MUSE

MUSE
S6 ~ IVANDER



MUSE S6


EPISODE 4


S6 \~ IVANDER


\~ Zean memeluk Ivander sebelum bocah remaja itu menaiki pesawatnya. Zean tak banyak berucap, hanya memeluk dan mengecup sekali kening Ivander, membuat Ivander hampir menangis karenanya\~


________________________


(NB: banyak alur maju mundur atau plot twist. Jangan bingung ya readers budiman)


•••


Krystal terus menatap Ivander dengan pandangan kagum, baru kali ini dia melihat lelaki yang begitu tampan dan jantan. Kemeja slim fit hitam lengan panjang membuat dadanya yang bidang begitu ketara. Potongan rambut undercut dan juga bulu tipis pada dagunya membuat Krystal meleleh.


Ah, tampan sekali. Bagaimana rasanya berciuman dengannya, pasti geli, ya? Krystal berpikir nakal dalam hatinya.


“Ivander?” Adrian datang menghampiri keduanya. Ia terlihat bingung karena kakaknya datang ke kampus.


“Selamat atas suksesnya sidangmu, ini bunga dari Papa. Aku menggantikannya kemari.” Ivander memberikan buket bunga bertuliskan ucapan selamat.


“Ck, sudah ku duga. Pria dingin macammu tak mungkin meluangkan waktu kemari.” Adrian menatap sebal pada kakaknya tirinya.


“Yah, walaupun berbeda Ibu kita tetap punya darah yang sama. So, sekali lagi, selamat!” Ivander menekan buket bunga pada dada adiknya dan berlalu pergi.


“Cih, sialan! Arogan sekali,” umpat Adrian.


“Kalian sepertinya tidak akur?” tanya Krystal.


“Iya, si brengsek itu mengambil semua perhatian dan perusahaan Papa. Menyebalkan,” geram Adrian.


“Tapi dia sangat tampan.” Mata Krystal berbinar saat memandang tubuh Ivender yang berlalu pergi.


“Di mana Gabby, Krys? Dia tak terlihat?”


“Entahlah, memang aku pacarnya?!” Krystal menaikkan bahunya sebal.


“Yah, kaliankan selalu bersama.”


“Ck, aku bersama dengannya karena kami satu apartemen, aku butuh mengirit biaya hidupku. Andai saja aku mendapatkan pria kaya yang mapan, aku pasti akan keluar dari apartemen itu.” Krystal membetulkan rambut ikalnya.


“Kau hanya memanfaatkn Gabby?!” Adrian bergeleng pelan.


“Tidak, Gabby sendiri yang mau kok, dia yang menawarkannya padaku. Dia yang selalu memberikan perhatian padaku, aku hanya menerimanya. Lagi pula siapa yang nggak mau dapat makan dan penginapan gratis selama empat tahun?!” Krystal duduk pada bangku taman, Adrian mengikutinya.


“Yah, dia terlihat sangat sayang padamu.”


“Kadang aku ngeri tahu, Dri. Tatapan Gabby seakan menyiratkan sesuatu, caranya berbicara dan juga menyentuh tanganku berbeda. Padahal dulu saat kecil dia tak begitu.” Krystal mengeluh. Adrian yang mengetahui perasaan Gabby hanya bisa diam dan tersenyum simpul.


“Bahkan dia sering mengirimkan text, ‘sudah makan? Pergi dengan siapa? Ke mana?! Jangan pulang malam-malam!’ Ugh ... memangnya aku kekasihnya?” Krystal bergidik.


“Ck, dia itu sayang sama kau tahu! Kau aja yang kebanyakan mikir yang aneh-aneh.” Adrian menyentil dahi Krystal, membuat gadis cantik itu meringis kesakitan.


“Ih, jahat!” Krystal mencubit lengan Adrian, Adrian ikut meringis namun sekaligus geli.


“Oh, iya, Dri. Ngomong-ngomong, kakakmu sudah punya pacar belum? Minta nomor ponselnya donk.” Krystal merenggek manja pada lengan Adrian.


“Ck, mending jauhin Kak Ivander deh, dia itu walaupun kelihatannya keren tapi kelakuannya amit-amit! Busuk!”


“Maksudnya?”


“Dia itu f*ckboy, arogan, kejam, dan tak punya belas kasihan.”


“Ah, padahal ganteng banget. Kau bilang Papamu memberikan semua perusahaan kepadanya, berarti dia kaya donk?” Krystal semakin berbinar ingin tahu.


“Ck, kau mau mendekatinya?”


“Iya, minta nomornya donk!” Krystal mengangguk. Hatinya sudah diliputi dengan cinta buta akan sosok Ivander yang begitu sempurna di mata Krystal.


“Kau nggak bilang dulu sama Gabby?!”


“Kenapa mesti bilang sama dia? Inikan hidupku, aku mau jatuh cinta dengan siapapun juga bukan urusan dia!” Krystal memincingkan matanya heran.


“Ah, baiklah! Jangan salahakan aku kalau sakit hati! Aku sudah memperingatkanmu tentang Ivander!” Adrian mengeluarkan ponselnya, memberikan kontak ponsel Ivander pada Krystal.


“Thanks, Dri.” Peluk Krystal senang.


— MUSE S6 —


Seperti yang diucapkan Adrian, f*ckboy, arogan, kejam dan dingin. Begitulah kehidupan Ivander, ia memang terkenal suka gonta ganti pasangan untuk mengisi kekosongan di dalam hatinya. Wajah tampan, uang melimpah, nama besar dan juga kedudukan. Semua itu adalah daya tarik Ivander yang sangat susah ditolak oleh kaum hawa. Mereka dengan suka rela menyerahkan diri, masuk ke dalam selimut Ivander yang panas dan penuh gairah.


Tak pernah mendapatkan kaih sayang dan perhatian sejak kecil membuatnya tak tahu apa arti kata CINTA, membuatnya tak bisa mengerti artinya ketulusan. Jadi hanya selepas malam Ivander akan membuang wanita-wanita itu, bila beruntung, mereka bisa bertahan paling lama satu bulan.


“Hei, Anak Haram! Aku harap kau tak pernah kembali!” bentak Mira saat Ivander kecil ingin keluar dari rumah.


Ivander mengepalkan tangannya. Ia menahan emosi dan amarahnya. Mengatur agar mimik wajahnya tetap datar.


“Ingat saja, 10 tahun lagi aku pasti kembali! Saat itu aku akan merebut segalanya darimu! Aku pastikan kau akan menyesal karena telah berlaku buruk padaku!” hardik Ivander.


“Wah, takutnya aku!” Mira menghampiri Ivander, “memang dasar anak haram! Anak remaja mulutnya sudah pedas dan tajam!”


PLAK!!


Mira menampar pipi Ivander.


“Kau ...!” Ivander kehabisan kata-kata.


“Membusuklah di sana dan jangan pernah kembali lagi! Aku muak melihatmu!” Seringai Mira terlihat menakutkan bagi Ivander saat itu. Dia kira Mira akan mengejarnya sampai ke ujung dunia dan menghabisi nyawanya.


“Ada apa ini?” Zean turun dari lantai dua.


“Tidak ada apa-apa, Zean. Aku hanya memberikan salam perpisahan pada Ivander. Aku harap dia selalu sehat selama bersekolah di sana.” Mira menepuk pundak Ivander.


“Awas kau mengadu pada Papamu!” bisik Mira.


Ivander lagi-lagi hanya diam, memilih untuk menahan kemarahannya seorang diri. Zean yang sibuk dengan pekerjaannya tak pernah peduli pada Ivander. Mungkin sebenarnya dia tahu bahwa Mira menyakiti Ivander, dia hanya tak ingin memulai keributan yang lain.


“Belajarlah dengan giat, jadilah lelaki yang baik, jangan seperti Papa.” Zean menyetir sendiri mobilnya dan mengantarkan Ivander ke bandara.


Ivander tak menjawabnya, dia hanya diam tanpa kata. Memilih untuk menjaga emosi dan juga mimik wajahnya. Berusaha kuat di depan Papanya.


Zean memeluk Ivander sebelum bocah remaja itu menaiki pesawatnya. Zean tak banyak berucap, hanya memeluk dan mengecup sekali kening Ivander, membuat Ivander hampir menangis karenanya.


“Ingat jaga kesehatanmu! Hubungi Papa kapan saja. Jadilah pria yang kuat dan tak terkalahkan.”


“Baik, Pa.”


“Papa akan memberikan segalanya untukmu bila kau berhasil membuktikan kerja kerasmu, Van.” Zean membungkuk untuk menepuk pundak Ivander.


“Berjanjilah, Pa.”


“Tentu saja, Boy.”


Zean kembali memeluk Ivander dan melepaskan anaknya untuk pergi mengadu nasib ke negeri orang. Zean berkata akan mengirim Ivander ke Benua kangguru pada Mira, namun kenyataannya ia mengirim Ivander pada kakaknya Diana yang sekarang menetap di Inggris.





“Singa jantan membuang anaknya ke sisi terdalam dari tebing agar anaknya merangkak naik ke atas dengan kemampuannya sendiri. Sang Raja Hutan hanya memandangnya dari puncak tebing, begitu anak itu sampai barulah ia layak menyandang predikat Raja Hutan milik Si Singa.”


“Cerita macam apa itu, Pa?” Ivander mendengus geli mendengar penuturan Zean.


“Ah, sudahlah, yang penting kau sudah berhasil membuktikannya, kau sudah tumbuh menjadi pria yang luar biasa.” Zean menepuk pundak Ivander, memberi pujian pada kinerjanya.


“Thanks.”


“Aku bisa tenang saat pensiun nanti.” Angguk Zean puas.


“Baiklah, Pa. Aku pamit undur diri.” Ivander hendak melangkah keluar.


“Tunggu, Van! Kau juga jagalah Adrian, walaupun Mira tak menyayangimu, tapi Adrian tetap adalah adikmu.”


Ivander diam sesaat sebelum akhirnya menjawab, “baik, Pa.”


“Keluarlah.”


Ivander mengangguk dan melangkah keluar dari ruang kerja Zean, kembali pada ruangannya sendiri.


— MUSE S6 —


Tring ... 🎶


Bunyi ponsel mengagetkan Ivander, ia sedang menikmati tidurnya dihari Minggu. Setelah berpesta semalam suntuk dengan beberapa orang wanita Ivander ingin menghabiskan waktu istirahatnya dengan tenang.


Nomor tak dikenal? Siapa? Ini ponsel jalur pribadi. Ivander mengerjab pelan untuk mengumpulkan nyawanya, kepalanya masih berat karena pegar.


KRYSTAL


Hai, Kak. Aku Krystal


Teman Adrian.


Kita bertemu kemarin


Apa kau ingat?


Ah, gadis berambut coklat itu, pikir Ivander.


IVANDER


Dari mana kau tahu


nomor ponselku?


KRYSTAL


Dari Adrian.


Aku suka padamu, Kak!


Pada pandangan pertama.


Jadilah pacarku.


Yah, tentu saja, tak ada gadis yang tak jatuh pada pesona Ivander. Ivander berdecak geli, dalam hatinya mulai mempertimbangkan apa dia harus bermain lagi siang ini?


KRYSTAL


Kenapa diam saja?


Um, apa kita saling mengenal dulu?


Aku serius dengan perasaanku.


“Ck, dasar wanita!” Ivander melemparkan ponselnya ke atas ranjang.


Ivander tak menjawab, ia malah memilih untuk mandi dan turun untuk sarapan. Di meja makan keluarga, Zean, Mira, dan Adrian sedang asyik berbincang dan makan dengan nikmat.


“Wah, lihat siapa yang baru saja bangun?” Mira melirik tajam pada Ivander.


Ivander lagi-lagi hanya diam, para pelayan keluarga mempersiapkan piring dan peralatan makan. Dengan cekatan mereka menuangkan beberapa jenis minuman di depan Ivander, ada jus, susu, dan juga air putih.


“Anak ini, apa mulutnya bisu?!” Mira mendelik, membuat Ivander akhirnya mengangkat wajahnya.


“Jangan ganggu sarapanku.”


“Sarapan? Kau tahu jam berapa sekarang? Ini sudah makan siang?!” bentak Mira.


“Mira sudah hentikan!” Zean menaikkan suaranya.


“Tapi, Zean! Anak itu harus dididik dengan benar! Kau tahu tidak, semalam dia pulang jam 4 dini hari?! Sekujur tubuhnya bau alkohol dan juga parfum wanita.” Mira mencerca Ivander di hadapan Zean.


“Apa kau tak takut dia mencoreng martabatmu?! Merusak nama perusahaan dengan menghamili wanita j4lang dan membuat lagi seorang anak haram seperti dirinya?!”


“CUKUP MIRA!” teriak Zean marah.


“Kenapa kau sekarang begitu membelanya?! Aku mengatakan ini juga demi kebaikan keluarga kita.” Mira menangis.


Zean bangkit dari tempatnya duduk dan pergi meninggalkan ruang makan. Membanting pintu kamarnya.


Ivander menyeringai sambil tetap memakan sup anti pegarnya. Mira melipat tangannya di depan dada, sadar kalau air mata buayanya tak lagi mampu digunakan untuk menarik simpati Zean. Adrian juga hanya duduk dengan tenang, diam tanpa bicara.


“Aku muak melihatmu! Anak haram sialan!”


“Kalau begitu enyahlah dari hadapanku!” Ivander mengangkat wajahnya, mengelap sudut bibirnya dengan lap makan.


“Enak saja, rumah ini milikku.”


“Lebih tepatnya milik Papa, dan asal kau tahu, seluruh aset perusahaan sudah jatuh ke tanganku. Tinggal menunggu waktu, bukan? Sampai aku mengusirmu.”


“Kau ...!” geram Mira.


“Tapi tenang saja, aku tak akan langsung mengusirmu. Kau harus menjaga Papaku, menemaninya dan merawatnya sampai akhir hayat. Setelah itu baru aku akan mengusirmu! Jadi berdoa saja umurmu lebih pendek dari Papaku, jadi kau tak perlu keluar dari rumah ini dan menjadi gelandangan,” tutur Ivander.


“Hai!! Jaga bicaramu! Aku anaknya, aku pasti akan menjaganya!” seru Adrian, ia marah mendengar ucapan kakaknya yang seakan menyumpahi ibunya untuk segera mati.


“Bocah sepertimu? Yang magang saja masih nebeng di perusahaan Papa?! Yang nilainya saja hasil dari nepotisme! Ck, ck, ck!!” Decak Ivander meremehkan Adrian.


“Jaga bicaramu!!” Adrian mencengkram kerah kemeja Ivander.


“Lepaskan!” hardik Zean yang tak tahan dengan keributan di dalam keluarganya, matanya menatap tajam ke arah Adrian.


“Sialan!” Adrian melepaskan cengkramannya dan pergi. Mira menyusulnya.


“Hei, Bocah! Beri tahu temanmu! Jangan hubungi aku lagi atau aku akan merusak masa depannya!” Imbuh Ivander. Adrian mengepalkan tangannya sebelum berlalu pergi.


— MUSE S6 —


MUSE UP


JANGAN LUPA LIKE


COMMENT


VOTE!!


Lap yu bae!