
MUSE S5
EPISODE 40
S5 \~ AKU MENCINTAIMU
\~ Air mata haru menetes dari sudut mataku. Cairan sebening kristal itu terus turun. Membuatku sesunggukan karena tak mampu menahan luapan rasanya.\~
__________________
LUCAS POV
“B4jingan sepertimu tak pantas mendapatkan cinta dari gadis sebaik Bella!” Pria botak ini mengumpatiku.
“Tahu apa kau??!!!” Sialan, tahu apa dia tentang hubunganku dan Ella. Kenapa dia menghakimiku seperti ini?!
Aku hendak memukulnya lagi, namun tiba-tiba sebuah suara membuatku mengurungkan niat!!
“Hentikan!!”
Kupandang ke arah suara itu. Seorang laki-laki dengan rambut berwarna pirang berlari. Caranya berlari cukup gemulai. Ia langsung bergegas memeluk pria botak seakan ingin melindunginya.
“Siap kau? Kenapa menghajar kekasihku?!” tanyanya dengan wajah garang.
Tenyata mereka pasangan g*y. Ah, lelucon apa lagi ini?! Aku hanya ingin mengetahui keberadaan Bella, kenapa harus melihat drama seperti ini?! F*ck!
“Katakan di mana, Ella? Alamat rumahnya?? Di mana dia berada saat ini?!” Aku berganti mencengkram kerah baju pria pirang.
“Siapa kau?”
“Dia pria yang menghamili Bella, Will.”
“What!!! Kau pria b4jingan itu?!” ucapnya dengan intonasi setengah bertanya setengah mengumpat.
“Benar aku dulu tak bisa menjaga, Ella. Tapi kini aku akan menjaganya dan melindunginya,” ucapku.
“Ya Tuhan, Bella. Kenapa nasibmu buruk sekali, Nak,” lirihnya.
“Apa maksudmu, Hah??”
“Sudahlah!! Aku akan cerita semua tentang Bella.”
“Will!!!”
“Sudahlah, Mark. Aku lebih tak bisa kehilangan dirimu. Bella pasti juga akan memakluminya.”
“Sudahi dramanya!! Cepat katakan di mana Ella?!” Aku menaikan nada suara, membuat otot leherku menegang.
“Antarkan Mark ke rumah sakit terlebih dahulu!” Pria ini mengajak negosiasi denganku.
Aku terdiam sebentar, matanya menatap tajam ke arahku. Kami saling menatap sesaat sebelum akhirnya aku menyerah karena tak ada pilihan. Mereka adalah kunciku menemukan Bella. Aku tak bisa menunggu sampai besok malam di club ini lagi.
“Baiklah, Mile siapkan mobil.”
“Baik, Tuan.”
•
•
•
Jam telah menunjukan pukul 4 dini hari saat dokter selesai menangani si pria botak. Si pria pirang keluar dari IGD dengan wajah tertekuk masam dan memandang nanar ke arahku!!
“Ck, kau membuat kekasihku menderita!! Kenapa kau hobi sekali membuat orang menderita, hah???” tanyanya dengan geram.
“Aku tak punya waktu untuk basa basi!! Katakan di mana, Ella?”
“Siapa namamu? Aku William, pelatih Bella. Yang kau hajar namanya Mark, bodyguard sekaligus manajer, Bella. Apa menurutmu Bella tak akan marah saat tahu kau menghajar Mark?!” William melipat tangannya di depan dada.
Aku tak menyangka bahwa mereka punya hubungan yang begitu dekat dengan Bella. Pantas saja Mark tak mau menerima uang dariku, kalau bodyguard biasa pasti akan memilih sejumlah uang dari pada keselamatannya menghilang.
Aku menghela napas panjang mengatur emosi, “maafkan aku.”
“Siapa namamu?”
“Lucas.”
“Ah, Lucas, kau benar-benar tampan,” ujarnya, entah kenapa aku merinding saat pujian itu terdengar dari mulutnya.
“Di mana, Ella?! Apa kau sengaja mengulur waktu agar Ella bisa kabur lagi?” cercaku.
“Huft ... kenapa kau terlalu curigaan sih? Lelaki harus tenang, agar bisa berpikir jernih.” William mengelus dadaku, aku menampik tangannya.
“Hah, dasar pria kasar,” ledeknya.
William berjalan pada mesin pembuat kopi otomatis, ia memasukkan koin dan membeli dua buah cup. Memberikan satu padaku, aku melihatnya sebentar, William memberi kode agar aku menerimanya. Akhirnya aku menerima kopi itu, mengikuti kemauan si pria gemulai ini.
“Minumlah selagi panas, Lucas. Tenangkan dirimu.” William duduk, melipat kakinya dan menikmati kopi.
“Sungguh aku tak punya waktu untuk hal ini, aku ingin segera bertemu dengan, Ella,” ujarku sebal.
“Lucas, aku akan memberi tahumu seputar kehidupan yang dijalani Bella selama ini. Aku juga akan memberi tahumu di mana alamat rumahnya. Tapi ... (hela) aku harap kau meninggalkannya,” tutur William.
“Kau gila?! Aku tidak akan meninggalkan, Ella!! Dia milikku, sampai kapan pun akan menjadi milikku?!” tukasku geram.
“Lalu kenapa kau tidak seperti ini empat tahun yang lalu?! Dia dulu sangat menderita!! Bella sudah bahagia sekarang!! Apa kau mau merusak kebahagiaannya lagi??!” William menaruh kopinya.
“Kebahagiaan Ella adalah aku!”
“Puft ...! Dasar pemimpi.” William menghinaku.
“Kesabaranku bisa habis!! Cepat katakan padaku.” Aku bangkit.
“Baiklah, akan aku tuliskan alamat rumah Bella. Tapi ingatlah Lucas, bagaimana pun Bella lebih baik tanpa kehadiranmu.”
Ngomong apa dia?? Bella adalah milikku, dia mencintaiku, bahkan sampai rela mati untukku. Bagaimana bisa dia lebih baik tanpaku?!
“Ini. Terima kasih sudah membayar tagihan rumah sakit. Sampaikan permintaan maafku pada Bella karena terpaksa mempertemukanmu dengannya.” William menepuk pundakku dan berlalu pergi.
Sungguhkah, Ella? Sungguhkah kau tak lagi mencintaiku?
— MUSE S5 —
“Ella!! Buka pintunya!! Ella!!” Aku menggerdor pintu rumah Bella keras-keras. Aku bahagia berhasil menemukan alamat Bella, dan aku ingin segera menemuinya.
Dia pasti akan menyambutku dengan luapan rasa yang tak kalah bahagia. Dia pasti akan langsung menghambur masuk ke dalam pelukanku. Dia pasti langsung menciumku, mengatakan beribu kata cinta dan aku akan mengatakan beribu kata rindu.
“Ella!!” tak ada jawaban. Lampu di seluruh rumah itu gelap, hanya lampu teras yang menyala.
“Tuan sepertinya dia tidak di rumah.” Miller yang baru saja mengelilingi rumah berbisik padaku.
“Ah, shit!!” umpatku geram.
“Kita tunggu di mobil saja, Tuan. Anda beristirahatlah, saya akan berjaga dan membangunkan anda saat Nona Bella kembali.” Miller memberiku pilihan, memang benar saat ini fajar sudah hampir menyingsing dan aku sama sekali belum menutup mata barang sekejap pun. Rasa bahagia yang membuncah membuatku lupa beristirahat.
“Baiklah.” Aku menuruti kata-kata Miller. Mecoba tertidur di dalam mobil.
•
•
•
“Tuan!! Tuan Lucas!! Bangun!!”
“Hem?? Ada apa, Mile?”
“Maaf, saya meninggalkan mobil sebentar untuk membeli kopi. Begitu kembali ada beberapa pria berjas turun dan berjaga di depan rumah Nona.”
“Apa katamu?” Aku bergegas bangkit dan keluar dari mobil.
“Hanya satu orang yang membuka paksa pintu dan masuk ke dalam, sepertinya pemimpin mereka.”
“Sialan!!” Aku mengambil knucle dari dalam dashboard. Aku biasa mengenakannya untuk menghajar musuh-musuhku. Tak ada salahnya berjaga-jaga. Aku akan menghajar orang yang menyakiti Bella.
“Totalnya ada 5 orang termasuk pria itu, Tuan.”
“Apa aku bisa menyerahkan anak buahnya padamu, Mile?”
“Tentu saja, Tuan.” Miller menyeringai, anak ini memang kelainan jiwa! Hobinya bertarung tak bisa dibendung, sikap dinginnya membuatnya semakin kejam saat berhadapan dengan lawannya.
“Ayo!”
Miller membuka jalan untukku sedangkan aku bergegas masuk ke dalam rumah. Ternyata benar, seorang pria tengah menyakiti Bella!! Sialan!!
Aku menarik rambutnya sekut tenaga, memukul wajahnya dengan kepalan tanganku yang berhiaskan senjata tumpul. Tanpa ampun aku menghajarnya, membabi buta saat melancarkan serangan ke seluruh tubuhnya. Pria itu melawan, namun hanya berhasil memukul wajahku satu kali saja. Aku bertambah geram, aku ingin menghabisinya. Ingin membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri.
“Tuan Lucas!! Berhenti! Dia bisa mati!!” Miller menghentikanku.
“Lepaskan aku, Mile! Aku memang ingin membunuhnya!”
“Prioritas kita adalah Nona Bella.”
“Ella?!! Kau benar!! Ella?!” Aku langsung menghampiri tubuh Bella yang tergeletak lemas tak berdaya. Bella hanya berbalutkan handuk putih.
“Ella!! Bangun, Sayang!” Aku mengelus wajahnya lembut.
“Lucas ...?” lirih Bella sebelum ia jatuh pingsan.
“ELLA!! Ella??!!” Aku memanggil namanya agar dia sadar.
“Mile ambil mobil!!”
“Baik, Tuan.”
Aku mengambil selimut, menyelimutkannya pada tubuh indah Bella. Tanpa ragu aku membopongnya masuk ke dalam mobil dan membawa Bella ke hotel tempatku menginap.
“Hubungi dokter, Mile! Suru ke hotel secepat mungkin.” Perintahku panik.
“Baik, Tuan.”
“Ella!! Ella!!”
•
•
•
Beruntung tak ada cidera serius pada kepala Bella. Ia hanya syok dan ketakutan sampai kehilangan kesadaran. Aku mendengus lega, tak pernah terbesit sedikit pun dalam benakku akan seperti ini pertemuan kami. Aku terus menjambak rambutku geram, aku harus menemukan orang itu dan melenyapkannya, memastikan bahwa dia tak akan pernah kembali lagi membahayakan kehidupan Bella.
“Mile coba kau suru anak buah menyelidiki orang itu! Ada tatto harimau di tangan kirinya. Sepertinya dia juga berasal dari dunia gelap seperti kita.”
“Baik, Tuan.”
Sepeninggalan Miller aku kembali memandang wajah cantik Bella yang tertidur pulas karena pengaruh obat penenang. Aku mengelus wajah cantik itu, dia terlihat semakin dewasa. Aku mengusap bibirnya yang sensual dengan ibu jariku, membuat Bella menggeliat pelan.
Aku tertawa kecil, aku sangat bahagia bisa bertemu lagi dengannya. Bahkan jantungku terus berdebar cepat, desiran halus membuatku geli, aku tak pernah menyangka puncak dari rasa rindu akan membuat tubuh kita terpacu karena indahnya rasa dari sebuah pertemuan.
“Ella, aku merindukanmu, sayang. Sangat!” Aku mengecup pelan bibirnya.
Cepatlah sadar, Ella. Aku akan memelukmu dan menghujanimu dengan luapan cinta.
Ceritakan padaku semua tentangmu, Ella. Bagaimana dengan anak kita? Apa dia bisa terlahir ke dunia ini? Apakah dia tumbuh besar dan sehat? Apa dia mirip dengamu? Atau mungkin mirip denganku? Di mana dia sekarang?
Ah, berbagai pertanyaan terus menerus muncul dalam benakku, Ella.
Aku ingin tahu semuanya, aku ingin mendengar semuanya, aku ingin merasakan semuanya bersamamu. Aku ingin mengganti masa empat tahun yang terhilang, Ella.
Air mata haru menetes dari sudut mataku. Cairan sebening kristal itu terus turun. Membuatku sesunggukan karena tak mampu menahan luapan rasanya.
Sungguh aku mencintaimu, Ella.
— MUSE S5 —
Yo Muse up
Ayo di vote yang banyak.. ntar crazy up
😘😘😘