
MUSE S3
EPISODE 114
S3 \~ KESEMPATAN
\~Aku benar-benar ingin memiliki Kanna. Menjadikannya wanita milikku, aku ingin dia terus bersamaku setiap saat, supaya rasa sesak ini tak lagi muncul dan menghantam hatiku.\~
_______________
Aku melemparkan diri ke atas ranjang empuk, mengendurkan ikatan dasi dan menghela napas panjang.
Sepi...
Benar saja, penthouse mewah yang aku beli dengan hasil keringatku sendiri ini begitu sepi. Luas namun terlalu sunyi.
Apa mungkin aku kesepian?
Atau mungkin aku mulai jenuh?
Keseharianku memang hanya berputar itu-itu saja. Bangun, makan, ke kantor, pulang, makan, beristirahat, terulang lagi, dan begitu seterusnya. 6 hari dalam seminggu, melelahkan, bukan?
Andai saja ada sosok lain yang mendampingiku untuk menghidupkan suasana di rumah ini, pasti rasanya akan sangat membahagiakan.
Aku teringat dengan ucapan William dan Hans yang menyuruhku untuk mencari seorang istri agar pencapaian hidupku lebih sempurna. Mereka menantangku untuk mendekati seorang selebgram dengan nama Arkanna. Wajahnya sangat cantik dan imut, tubuhnya juga bukan main indahnya, secara fisik dia memang begitu sempurna. Tapi aku belum tahu seperti apa karakter dan kepribadiannya, apakah juga sempurna seperti fisiknya?
Aku tak ingin salah memilih wanita sebagai istri ataupun Mama untuk anak-anakku kelak. Wanita itu harus lemah lembut dan juga berpengetahuan luas, karena ia harus mendidik anak-anakku dengan kasih dan juga kepandaiannya. Maka dari itu, setidaknya aku harus mencoba untuk mengenal seperti apa sifat wanita itu terlebih dahulu.
Aku kembali menggeser layar ponsel pintar dan memandangi wajahnya. Dia memang luar biasa, semua pria pasti suka padanya.
Apa mungkin dia masih belum punya pacar?
Senyumannya begitu manis dan menawan. Argh..., benar kata William dan Hans, aku pasti memimpikannya disetiap malam-malamku.
•
•
•
TING TONG...!
Bunyi bel pintu membuyarkan lamunanku.
“Siapa malam-malam begini?” dengan malas aku beranjak menuju ke arah pintu masuk dan memeriksa cctv pada intercom.
“Kak Diana?” Aku terkejut, kenapa kakak perempuanku malam-malam kemari? Bukankah dia harusnya sedang di kota S membantu Mama.
Klik, pintu terbuka...,
“Lama banget, sih, buka pintu? Ini bantuin bawa!” Kak Diana langsung memberikan kopernya padaku seraya masuk ke dalam.
“Ah, nyamannya.” Kak Diana membanting tubuhnya ke sofa.
“Masuk rumah orang langsung rebahan, dasar nggak punya sopan santun!”
“Ck, sama adik sendiri ngapain mesti pake sopan santun?! Sana ambilin Kakak minum!”
“Ck, ambil sendiri!”
“Suasana hatimu lagi nggak bagus, ya?” Kak Diana mengangkat badannya, duduk dengan tegap dan memandangku lekat.
“Heung? Kata siapa?”
“Kataku-lah. Ah, sudahlah, kakak mau mandi dan beristirahat.” Kak Diana menepuk pundakku sebelum berlalu pergi.
Sepertinya Kak Diana benar, aku sedang sebal pada diriku sendiri. Setelah apa yang aku punya saat ini, bahkan tak ada satupun wanita yang bisa memenuhi kriteriaku. Lalu begitu aku menemukan seorang kandidat wanita yang cocok, aku malah belum berani PDKT dengannya.
— MUSE S3 —
•••
“Zean, bisa kau mampir ke Reveline? Tolong belikan kakak cream malam dan juga sunscreen.” pinta Kak Diana dari balik speaker mobilku.
“Baiklah, kirim saja gambarnya.”
“Thanks, baby! Aku traktir kau makan steak malam ini.”
“Ck, sok baik pas ada maunya aja,” ledekku sembari mematikan panggilan.
Aku memutar setir mobil menuju ke sebuah klinik kecantikan. Klinik langganan Kak Diana dari dulu benar-benar ramai dikunjungi orang. Dengan malas aku memarkirkan mobilku pada parkir VIP. Hanya sebentar dan aku tak ingin susah keluar masuk karena padatnya area parkir biasa.
Saat aku hendak turun, aku melihat sesosok wanita yang belakangan ini selalu menemani mimpi indahku. Iya, Arkanna, si bidadari Kanna yang ramai di bicaran para sahabatku juga sedang berjalan masuk ke dalam Reveline beauty care juga. Padahal dia hanya berbalutkan kaos, celana jeans, dan sling bag saja, namun tetap bisa terlihat begitu cantik.
Ya, Tuhan, apakah ini sebuah kesempatan yang kau berikan untukku?
Tanpa menunggu lagi aku mengikutinya masuk ke dalam pusat kecantikkan itu. Namun sayang sekali, Kanna nampaknya sudah booking sebelumnya karena dia bisa langsung masuk begitu saja ke dalam ruang tindakkan dokter.
“Ee, apa benar namanya Arkanna?” Aku memastikan bahwa wanita cantik itu benar adalah Kanna pada petugas resepsionis.
“Benar, Tuan. Dia Nona Arkanna, dia selebgram, ada beberapa gambar dirinya juga di sini.” tunjuk wanita ber tag name Nina pada sebuah poster besar ruang tunggu.
“Ah, cantiknya,” senyumku ikut mengembang saat melihat senyum manisnya terpampang begitu besar pada poster-poster iklan.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan.”
“Oh, iya, saya ingin membeli cream malam dan sunscreen seperti ini.” Aku hampir saja melupakan tujuan utamaku datang kemari gara-gara terpesona padanya.
“Baik, tunggu sebentar, Tuan.”
“Iya.”
Aku kembali duduk dan menunggu cream pesanan Kak Diana. Aku kembali membuka-buka profil Kanna dalam jejaring sosial. Dia sedang membuat story tentang proses perawatan kulitnya di Reveline. Sepertinya dia benar-benar adalah duta kecantikan di klinik ini. Tampang polosnya tanpa make up saja begitu cantik, apa lagi dengan make up.
Sepertinya aku benar-benar gila dibuatnya. Tanpa ragu aku memutuskan untuk menunggunya. Aku ingin mengajaknya berkenalan, mungkin juga menawarkannya secangkir kopi. Walaupun mungkin akan ditolak olehnya, setidaknya aku tak akan pernah kecewa karena telah berusaha, bukan?
•
•
•
Hampir tiga jam, aku telah menghabiskan waktuku tiga jam tanpa melakukan apapun?! Yang benar saja!! Seorang Zean sampai seperti ini hanya demi seorang wanita. Zean, came on, man! Apa kau benar-benar telah jatuh cinta padanya?!
Aku meneguk habis gelas es teh tawar keduaku. Aku terus mengetukkan jemariku pada sandaran sofa, menunggunya keluar dari ruang praktek dokter. Aku yakin saat ini wajahku pasti sangat kusut. Menunggu memang hal yang paling menyebalkan di dunia.
Tak lama setelah aku menggerutu, Kanna keluar. Ia menuju ke konter pengambilan obat dan melakukan pembayaran. Tanpa menunggu lagi aku bangkit dan mendekatinya. Aku ikut mengambil resepku di belakang dirinya. Aroma manis bunga mawar tercium dari rambut panjangnya.
Saat ini aku pasti sedang memandangnya dengan mata yang berbinar. Aku bisa merasakan rasa bahagia yang membuncah di dalam hatiku saat menganggumi wajahnya yang begitu cantik. Matanya, hidungnya, bahkan rambut ikalnya terlihat sempurna di hadapanku.
Sekejab berikutnya Kanna terlihat panik, sepertinya ia meninggalkan kartunya. Ia terus menghubungi orang dengan ponselnya.
Benarkan Tuhan kembali memberiku kesempatan?
Tanpa menunggu aku langsung menyodorkan kartu pada kasir dan membayar tagihan miliknya. Kanna nampak kaget dengan kelakuanku, dan aku hanya menjawabnya dengan senyuman. Setelah membayar tagihan, aku mendekatinya, “ini obatmu, Nona.”
“Terima kasih.” jawabnya.
“Baiklah, saya pergi, ya,” kataku. Bagus Zean, mari lakukan taktik tarik ulur agar tak terlalu berkesan mendekatinya.
“Tunggu, tolong berikan nomor rekeningmu. Aku akan mentrasfer kembali uangnya.”
Yes!! Betul, Kanna. Begitu seharusnya.
“Ponselmu?”
“Ya?”
“Aku kasih nomerku pada ponselmu.”
“Oh, baik.” Kanna bergegas memberikan ponselnya.
“Itu nomor ponselku. Kau bisa membayarnya dengan secangkir kopi.” senyumku sehangat mungkin.
“Tidak, jangan, aku ada uang, kok. Aku pasti akan mengembalikannya segera.”
“Anggap saja fans tips, lady. Aku seorang fans dari bidadari Kanna.”
“Kau mengenaliku?”
“Huum. Siapa yang tidak kenal wanita cantik sepertimu?”
“Tetap saja aku harus membalasnya.” kata Kanna. Syukurlah wanita ini bukan wanita matre seperti kebanyakan wanita cantik di luar sana.
“Sudah aku bilang itu fans tips, kau bisa membayarnya dengan meminum secangkir kopi bersamaku.” Aku membuang umpan untuknya. Ayo Kanna, makan umpannya.
“Eee...., Oke, aku akan mentraktirmu kopi saat aku senggang.” jawabnya sedikit ragu, tapi aku yakin dia telah memakan umpan dariku.
“Ok, baiklah. Atur saja waktunya. Aku kan meluangkan waktu untukmu.”
“Baik.”
“Aku pergi, ya.” pamitku.
“Tunggu!! Nama anda?” Kanna mengejarku.
“Zean. Namaku Zean.”
“Kanna, Arkanna.”
“Sudah tahu, kan aku fansmu!” jawabku, ayo tunjukan senyumanmu yang paling mematikan Zean.
•
•
•
Sesampainya di mobil aku mengepalkan tanganku di depan dada dan berseru, “YES!!”
Ternyata Tuhan memberikan kesempatan tak terduga yang begitu luar biasa kepadaku sore ini. Tak percuma aku menunggunya lebih dari tiga jam. Hasilnya memuaskan, aku bahkan tak perlu bersusah payah mencari info tentang dirinya. Oh, God, you’re amazing.
“Kau akan jadi milikku, Kanna,” pikirku senang.
— MUSE S3 —
•••
Aku mondar mandir bak setrikaan, sudah hampir seminggu dan Kanna sama sekali tak mau menerima ajakkanku minum kopi. Dia hanya mengirimkan beberapa chat dan meminta nomer rekeningku.
Kanna:
Tolong Zean.
Aku harus mengembalikan
uangmu.
Zean:
Sudah aku bilang
Temani saja aku minum kopi.
Kanna:
Maaf Zean. Aku masih harus kuliah
Tak tahu kapan ada waktu luang.
Zean:
Aku akan menunggumu
Kanna:
Tolong jangan mempersulitku.
Hanya mengetik no rekening
Tidak susah bukan?
Aku sudah tak tahu lagi bagaimana harus membalas chatnya. Aku kira dia telah memakan umpan dariku, nyatanya dia telah memuntahkan umpan itu kembali. Sialan!! Ternyata wanita yang satu ini lebih sulit dihadapi dari pada para investor bisnis.
Tok..., Tok...,
Terdengar suara pintu yang diketuk sesaat sebelum Orela masuk. Ia meletakkan secangkir teh hangat di atas mejaku.
“Thanks, La.”
“Sama-sama, Tuan.”
Apa yang ingin kau laporkan, La?” Aku melihat wajah Orela yang sedikit cemas.
“Ada kebocoran dibagian keuangan, Tuan. Kami baru menyelidikinya.” Orela nampak sedikit takut.
“Nominalnya?”
“Hampir dua ratus juta.”
“Ck!! Sialan!! Ada tikus di perusahaanku rupanya!!” geramku marah, aku paling benci dengan tindakan pencurian dan korupsi! Masih kurangkah aku menggaji mereka sampai berani mencuri uang perusahaan?!
“Kami pasti akan menemukannya, Tuan. Anda tak perlu khawatir. Dia pasti akan dihukum dengan berat.”
“HAh..., baiklah, kabari aku kalau kau telah menemukan orangnya! Aku sendiri yang akan menuntutnya!!” seruku keras.
“Baik, Tuan.”
Orela membereskan dokumen dan tanpa sengaja menyenggol ponselku. Aku yang baru saja membuka jejaring sosial milik Kanna membuat wajahnya terlihat jelas memenuhi layar ponselku.
“Kanna? Tuan mengenal, Kanna?” Orela kaget saat melihat wajah Kanna pada layar ponselku.
“Kau mengenalnya juga?” tanyaku penasaran.
“Huum, dia adik tingkat, kami satu kampus tapi beda jurusan.” jawab Orela dengan anggukan pelan.
“Benarkah?” jawabannya membuatku kembali bersemangat, aku sampai melupakan rasa marahku.
“Iya, tapi, tak lama setelah dia masuk saya lulus.” Orela menaruh map di depan dada.
“Kau tau rumahnya?”
“Tau, dulu dia pernah pingsan saat OSPEK karena nyeri perut, saya mengantarnya pulang ke rumah.”
“Di mana?”
“Kalau nggak salah, di perumahan dekat pertokoan H, rumah no 14, blok B. Saya agak lupa, hmm..., seingat saya cat pagar rumahnya berwarna merah bata.”
“Thanks, Orela!! Aku pergi!!”
“Anda mau ke mana?”
“Mencari rumah calon istriku.”
Aku pergi tanpa menghiraukan protes yang dilayangkan Orela. Pasalnya aku punya banyak pekerjaan yang mesti aku cek dan tanda tangani. Namun rasa rinduku padanya sudah tak bisa terbendung lagi, aku tak bisa menahannya. Rasanya sangat sesak, aneh sekali, aku tak pernah merasakan rindu yang begitu dalam seperti ini sebelumnya.
Aku benar-benar ingin memiliki Kanna. Menjadikannya wanita milikku, aku ingin dia terus bersamaku setiap saat, supaya rasa sesak ini tak lagi muncul dan menghantam hatiku.
Mobil sport hitamku melesat menuju ke arah perumahan yang diutarakan oleh Orela. Aku memutarai jalanan paving beberapa kali. Mencoba mencari rumah bernomor 14. Aku tersesat beberapa kali sampai akhirnya sebuah bayangan wanita cantik berjalan menuju ke jalan raya membuatku berhenti. Aku bisa mengenalinya, dia adalah Kanna.
Tiin... ku pencet klakson di dekatnya. Kanna berjengit kaget sebelum menepikan dirinya di pinggir jalan.
“Hallo, kau masih ingat padaku?” ku buka kaca jendela mobil dan menyapanya.
“Eee..., Zee..., Zean??” tanya Kanna ragu-ragu.
“Iya, kau masih ingat padaku rupanya.”
Aku menepikan mobilku dan keluar untuk menghampirinya, “kau mau ke mana?”
“Membeli suplemen kesehatan.”
“Aku antar?”
“Hanya di apotek dekat sini, kok.”
“Wah, Sepertinya kau senggang? Bagaimana dengan utangmu? Secangkir kopi?”
“Eee..., tak bisakah aku membayarnya dengan uang saja?”
“Duh, hatiku sakit mendengarnya. Padahal aku sama sekali tidak ada maksud buruk, Kanna. Hanya ingin mengobrol denganmu.”
“Eum... gimana, ya?”
“Sebentar saja! Aku tak akan menyita waktumu lebih dari dua jam! Bagaimana? Is it OK?”
“Hmm..., baiklah, hanya 2 jam, OK.”
“Yes!!” seruku dalam hati.
“Ayo!” Aku membukakannya pintu mobil.
Kanna hanya diam selama perjalanan menuju ke cafe. Akupun hanya bisa mencuri-curi lirikan untuk memandang wajahnya. Kanna terus memainkan jemarinya, sepertinya dia merasa canggung sekaligus takut.
“Tenang, Kanna. Aku bukan orang jahat.”
“A..., aku tidak berpikir seperti itu.” Kanna gelagapan karena sadar aku bisa menebak isi hatinya.
“Aku murni hanya ingin berkenalan dan ngobrol santai denganmu, Kanna.”
“Iya, Zean.”
“Kita sampai, ayo turun.”
Kami memasuki sebuah kedai kopi dengan nuansa rustic yang hangat. Meja-meja dan kursi kayu dengan plitur gelap melengkapi interiornya. Benerapa anak muda juga terlihat memenuhi area outdoor karena mereka sedang merokok. Aku membatalkan niatku duduk di area outdoor, dan memilih menempati sebuah meja dengan dua buah sofa pada ujung ruangan.
“Mau pesan apa, Tuan?” tanya pelayang yang menghampiri kami.
“Hazelnut latte, dan potato chips.”
“Aku stwaberry smothies, tolong pisahkan gulanya.” pinta Kanna.
“Baik.” jawabnya seraya beralih pergi.
“Kau tidak makan apapun?”
“Aku habis makan kok.”
“Oh, begitu.”
Kami mengobrol dengan santai, Kanna menunjukan passionnya di bidang kecantikan. Impiannya adalah menjadi seorang beauty blogger yang terkenal. Aku terkesima dengan semangatnya saat Kanna memamerkan beberapa video tutorial make up.
Aku sendiri juga langsung bisa menyambung dengan ceritanya karena kakakku juga adalah seorang MUA. Dan ternyata Kanna sangat mengenal Kak Diana, dia menyukai karya kakakku dan ingin menjadi seperti dirinya. Untuk kali ini sepertinya aku harus berterima kasih pada Kak Diana, karena namanya membuat kami bisa langsung akrab.
Ah, aku akan membelikannya martabak telur kesukaannya itu malam ini!
Triiingg... 🎶
Sebuah nada panggilan mengagetkan kami berdua. Baik ponselku maupun ponsel Kanna sama-sama berbunyi.
“Halo,” jawabku
“Tuan, pihak audit sudah menemukan kebocoran di bagain keuangan.”
“Lalu...,” tanyaku sembari melirik ke arah Kanna yang juga mengangkat ponselnya. Wajahnya menegang dan alisnya bertaut.
“Dia adalah karyawan yang baru setengah tahun ini bekerja dengan kita. Namanya Arrezzi.”
“Arrezzi??” saat aku menyebutkan nama itu, mata Kanna terbelalak begitu lebar, ia memandangku, wajahnya pucat pasi.
“Betul, Tuan. Saat ini kami memasukkan laporannya pada pihak berwajib. Polisi telah menggiringnya juga.”
“Kau sudah menuntutnya?”
“Belum, Tuan. Anda bilang anda ingin menuntutnya sendiri.” Orela kembali mengingatkanku pada ucapanku siang tadi. Aku berkata akan memenjarakan sendiri tikus pencuri yang berani menyelewengkan uang perusahaan.
“Kau yakin namanya Arrezzi?” tanyaku lagi.
“Yakin, Tuan. Saya tunggu anda di kantor kepolisian.”
Aku kembali fokus pada Kanna. Mata Kanna berkaca-kaca saat memandangku, air matanya seakan ingin tumpah keluar. Tanpa ia sadari ponselnya terjatuh dari genggamannya. Masih bisa ku dengar suara seorang wanita yang menangis tersedu-sedu pada ujung panggilan lainnya.
“Apa dia Kakakmu?” tanyaku.
“Iya, hiks..., dia Kakakku....” tangis Kanna akhirnya pecah.
— MUSE S3 —
Haduh Kanna...
Kasihan 😭😭
Susah ya punya keluarga kaya begini.
MUSE UP!!
YUK DUKUNG CINTA KANNA DAN KISAH HIDUPNYA.
VOTE, LIKE, dan COMMENT
Masih ada dua hari untuk vote berhadiah kaos MUSE dari author!!
So... PASTIKAN KALIAN PENCET TOMBOL LIKE DAN VOTE YA BAE!!!
Terima kasih sudah membaca,
Terus Sebarkan rasa cinta untuk banyak orang. Dan berbuat baik bagi sesama
Love,