
MUSE S7
EPISODE 19
S7 \~ MENGALAHLAH
teriakan wanita itu langsung di sambut lesatan ke empat motor balap. Dalam sekejap mata keempatnya memacu kuda besi, masuk dalam lingkaran berpasir merah. Mengusahakan 20 putaran sebelum akhirnya keluar menjadi sang juara.
________________
Leoni berjalan perlahan, menyelusuri trotoar jalan menuju ke perumahan elit. 15 menit berjalan kaki mereka akan sampai pada rumah masing-masing.
"Minggu Depan Farel bertanding," kata Leoni, ucapannya itu langsung menyita perhatian Levin.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Levin heran. Sekali lagi, Farel bahkan tak memberitahukan padanya.
“Kemarin malam Farel ke rumahku.”
•
•
•
Semalam Farel datang berkunjung ke rumah Leoni.
"Hei!" sapa Farel begitu Leoni keluar dari dalam rumahnya.
"Hai!" sapa balik Leoni.
Angin basah membuat kulit wajah terasa lengket, hujan baru saja berhenti dan membuat angin menjadi dingin dan lembab. Farel menyempatkan diri mengunjungi Leoni setelah seharian berlatih. Mereka duduk berdua pada teras rumah.
"Di mana Papa dan Mamamu?" tanya Farel.
"Mama baru syuting di dalam, papa pergi ke Jepang sampai awal minggu depan." Terang Leoni.
"Ow, begitu. Kau pasti kesepian karena anak tunggal."
"Nggak juga sih, aku punya banyak kakak sepupu. Walaupun tinggal jauh tapi mereka sering Video call atau menelepon. Kami juga punya grup chat sendiri." Cerita Leoni antusias.
"Aku juga punya seorang Kakak, yang cerewet nya jauh melebihi emak-emak komplek." Farel terkikih.
"Kak Firza cerewet? Masa sih? Kelihatannya pendiem kok." Leoni terkikih, setengah tak percaya, memang tampang Firza terlihat kalem dan selalu cool.
"Semenjak Ibu pergi dari rumah kakak adalah penganti ibu. la melakukan segala macam pekerjaan rumah. Mulai dari memasak, mencuci baju, sampai menjahit bajuku yang robek. Padahal dia adalah anak lelaki, tapi jauh lebih rajin dari pada perempuan. Kak Firza juga membantu ayah di bengkel.Karena hal ini, Kak Firza akhirnya memutuskan putus sekoh dan membantu ekonomi keluarga. Kak Firza juga menjadi seorang riders balap motor liar agar aku bisa melanjutkan sekolah." Farel menghentikan ceritanya.
"Pasti kehidupan kalian sangat berat. Anda saja aku bisa membantumu, Rel." Leoni menatap wajah sendu Farel.
"Ah, ya. Minggu depan aku akan bertanding, apa kau mau datang untuk melihatnya?"
"Hei jangan di tanya, tentu saja aku akan datang. Mendukungmu di garis terdepan." Angguk Leoni.
"Aku pasti memenangkan pertandingan ini dan menarik perhatian pria itu, Leoni. Aku tak boleh menyia-yiakan apa yang telah Kak Firza lakukan untukku. Aku harus membuatnya bangga, membuktikan bahwa ini bukanlah pilihan yang salah. Dia terus mendesakku untuk melanjutkan sekolah dan melupakan masalah menjadi pembalap profesional." Farel tersenyum tipis.
"Kau pasti menang, Farel, kau punya bakat." Leoni menepuk pundak Farel, menyalurkan kekuatan dan semangat.
Farel tersenyum hangat, wajahnya terlihat cukup tampan bila sedang normal begini. Kalau sedang tengil, ingin rasanya Leoni menonjok Farel, sama seperti saat bersama Levin. Lagian mereka berdua pada dasarnya mirip, cuma bedanya kulit Farel sedikit gelap dan kecoklatan sedangkan Levin putih. Lalu otak Levin pintar dari sananya, sedangkan Farel jongkok sejak orok.
Selain rambutnya yang berwarna pirang macam buceri —bule cet sendiri. Ada dua percing pada telinga Farel, membuat cowok ini terlihat benar-benar mirip bad boy sejati.
•
•
•
“Jadi begitu ceritanya, Vin. Kasihan si Farel, padahal anak seusia kita lagi seneng-senengnya main dan belajar. Tapi karena beban keluarga dia harus mengalami semua itu.” Leoni berjalan di samping Levin, sedikit menunduk karena silau dengan sinar matahari.
“Ya, kalau yang dilakukan Farel ini pilihan hidupnya sendiri, bukan beban keluarga, jadi kita nggak bisa bilang kasihan, Singa. Kita cukup berdoa buat kebaikkan Farel, semoga saja dia menang dan berhasil menarik perhatian pria itu.”
“Bener. Semoga Farel menang. Ah, Aku jadi ikutan berdebar.” Leoni menekan dadanya.
Levin terdiam selama sisa perjalanan mereka sampai ke depan rumah Leoni.
“Lusa aku jemput, ya.” Levin menawarkan dirinya menjemput Leoni melihat pertandingan Farel minggu depan.
“OKE.”
“Tapi naik sepeda saja, soalnya Papa sudah balik dari Jepang. Bisa dibunuh kita kalau ketahuan naik motor dia lagi.” Leoni berbisik.
“Baiklah, aku juga akan memberi kabar pada Bryan dan Chiko. Mereka juga pasti senang bisa mendukung Farel.”
...— MUSE S7 —...
Tak terrasa waktu begitu cepat berlalu. Hari ini adalah pertandingan Farel. Mereka berempat juga telah hadir, mendukung sahabat tercinta.
Sama seperti biasanya suara hiruk pikuk dan saling sahut terdengar riuh. Para pedagang makanan ringan berkeliling. Bengkel-bengkel ramai dengan transaksi jual beli dan juga bunyi-bunyian mesin motor. Beberapa api unggun juga menyala di titik-titik tertentu, lidah api seakan menjilat-jilat angkasa dengan anggun. Api itu memberikan kehangatan pada area di sekitarnya.
“Hai!!” Farel tak percaya, Leoni benar-benar datang.
“Kami mendukungmu.” Leoni mengepalkan tangan di depan dada.
“Kenapa kau hanya memberi tahu Leoni? Kenapa tidak memberitahu kami?” cerca Bryan.
“Aku malu kalau kalah.” Farel tertawa.
“Memangnya kau tak malu saat kalah di depan Leoni?” sergah Levin.
“Tidak, karena aku tak akan kalah di depannya.” Wajah Farel menghangat, Levin tertegun. Sejauh itukah perasaan Farel pada Leoni saat ini?
“Kalian ngomongin apaan?” Leoni mendekat, ikut nimbrung.
“Nggak kok.”
Bryan dan Chiko menatap ketiganya, kini mereka sudah bisa menebak kalau akan ada cinta segi tiga di antara mereka.
“Dek!! Sudah saatnya.” Firza masuk ke dalam tenda bengkel, memanggil Farel.
Suara sirine meraung-raung sebagai tanda pertandingan akan segera dimulai. Farel tersenyum pada Leoni dan Leoni membalasnya. Dada Levin bergejolak saat menyaksikan hal itu, sungguhkan Levin cemburu pada sahabatnya sendiri?
“Ayo, Vin!!” Bryan memanggil Levin yang berdiri kaku di tempatnya. Tak bergeser sedikitpun padahal teman-temannya yang lain sudah berlari menuju ke belakang pagar penbatas.
“I—iya,” jawab Levin lantas berlari.
Semua motor menderu-deru, ada tiga riders yang telah bersiap termasuk Farel. Mereka mengenakan pakaian balap sesuai dengan warna motor masing-masing.
Manusia membanjiri area di belakang pagar pembatas. Para pendukung masing-masing riders telah bersiap memberikan sorak dan taruhan. Teman-teman Levin sudah memutar jaket untuk menyemangati Farel. Di samping mereka ada Ayah dan Kakak Farel. Lalu juga pria berjas hitam.
“Hallo, Boy!” Sapa pria itu pada Levin.
“Hai.”
“Kau tidak ikut bertanding? Masih ada satu track kosong.”
“Tidak, aku menonton saja.” Tolak Levin.
“Sayang sekali, padahal aku sangat ingin melihatmu bertanding.” Pria itu memincingkan bibirnya.
Ayah Farel melirik ke arah Levin, bocah itu memang sering memenangkan pertandingannya saat adu kecepatan dengan Ke tiga temannya. Tapi hanya track lurus, ia tak pernah mengamati Levin pada track berkelok.
Ayah Farel mencoba tenang. Lagi pula tak ada yang perlu di takutkan, Farel telah latihan berkali-kali. Jatuh bangun dalam sebuah pertandingan keras bersama Firza. Farel kini telah berhasil berkali-kali mengalahkn Firza.
“Kau mau ikut, Nak?” tanya Ayah Farel.
“Ini, ikutlah! Pakai motorku.” Pria itu melemparkan kunci pada Levin. Refleks Levin langsung menangkapnya.
Levin mengalihkan pandangannya pada ketiga temannya yang lain. Semuanya mengangguk setuju kecuali Leoni. Leoni mengerutkan alisnya, ia mulai panik dan menarik tangan Levin.
“Mengalahlah, Levin. Aku tahu ini tidak adil karena kau adalah pria. Kata Papaku pria tak boleh kalah karena menyangkut tentang harga diri. Tapi ku mohon, kali ini saja. Mengalahlah untuk Farel, dia benar-benar membutuhkan sebuah kesempatan. Jangan sampai semuanya kembali pupus begitu saja.”
“Hei, belum tentu aku akan menang.” Levin menggaruk kepalanya, rasanya aneh saat Leoni menaruh nilai yang tinggi pada kemampuannya.
“Tidak, Levin. Aku tahu kau lebih hebat dari Farel. Bahkan pria itu pun tahu. Sorot matanya begitu menantikan kemampuanmu. Dia sepertinya berharap banyak padamu, bukan Farel.” Leoni tetap menggenggam tangan Levin.
“Apa sebaiknya aku tidak ikut saja?” Levin menepuk punggung tangan Leoni.
“Jangan, itu akan membuat Farel terlihat semakin menyedihkan. Tolonglah, masuk ke track namun mengalahlah pada Farel. Sekali ini saja.” Leoni menatap iba pada Levin.
“Baiklah. Aku akan melakukannya untukmu.” Levin mengangguk paham.
Tak lama Levin telah mengambil motor milik paman berjas hitam. Ia mengenakan juga helm racing dan juga jaket hodie. Hanya Levin satu-satunya riders yang tidak memakai baju balap.
“Aku hanya pengisi kekosongan, jangan pedulikan aku.” Levin berteriak pada penonton, mereka ikut membalasnya dengan sorakan panjang.
Farel menoleh, ia merasa heran karena Levin tiba-tiba ikut bertanding. Sebenarnya apa yang telah terjadi?
“ARE YOU READY RIDERS?!!” Tanya kakak cantik yang memimpin jalannya start.
“READY!!” Teriak mereka kompak.
BRUM!!! BRUM!! Bunyi kendaraan meraung-raung, sudah tak sabar melompat masuk ke dalam area balap.
Keringat membasahi pelipis Levin, begitu pula Farel. Pandangan mereka fokus ke depan. Minimnya penerangan dan beratnya kondisi lapangan mengharuskan mereka untuk tidak lengah barang sedetik pun. Begitu lengah dalam hitungan detik dan semuanya akan habis. Jatuh, tergelincir, keluar track, bahkan sampai cidera berat.
“AND GO!!!!” teriakan wanita itu langsung di sambut lesatan ke empat motor balap. Dalam sekejap mata keempatnya memacu kuda besi, masuk dalam lingkaran berpasir merah. Mengusahakan 20 putaran sebelum akhirnya keluar menjadi sang juara.
...— MUSE S7 —...
...Siapa yang menang?...
...Levin atau Farel?...
...Like...
...Vote...
...Comment,...
...Follow...