lama sekali, Nick.” Bella menepuk pundak Nick, belum melepaskan pelukkannya.
“Iya, Bella. Aku sibuk sekali belakangan ini. Bagaimana kabarmu?” Nick melepaskan pelukkannya. Tapi masih menatap intes ke arah Bella. Queency menggigit bibir, haruskan dia berdehem? Karena baginya acara melepas rindu ini begitu menyesakkan, canggung, dan menyebalkan.
“Kabarku baik, Nick. Seperti yang kau lihat. Ibu rumah tangga dengan dua orang anak.” Bella berputar dengan kaos kedodoran dan celana hot pants rumahan. Tampak betul tak begitu memperhatikan penampilan modis nan glamor seperti saat masih menjadi penari tiang.
“Tapi tetap cantik,” puji Nick.
“Ehem!!” Queency sudah tidak tahan lagi, ia langsung berdehem agar mereka berdua berhenti bertingkah seakan dunia milik berdua. Hellow ada orang lain di sini, yang ketiga manusia, bukan setan! Queency mendesah geram di dalam hati.
“Ah, iya, ini Queency. Kekasihku. Dia artis yang memerankan ‘Bella’ dalam film garapanku. Kau tahukan!” ucap Nick.
“Tentu saja aku tahu, tarianmu sangat indah Queency. Aku terpesona padamu, bahkan aku tak bisa menari sebaik itu.” Bella menjulurkan jabatan tangannya.
“Eum ... itu diperankan oleh pemeran pengganti. Pemain profesional.” Wajah Queency merona merah, menerima pujian yang tak seharusnya ia terima sungguh membuat malu.
“Ah, benarkah? Ow, aku tak tahu.” Bella tersenyum canggung. “Yang penting kau memerankan peranmu dengan baik.” Lanjut Bella.
“Di mana Aiden dan Lucas?” tanya Nick.
“Di dalam, sedang menyiapkan api untuk barbeque. Ayo kita masuk! Ayo Queen, anggaplah rumah sendiri.” Bella menggandeng Queency, gadis itu jauh lebih tinggi dari Bella.
“Jangan mau, Queen. Nanti kau disuru cuci piring.” Goda Nick, Bella dan Nick tertawa.
“Apaan sih? Nggak kok.” sahut Bella. Queen langsung merasa kalah, bahkan tak pernah Queency melihat Nick tertawa selepas itu sebelumnya.
Mereka bertiga sampai pada ruang keluarga. Di belakang tv table ada pintu kaca lipat yang menghubungkan langsung ruang tengah dengan kolam renang. Lalu dibelakang sofa ada dapur bersih. Kitchen set dari marmer jenis white tiger.
Di ruang tengah seorang bayi perempuan berusia 6 bulan sedang asyik bermain jampero. Mainan mirip baby walker namun digunakan untuk meloncat-loncat. Bella menggendongnya.
“Hallo, Perkenalkan namaku Elina.” Bella memperkenalkan baby E.
“Hai, Baby E.” Nick menyentuh pipi gembul Elina.
Bella menggendong bayi perempuannya sebelum memanggil Lucas.
“Lucas, pakai bajumu. Ada Nick dan Queen. Mereka sudah datang.” Bella menegur suaminya yang masih bertelanjang dada, memamerkan abs keras juga badan penuh tato.
“Oke.” Lucas menurut, menyahut kaos dan memakainya.
Lucas menghampiri Nick dan Queen. Menjabat tangan Queency, dan memeluk Nick.
“Apa kabarmu, Lucas?” Nick memeluk lucas, saling menepuk punggung masing-masing.
“Good. Ayo duduk, anggaplah rumah sendiri.” Lucas mempersilahkan Nick dan Queen duduk. Belum sempat Nick menghenyakkan pantatnya, suara melengking Aiden terdengar.
“PAPI NICK!” Aiden menghambur masuk ke dalam pelukkan papinya.
“Hallo, jagoan. Kau sudah besar sekarang.” Nick memeluk Aiden, memangkunya duduk.
“Ini perkenalkan, tante Queency.”
“Hallo tante, namaku Aiden.”
“Hallo Aiden.”
Mereka semua mengakrabkan diri dan bercengkrama sambil menikmati barbeque party di kolam renang. Elina sudah tertidur, Bella menyerahkannya pada pengasuh bayi setelah memberikan Asi. Canda tawa mereka berhenti, Aiden mulai mengantuk, tidur dalam pelukan Lucas.
“Aku akan memotong buah.” Bella bangkit.
“Aku bantu.” Queen mengekor Bella, ia harus melakukan sesuatu agar tidak mati gaya.
Lucas dan Nick kembali berbincang. Mengobrol tentang banyak hal tentang masa lalu, bisnis, sampai bahkan tentang olah raga. Para lelaki begitu senang membicarakan hal-hal seputar dunia mereka. Berbincang di depan api arang yang hampir padam.
Bella mengambil sebuah semangka berukuran sedang. Menaruhnya di atas papan pemotong. Queency mengambil piring, menata satu per satu semangka yang telah Bella potong.
“Kapan kalian akan menikah?” Celetuk Bella.
“Entahlah.” Queen enggan menjawab pertanyaan itu lagi.
“Kenapa? Apa Nick membuatmu menunggu? Apa perlu aku berbicara padanya?” Bella menawarkan diri, mengelus lengan Queency. Queency terdiam.
“Nick pasti mendengarku, Queen. Serahkan padaku.” Lanjut Bella.
“Cukup!! Jangan berkata seolah-olah kau masih punya andil besar dalam hidupnya. Jangan berkata kalau Nick masih menuruti semua ucapanmu. Jangan bertingkah seakan kau mengasihiku dan menganggap Nick masih milikmu.” Queency menepis usapan Bella. Amarahnya tersulut oleh ucapan Bella. Rasa cemburu yang menumpuk sembari tadi akhirnya meledak juga.
“Queen ... bukan begitu maksudku.” Bella gelagapan, bukan maksudnya membuat Queency cemburu, ataupun merasa masih memiliki Nick. Dia hanya ingin membantu, membantu Queen mendapatkan perhatian si bodoh Nick.
“Cukup!! Aku tak ingin mendengarnya.” Queen mendorong Bella, saat itu Nick dan Lucas masuk ke dalam rumah, penasaran dengan suara ribut barusan.
“Queen!! Apa yang kau lakukan pada Bella??” teriak Nick.
“Tidak, Nick. Ini tidak seperti yang kau lihat.” Bella berusaha menengahi, keduanya saling pandang, dengan mata sembab Queen menatap Nick.
“Queency!! Aku bertanya padamu.” Nick mencekal pergelangan tangan Queen.
“Nick!!” Bella membentak Nick, mencoba menjelaskan masalahnya. Jangan sampai salah paham ini meledak lebih besar.
“Lepaskan!! Harusnya aku nggak ikut kemari.” Queen menghempaskan tangan Nick dan menyahut jaketnya.
“Maaf, aku harus pergi. Terimakasih atas jamuan makan malam natalnya. Selamat natal. Aku pamit.” Queency langsung pergi begitu pamit pada Bella dan Lucas. Mengacuhkan Nick.
“Kejar dia Nick!! Dan minta maaflah!” Bella berkacak pinggang.
“Dia mendorongmu, Bella. Kenapa malah seolah-olah dia yang tersakiti?” Nick menghela napas.
PLAK!!
Bella mengeplak kepala Nick.
“Bodoh!! Itu karena dia begitu mencintaimu, Nick!! Kejar Queency! Atau kau akan menyesal kelak!” seru Bella.
“Bella benar, Nick!” timpal Lucas.
Nick memandang Bella dan Lucas bergantian.
“Shit!!” Nick berlari, mengejar Queency.
...— MUSE —...
...Ayo di like sama di comment!...
...Matatih...