
MUSE S7
Episode
S7 \~ RENCANA FAREL
Farel bertanya, pertanyaan yang sungguh menggelitik hati Leoni. Tentu saja Leoni tidak rela jadi ia bergeleng.
________
Leoni melirik ke arah Farel. Teman masa kecilnya dan juga mantan sahabat Levin itu terlihat gembira. Setelah beberapa tahun tak terdengar namanya, Farel tiba-tiba menampakan diri di kampung halaman.
Pemuda itu kini terlihat jauh lebih tampan dan bersih. Mungkin karena sekarang ia tak lagi mengalami kesulitan ekonomi. Cara berpakaian Farel juga jauh lebih rapi, tak lagi serampangan seperti saat dulu menjadi preman dan geng motor.
“Kau banyak berubah.” Leoni menyenggol lengan Farel.
“Yah, kalau masih gitu-gitu saja itu namanya aku orang bodoh.” Farel menghela napas, beruntung ia lekas tersadar. Farel mulai berubah saat melihat kemenangan pertama Levin di ajang motor balap. Bukan salah Levin ia tidak lolos dalam seleksi, Levin memang benar-benar hebat. Ia sangat berbakat. Farel tak boleh menjadi pecundang dengan menyalahkan Levin, ia harus bangkit, berubah untuk maju dengan bakat yang ia miliki.
Sejak dulu Ayah, Kakak, dan juga dirinya menggeluti jasa montir dan pengalaman Farel cukup hebat dalam hal itu. Farel banyak mengikuti lomba-lomba modifikasi motor, lama kelamaan ia punya banyak relasi, banyak penghargaan, banyak dukungan, dan bahkan banyak uang. Farel menunjukan bahwa ia bisa menjadi manusia yang hebat, bukan lagi pecundang seperti dulu.
“Kau hebat, Rel.” Pujian Leoni membuat wajah Farel menghangat. Well, tak dipungkiri Farel pernah menaruh hati pada Leoni. Dan saat ini pun belum ada gadis lain yang mengisi hatinya.
“Masa sih? Nggak sehebat Levin juga kali.” Farel menggaruk kepalanya canggung dengan pujian Leoni.
“Yah, Levin memang hebat. Aku sampai khawatir kalau kehebatannya itu akan membuatnya celaka. Aku tidak ingin ia terluka di area balap dan meninggalkanku sendiri. Aku kini sadar, bahwa itu hanyalah keegoisanku, Rel. Aku yang terlalu ketakutan akan kehilangan dirinya. Aku tidak memikirkan perasaan Levin dan hanya peduli dengan perasaanku.” Leoni pun melemaskan bahunya menyesal. Penyesalan yang tiada akhir karena keegoisannya membuat Levin kini menjauh.
“Tapi Levin kan benar-benar mencintaimu.”
Farel terkikih, baginya tatapan mata Levin tak menyiratkan perasaan apa pun pada Johana. Levin pasti masih mencintai Leoni, hanya saja harga dirinya sebagai pria mungkin terusik karena Leoni selalu mengomel dan meminta putus tiap kali mereka bertemu.
“Apa kau mau aku membantumu??” tanya Farel.
“Membantuku??” Leoni melirik ke arah Farel, pemuda itu mengangguk.
“Aku akan membantumu mencari tahu apa kah Levin masih mencintaimu atau tidak, Singa.” Farel merangkul Leoni dan berbisik, “pura-pura saja pacaran denganku. Kau tunjukkan pada Levin kalau kau juga bisa bahagia tanpa dirinya. Kalau dia marah itu berarti dia masih mencintaimu.”
“Hah?? Serius?? Jangan ah … aku nggak mau membuatmu repot.” Leoni bergeleng.
“Santai saja, Singa. Toh aku akan ada di kota ini sampai satu bulan ke depan. Aku harus mengurus cabang bengkel baruku.” Farel menepuk pundak Leoni.
“Tapi …” Leoni ragu.
“Bukankah sebentar lagi Levin akan kembali ke Spanyol? Sungguhkah kau akan menyerah akan cintamu dan membiarkan gadis itu memiliki Levin??” Farel bertanya, pertanyaan yang sungguh menggelitik hati Leoni. Tentu saja Leoni tidak rela jadi ia bergeleng.
“Nah, kalau begitu kau bisa memanfaatkan aku sesukamu. Anggap saja balas budiku karena kau pernah menolong ayahku.” Farel mengusik pucuk kepala Leoni sampai rambutnya berantakan.
“Eum …. Baiklah. Aku akan mencoba rencanamu.” Leoni mengangguk. Tak ada salahnya di coba. Kalau ucapan Farel benar, Levin masih mencintainya tentu saja Leoni harus mengejar cintanya kembali, bagaimana pun caranya.
“Masa iya aku kalah licik dari Johana!!” Leoni bergumam. Ia kesal mengingat kelakuan lacnut Johana yang sampai tega memfitnahnya di depan Levin. Awas saja, Leoni pasti membalasnya!!
...— MUSE S7 —...