
MUSE S7
EPISODE
S7 \~ JANJI
“Itu dia, aku tak takut pada amarahnya. Aku hanya takut dia kecewa karena aku melanggar janjiku sebagai seorang pria.”
___________
Serpihan kaca sepion berhamburan. Farel menggelepar pelan menahan sakit. Levin melepaskan helm racing yang menyangkut pada kepala Farel, berharap Farel tidak pingsan.
“Kenapa?!” teriak Farel, ternyata bocah itu masih sadar.
“Apa maksudmu?” Levin mencengkram lengan Farel.
“Kenapa kau selalu saja menang dariku?!”
“Farel!! Hentikan, cukup!” Levin menghempaskan kerah Farel.
Farel mengambil serpihan kaca spion yang cukup besar. Ia hendak menghunuskannya pada lehernya sendiri.
“FAREL!!!” teriak Leoni.
“FAREL!!!” teriak Levin.
Farel menghentikan gerakannya, dengan tangan kosong ia meremat pecahan kaca itu. Darah menetes dari kepalan tangannya. Farel begitu kecewa saat ini, ternyata memang kemampuannya tak sebanding dengan bakat alami yang dimiliki Levin. Farel memberikan rasa sakit pada dirinya, berusaha mengalihkan rasa sakit hatinya.
“Jangan bodoh!!” Leoni mencoba menghentikan tingkah Farel, namun Levin menahan tubuhnya agar tak mendekati Farel.
Bunyi sirine kendaraan meraung-raung. Dua moge petugas kepolisian datang berhenti tepat di belakang mereka. Balapan liar di tengah jalan kota membuat warga geram dan melaporkannya pada yang berwajib. Polisi merespon cepat, mereka langsung terjun menembus derasnya hujan. Teman-teman Farel langsung kabur begitu melihat petugas kepolisian. Farel juga sama, dengan tertatih-tatih ia hendak kabur, sebelah kakinya terpincang karena kecelakaan barusan.
“Berhenti Farel!! Kau harus ke rumah sakit!!” Leoni mencegah Farel.
“Kita harus mempertanggung jawabkan perbuatan kita!!” Levin menahan tubuh Farel.
“Dan membusuk di penjara?? Kau punya Ayah yang kaya raya, sedangkan aku hanya gelandangan! Anggota Geng motor, siapa yang akan membebaskanku?” Farel melirik tajam ke arah Levin.
“Kalian bertiga!!! Angkat tangan!” Polisi mulai bersiaga, menodongkan senjata, siapa tahu anak-anak ini memang adalah geng motor yang selama ini meresahkan kota dengan kriminalitas.
“LEPASKAN AKU!!” Farel mencoba menghempaskan tangan Levin yang mencekal sikut tangannya.
“Farel, kau harus ke rumah sakit.” Leoni hampir menangis, darah terus menetes dari telapak tangan Farel.
“LEPASKAN!!” Farel menghunuskan pecahan kaca yang sembari tadi ada dalam genggamannya. Menyobek daging Levin.
“Akh!!!” Levin menjerit menahan rasa sakit. Spontan ia melepaskan Farel.
“FARELLL!!! Kau gila?!” Leoni mengumpat, Farel tak peduli, ia bergegas berlari pergi, membonceng kendaraan temannya.
Polisi langsung mendekat begitu mendengar suara teriakan kesakitan Levin. Darah merah segar mengalir dari siku tangan kiri Levin. Luka sayatan itu sangat dalam dan panjang. Levin meringis menahan sakit.
“TOLONG!!” Leoni berteriak.
Petugas kepolisian langsung menghubungi ambulan. Meminta pertolongan. Leoni panik, Levin terus meronta karena rasa sakit. Leoni menekan lukanya agar pendarahan Levin berhenti. Leoni menangis, air matanya turun sederas hujan juga tak kunjung berhenti.
“Bertahan Levin! Sebentar lagi ambulan datang.” Leoni mendekap tubuh Levin, mengelus rambutnya yang basah. Bibir Levin semakin pucat karena hawa dingin.
“Kau tak apa?” Ditengah-tengah rasa sakitnya Levin bertanya keadaan Leoni.
“Aku baik-baik saja.” Leoni mengangguk, lagi-lagi air matanya mengalir deras.
“Maaf, Leoni. Aku penyebab semua ini.” Levin menghapus air mata Leoni, darah membuat wajah Leoni tercoreng merah.
“Jangan!! Jangan meminta maaf, aku yang salah, Vin. Aku yang salah! Huhuhu ....!” Leoni menangis.
Tak lama ambulan datang, Levin dan Leoni dibawa menuju ke rumah sakit di bawah pengawasan petugas kepolisian.
...— MUSE S7 —...
“Kalian kembali lagi? Tapi bertukar posisi.” Dokter jaga bergeleng melihat kedua pasiennya. Levin diam saja, Leoni menunduk menahan tangis.
“Kenapa kalian bandel sekali? Sekarang harus dijahitkan?! Panjang dan banyak hlo ini jahitannya! Dan sudah pasti akan membekas. Hei, kau gadis kecil, bukankah kau juga punya bekas luka di pundakmu?” Dokter itu mencibir kedua brandalan kecil yang dikiranya tak mau bertobat. Leoni memegang pundaknya, memang dulu pernah ada bekas luka saat ia terjatuh dan menyentuh aspal.
“Diam dan obati saja kami!!” Levin merasa sebal, ia tak tega melihat Leoni menahan tangis karena cibiran dokter muda cerewet itu.
“Ya sudahlah!! Dasar berandalan.” Celetuknya dengan sebal.
Setelah beberapa saat, sang dokter selesai dengan pengobatannya. Ia meninggalkan keduanya di dalam bilik UGD. Keduanya diam, masih kikuk dan bingung caranya memulai pembicaraan.
“Hei, bagaimana tanganmu? Sakit?” Levin mengelus pergelangan tangan Leoni yang lecet akibat ikatan tali.
“Harusnya aku yang menanyakan hal itu, Levin. Tanganmu yang terluka lebih parah.”
“Tanganku baik-baik saja. Tapi hatiku tidak. Kau tahukan seperti apa orang tuamu? Sebentar lagi Papamu pasti akan datang dan mengamuk. Membayangkannya saja aku sudah merinding.” Levin teringat betapa galaknya Leon bila menyangkut tentang Leoni.
“Kau tak takut dengan Daddymu?” Leoni menggenggam tangan Levin.
“Itu dia, aku tak takut pada amarahnya. Aku hanya takut dia kecewa karena aku melanggar janjiku sebagai seorang pria.” Levin menatap langit-langit ruangan. Putih bersih, dan bersinar terang.
Belum lama mereka menghela napas, Leon dan Kanna berlari dengan wajah cemas masuk ke dalam ruang UGD, mencari keberadaan Leoni, putri mereka.
“Leoni!!” Keduanya tergopoh-gopoh menghampiri bilik Levin.
“Pa, Ma!!” Leoni langsung berdiri dari kursinya. Wajah cemas Leon dan Kanna langsung menghilang, bukan lagi Leoni yang berada di ranjang rumah sakit, melainkan Levin.
“Apa yang terjadi? Kau bilang hanya ke toko buku!! Betapa cemasnya Mama karena kau tidak kunjung pulang?!” Kanna memukul lengan Leoni beberapa kali lalu memeluknya.
“Apa yang terjadi dengan kalian? Kau bilang akan menjauhi anakku?!” Leon menatap marah pada Levin, pemuda itu hanya bisa terdiam karena merasa bersalah.
“Bukan salah Levin, Pa. Justru Levin yang menolong Leoni.” Leoni mencegah Papanya mengamuk, kali ini Leoni yang akan membela Levin, Leoni yang dulu tak bisa mengatakan yang sebenarnya, kini saatnya membalas kebaikkan Levin.
“Jadi ceritanya ....” Leoni menceritakan semua kejadian yang menimpa mereka, walaupun tak menyebutkan nama Farel. Leoni hanya bilang ia diculik oleh kawanan geng motor dan Levin menyelamatkannya dengan beradu kecepatan.
“Yang benar?” Leon menautkan alisnya.
“Benar!! Bukan balapan liar, tapi karena ingin menyelamatkan Leoni, Pa.”
Disela-sela Leoni bercerita, Arvin dan Kalila datang. Mereka berdua juga mendengar hal yang sama dari mulut Leoni. Levin masih di dalam biliknya, melamunkan nasib. Mungkin impiannya akan pupus sebentar lagi.
“Levin!!” Kalila menjerit begitu mendapati anak bontotnya terluka. Sayatan itu cukup panjang dan dalam, sudah dijahit dan ditutup dengan plester. Arvin menghela napas panjang, tak tahu harus berkata apa.
“Mom? Dad? Maafin Levin.” Levin terlihat merasa bersalah, tapi dia tak menyesal karena Leoni baik-baik saja.
“Sudahlah, kau sedang terluka.” Arvin memeluk Levin, mengelus kepalanya.
“Dad, kau pasti sangat kecewa padaku?” Mata Levin berkaca-kaca.
“Kita bicarakan hal itu setelah lukamu pulih. Lagi pula kau harus fokus pada ujian kelulusan.” Arvin menepuk punggung Levin. Levin mengangguk paham.
Di kantor polisi Nick sedang menebus motornya yang disita pihak kepolisian. Pemuda tampan itu mengomel sepanjang jalan. Kalau tahu Levin menggunakan motornya untuk balapan liar pasti Nick tak akan meminjamkannya.
...— MUSE S7 —...
...Baca Mi VOLAS VIN DI W A T T P A D...
...VOTE...
...LIKE...
...KOMEN...