MUSE

MUSE
S5 ~ KATERINA



MUSE S5


EPISODE 9


S5 \~ KATERINA


\~ Bahkan detak jantung kami yang saling bersahutanpun terdengar begitu indah. Alunan napas yang menderu secara bersamaan terasa hangat dan menggairahkan. Aroma manis dan maskulin dari tengkuknya membuatku menginginkannya.\~


_________________


BELLA POV


Aku bergegas keluar dari dalam kamar setelah memaki koas hitam yang diberikan oleh Lucas. Kaos bergambar motor harley itu menjadi lebih mirip dress dibanding atasan saat aku yang mengenakannya.


“Cowok gila sialan! Kelakuannya tidak baik untuk kesehatan jantung,” gumamku sembari menutup pintu kamarnya cepat-cepat.


Air masih menetes dari rambutku yang basah, terpaksa aku harus membebatnya dengan handuk agar kaosnya tidak basah.


Sembari menunggu Lucas menyelesaikan ritual mandinya, aku mengitari apartemen Lucas. Aku melihat pemandangan malam perkotaan yang cantik dari ketinggian. Sungguh luar biasa, apa dia melihat keindahan ini setiap hari?


Apa dia pernah mengajak wanita lain melihat pemandangan ini? Hei, kenapa aku menanyakan hal ini pada diriku sendiri? Itukan bukan urusanku.


“Ella,” bisik Lucas.


“Ach ...!” Aku menyelak kaget saat tiba-tiba Lucas telah berhasil memeluk dan menjujungku dari belakang.


“Hei!!” protesku karena ia tiba-tiba melakukan hal ini.


“Ayo ke kamar!” Ajaknya.


“Kenapa?” Aku syok saat mendengar ajakannya.


“Kau-kan pacarku sekarang!” Lucas membopongku di atas pundaknya, sekejam kemudian aku sudah terlempar di atas kasur empuknya.


Jantungku berdetak tak karuan, semakin cepat dan tak berarturan. Aku mencari jalan keluar, berusaha kabur dari Lucas. Terpaksa aku mundur ke sisi belakang, “Lucas!! Kau bilang tidak akan menyentuhku sampai aku mencintaimu!”


“Hm, benar! Tapi saat ini aku benar-benar sudah tak bisa menahannya Bella!” Lucas melepaskan bajunya.


“LUCAS??!” Aku kembali berteriak histeris saat melihat tubuhnya lagi.


“Kemarilah!” perintah Lucas.


“Apa?”


“Lakukan saja! Balurkan ke seluruh tubuhku, rasanya sakit semua.” Aku melihat Lucas melemparkan sebuah koyo dan obat gosok yang biasa digunakan untuk cidera otot.


“Ini kan?”


Ah, ya ampun Bella, kenapa otakmu ngeres sekali?! Lucas ternyata hanya menyuruhku menempelkan koyo dan mengoleskan cream pereda nyeri otot ke luka lebamnya.


“Di sini dan di sini, aku tidak bisa menjangkaunya,” ujar Lucas sembari menunjukkan letak rasa sakitnya.


Aku melihat ada beberapa luka lebam di lengan, punggung, dan juga bagian pinggang. Aku tak mengerti, kenapa dia masih tetap menjadi seorang petinju kalau hal ini membuat tubuhnya tersakiti?


Aku bergegas menempelkan koyo di pinggangnya dan juga cream otot pada luka lebamnya.


“Wajahmu juga banyak luka dan lebamnya.” Aku beralih ke wajah Lucas, melihat bekas kebiruan dan juga beberapa lecet kecil.


“Kalau wajah ada salepnya sendiri.” Lucas mengeluarkan lagi cream yang lainnya.


Aku menerimanya, mengambilnya dengan cotton bud dan mengoleskan secara perlahan pada luka di wajah Lucas. Lucas sesekali meringis menahan rasa perihnya, aku meniupkan udara agar perihnya menghilang.


“Jangan cengeng!” kataku.


“Siapa yang cengeng?!” Lucas mendelik, membuatku terkikih.


“Kemari kau!!” Lucas menarikku ke atas pangkuannya.


“Woi!!” pekikku.


Ah, dasar cowok pemaksa, kenapa suka banget memaksakan kehendaknya?! Minta ijin dulu kek, main asal gendong sama tarik aja.


“Coba ulangi lagi kau bilang aku apa?” pinta Lucas.


“Cengeng!!” ejekku.


“Apa?”


“Cengeeeng ...,” ledekku semakin memanjang.


Lucas langsung memelukku dengan erat, membuatku menggeliat karena geli. Tanpa ampun dia mulai mengusapkan kepalanya di perutku. Sial!! Geli banget!!


“Lucas berhenti!! Ampun!!” teriakku sambil tertawa geli.


“Nggak mau!!” Lucas menggelitikku semakin gencar.


“Lucas!! Hahaha ...!” seruku sambil meronta.


“Cium aku, Ella, aku akan melepaskanmu!” Lucas menghentikan kelakuan laknatnya.


“Nggak mau!!”


“Ya, sudah jangan salahkan aku membuatmu mati lemas,” ancam Lucas, wajahnya tersenyum licik.


“Jangan!! Ba—baik aku cium!” Aku akhirnya menyerah karena nggak mau lagi merasakan deritanya.


“Oke, aku bersiap.” Lucas mengangkat tubuhnya dan duduk bersila, menunggu bibirku mendarat.


“Pejamin mata dulu!” Aku menyuruhnya memejamkan mata.


“Oke.” Lucas menurut dia memejamkan matanya.


“Emuach!!” Aku memberikan backsound pada ciumanku, aku mencium bibirnya dengan kuncupan jariku.


“Kau bohong!!” Lucas langsung membuka matanya.


“Hahaha, kirain ketipu,” candaku.


“Apa perlu aku yang memaksamu?” Lucas mengunci lagi pergelangan tanganku, aku tersenyum sambil membelalak padanya.


“No, Lucas, ini adalah ciuman pertamaku, aku mau berciuman dengan cara yang paling romantis.” Aku menjelaskan keinginanku padanya.


“Ciuman pertama? Kau belum pernah berciuman? Padahal sudah sebesar ini?!” Lucas hampir-hampir tak percaya.


“Aku bukan tipe manusia petualang sepertimu.” Aku menjedukkan dahiku pada dahinya.


“Auch!!” keluh Lucas kesakitan.


“Aku ingin berciuman di taman bunga, atau setelah lamaran dengan dinner romantis, atau di depan api unggun, atau ditemani lilin-lilin kecil.”


“Ck, impian gadis naif.” Lucas mengangkat tubuhnya dan mengacak rambutku.


“Iiihh, kau tak akan tahu rasanya karena kau seorang pria. Aku yakin kau sudah banyak mencintai wanita lain.”


“Benar, aku berganti pacar tiap bulan.” Lucas mengakuinya dengan santai.


“Tuhkan!! Playboy sepertimu tak akan tahu rasanya cinta yang romantis.” Aku membayangkan kisah romantis macam snow white sampai mataku berbinar bahagia.


“Apa kau pernah menyukai pria sebelumnya?” Lucas melemparkan sekaleng minuman dingin dan bertanya padaku.


“Belum pernah, aku sibuk bekerja dan mengurus rumah. Lagian mana ada lelaki yang suka dengan wanita sepertiku?” Aku mendadak mengatakan hal yang melo, lagi-lagi mengasihani diri sendiri.


“Wah, aku bukan laki-laki donk! Aku suka padamu, Ella.” Lucas mendekatiku.


“Bu—bukan begitu maksudku. Kan kau bilang sebelum mengenalmu.” Aku tergagap menjawab pernyataannya.


“Berarti kau mengakui kalau sekarang kau menyukaiku?” Lucas berlutut di depanku, memandangku dengan matanya yang gelap dan dalam. Aku terdiam, terpesona dengan keindahan iris matanya.


Kenapa?


Kenapa aku ingin mendekatkan wajahku dan mengecup bibirnya? Kenapa malah aku yang baper dibuatnya?!! Kenapa malah aku yang ingin memilikinya?! Bella sadar!!


“Tidak!!!” Aku menolak perasaanku yang berdegup kencang untuknya.


“Ck, kau benar-benar membuatku gila, Ella.” Lucas memelukku, meletakkan kepalanya di pangkuanku sebelum kembali bersuara, “baiklah, akan aku siapkan hal paling romantis agar kau mau menciumku.”


“Iya, aku akan menunggunya.” Aku mengelus rambut hitamnya dengan lembut, aroma shampo kembali terasa menggelitik hidung.


“Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa segera menolongku, Lucas? Bukankah seharusnya kau menerima kemenanganmu?” Aku terusik akan sesuatu, Lucas tidak membawa piala atau apapun bukti kemenangannya.


“Aku mencarimu dan meninggalkan ring,” jawabnya enteng.


“HAH?? Serius?”


“Iya, jadi mereka pasti menganulir kemenanganku.”


“Yaaah ...,” desahku kecewa.


“Itu kekalahan pertamaku Ella.” Lucas mengangkat wajahnya.


“Maaf, ya, gara-gara kecerobohanku.” Aku menunduk malu.


“It’s OK. Karena walaupun aku kalah di pertandingan, tapi bukankah aku telah berhasil memenangkan hatimu?” Lucas menyentakkan dahinya sampai menyentuh dahiku.


Wajah kami kembali bertemu, wajah tampannya berada sangat dekat saat ini. Aku hampir tak bisa berkedip karenanya. Aku terlena, aku terpesona. Wajahku memerah, jantungku berdebar karena keindahan perasaan ini.


Deg ...


Deg ...


Deg ...


Ya, Tuhan, apa ini yang disebut cinta?


Kenapa rasanya sangat aneh?


Menyesakkan namun sekaligus indah.


“Lucas,” lirihku.


“Ya, Ella.”


Deg ...


Deg ...


Deg ...


Ya, Tuhan, bukankah suasana ini bisa disebut romantis??


Aku mendekatkan wajahku, memejamkan mata dan mengambil inisiatif untuk mencium bibirnya, namun ...


“Ayo aku antar pulang, Ella!” Lucas bangkit berdiri.


Aku terjatuh ke depan dengan bibir monyong. Sialan!! Malu-maluin banget! Untung saja rambutku sudah cukup kering untuk menyembunyikan rona merah pada wajahku yang muncul karena rasa malu!!!


“Kenapa? Kok bisa jatuh?” tanya Lucas heran, ia membantuku berdiri.


ARG ...! Mati kau Bella, mau ngomong apa kau sekarang? Mau kasih alasan apa?


“Kenapa wajahmu merah?” Lucas berkerut cemas, “apa kau sakit? Beneran masuk angin?” Lucas mengecek suhu tubuhku dengan punggung tangannya.


Ok jantungku bakalan meledak dalam hitungan ke tiga.


Satu ...


Dua ...


Tiga ...


DUAR!!


“Bella!!” seru Lucas sebelum beneran aku terjatuh karena KEHABISAN NAPAS!!


— MUSE S5 —


LUCAS POV


Bella pingsan! Ya ampun, ternyata benarkan dia masuk angin. Hah, harusnya aku tidak menggodanya dan menjadikannya harus berendam terlalu lama.


“Ella!! Ella!!” Aku menepuk pelan wajahnya agar dia segera sadar.


“Ermm.” Bella meggeram pelan, sepertinya dia sedang menahan rasa sakitnya.


“Kepalamu pusing? Mana yang sakit?” tanyaku cemas. Aku benar-benar cemas, jam sudah menunjukan pukul 12 malam, tidak ada dokter yang masih buka kecuali UGD rumah sakit.


“Tidak kok, aku tidak apa-apa,” jawan Bella, wajahnya merah sekali.


“Tapi wajahmu memerah?”


“Ini gara-gara kau tahu?!” Bella menatapku sampai mata bulatnya melebar.


“Hahaha, jangan bilang kau sudah jatuh cinta padaku!” Aku menggodanya, wajahnya semakin merah.


“Tidak!!” Bella menutup wajahnya dengan bantal.


Dasar gadis kecil ini, kenapa begitu malu hanya mengakui kalau dia sudah jatuh cinta padaku.


Aku mengelus rambutnya, membelainya dari pangkal sampai ke ujung. Memainkan dan mencium wanginya, rambutnya punya wangi yang sama denganku saat ini.


“Ella, ayo aku antar pulang!”


“Hm, tak bisakah aku tidur di sini?” pinta Bella, permintaannya semakin membuatku penasaran dengan kehidupannya.


“Kau tidak takut padaku?”


“Erm ..., sedikit takut sih.”


“Ck, lalu kenapa mau tidur di sini?”


“Aku bisa tidur di sofa, atau ruang tamu, di lantaipun boleh.” Bella mengerutkan dahinya untuk mengiba padaku.


“Tidak, sayang! Pulanglah dan beristirahat! Kau masih harus bekerja menjadi pacarku besok.” Aku menolaknya, mana mungkin aku bisa menahan diri kalau dia berada semalaman di sisiku. Lagi pula aku bukanlah pria yang setega itu sampai membiarkan wanita yang ku cintai tidur di atas sofa.


Bella menghela napas panjang sebelum akhirnya bangkit dan menuruti permintaanku. Aku memberikannya jaket dan juga celana panjang.


Bella memakainya lalu tertawa. Aku ikut tertawa lantang. Celanaku hampir menenggelamkan 3/4 tubuhnya, lalu kaosku yang kebesaran, jaketku yang juga sama besarnya membuat Bella terlihat lucu.


“Ya ampun! Ini menggelikan.” Bella menghapus air mata yang menitik pada sudut matanya karena terlalu banyak tertawa.


“Begini saja.” Bella melepaskan celana panjangnya, kembali memakai celana boxer yang aku berikan pertama kali, lalu menutupnya dengan jaket.


“Begitu juga OK, ayo!” Aku merangkul pundaknya dan berjalan ke parkiran.


Kami kembali menyelusuri jalanan menuju ke perumahan tempat Bella tinggal.


“Bye, Ella.”


“Thanks, Lucas.”


“Masuklah!”


“Ok.”


Bella melangkah masuk ke dalam rumahnya, setelah membuka pintunya dia melambai padaku. Aku tersenyum dan kembali menutup kaca helm untuk meninggalkan kediamannya kembali ke rumahku.





Sesampainya di rumah, Pak Himawan satpam rumah langsung menerima motorku dan memarkirkannya ke dalam garasi. Aku meloncati beberapa anak tangga teras dan bergegas masuk ke dalam rumah.


Aku terkejut saat menemukan mama masih terjaga, ia duduk termangu-mangu pada sofa keluarga. Jemarinya saling menggenggam dengan erat. Syal kotak-kotak coklat menyelimuti pundaknya, secangkir teh yang telah berhenti mengepul menemani kesendiriannya. Rasa lelah tergambar jelas di atas wajah cantiknya yang mulai menua.


“Ma? Kenapa belum tidur?” tanyaku heran.


Aku mendekatinya, duduk di sampingnya.


“Nunggin Papa, sayang. Dia belum pulang,” jawab mama, senyuman hangat tersungging dan membuatku ikut tersenyum.


“Mama tidak menelfonnya?” Aku membetulkan syal yang menutup pundaknya.


“Tadi sore Papa bilang mau lembur tapi tidak bilang pulang jam berapa. Terus Mama telefon lagi malam ini tapi ponselnya tidak aktif.” Mama kembali bersandar pada sandaran sofa.


“Coba aku telefon sekretarisnya.”


“Mama sudah telefon, Lucas. Paman Otniel bilang Papamu masih lembur di kantor.” Mama menghentikan aksiku, ia menepuk punggung tanganku lembut.


“Ck, lantas kenapa Mama masih terjaga?” Aku berdecak sebal, sudah tahu tubuhnya lemah dan gampang sakit, kenapa masih nekat begadang padahal tahu papa lembur malam ini.


“Mama tak bisa melakukan apapun untuk Papamu, Nak. Hanya menunggunya pulang saja yang Mama bisa.” Senyum mama.


Hatiku bergetar saat melihat senyuman wanita tua ini. Melahirkanku membuat tubuhnya semakin lemah dan kehilangan kemampuan untuk melayani suaminya. Hidup bertahun-tahun dengan penuh kelemahan pasti membuatnya tersiksa.


“Ayo Lucas antar ke kamar.” Ajakku.


“Baiklah,” jawab mama nurut.


Aku menggandengnya perlahan masuk ke dalam kamar, membantunya merebahkan diri. Aku duduk di sampingnya dan mengelus rambutnya yang mulai memutih.


“Harusnya kau teruskan saja perusahaan Papamu, Nak. Jadi Papamu bisa beristirahat, kasihan bukan sudah tua tapi masih harus lembur,” kata mama.


“Lucas ingin diakui berhasil karena jerih payah Lucas, Ma, bukan karena hasil warisan Papa.”


“Keras kepala sekali kamu ini!” Mama mengetok pelan kepalaku, entah kenapa aku menyukainya.


“Mama istirahat saja OK. Papa masih sehat dan kuat untuk meneruskan pekerjaannya.” Kugenggam tangan kurusnya.


“Kau habis bertanding?” Mama menyentuh luka lecet di pelipisku.


“Iya,” jawabku.


“Menang lagi?”


“Tentu saja.”


“Harusnya dulu Mama ngelahirin anak perempuan saja, biar nggak keluyuran dan suka berantem kaya kamu.” Mama tertawa sambil mengelus rambutku.


“Beneran, Ma?” godaku.


“Hahaha, berhentilah adu tinju sayang dan cari gadis baik untuk menemanimu menua bersama,” ucap Mama.


“Baiklah, doakan saja pilihan Lucas tidak salah.” Aku tersenyum dan mengecup punggung tangan Mama.


“Semoga Mama masih bisa melihat dan menggendong cucu yang lucu,” desahnya.


“Pasti, Ma, pasti! Mama akan panjang umur dan melihat cucu-cucu yang lucu. Lucas akan memberikan banyak cucu untuk Mama.” Aku menahan lara yang terbesit di dalam hatiku. Tak tega mendengar ucapan mama yang menyayat hati.


Mama memang lemah, dia punya asma dan juga penyakit jantung bawaan. Sudah menjalani beberapa kali operasi namun masih saja jantungnya lemah.


“Tidurlah, Ma. Lucas akan menemani Mama sampai terlelap.”


“Baiklah, Lucas. Mama tenang saat bersamamu.”


Aku mengelus lagi rambutnya dan mengecup kening mama sebelum menemaninya tidur.


— MUSE S5 —


MUSE UP


LOVE


LIKE


COMMENT


VOTE


DUKUNG AUTHOR RENGGINAN JADI AUTHOR FEMES DENGAN COMMENT NEXT GAES ❤️❤️❤️