MUSE

MUSE
S2 ~ TAK SEMPURNA



MUSE S2


EPISODE 51


S2 \~ TAK SEMPURNA


\~ Walaupun aku memiliki rasa padamu, nyatanya rasa itu tak pernah bisa melengkapi gambar dirimu dalam hatiku. \~


Kriinncingg kling... 🎶


Bunyi lonceng selalu terdengar saat pintu cafe terbuka. Aku kembali datang ke cafe ini, mencari keberadaannya yang terus membayangiku. Entah sejak kapan aku mulai ketagihan melihat senyumannya? Senyuman yang hangat dan manis.


“Welcome to palette cafe.” sapanya. Ah.., suara yang kurindukan terdengar.


“Kalila,” panggilanku hanya di respon dengan gelengan pelan olehnya.


Aku melihat sudah banyak pelanggan yang nongkrong dan menikmati minuman mereka. Mungkin karena jam pulang kantor, jadi banyak orang yang menikmati sore mereka. Menikmati kopi untuk sekedar melepas penat. Aku berjalan masuk dan duduk di depan meja bar.


“Kalau mau pesan antri dulu, Kak,” katanya ketus sambil meracik kopi.


“Duh, judesnya?! Kemana perginya gadis manis semalam?” Aku sengaja menggodanya, ucapanku langsung sukses membuat wajahnya memerah. Manis sekali.


“Tetap saja, anda harus mengantri untuk memesan minuman.” Kalila menggigit bibirnya, membuatku semakin tersenyum bahagia.


Aku bangkit dan mengantri untuk memesan latte. Seorang gadis tomboi melayani di belakang meja kasir.


“Mau pesen apa, Om?” ucapnya menyebalkan, Kalila yang mendengarnya langsung ikut terkikih.


“Apa wajahku terlihat begitu tua bagimu?” decakku sebal.


“Hehe.. maaf, mau pesan apa, Kak?” ia mengulangi pertanyaannya.


“Pandan latte, ekstra shot.”


“Ice?”


“Ice, less sugar, ya,” pintaku, aku tak begitu menyukai makanan manis.


“OK.”


“Berapa?”


“Gratis, boss yang suru.”


“Thanks.” Aku tersenyum, diam-diam dia masih perhatian juga ternyata.


Setelah mendapatkan buzzer aku kembali duduk di depan Kalila. Menunggu dengan sabar latte pesananku. Sembari menunggu aku melihat ke sekeliling, sepertinya ada sesuatu yang hilang.


“Di mana gambar laki-laki tanpa wajah itu?” Aku bertanya pada Kalila, perasaan semalam masih tergantung di ujung paling kiri.


“Oh, aku melepasnya. Aku ingin mencoba untuk menggambarnya ulang.” jawab Kalila.


“Ah, begitu, kau pintar menggambar ternyata,” anggukku mengerti.


“Hanya hobi. Ini, Kak.” Aku menerima se-cup pandan latte pesananku dari Kalila.


“Thanks.”


Sore itu cafe cukup ramai, Kalila nampaknya begitu kualahan. Dan si kecil Keano selalu mengekor di bawah kakinya. Sesekali Kalila mengangkat atau pun melarang Keano melakukan hal yang bisa membahayakan dirinya.


“Apa ada yang bisa ku bantu?” Aku menawarkan diri.


“Ah.., apa bisa kau jaga Keano sebentar, Kak?” Kalila memberikan bayi kecil itu padaku.


“A—apa??” Aku menerimanya dengan kikuk. Aku belum pernah merawat seorang bayi sebelumnya.


“Tolong, Kak. Sebentar saja. Ajak dia main ke dalam kamar.” Kalila menyatukan telapak tangannya di depan dada.


“Ternyata ini maksudmu menyogokku barusan.” Aku menyerah dan menyanggupi permintaan Kalila untuk menjaga Keano.


“Hahaha.. tidak, Kak. Aku tulus.”


Aku mengajak Keano masuk ke dalam kamar. Menurunkan bayi itu agar dia bisa bermain di lantai. Keano mengeluarkan semua mainan dari dalam kotak plastik. Rata-rata mobil-mobilan, ada juga pesawat terbang.


“Daahh.. dahh.. bbbbuuuaa...” Keano memukul pelan wajahku dengan mobil-mobilan mungilnya.


“Main di sini aja, Ken.” Aku memberinya contoh agar dia menjalankan mobilnya di atas permukaan lantai, bukan di wajahku.


“Bbbuuuu....” Keano memainkan kembali mainannya, melempar-lemparkan semuanya ke segala arah.


“Ken.. jangan, donk!”


Ternyata mengurus bayi tidaklah gampang! Sebentar-sebentar Keano menangis, lalu tertawa, lalu mengompol, lalu berlari ke sana ke mari. Membuatku kehabisan tenaga. Belum lagi saat ia meneteskan air liur dan juga memainkan susunya.


“ARG...,” gerutuku pusing. Dan dimulailah jam-jam penuh penderitaan sebagai seorang Ayah dadakan.


“Tolong cepatlah, Kalila!!” tangisku dalam hati.


•


•


•


Entah sudah berapa lama aku tertidur. Menjaga Keano sangat melelahkan. Aku tak habis pikir bagaimana bisa Kalila mengurus cafe dan mengasuh anak secara bersamaan? Apa dia tak kelelahan?


“Sudah bangun, Kak?” Kalila duduk di samping kasur.


“Oh.. maaf aku tertidur.” Aku bangkit dan duduk di samping ranjang.


Keano juga masih tertidur, sepertinya kami sama-sama kelelahan. Kami sama-sama tertidur. Kalila menyelimutkan selimut bergambar teddy bear pada tubuh mungil Keano.


“Terima kasih, ya. Sudah menjaga Keano.” kata Kalila.


“Aku juga tidak terlalu ahli menjaga Keano.” Kalila mengelus rambut tipis Keano.


“Tapi kau pasti akan jadi Mama yang baik.”


“Yah, semoga.”


“Apa kau mau mencobanya? Mem...,” tanyaku setengah menggodanya.


“Jangan berpikir macam-macam!” selanya sebelum aku menyelesaikan kalimatku.


Aku terkikih, ternyata Kalila sudah bisa menebak guyonnanku yang mengajaknya membuat seorang anak.


“Aku tak bisa membayangkan rasanya menjadi seorang, Papa.” gumamku.


“Menjadi orang tua adalah naluri semua makhluk hidup, Kak. Kau tak perlu takut saat membayangkannya.” ucap Kalila.


Kami terdiam cukup lama, mungkin kikuk, mungkin juga saling sungkan.


“Kenapa kau tak menampar atau mengusirku semalam, Kalila?” Aku memecah keheningan.


“Aku sendiri juga tak tahu, Kak.”


“Apa kau punya rasa yang sama denganku?”


“Jangan Ge-er.” tawa Kalila.


“Lalu kenapa?


Kalila tak menjawab, dia turun dan duduk di lantai. Aku mengikutinya duduk di lantai. Menanti jawabannya. Aku sungguh-sungguh penasaran, apakah ada secuil kecil perasaannya yang menyala untukku?


“Kau lihat gambar itu, Kak?” Kalila menunjuk gambar yang ia turunkan dari dinding luar. Gambar yang ku cari tadi sore.


“Iya, kenapa dengan gambar itu?” tanyaku heran. Apa hubungannya perasaan dengan sebuah gambar?


“Aku punya ratusan gambar yang sama, walaupun posenya berbeda, namun semuanya sama. Mereka tidak punya wajah.” Kalila menarik lututnya mendekat.


“Oh.., lalu?”


“Itu dirimu, Kak.” Kalila tersenyum padaku.


“Maksudmu?” aku terheran-heran, aku tak mengerti maksudnya. Gambar itu diriku?


“Sekuat apapun aku mencoba untuk mengingatmu, aku tak pernah bisa mengingatmu, Kak. Mengingat wajahmu.”


“Kalila?”


“Kau adalah Muse yang tak sempurna dalam setiap goresan tanganku, Kak.” Kalila memandangku, matanya berkaca-kaca.


“....” aku terdiam tanpa kata.


“Walaupun aku memiliki rasa padamu, nyatanya rasa itu tak pernah bisa melengkapi gambar dirimu dalam hatiku.”


“Maksudmu kau tak akan pernah bisa mencintaiku?”


“Iya, Kak. Dunia kita berbeda.”


“Kalila..!” Aku menekan pengucapan namanya.


“Kumohon, Kak. Rasa sakit itu membekas begitu dalam.” Kalila menitikkan air matanya.


Aku tahu hatinya pasti terluka, aku tahu jiwanya juga pasti sesakit jiwaku. Tapi aku tahu jauh di dalam hatinya dia juga mencintaiku. Dia hanya tak bisa mengekspresikannya, dia tak bisa mengungkapkannya.


“Kalila.. kumohon. Jangan begini, aku tahu aku salah. Harusnya aku mencarimu dari dulu.” Aku memeluk tubuhnya.


“Kita tak ditakdirkan untuk bersama.” tolak Kalila.


“Tidak, aku akan melengkapinya. Aku akan menjadi Muse yang sempurna untukmu. Aku mencintaimu, Kalila!”


Aku menyelipkan tanganku di belakang tengkuknya. Membuatnya memandang kesungguhanku akan dirinya.


“Aku mencintaimu!!” lirihku.


Tanpa meminta izin Kalila aku mencium bibirnya. Meluumat bibirnya yang merekah merah. Manis, hangat, dan sedikit basah.


Rasa manis yang ku rindukan...


Rasa manis yang ku dambakan...


“Kalila..., aku menginginkanmu.”


— MUSE S2 —


VOTE MUSE!!!


Join eventnya.. masih sampai tanggal 15 Mei 2020..


Lalu Dapatkan hadiahnya..


3 orang voter terbanyak...


Yyyeeee......


Like dan comment ya..


❤️❤️❤️


I lap yu readersku..


Maacihh...