
MUSE S7
EPISODE 23
S7 \~ MI INSTAN
Tiba-tiba sebuah suara cowok menyela, membuat Leoni menoleh, Leoni tercengang melihat siapa yang ada di depannya saat ini. Salah satu temannya yang berharga, telah dua tahun berpisah mereka bertemu kembali.
____________________
(Dua tahun kemudian, kelas 3 SMP, satu bulan menuju ujian akhir SMP.)
Sudah dua tahun berlalu sejak putusnya hubungan antara Levin dan Farel. Selama dua tahun mereka lost contact. Sama sekali tidak ada kabar dari Farel. Keluarganya juga sudah berpindah, tak lagi tinggal di kota S.
Levin juga menjauhkan dirinya dari Leoni sesuai janjinya dengan Leon. Leoni merasa sebal, bahkan ketika Leoni berpura-pura terjatuh di depan Levin pun, cowok itu sama sekali tak bergeming. Dia tak menggubris kelakuan Leoni.
Leoni akhirnya menyerah untuk berbaikkan dengan Levin. Tapi hatinya terasa sangat panas saat melihat Levin bersama dengan Jesca. Perasaan menggebu yang belum sempat terutarakan itu layu begitu saja. Tak ada kesempatan untuk memulainya kembali. Entah itu terhadap Levin atau Farel, Leoni merasa ada sesuatu yang belum ia tuntas, masih banyak yang mengganjal. Menyisakkan lubang besar dalam hati Leoni.
Tapi sepertinya takdir membantu Leoni.
Siang ini sepulang sekolah, Leoni menggunggu jemputan dari Kanna, mamanya. Ia bertolah toleh sembari sesekali melirik ke arah jam tangan. Terlambat setengah jam lebih, sebenarnya Mamanya ada di mana? Lebih baik tadi pulang jalan kaki saja.
Tak lama sebuah mobil mungil berwarna merah mendarat tepat di depan Leoni.
“Mama, kenapa jemputnya siang sekali?!” gerutu Leoni, saat Kanna tiba di depan gerbang sekolahannya.
“Maaf, Mama harus jadi pembicara dalam seminar,” Kanna menautkan alis mengiba permintaan maaf pada anak gadisnya itu.
“Jangan marah, donk!”
Kanna menyowel pipi Leoni lalau merangkul pundak anak gadisnya itu. Mengajak Leoni masuk ke dalam mobil. Mobil langsung kembali melaju ke jalanan, bukannya pulang mobil malah menuju ke tempat lain.
“Kita ke mana, Ma?”
“Ayo temui calon guru les privatmu.” ajak Kanna setibanya di Pallete cafe.
“Welcome to Pallete cafe!” seru seorang lelaki tampan dari dalam ruangan, tangannya sibuk membereskan meja dan cangkir kotor, sesekali ia membetulkan letak kaca matanya.
“Mau pesan apa?” tanya wanita cantik dengan dandanan eksentrik dari balik meja kasir.
“Kau pasti Inggrid, anak tertua Kalila?” tebak Kanna.
“Benar.” Inggrid tersenyum manis.
“Pesan latte tiga dan juga cake wortel.”
“Siap, Tante.”
Setelah membayar dan menerima pesanan, Kanna duduk pada kursi sofa dan menunggu guru les Leoni dengan sabar. Tak lama pria yang membersihkan meja tadi melepaskan apronnya dan mendekati Kanna. Terlihat cukup tampan dengan kaca matanya. Tanpa ragu dia mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Kanna. Leoni sempat tak berkedip melihat pria itu.
“Keano. Guru les privat yang Anda hubungi tadi.” sapanya ramah.
“Kanna, Mamanya Leoni. Ayo sayang, jabat tanganmu!” Kanna menyuruh Leoni juga berkenalan dengan guru lesnya. Kanna kira Leoni bakalan menolak, tapi ternyata...,
“Kakak tampan sekali!! Pacaran denganku?” Leoni menulurkan tangannya, menjabat tangan Keano dengan mata berbinar. Ucapannya membuat mereka yang ada di sana syok.
Leoni melirik sepintas pada seorang remaja pria yang berdiri tak jauh dari meja bar. Siapa lagi kalau bukan Levin. Telinga Levin mendadak panas mendengar ucapan Leoni yang dengan mudahnya mengajak Keano pacaran.
“Hei cewek bar-bar!! Ngapain di sini?!” sahut Levin.
“Bertemu dengan lelaki masa depanku!!” seru Leoni, masih dengan sikap sok imutnya untuk memanasi hati Levin. Ingin tahu, sejauh mana Levin masih menaruh rasa perhatian padanya.
“Anak ini!! Ngomong apa sih?!” Kanna mengeplak kepalanya. Gadis tak tau malu, harusnya gadis bersikap malu-malu di depan cowok tampan.
“Aduh!! Sakit, Ma!” protes Leoni.
“Siapa pria masa depanmu?” Kanna syok mendengarnya.
“Dia!!” Leoni menunjuk Keano tapi matanya menatap lamat ke arah Levin. Levin juga menatap lamat pada Leoni.
“Enak aja!! Woi bocah, dia pacarku!” Inggrid merangkul pundak Keano.
“Siapa dia sayang?” tanya Kanna pelan.
“Dia Levin, teman sekelas sekaligus musuh bebuyutanku!! Masa Mama lupa sih? Baru juga dua tahun!” Leoni memincingkan matanya sampai tajam.
“Ya ampun, dia Levin??! Kenapa sekarang jadi tampan banget? Mana tinggi lagi. Ah ya ampun, jadi pengen kembali muda.” Kanna menyangga kepala, terkikih dengan tingkahnya sendiri.
Levin memang berubah, baik perawakan maupun wajahnya sudah terlihat jauh lebih dewasa. Suaranya tak lagi imut, mulai menjadi berat dan serak. Waktu dua tahun cukup mengubah fisik Levin dari bocah remaja menjadi seorang lelaki muda.
“Kapan kita mulai lesnya, Kak? Kalau bisa segera ya!!” renggek Leoni manja, sok kecentilan di depan Keano.
Apa dia sengaja sok imut di depan Kak Ken?! Menyebalkan sekali! Pikir Levin.
Levin menambah air dan kembali meminumnya. Inggrid merasa heran, Levin terlihat tidak tenang.
“Kenapa? Haus bandel? Ntar kembung minum air terus,” cela Inggrid, wajahnya terlihat geli dengan tingkah adik terkecilnya itu.
“Hish, aku pergi.” Levin menyahut tasnya dan bergegas meninggalkan area cafe, ia menaiki motor milik Nick yang dipinjamnya pagi tadi.
Sudut mata Leoni mengekor kepergian Levin. Leoni tampak kecewa, ia tak bisa membuat Levin menoleh padanya. Tapi Leoni benar-benar bahagia, walau hanya ledekkan tapi Levin mau menanggapi ucapannya.
...— MUSE S7 —...
Satu bulan menjelang tes kelulusan. Semua murid belajar dengan rajin. Tak terkecuali Leoni. Dengan nilai-nilainya yang kelewat ndelosor, mau tak mau Leoni harus mengejar ketertinggalannya. Tak hanya mengikuti les privat bersama dengan Keano. Leoni juga belajar secara mandiri.
Tak ada yang masuk!! Leoni mengetuk-ketukkan dahinya pada meja belajar. Bukannya pelajaran yang ia ingat, malah bayangan wajah Levin yang keluar.
Kenapa IQ ku jongkok sekali?? gerutu gadis itu dalam hatinya. Sudah berjam-jam ia menghapalkan buku diktat, tak ada satu pun yang tergantung dalam ingatannya, yang tergantung hanya senyuman Levin.
“Ah, istirahat sebentar. Perutku lapar.” Leoni menyahut jaket dan juga dompet di atas meja.
“Ma, Leoni pergi sebentar.”
“Mau kemana? Sudah malam hlo!”
“Mini market, mau cari camilan buat belajar.” Leoni berteriak.
“Jangan lama-lama, hati-hati.” Wejangan Kanna keluar memenuhi langit-langit rumah.
“Iya, iya,” sergah Leoni.
Leoni lantas pergi meninggalkan area rumahnya, berjalan santai menuju mini market. Leoni memilih beberapa camilan dan minuman ringan. Lalu terhenti pada cup mi instan. Tiba-tiba saja perutnya keroncongan.
“Makan mi, tapi sudah malam. Ah, bodo amat, masih dalam tahap pertumbuhan,” gumam Leoni, tangannya mencomot satu cup mi instan, sebutir telur dan sosis.
“Semuanya 75 ribu,” ucap kasir saat Leoni tiba di depan mesin kasir.
“Biar saya yang bayar, Mbak.” Tiba-tiba sebuah suara cowok menyela, membuat Leoni menoleh, Leoni tercengang melihat siapa yang ada di depannya saat ini. Salah satu temannya yang berharga, setelah dua tahun berpisah mereka bertemu kembali.
“Kau belum berubah, Singa. Masih suka mi dengan telur dan sosis?” Senyumnya terkembang, ia menyerahkan juga cup mi dengan kombinasi telur dan sosis, sama seperti milik Leoni pada petugas kasir.
“Farel??”
...— MUSE S7 —...
...Hallo bellecious jangan lupa di like dan comment ya, berikan juga vote kalian....
...💋💋💋...
...Terimakasih sudah membaca MUSE...
...SLOW UPDATE SELAMA 5 HARI...
...yang momong anak-anak pulkam....
...Stay safe ya bellecious ...
...♥️♥️♥️...
...Love yu...