
MUSE S2
EPISODE 60
S2 \~ TETANGGA BARU
\~ Air mataku kembali menetes. Sebenarnya masih adakah rasa cinta yang tersisa di dalam hatiku untuk dirinya? \~
•••
“Dasar pembohong, dia bilang mau mampir besok!” tanganku sibuk mengelap piring-piring basah yang baru saja selesai Caca cuci. Dalam hati aku merasa sebal dengan Arvin. Hari ini dia sama sekali nggak menampakkan dirinya di cafe, padahal kemarin dia bilang akan mampir.
Hloh..., sejak kapan aku mengharapkan kedatangannya?
Tak dipungkiri sih, seminggu lebih bersamanya membuatku mulai menyukai keberadaannya. Walaupun menyebalkan tapi dia selalu berhasil membuatku tertawa.
“Ck, boss, ngalamunin Kak Arvin, ya?” Caca datang dan membantuku mengelap piring dan cangkir.
“Nggak!!!” jawabku nyolot, responku berlebihan kayaknya. Caca melirik tajam sambil nyengir.
“Udah jujur aja, Boss. Sukakan?”
“Dibilang enggak,”
“Yaelah, masih nggak mau ngakuin.”
“Woi..., ngobrol aja. Ayo tutup! Keano rewel, nih.” tiba-tiba kedatangan Melody menyelamatkanku dari godaan Caca.
“Ayo, sudah beres semuakan, Ca?” tanyaku memastikan keadaan cafe sebelum kami meninggalkannya.
“Sudah, Boss.” lapor Caca.
“Oke, yuk, pulang!” ajakku.
Kami bertiga di tambah Keano keluar dari cafe. Aku memastikkan semuanya peralatan listrik juga gas aman sebelum mengunci pintu cafe dan beranjak pergi.
“Bye, Kak Mel, Bye, Boss.” Caca bergegas menghidupkan motornya hendak berlalu ke arah yang berlawanan.
“Bye, Ca,” kataku bersamaan dengan Melody.
“Keano tidur, Mel?” tanyaku, bayi kecil itu meringkuk di dalam gendongan kangguru di depan dada Melody.
“Iya, tadi rewel, mungkin ngantuk.”
Kami jalan berdua, mengobrol ringan tentang hal-hal kecil yang terjadi hari ini. Juga acara TV yang kocak. Pokoknya mengisi waktu selama perjalanan pulang kami agar tidak sepi dan membosankan.
“Si doi nggak nongol hari ini? Padahal penasaran banget sama wajahnya.” kata Melody.
“Browsing di g**gle aja. Dia cukup terkenal, kok,” jawabku.
“Coba, ah....” Melody membuka ponselnya secepat kilat dan mencari nama Marvinous pada laman pencarian.
“WOW! Daebak!! Ganteng banget. Wah, kau beruntung banget. Pengalaman pertama sama cowok seganteng ini.” senggol Melody.
“Ck, ngomong apaan, sih?!” wajahku memanas, entah kenapa aku jadi malu sendiri saat melirik wajah Arvin pada ponsel Melody.
“Kalila.” sebuah suara memanggilku, membuat kami berdua refleks membalikkan badan.
“Angga.” Melody terkejut dengan kehadiran Angga di tengah-tengah kami.
“Hai, Mel.” sapa Angga.
“Hai juga. Gimana kabarmu?”
“Baik.”
“Mo ngobrol sama Kalila?”
“Iya.”
“Oke, kalian ngobrol aja. Aku pulang dulu.” kata Melody pada Angga.
“Aku duluan, ya, La.” Melody menepuk pundakku dan berlalu pergi. Ia memberi waktu padaku untuk berbicara dengan Angga.
Angga semakin mendekat. Ia masih mengenakan setelan kerja. Celana kain dan juga kemeja lengan panjang. Wajahnya terlihat jauh lebih dewasa dari kemarin, mungkin karena pengaruh outfit dan tatanan rambutnya.
“Halo, ada apa?” tanyaku mencoba untuk bersikap santai.
“Aku bawa nasi goreng, kau sudah makan?” Angga mendekat.
“Belum,” jawabku sambil kembali berjalan.
“Mau makan bersamaku? Kita sering makan bersamakan dulu?” Angga masih tak menyerah dengan perasaannya.
“Oke.”
Kami duduk di bangku taman sekitar apartemen. Menikmati nasi goreng yang di bawa Angga. Kami memisahkan nasi goreng itu menjadi dua bagian sebelum menyantapnya.
“Kau tinggal di sini?” tanya Angga.
“Iya, lantai 5,” jawabku.
“Aku kira kau tinggal di cafe.”
“Kemarin hanya sementara.”
“Aku akan pindah kerja kemari, La.”
“Kau tidak kerja di kota J?” Aku keheranan, bukankah perusahaan Arvin berada di ibu kota.
“Nggak, bossku membuat kantor cabang di kota ini?”
“Serius??!” Aku hampir tersedak.
“Iya, dia gila! Masa kantor itu harus selesai dalam satu minggu. Bisa kau bayangkan sibuknya? Kami bagaikan kerja rodi, siang dan malam di kantor.” kikih Angga.
“Tapi kau tampaknya tak keberatan.”
“Yah, karena aku sangat menyukai pekerjaanku.” Angga menyendok lagi nasi goreng terakhir dan memasukkannya ke dalam mulut.
“Baguslah, Ngga.” Aku meneguk air mineral yang baru saja ku beli dari mesin otomatis.
“Aku akan bekerja keras untuk membahagiakanmu, Kalila.” senyum Angga.
“Kenapa?”
“Karena kau satu-satunya wanita yang ku cintai. Bukankah pria harus membuat wanitanya bahagia?” Angga membuang bungkus nasi goreng ke dalam tong sampah.
“Tentu saja. Aku mencintaimu, Kalila.”
Aku menunduk dan memandang pada tutp biru botol air mineral. Angga tak tahu bahwa aku bukanlah wanita polos yang sama dengan dulu. Aku sudah tak lagi suci, aku pernah menjual diriku demi lembaran rupiah. Kalau dia mengetahui hal ini, masihkah dia akan mencintaiku?
“Aku pulang dulu,” pamitku.
“Tunggu, La!” Angga mengenggam tanganku.
“Ya?”
“Ada nasi di pinggir bibirmu.” Angga mengusap bibirku dengan ibu jarinya. Usapannya membuatku tersentak.
“Ah, terima kasih.” Aku menunduk malu.
“Good nite, Kalila.” Angga tiba-tiba memelukku.
“Good nite, Angga.” Aku bergegas ingin melepaskan pelukannya.
“Kalila kembalilah padaku.” Angga malah semakin memperet pelukannya.
“Kau bilang akan memberikanku waktu untuk berpikir.” Aku melepaskan diri darinya.
“Jangan lama-lama, ya.” Angga mengelus wajahku.
“Aku pulang dulu.” Aku tak menjawab ucapan terakhirnya. Aku memilih untuk berlalu pergi, masuk ke dalam apartemen.
Aku masih bingung dengan perasaanku sendiri. Lagi pula apakah Angga masih akan mencintaiku kalau tahu segala kebenaran tentang kehidupanku? Aku sudah kotor dan tak lagi suci.
Bagiku Angga memang spesial karena akupun pernah mencintainya. Kami pernah berbagi rasa cinta itu. Menikmati manisnya cinta, dan juga indahnya sebuah hubungan.
Kenapa aku kembali sesak?
Air mataku menetes. Sebenarnya masih adakah rasa cinta yang tersisa di dalam hatiku untuk dirinya?
— MUSE S2 —
•••
Sore ini aku terus bengong, entah kenapa aku merasa seakan-akan ada yang kurang, ada yang hilang. Apa itu?!
Kehadiran Arvin!! Sudah seminggu dia tak datang ke cafe.
Hari pertama, aku biasa saja.
Hari kedua, aku mulai menghela napas dan mencari sosoknya.
Hari ketiga, aku mulai tak mood untuk bekerja. Lebih memilih bengong dan menantinya.
Hari keempat, aku mulai merasa aneh dan menggila karena masih gengsi untuk mengakuinya.
Hari kelima, aku sepertinya mulai benar-benar gila.
Hari ke enam, baiklah, harus ku akui aku mulai merindukannya. Tidak!! Aku memang merindukannya!
•
•
•
“Brengsek!!” umpatku. Entah siapa yang aku benci saat ini? Diriku yang terlalu gengsi untuk bertanya, atau dirinya yang tak pernah menghubungiku.
“Kalila???” Melody melongo.
“Ups...,” ku tutup mulutku yang sepontan mengucapkan kata-kata kasar.
“Kamu kenapa, sih? Kerja nggak konsen?! Ngelamun terus? Mana salah-salah lagi bikin pesenannya.” Melody berkacak pinggang di depanku. Dia memprotes kelakuanku.
“Sory, Mel,” jawabku.
“Boss merindukan si om ganteng, Kak Mel. Tapi dia nggak mau mengakuinya.” ledek Caca.
“Bocah tau apa?” Aku mentowel pipi Caca.
“Bocah, bocah juga taulah jatuh cinta itu kaya apa?!” Caca membalas, towelannya bersarang di pipiku.
“Pulang sana, La! Istirahat, ngademin pikiran. Kali aja ketemu lewat mimpi.” kekeh Melody.
“Wah, jadi kalian sekarang sekongkolan, ya?” tuduhku gemas.
“Sudah hampir malam, bentar lagi juga cafe tutup. Pulang dan istirahatlah lebih awal.” Melody masih melanjutkan tawanya saat melepaskan apronku.
“Oke, deh. Aku akan pulang.”
Akhirnya aku menurut dan mulai membereskan tasku. Sesekali aku melirik pada pintu masuk. Berharap lonceng itu berbunyi karena kedatangannya.
•
•
•
Aku mencoba berpikir positif, mungkin dia sedang sibuk bekerja. Bukankah Angga pernah bilang kalau Arvin sedang membuka kantor cabangnya yang baru.
Dengan gontai aku menapaki langkahku menuju ke lantai 5. Lift membuka, aku menyelusuri lorong dan berhenti di depan pintu masuk kamarku. Aku menoleh ke kanan dengan heran. Banyak orang keluar masuk dari kamar samping dengan berbagai macam perabotan baru.
“Wah, sepertinya akan ada tetangga baru,” gumamku lirih.
— MUSE S2 —
DUH SIAP-SIAP BAPER
HABIS INI KALILA PUNYA TETANGGA
GANTENG
JANGAN LUPA LIKE, COMENNT, VOTE
jangan lupa ya 3 voter terbanyak bisa dapet kenang-kenangan dari author tercantik sejagat mangatoon.. 🤣😝
❤️❤️❤️
Lup yu readers