MUSE

MUSE
S4 ~ BERDUA SAJA?



MUSE S4


EPISODE 16


S4 \~ BERDUA SAJA


\~ Ra mendekatiku, ia membantu mengancingkan bajuku satu per satu. Dengan malu aku menundukkan kepalaku. Ra merapikan rambutku lalu memakai kembali kaosnya. Aku memegang bekas sentuhannya, entah kenapa rasanya sangat hangat.\~


___________________


HORE!!!


Aku berteriak senang di dalam hatiku. Akhirnya ujian kelulusan berakhir juga. Kini hanya tinggal menunggu beberapa bulan lagi sebelum penerimaan hasil kelulusan. Satu langkah lebih dekat menuju kebebasan dari seragam sekolah.


Liburan panjang membuatku bisa fokus pada projek kami. Papa si kembar dan juga kak Arron telah setuju membantu kami mengurus perizinan pada pemerintah kota dan memberikan kucuran dana.


Karen membantuku membuat proposal untuk diserahkan kepada pemerintah dan juga beberapa calon sponsor. Menjabarkan design gambar dan juga visi kami dalam beberapa carik kertas. Konsepnya telah kubuat kemarin, akan ada beberapa tulisan-tulisan tentang pesan moral yang menggelitik nurani, juga kuisioner mengenai cerminan diri sehingga orang bisa berkaca tentang jati diri mereka. Apakah selama ini mereka termasuk seorang yang baik atau bahkan mungkin seorang yang buruk.


Rencananya kami juga akan mencari sponsor lain yang bisa mendukung kegiatan kami, sponsor yang tentu saja mau memberikan asupan cat. Harga cat kan nggak murah, lagian kita perlu banyak sekali cat untuk melukis di sepanjang dinding kosong belakang perumahan.


Daffin dan juga Karen sudah mencari beberapa volunteer yang mau membantu kami melukis dinding. Kami akan membuatnya semenarik mungkin dengan banyak warna-warna yang cerah sehingga setiap orang yang datang berkunjung ke kawasan itu bisa berfoto selfie dan mengunggahnya pada sosial media.


Lewat merekalah kami berharap bisa membuat kampung yang tadinya sepi ini berubah menjadi ramai. Banyak orang bisa mendapatkan hasil dan keuntungan dari karya kami. Kami akan berusaha merubah kawasan kumuh itu menjadi sebuah kawasan wisata yang menarik anak-anak muda baik dari dalam maupun luar kota.





“Hai, girl,” sapa Ken begitu aku sampai di dalam rumahnya. Aku mampir begitu pulang dari sekolahan. Hari ini ujianku berakhir dan aku ingin merayakannya dengan Ken.


“Semangka?” Mataku berbinar begitu melihat bulatan hijau telah terbelah menjadi dua bagian, menampakkan bagian dalamnya yang berwarna merah segar.


“Tunggulah di sofa, aku potongkan untukmu.” Ken menyuruhku menunggu semangkanya.


Aku menurut, melepaskan penat pada sofa empuk di ruang kelurga. Mulutku mulai berliur, tak sabar menunggu semangka dingin. Semangka dingin memang paling cocok di makan saat cuaca panas seperti ini. Bayangkan warnanya yang merah, tetesan segar dari sarinya, juga bunyi creess ... cress ... saat kau mengunyah dagingnya yang manis.


“Di mana Mami, Ken?” tanyaku, mami Melody tak terlihat di rumah.


“Oh, Mama berlibur, dia menang undian dari sabun colek, menginap di kawasan wisata selama tiga hari dua malam,” terang Ken.


“Serius? Beruntung banget.”


“Iya, memberikan kesempatan kita untuk berduaan,” goda Ken.


“Memangnya kita mau ngapain?” godaku balik.


“Makan semangka!” jawab Ken sewot.


“Hahaha,” tawaku geli.


Sudah pasti Ken ingin bermesraan dan melepas rindu. Kami tak bertemu selama seminggu ini karena aku fokus pada ujianku. Daddy juga melarangku pergi dan menemui Keano sebelum masa ujian berakhir.


“Ini semangkanya, makan yang banyak biar pupmu lancar.” Ken memberikan sepiring semangka kupas, dia telah memotongnya berbentuk dadu agar lebih mudah di makan.


“Kenapa mesti bahas pup saat mau makan?” protesku sebal. Dasar calon dokter, himbauannya terlalu aneh-aneh.


“Pup itu penting, girl! Apa kau tak tau kalau rasanya begitu menyiksa saat manusia tak bisa menyalurkan harsatnya?” kikih Ken senang.


“Cukup! Jijik ah!”


Ken tersenyum dan ikut duduk di sampingku, ia menghipukan TV dan mengganti canelnya beberapa kali sebelum akhirnya berhenti pada sebuah tayangan drama. Serial drama percintaan, aku melengos padanya, hendak melayangkan protes. Bukannya aku nggak suka dengan kisah drama percintaan, tapi yang ditonton Ken ini terlalu absrub. Dari judulnya saja sudah absurb apa lagi isinya.


SUAMIKU MENIKAHIKU DEMI MENIKAHI IBUKU.


Aku syook!!!


“Anu, nggak ada film horor, ya?”


“Nggak ada, lihat ini saja seru,” jawab Ken. Aku langsung melongo, seru dari mananya coba?! Tontonan emak-emak komplek begini, mana bisa anak muda macam eke mencerna ceritanya?


“Ken, tak kusangka kau suka yang kaya beginian.”


“Iya nih, gegara nemenin Mama nonton. Lama-lama jadi ikutan penasaran sama jalan ceritanya.”


“Omo ...,” tukasku tak habis pikir.


Aku akhirnya mengalah, membiarkan Ken menikmati drama terbucin abad ini. Aku memilih memasukkan potongan semangka ke dalam mulutku.


Pet ...!


Tiba-tiba saja mati lampu.


“Yah, lagi seru-serunya juga,” keluh Ken karena TV-nya mati.


Rasain tuh!! Emang enak ga bisa lihat?! Kena azab tuh gara-gara cuekin Inggrid demi tontonan bucin macam itu.


Ken menatapku sejenak, lalu mengelus pucuk kepalaku. Membuatku heran sekaligus was-was. Jangan-jangan ini anak bakalan cari pelampiasan gara-gara dramanya ketinggalan. Ah, untung saja yang ku takutkan tak terjadi, Ken tak menangis atau berubah jadi cowok melo kok.


“Minta, donk.” Ken membuka mulutnya, berharap aku menyuapinya semangka.


“Habis! Ini yang terakhir.” Aku memamerkan semangka terakhir yang terjepit di antara gigi seriku.


Ken langsung bergegas menggigit semangka itu, membuat bibir kami saling bertemu. Ken mengunyahnya sambil menciumku, membuat tetesan air semangka memenuhi ciuman kami. Rasanya sangat manis, membuatku ikut menikmati gigitannya.


“Apaan sih?” dorongku.


“Aku akan menyesap sisa semangka dari bibirmu, girl.” Ken mengankat tubuhku dengan mudah ke atas pangkuannya. Kalau begini aku jadi merasa mirip kucing. Di angkat untuk disayang, hahaha.


“Ken ...,” panggilku lirih.


Pencahayaan remang hanya berasal dari jendela taman. Matahari mulai meredup dan keadaan rumahpun semakin gelap. Ken memandangku dengan tatapan hangatnya. Aku tersenyum dan membalas tatapan itu dengan ciuman.


Ken menarik pelan bibir bawahku saat kami saling berbagi lumattan mesra. Aku menikmatinya, semakin lama ciuman kami berubah semakin panas. Ken terus mengulumm bibirku dalam, penuh gairah dan luapan rasa.


“Aku cinta padamu, girl. Be mine, Ok?” Ken merebahkanku ke atas sofa, ia membuka kaos bergambar tokoh idolanya, si jenius penemu rumus E\=mc2.


Aku selalu saja tersipu melihatnya bertelanjang dada. Badan Ken sungguh menggiurkan! Argh ... Inggrid kau mesum!


Ken mencium pergelangan tanganku, membuatku berdesir. Bulu-bulu halusku mendadak berdiri saat ciuman panasnya berpindah ke leher. Ken menyesap lembut tiap-tiap jengkalnya sampai turun ke bagian depan dada. Dengan cekatan tangannya melepas satu per satu kancing seragamku.


Ken mengangkat tubuhnya begitu ia selesai melepas semua kancing dari tengah kemeja sekolahku. Ken membenamkan wajahnya tepat di tengah dadaku. Tangannya mengunci tanganku ke atas, sementara tangannya yang lain mengelus masuk ke dalam rok.


Oh Gosh!! Apakah ini akhirnya?? Inggrid akan berevolusi jadi wanita dewasa?!


Aku memejamkan mataku lekat saat tangan Ken mulai masuk ke dalam. Aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa?


“Be mine, girl!” Ken tersenyum dan mengecup pipiku pelan, Membuaku membuka mata. Bisa kulihat binaran matanya yang bersinar penuh cinta. Ah, aku mau, aku ingin menyerah dan memberikan segalanya pada Ken.


“Iya, aku mau, be yours, Ken,” jawabku. Ken langsung meresponnya dengan lumattan mesra yang melekat erat pada bibir ranumku.


Semakin cepat dan tak beraturan, membuatku terus melengguh dengan kasar. Aku tak bisa menghentikan rancauan yang keluar tak terkendali dari mulutku. Ken nampaknya semakin bersemangat saat lantunan irama desahan napas itu terdengar.


“Cantik, kau cantik, Inggrid,” bisiknya panas.


Ken mengangkat tubuhnya untuk melepaskan celana. Ia membuka pengait kancing celana jeas panjang yang dipakainya. Aku membuang muka, malu dengan apa yang akan menungguku di balik sana. Haduh, Inggrid!! Kau gadis yang nakal!!


Namun tiba-tiba ...,


“Pakai bajumu!! Dasar cewek bar-bar!” bentaknya.


“Ke—Ken?” Aku langsung menutup tubuhku dengan bantal sofa.


“Aku Ra!”


“Ra??! Kenapa kau keluar? Mana Ken?”


“Shit!! Apa yang sebenarnya kalian pikirkan?” tanya Ra.


“Apa maksudmu?!” Aku melotot, amarahku memuncak karena Ra mengganggu percintaan kami.


“Kau baru hampir lulus sekolah, Inggrid. Dan Keano baru semester 4. Perjalanan kami masih jauh! Jangan sampai hasil nafsu sesaat kalian merusak masa depan Keano!”


“Maksudmu? Aku hamil?”


“Iyalah! Memangnya ada lagi hasil lainnya?”


“Erm ....,” speechless, ucapan Ra benar. Aku belum mau hamil diusiaku saat ini.


Aku masih ingin menikmati masa mudaku. Bikin tatto, masuk ke club, cobain alkohol dan juga menari sampai pagi. Kok perasaan impianku nggak pake akhlak banget, sih?


Ra mendekatiku, ia membantu mengancingkan kancing bajuku satu per satu. Dengan malu aku menundukkan kepalaku. Ra merapikan rambutku lalu memakai kembali kaosnya. Aku memegang bekas sentuhannya, entah kenapa rasanya sangat hangat.


“Ra, maaf.”


Ra kembali mendekatiku, ia memandangku dengan pandangan tajamnya yang khas. Sekejap kemudian dia menyentil dahiku.


“Sakit!!” pekikku.


“Harusnya aku mewakili Ken yang minta maaf padamu, Inggrid! Walaupun cinta harusnya dia bisa menjagamu.” Ra bangkit dan mengambil jaket serta papan skate.


Aku jadi bisa memahami ucapan Ra, Ken tak seharusnya mengajakku membuat bayi. Aku bahkan belum lulus sekolah. Dan dia juga baru kuliah, Ken belum bisa menafkahiku. Andai saja sampai buah cinta kami benar-benar terbentuk, mau di kasih makan apa dia nanti?


“Ayo aku antar pulang!” ajak Ra. Aku tersenyum dan mengikutinya keluar rumah.


Walaupun galak dan menyebalkan. Ternyata Ra jauh lebih gantleman dibandingkan Ken. Sayangnya Ken lebih manis dan imut. Jadi tetap Ken yang menang. ❤️


— MUSE S4 —


MUSE UP


DUKUNG KISAH CINTA INGGRID DAN KEANO. SERTA IMPIAN MEREKA MEWUJUDKAN AREA WISATA DI DERAH KUMUH UNTUK MEMBANTU PARA LANSIA.


Terus kasih Like dan commentarnya.


JANGAN LUPA VOTE!! Hahaha...


Maaf ya, novel saya banyak kekurangannya.


Semoga nggak bosan-bosannya membaca MUSE dan juga menikmati alur ceritanya.


Tolong kasih bintang 5


Bantu saya dengan comment dan like. Supaya MUSE bisa dipasang di beranda.


Comment titik pun boleh. 🤭🤭


Pliss banget nget nget nget....


Author rengginan berharap jadi author femes. 🤣