MUSE

MUSE
FIRST LOVE



MUSE


EPISODE 28


FIRST LOVE


\~Dialah cinta pertamaku, di mana aku pernah memimpikan untuk bersamanya sepanjang sisa hidupku.\~


(JULIUS)


Harusnya aku mendampinginya..


Harusnya aku menjaganya..


Harusnya aku tak meninggalkannya sendirian..


Harusnya aku ada di sisinya..


“BRENGSEKK!!!!” Aku mengumpat, kakiku menendang tempat sampah kecil di samping meja tulis. Isinya berhamburan keluar.


Aku tak tahu lagi bagaimana menyalurkan emosiku. Rasa takut dan cemas membuatku tak berdaya, aku tersungkur, air mata dan keringat membasahi wajahku.


Kriiinggg...


Suara ponsel membuatku kembali tersadar dan segera mengangkatnya.


“Bagaimana?? Sudah ketemu??” Aku mengangkatnya, nada cemas dan gemetar masih terdengar dari suaraku.


“Belum, Pak. CCTV sudah di priksa, tapi plat nomer kendaraannya palsu. Sepertinya sudah di rancangkan dengan matang.”


“Pokoknya harus ketemu!! Malam ini juga!!” Aku berteriak.


Harusnya aku tak terlena hanya karena sudah sebulan Alex tak menghubungi Lenna. Aku menyalahkan diriku sendiri karena kebodohanku.


Mendapati kaca mobil yang di pecah paksa dan Jessi yang tak sadarkan diri karena benturan dan obat tidur dalam minumannya, membuatku sangat cemas. Entah apa yang dapat di lakukan Alex? Senekat apa dia akan bertindak? Aku tidak bisa membayangkannya.


Dia bahkan memberikan obat tidur pada minuman Lenna dan Jessi, dia tahu dan memang merencanakan kecelakaan itu dengan matang. Dia bahkan rela mengganti plat nomer mobilnya dengan plat no palsu.


“ARG!!!” pikiranku buntu.


Krrriinnngg...


Ponselku kembali menyala.


“Pak, dari akun bank terlihat Alex membeli 6 buah kamar apartemen di dekat kampus Green Royal, dia membeli dengan harga mahal sebagai konpensasi pemiliknya agar segera pindah.”


“Green Royal?? 6 kamar??”


“Betul pak. 3 berjajar, 3 di depannya.”


Dia pasti membeli semua kamar di seputar kamarnya agar suara teriakan Lenna tak terdengar. Lalu dekat dengan Universitas tempat mereka kuliah?? Aku harus segera menemukannya.


Aku menyambar jaket dan kunci motorku, akan lebih cepat sampai di sana jika mengendarai motor.


—MUSE—


(LENNA)


Air mataku habis, kering karena terlalu banyak menangis, wajahku sangat kusut dan mataku memerah. Entah sudah berapa hari dia menyekapku. Tanganku sangat sakit karena luka baru yang kudapatkan saat meronta-ronta.


Bekas luka sayatan saat aku mencoba bunuh diri telah menghilang, berganti dengan luka lecet yang baru. Alex tak lagi mengikat tanganku pada sandaran kasur, dia mengikat tanganku di depan. Mungkin dia masih memiliki hati, tak tega melihat tanganku berdarah karena bergesekan dengan tali.


Perihnya tanganku tak seperih hati dan jiwaku. Entah sudah berapa kali dia melakukan hal bejat kepadaku. Aku merasa diriku sangat kotor, sangat menjijikan. Aku sudah tidak ada keinginan lagi untuk hidup.


Alex memberikan sebuah kemeja putih dengan ukuran yang kebesaran untuk menutupi tubuhku, bekas ciuman dan gigitannya masih berwarna merah di permukaan kulitku yang putih.


“Bunuh saja aku!” tanpa ekspresi aku mengajak Alex untuk bicara.


“Kau harus makan sesuatu.” Alex memberikan segelas susu dan sebuah roti.


“Aku tidak lapar.” Aku bergeleng.


“Sudah 2 hari kau tidak makan, tidak minum??!!!” Alex terlihat marah.


“Aku tidak lapar!!!” Aku mengulangi perkataanku dengan nada yang lebih tinggi.


“Jangan paksa aku, Lenna!!” Alex kembali mendekatiku, dia meminumkan susu dari mulutnya.


Walaupun aku menolak, namun tubuhku bergerak untuk menerimanya.


“Kau harus hidup, agar aku bisa mencintaimu.” Alex mencium keningku, aku membuang muka.


“Cinta??!! Ini yang kau bilang cinta??!” Aku mengangkat tanganku yang terikat.


“Aku nggak mau kehilanganmu.” Alex mendekat.


BRAAAKKKKK!!!!


Tiba-tiba pintu terdobrak!


Julius masuk ke dalam kamar, aku terbelalak kaget.


—MUSE—


(ALEX)


“Akhirnya pengganggu ini datang juga! Kalau bukan karena dia, aku tak akan kehilangan Lenna,” pikirku dalam hati.


Aku sudah mendapatkan Lenna, tinggal menyingkirkan ba****an ini dari kehidupan kami selamanya.


Matanya yang tajam masih terus bergantian memandangku dan Lenna.


“Apa yang kau lakukan padanya?” Julius bertanya hal yang menurutku sangat bodoh.


“Apalagi? Kalau bukan memberikannya banyak cinta.” Aku tertawa.


“BAJ***AN!!!” Julius berjalan mendekat.


“Stop di sana!!” secepat kilat aku mengambil pistol dari dalam laci nakas.


“LEPASIN LENNA!” suara Julius terdengar sangat gemetar.


Dia takut?? Rasanya aku ingin tertawa. Melihat ekspresi wajahnya yang hancur membuatku bahagia. Sudah sepantasnya dia meninggalkan Lenna. Laki-laki pengecut ini harusnya mati saja.


“Alex, apa yang kamu lakukan??” Lenna bangkit.


“Kalau dia tidak ada kita bisa bersamakan?” Aku menarik pelatuk pistol.


“Kau jangan gila, jangan sakiti dia! Aku akan bersamamu.” Lenna memohon untuk keselamatan Julius.


“Aku mohon Alex, jangan sakiti Julius.” air mata kembali menggenang di kedua plupuk matanya.


“Kenapa? Kenapa kau masih saja membelanya?” Aku marah.


Aku masih memandang dengan perasaan benci pada sosok pria di depanku. Apalagi setelah Lenna masih terus membela dan membela, memohon dan memohon untuk keselamatan pria ini.


DOR!!


“LENNA!!” teriakku, aku tidak menyangka Lenna akan berlari dan menerima peluru itu.


—MUSE—


(LENNA)


Julius dia datang, dia mencariku. Tapi aku sudah nggak pantas bersamanya, aku kotor dan hina. Aku benci keadaanku.


Keadaannya semakin menjadi tak terkendali.


Alex dia membawa pistol di tangannya. Dari mana dia mendapatkan kegilaan ini semua? Apakah betul karena aku yang terlalu egois meninggalkannya tanpa sempat menjelaskan apapun??


Bagaimana ini Tuhan..?


Aku tidak mau Alex menyakiti Julius..


Aku tidak mau Julius menjadi korban akan kesalahanku di masa lalu.


Aku nggak mau kami bertiga hancur..


Mereka saling mengancam, dan aku hanya bisa menangis.


Aku harus mengehentikan kegilaan ini.


DOR!!


Dengan spontan aku melompat melindungi Julius. Di antara kami bertiga hanya dia yang paling tidak bersalah. Hanya dia yang tidak boleh terluka.


Panasnya peluru menembus jauh ke dalam perutku, memberikan dorongan hebat di setiap pembuluh darahku.


Detik pertama aku tak bisa merasakan apapun.


Detik kedua aku merasakan anyir di rongga mulutku.


Detik ketiga darah segar keluar dari mulutku, menetes dan membasahi kemeja putih yang ku kenakan.


Detik berikutnya aku merasakan nyeri yang teramat sangat memenuhi rongga perut.


Aku melihat darah merah membanjiri tubuhku dan menempel di tubuh Julius.


Kakiku lemas dan tubuhku menjadi sangat ringan. Dengan sigap Julius menangkap tubuhku yang akan jatuh ke lantai.


“Lenna...!” Julius memanggil namaku, aku senang dia baik-baik saja.


“Lenna...!” kini suara Alex yang terdengar.


Samar-samar aku melihat Alex mendekat, tangannya bergetar hebat memegang tanganku.


“Kenapa?? Sebenci itukah kau kepadaku?!” Alex menangis.


Aku hanya tersenyum, aku ingin menyentuh wajahnya namun tanganku terikat.


“Pergi!! Jangan dekati Lenna!!” Julius mengusir Alex.


Aku menggelengkan kepalaku.


“Jangan tinggalkan aku Lenna, jangan!!” Julius terus mengucapkan hal yang sama berulang-ulang.


Alex bangkit dan mengambil pistolnya.


“Seandainya aku bisa memutar waktu dan kembali ke 5 tahun yang lalu, apakah kau akan mencintaiku kalau aku tak pernah berciuman dengan Amanda??” Alex memberikan sebuah pertanyaan.


“Alex..”


“Jawab Lenna!! Seandainya waktu berputar kembali, akankah kau mencintaiku??” Alex menodongkan pistolnya tepat di pelipis wajahnya.


“Alex jangan!! Kumohon!!” jawabku lirih, berusaha mencegahnya melakukan hal bodoh.


“Jawab aku Lenna!”


“Iya. Aku pasti mencintaimu.” Aku menjawab pertanyaan Alex.


“Terima kasih.”


DOR!!


Suara desiran peluru kembali terdengar.


Wajah tampan Alex bersimba darah dan terjatuh di lantai. Aku masih bisa memandang wajahnya sebentar sebelum pandanganku mulai kabur.


Dialah cinta pertamaku, di mana aku pernah memimpikan untuk bersamanya sepanjang sisa hidupku.


Entah kenapa? Detik-detik berikutnya hanya kenangan akan masa lalu yang terlintas di benakku. Kenangan indah bersama Alex.


Padang bunga lavender..


Seikat bunga yang diberikannya kepadaku..


Kehangatan tangannya saat menggandeng tanganku..


Senyumannya saat berjalan bersamaku..


Ciuman manis saat di halte bis..


Dan..


Aroma manis dari tubuhnya saat kami melakukan hubungan intim untuk pertama kali.


“LENNA!!! Sadar Lenna!!!” teriakan terakhir Julius yang ku dengar sebelum kesadaranku mulai memudar.


Aku sangat lega mendengarnya, Julius tidak terluka, dia baik-baik saja.


Pelukan hangat Julius, detak jantungnya yang melaju dengan sangat cepat samar- samar terdengar sangat jauh dan akhirnya menghilang.


—MUSE—


Free talk


Hallo, akhirnya Muse akan sampai di pengujung episode.


Dukung saya terus ya


Supaya menghasilkan karya yang berkualitas dan menghibur.


Terimakasih


Jangan lupa + fav, like, dan isi kolom komentar. Komentar kalian jadi semangat tersendiri.


❤️❤️❤️❤️❤️


Love love and love ><


Oh iya.. jangan lupa kurangi penggunaan plastik dan sampah plastik ya.


Salam sayang \~❤️