MUSE

MUSE
CINTA ITU MANIS



MUSE


EPISODE 19


CINTA ITU MANIS


~Rasa manis yang dulu pernah terasa kembali memenuhi indra pengecap di bibir dan lidahku.~


“Alex kau akan ke kampus?” tanya Amanda di sela-sela sarapannya. Entah ada angin apa hari ini dia mengajakku sarapan.


“Iya,” jawabku, aku masih melihatnya menikmati semangkok bubur ayam.


“Kau nggak makan?” Amanda tersenyum. Aku menggelengkan kepalaku sebagai jawaban atas pertanyaannya.


“Kau mengajakku keluar nggak takut ketahuan suamimu?”


“Aku bisa bilang kamu adik tingkat yang kebetulan bertemu.” Amanda terlihat santai.


“Apa dia masih sering memukulmu?”


Amanda menghentikan suapannya, mungkin pertayaanku membuatnya langsung kehilangan selera makan.


“Masih.” Amanda kembali menyendok bubur dari mangkuknya.


“Kenapa masih bertahan? Walau cintapun harusnya kau nggak akan sampai sebodoh ini.”


“Itu dia, Lex. Cinta membuatku terlalu bodoh. Aku sendiri benci dengan diriku.” Amanda mulai menitikan air mata.


Aku mengelus lembut punggung tangannya, “maafkan pertanyaanku.”


“Kita lebih baik menghentikan hubungan ini.”


“Kenapa? Bukankah kau bilang kau masih mencintaiku?” wajahnya berubah sedih.


“Jangan egois Amanda! Walaupun aku masih mencintaimu tetap saja kau nggak bisa memperlakukanku seperti ini.” Aku sedikit sebal.


“Tolong jangan ungkit hal ini lagi, Lex. Aku nggak bisa kehilanganmu juga.”


“Oke aku diam. Sekarang selesaikan makanmu.” Aku menyerah. Melihat tingkah rapuh Amanda selalu membuat hatiku goyah.


Sudah lama aku ingin mengakhiri hubungan konyol ini. Tapi melihatnya menangis selalu membuatku nggak bisa move on.


“Aku sudah kenyang.”


Amanda bangkit dan membayar makanannya. Dia bahkan tak melambaikan tangan kepadaku dan pergi begitu saja.


“Wanita memang rumit.” Aku menghela nafas dan menjambak pelan rambutku.


—MUSE—


Shift kerja sambilanku selesai lebih awal, aku meminta Elois menggantikanku beberapa jam. Hari ini aku berjanji untuk pergi dengan Lenna ke festival kesenian di kampus. Aku menunggu Lenna di depan air mancur, tempat pertama kali aku mengobrol dengannya.


“Lenna.” Aku memanggil Lenna yang kebingungan mencari keberadaanku.


Dia nampak cantik dengan dress selutut berwarna biru langit, gambar bunga tulip di bagian bawah membuat dress itu semakin cantik.


“Kau mau berjalan-jalan dulu atau langsung bersiap?”


“Hmm.. mungkin langsung bersiap saja.” Lenna menjawab dengan antusias.


“Kau mau pake tema apa?”


“Biasanya seperti apa?”


“Binatang? Abstrak? Sensual?”


“Fairytail bagaimana? Bisakah aku menjadi seorang peri?”


“Boleh juga, cocok dengan imagemu.” Aku tertawa mendengarnya, seperti impian seorang anak kecil.


“Itu impianku saat kecil.” Aku terkikih karena dugaanku ternyata benar.


“Hahahaha.. ayo kita wujudkan.” Aku menggandeng tangan Lenna.


Banyak orang yang melirik ke arah kami, mereka pasti melihat Lenna. Dia memang selalu mengundang lirikan semua orang karena keadaannya. Tapi aku melihatnya sangat cuek, hal itu membuatku lega. Lega karena dia baik-baik saja.


“Kita mau ke mana?”


“Ke apartemenku.”


“Hah???”


Kami sampai di apartemen no 1405, sebuah studio milikku. Aku mempersilahkan Lenna untuk masuk ke dalam. Setelah menaruh tas dan sepatu aku masuk kepantryuntuk membuat teh panas.


“Gula?”


“Sedikit saja.


“Ini.” Aku memberikan secangkir teh padanya.


“Terima kasih.”


Mata Lenna jelalatan ke seluruh bagian apartemen, sesekali kembali menunduk untuk menikamati secangkir teh panas di tangannya. Pandangannya tampak berhenti pada sebuah benda. Fotoku dan Amanda saat kelulusan SMA Amanda. Foto itu selalu dipasang oleh Amanda sebagai pengingat hubungan kami.


“Len.. Lenna.” Aku memanggilnya beberapa kali.


“Ah..iya..” Dia tersentak sadar.


“Kamu ngelamunin apa?”


“Aku ngelihat foto itu. Pacarmu?”


“Dulu iya, sekarang hanya teman.”


“Ow gitu.”


Mana mungkin dia akan percaya, tapi memang sekarang aku bertekat untuk melepaskan diri dari Amanda. Hubungan kami adalah hubungan penuh dosa yang seharusnya nggak pernah terjadi.


“Entahlah, aku rasa perasaan itu sudah lama menghilang.” Aku menundukan kepala dan mengambil foto itu, melihatnya sebentar dan memasukannya kedalam laci nakas.


“Kau mau berganti pakaian?” Aku mencari cara agar pembicaraan ini teralihkan.


“Iya.”


Lenna keluar dari kamar mandi sudah berganti dengan tank top putih dan celana ketat pendek dengan warna senada. Wajahnya tertunduk dan merona merah, Aku memalingkan wajahku mencoba menghindari kemolekan tubuh Lenna.


“Apa kau merasa tidak nyaman?” Aku mengelus punggung tangannya agar tidak terlalu kikuk.


“Sedikit.”


“Kalau kau nggak nyaman nggak usah ikutan contes.” Aku nggak ingin orang lain melihat tubuh Lenna.


“Aku ingin ikut.” Lenna membalas tatapanku.


Lenna memandangku dengan mata yang berbinar, antusias dan percaya diri kembali keluar dari dalam dirinya. Aku menyerah, toh aku juga nggak punya hak untuk melarangnya mengikuti kontes ini. Aku mengambil beberapa kuas, cat warna, air, dan beberapa perlengkapan lainnya dari lemari. Kemarin aku sengaja membeli beberapa cat untuk body painting ini.


“Aku pakai tinta yang khususbody paint, jadi kemungkinan alerginya berkurang.”


“Terima kasih, Lex.”


“Kemarilah.” Aku menarik tangannya.


Lenna sedikit merasa geli saat ujung-ujung kuas menyentuh kulitnya, terlihat dari senyum-senyum kecil di wajahnya.


“Kenapa senyum-senyum?”


“Geli.” bisik Lenna.


Aku menyentuh punggung Lenna yang tertutup rambut, sentuhanku membuat punggungnya bergetar karena kaget.


“Maaf aku menyibakkan rambutmu,” kataku pelan.


“Oh aku bisa menguncirnya.” Aku membantu Lenna mengikat naik rambutnya ke atas. Memamerkan lehernya yang jenjang.


Aku menelan ludah beberapa kali dan menahan diriku. Aroma manis yang keluar di balik lehernya membuatku terangsang. Sialan..! Bagaimanapun aku laki-laki normal.


Aku melingkarkan tanganku di perutnya yang ramping. Lenna tersentak kaget karena tiba-tiba aku melakukan hal ini. Aku mencium pundaknya yang terbuka, menghirup aroma manis yang terus keluar dan membiusku, aroma itu menghilangkan akal sehatku.


“Lenna. Maaf, aku nggak bisa menahannya.” Aku berbisik pelan di telinganya.


“Apa yang nggak bisa kau tahan?”


Aku hanya diam, tak melepaskan bibirku dari pundaknya. Aku menikmatinya, Lennapun memejamkan matanya menikmati hisapan lembut dari bibirku.


“Len.. Bolehkah aku menciummu?” Aku memutar badannya, kini kami berhadap- hadapan.


Lenna mengangguk pelan.


Ake mengangkat wajahnya dengan kedua tanganku, menyelupkannya di belakang telinga. Aku mencium bibirnya lembut. Rasa manis yang dulu pernah terasa kembali memenuhi indra pengecap di bibir dan lidahku.


“Alex aku nggak bisa bernafas.” Lenna mendorongku sedikit menjauh.


“Maaf.”


“Kenapa kau terus meminta maaf?”


Aku kembali mendekat i wajahnya, dahi kami bersentuhan. Aku kembali menciumnya, kini temponya semakin cepat, semakin panas dan menggebu-gebu.


Aku mendorong tubuh rampinnya di atas kasur. Cat warna berserakan di bawah karena jatuh tersenggol.


“Kau mau melanjutkannya?” tubuhnya tepat berada di bawahku. Tangankupun masih mengunci kedua pergelangan tangan Lenna.


“Alex.” tintihan pelan Lenna terdengar saat aku mulai mencium bagian belakang telinga dan lehernya. Aku sangat menyukai saat dia memanggil namaku pelan.


“Tolong tolak aku Lenna! Atau aku akan meneruskannya.” Aku membuang muka, aku tak sanggup melihat wajahnya yang cantik. Aku pasti akan kehilangan akal sehatku kalau kembali melihatnya.


Aku menunggu..


Tapi tak ada jawaban yang keluar dari mulut Lenna.


“Maafkan aku.” Aku beranjak dari tubuh Lenna. Dengan sisa pengendalian diri aku mencoba beranjak dari atas kasur.


“Jangan meminta maaf.” Lenna menangkap pergelangan tanganku, tangannya dingin dan berkeringat.


“Aku mau.. Aku mau merasakanmu.. Aku mau merasakannya..” Lenna tertunduk malu.


—MUSE—


Free talk ><


Halooo..


MUSE sudah sampai episode 19


Terimakasih sudah membacanya.


Saat ini saya masih bingung akan menjodohkan Lenna dengan siapa?


Julius yang ganteng, atau Alex yang imut?


Julius dengan kameranya, atau Alex dengan lukisannya?


Kalau kalian pilih yang mana?


Lewat cerita ini saya pribadi ingin menyampaikan supaya kita tidak hanya melihat orang dari kekurangannya saja (dalam hal ini fisik). Mungkin saja orang yang punya kekurangan di satu sisi, punya banyak kelebihan di sisi lainnya ^^


Love, Fav, dan comment ya readers


❤️❤️❤️❤️❤️


Trimakasih, salam sayang ^^