
MUSE S3
EPISODE 127
S3 \~ ADORE YOU
\~ Semua memang salahku, andai aku tak mengkhianatinya dan menyadari keberadaannya lebih cepat. Semua ini tak akan pernah terjadi.\~
_______________
SRET..., BRUKK!!
“Siapa?!” Aku sedikit berteriak saat sepertinya ada orang yang mengintip ke dalam ruang kerjaku.
Tak ada jawaban. Cepat-cepat aku menarik persatuanku dengan Orela dan merapikan baju. Orela nampak bingung, ia masih berusaha menggodaku agar kembali menyentuh dirinya.
“Zean, kenapa berhenti?”
“Sepertinya ada orang.”
“Tidak ada siapa-siapa, Zean. Ayo kita lanjutkan.” Orela menarik tanganku.
Wanita ini sungguh menyebalkan, aku menepis tangannya. Memandangnya dengan pandangan hina.
“Jangan panggil aku Zean!” bentakku.
Mata Orela berkaca-kaca, ia mulai menangis. Dengan perlahan Orela ikut merapikan bajunya. Mungkin ucapanku terdengar keterlaluan, aku tak memungkiri, aku sendiri yang menanggapi rayuannya. Dia tak sepenuhnya salah.
Aku mengambil kertas cek dan menuliskan nominal angka yang cukup besar. Aku memberikannya pada Orela.
“Apa ini Tuan?” Orela kaget.
“Uang untuk jasamu. Mulai besok tak perlu datang lagi ke kantor, dan kalau kau hamil gugurkan saja.”
“Apa???” Orela kaget, aku tak menyalahkan responnya. Tapi aku tak ingin sekretarisku ini kembali menggodaku. Aku pria dan jujur aku memang mudah tergoda. Akhir-akhir ini istriku sama sekali tak pernah memenuhi kewajibannya. Dan hal itu membuatku gila, membuatku hilang akal.
“Tuan, kenapa anda begitu kejam?”
“Hanya Kanna yang akan melahirkan anak untukku.”
“Anda sudah menyentuh saya! Anda tak bisa begitu saja meninggalkan saya?!” Orela menarik kemeja lengan panjangku, dan lagi-lagi aku menepisnya.
“Hanya Kanna yang aku cintai. Dia piala bagiku, dan selamanya aku akan mencintainya. Hubungan kita tak lebih dari nafsu sesaat Orela.”
Aku beranjak keluar dari ruang kerjaku untuk mencari angin. Mendinginkan pikiran dan juga menyesali perbuatanku.
Tap, langkahku terhenti, “Kanna?!” mataku langsung membesar saat melihat sebuah tas jatuh, isinya berserakan. Aku kenal tas itu, aku baru saja membelikannya untuk Kanna.
DEG...,
Aku mundur beberapa langkah ke belakang karena limbung. Hatiku berdebar tak karuan, aku ketakutan. Kanna pasti melihatku berselingkuh dengan Orela. Berarti feelingku benar, ada orang yang mengintip ke dalam.
Aku bergegas mengambil ponsel, mencoba untuk menghubungi ponselnya. Namun deringan panggilanku menggema pelan dari dalam tasnya. Kanna menjatuhkan semua barangnya bersama dengan tas itu.
Aku langsung membuka tasnya, melihat ponsel dan juga dompet. Kanna tak membawa apapun! Lalu pergi ke mana dia?
Aku bergegas menuruni lantai demi lantai. Berlari pada setiap koridor. Membuka setiap pintu toilet yang mungkin saja di datanginya. Aku bertanya pada setiap security dan memarahi mereka. Mereka membiarkan begitu saja wanita hamil berlari pada koridor.
“Maaf, Tuan. Kami tak tau kalau itu Nyonya.” tunduk mereka.
Beberapa orang kantor saat itu memang tak terlihat karena jam makan siang. Kantor lebih sepi dari biasanya. Aku tak bisa menyalahkan mereka semua. Akulah yang harus disalahkan, akulah yang berdosa padanya.
“Di mana kau, sayang?!” Aku panik, aku takut terjadi sesuatu pada Kanna juga kandungannya.
Aku beranjak, mengijak pedal gas secepat mungkin. Aku menyelusuri jalanan, pasti Kanna belum jauh. Orang hamil tak akan bisa berjalan lama, kakinya pasti sakit, dia pasti lelah.
Keringat dingin mengguyur tubuhku saat aku tak bisa menemukan keberadaannya. Aku membanting setirku menuju ke rumah kami. Tapi Kanna tak terlihat, aku mencarinya mulai dari kamar sampai ke kamar mandi, bahkan sampai ke kamar bi Sidah.
“Nyonya tadi dandan cantik terus ke kantor, Tuan. Wajahnya kelihatan seneng banget.”
Mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Bi Sidah semakin membuatku merana. Aku merasa sangat hina dan bersalah padanya. Aku memang pria brengsek, semarah apapun diriku pada Kanna, tak seharusnya aku mengkhianatinya.
Aku kembali lagi menginjak pedal gas, mencari keberadaan Kanna di rumah orang tuanya. Namun reaksiku sama, Kanna tak berada di sana. Papa dan Mamanyapun ikut kebingungan.
Aku terus mengacak-acak rambutku karena frustasi. Tanpa menunggu lagi aku pergi ke kantor polisi, melaporkan kasus orang hilang. Polisi mencoba mencari berkas yang mungkin berkaitan. Mereka bilang tadi ada sebuah kecelakaan beberapa blok dari kantorku. Aku tercengang dan kakiku lemas begitu mengetahui bahwa tadi siang Kannalah yang mengalami kecelakaan itu.
Hatiku seakan hancur. Apa yang telah aku lakukan? Kenapa keadaannya menjadi seperti ini?
Aku bergegas memacu kendaranku menuju ke Rumah Sakit. Air mataku menetes seiring perjalanan. Aku terus mengingat senyuman manis dan juga kelembutan suaranya. Caranya memanggil namaku membuatku selalu merasa bahagia. Caranya mengelus tubuh dan wajahku membuatku hidup.
“Please, jangan sampai terjadi sesuatu pada Kanna, Tuhan.” Aku memukul-mukul setir mobilku.
Sesampainya di rumah sakit aku langsung berlari, bertanya pada bagian informasi. Mencari keberadaan Kanna.
“Nyonya, Kanna berada di ruang ICU, Pak. Tapi jam besuknya sudah berakhir.”
Tanpa mengindahkan ucapan suster aku terus berlari menuju ke ruang ICU. Aku mempercepat laju langkahku.
“KANNA!!” aku berteriak memanggil namanya.
Aku membuka paksa pintu ICU dan masuk ke dalam kamar. Di sana aku melihat dokter sedang melakukan tindakan CPR pada Kanna. Menekan bagian dada, suster meniupkan udara dengan alat pada mulut Kanna.
Seorang lelaki terduduk lemas di depan pintu masuk ruangan, Kanna. Menutup wajahnya sembari terisak.
Aku melihat tubuh istriku meregang nyawa di hadapanku. Darah mengucur dari tiap bekas jahitan, pergelangan tangan dan di antara pahanya juga. Aku melangkah mendekatinya, dokter dan suster masih tampak berusaha membangkitkan denyut nadi Kanna yang semakin datar.
Kenapa kau jadi seperti ini Kanna?
Kenapa kau tak masuk saja ke dalam ruanganku dan salahkan diriku?
Mengumpatlah padaku!! Marah dan salurkan rasa sakit di dalam hatimu.
Kaukan istriku! Kau berhak menuntutku atas semua kesalahanku.
Kanna?!! Bangun sayang, demi anak kita dan juga diriku.
Bangun Kanna! Kau tak boleh meninggalkanku seperti ini.
Bangun!! Marahlah padaku!!
Suara-suara penanda alat vital semakin terdengar miris. Lampu berkedip merah, menandakan kondisi Kanna semakin berbahaya.
“Pasien terus mengalami syok!” teriak suster pada dokter.
Aku mendekati Kanna, aku hampir menyentuh tangannya saat tiba-tiba seorang pria mendorong tubuhku.
“Minggir!!” serunya.
“Kau...?” Aku mengenalnya, dia adalah seniman muda yang dielu-elukan oleh Paman Julius, kalau tidak salah namanya Leon.
Pria itu mendorongku, dia meraih tangan Kanna. Menangis dan terus mencium tangan istriku. Siapa dia? Kenapa dia menyentuh istriku? Menyentuh Kannaku?
“Kanna, bangun, Cimut bangun!! Aku akan memaafkanmu, Kanna. Aku akan membuang semua rasa cinta maupun benci ini. Bangunlah!! Demi diriku dan juga anak kita! Bangun!! Kau harus bertanggung jawab padaku, Kanna!!!” Leon terus mengoceh. Siapa yang dia bilang anaknya?
“Hei!!” Aku hendak marah, namun Kanna merespon, Kanna merespon panggilannya. Denyut nadinya kembali, jantungnya berdegup pelan. Siapa pria ini bagi Kanna sampai dia mau mendengarkan ucapannya?
“Suster ambilkan suntikan penguat jantung! Siapakan kamar operasi, pendarahannya harus berhenti.” dokter jaga menyuruh suster mempersiapkan segala tindakan.
“Mohon kalian keluar!! Kalian hanya akan menggangu pengobatan pasien!” Suster mengusir kami berdua.
“Baik, baik!! Tolong selamatkan Kanna, jaga Kanna.” Leon melepaskan genggaman tangannya dengan perlahan.
— MUSE S3 —
•••
Leon memandang nanar ke arahku, matanya merah dan otot lehernya menegang. Begitu juga aku, aku memandannya dengan penuh rasa benci sekaligus penasaran.
Apa Kanna juga berselingkuh di belakangku dengan pria ini?
“Siapa kau?” tanyaku.
“Apa itu penting bagimu sekarang?” jawabnya.
“Aku suaminya. Segala yang menyangkut Kanna penting bagiku,” jawabku marah. Tanganku mengepal karena geram.
“HAHAHAHA....!!” tawanya, ia seakan-akan menghinaku.
“Kemana saja kau saat Kanna meregang nyawa karena kecelakaan? Di mana kau saat Kanna keluar seorang diri ke jalanan? Apa yang kau lakukan sampai membiarkannya berlari menembus hujan??” Leon mencengkram kerah bajuku, melontarkan pertanyaan demi pertanyaan yang menguliti nuraniku.
Semua memang salahku, andai aku tak mengkhianatinya dan menyadari keberadaannya lebih cepat. Semua ini tak akan pernah terjadi.
Bukan jawaban yang keluar dari mulutku, hanya air mata penyesalan dan luapan rasa bersalah.
“Pukul aku, Leon. Hajar aku, aku rela asal Kanna bisa kembali padaku.”
“Brengsek!!” teriaknya, Leon benar-benar memukulku. Ia menghajarku dengan sekuat tenaga. Membuat darah mengalir deras pada wajah dan juga hidung. Para sekurity langsung melerai kami.
“Jangan bertengkar di sini!! Ini rumah sakit!!”
Aku diam, kembali merosot pada dinginnya dinding rumah sakit. Leonpun melakukan hal yang sama. Ia menangis, pria itu menangis. Bisa aku lihat seluruh tatto di tubuhnya, ada inisial K pada pergelangan tangannya. Aku lantas teringat dengan tatto singa kecil pada pergelangan tangan Kanna.
“Apa artinya dia bagimu, Kanna?” hatiku sesak melihatnya. Aku cemburu, aku iri padanya. Ternyata Leon punya arti yang begitu besar dalam hidup Kanna dan aku tak pernah menyadarinya.
Kanna tak pernah mencintaiku, hatinya hanya untuk pria ini.
“Padahal aku begitu mencintaimu, sayang.I Adore you, Kanna. ”
Air mata menetes jatuh tak terelakan.
— MUSE S3 —
Zeaannnn...😭😭😭
MUSE UP!!
YUK DUKUNG CINTA KANNA DAN KISAH HIDUPNYA.
VOTE, LIKE, dan COMMENT
PASTIKAN KALIAN PENCET TOMBOL LIKE DAN VOTE YA BAE!!!
Terima kasih sudah membaca,
Terus Sebarkan rasa cinta untuk banyak orang. Dan berbuat baik bagi sesama
Love,
Dee ❤️❤️❤️