MUSE

MUSE
S6 ~ MENGHANGATKANMU



MUSE S6


EPISODE 15


S6 \~ MENGHANGATKANMU


\~ Cintai aku Ivander, cintai aku sebanyak Krystal memberikan cintanya padamu. Pikir Gabby, air matanya menetes perlahan.\~


___________________


“Lepasin, Van!” Gabby meronta.


“Tidak! Du bist meine Liebe!!” Tatap Ivander, ia mendekatkan wajahnya.


(Kaulah cintaku)


“Ivander.”


Dengan lembut Ivander mendaratkan sebuah ciuman pada bibir Gabby. Gabby tak bisa mengelak, tak bisa menolak. Hangat dan basahnya ciuman Ivander memang terasa begitu berbeda kali ini. Ada desiran pelan yang begitu terasa menggelitik perutnya. Membuat jantungnya berdegup tak beraturan.


Ivander semakin merapatkan tubuhnya, lengannya terus mendekap tubuh Gabby agar tidak memberontak. Sekejap Gabby terbuai dengan rasa manis yang dihasilkan oleh indra pengecap keduanya.


Tidak, aku tak boleh begini! Aku tak boleh jatuh dalam rayuannya. Pikir Gabby, ia terus menjaga hatinya. Tak boleh terjatuh dalam bujuk rayuan dan kata-kata manis dari Ivander. Gabby yang harus membuat Ivander jatuh dalam pesonanya, bukan malah sebaliknya.


“Lepaskan, Ivander!” Gabby mendorong tubuh kokoh Ivander sekuat mungkin, melepas paksa panggutan mereka.


Ivander sedikit terdorong, ia menegapkan kembali tubuhnya. Wajahnya menghangat, ciuman lembutnya telah berhasil membuat degupan cepat saling bersahutan dari jantung keduanya.


“Tolong perbaiki sikapmu, Ivander!! Kau itu simpananku, dan kita berada di ruangan Adrian!” Gabby menyelak marah untuk menyembunyikan debaran hatinya yang tak kunjung menghilang.


“Kenapa? Kau takut Adrian memergoki kita lalu memutuskanmu?? Kalau benar, aku dengan tangan terbuka akan menerimamu, Honey!” Ivander mendekati Gabby, kembali mengikis jarak, membuat dada bertemu dada.


“Shit!! Sudah ku bilang aku tak bisa kehilangan Adrian demi lelaki yang tak mencintaiku!” Gabby melirik tajam ke arah Ivander, lagi-lagi tatapan tajam Gabby meluluhkan hati Ivander. Lelaki ini entah kenapa malah begitu menyukai tatapan dingin yang menusuk hatinya itu.


“Aku mencintaimu, Gabby!” Ivander mengangkat tanganya, mengusap bibir Gabby yang merekah penuh, bibir milik Sang Mommy yang menurun padanya.


“Itu hanya gombalanmu, kau mengatakan hal itu pada semua wanita! Setelah berhasil mendapatkan tubuhnya kau membuang mereka begitu saja, betulkan ucapanku?” cerca Gabby.


“Ucapanmu tidak salah, Gabby. Aku memang begitu, tapi kali ini berbeda. Sangat berbeda, aku tak pernah merasakan jantungku berdetak sekencang ini sebelumnya.” Ivander mengangkat tangan Gabby, menaruh telapaknya di atas dada bagian kiri.


“Dengarkan detakkanya, Es ist Beat für dich, Gabby!” Ivander memandang Gabby dengan hangat, ucapannya sungguh tidak main-main saat ini.


(Jantungku berdetak untukmu, Gabby.)


Gabby menelan salivanya, ucapan Ivander memang manis, sangat memanjakan indra pendengarannya. Gabby selama ini hanya mengejar cinta Krystal, ia tak pernah merasakan rasanya dicintai sebelumnya, bukan tak pernah dicintai, tapi tak mau menanggapi cinta itu sendiri.


“Lepaskan, Ivander, ada yang datang!” Suara langkah kaki menyelamatkan Gabby dari pertanyaan maut Ivander.


“Baiklah.” Ivander melepaskan Gabby kali ini.


Adrian memasukki ruangannya dengan kebingungan. Kenapa kakaknya ada di dalam ruangannya. Apakah Ivander sudah begitu tergila-gila pada Gabby sampai nekat menemuinya di ruangan milik Adrian yang notabene adalah adiknya. Walaupun hanya pura-pura, Gabby adalah pacar Adrian. Apa kakaknya ini sudah tidak waras? Terang-terangan mengejar pacar adiknya?


“Ivander?” Adrian mendekat ke arah mereka berdua setelah mengusir sekretarisnya keluar.


“Erm ... aku hanya mampir.” Ivander menggaaruk dahinya dengan telunjuk padahal tidak gatal.


“Mampir?” Adrian melirik ke arah Gabby, Gabby memberi kode pada Adrian.


“Dia menemaniku mengobrol sambil menunggumu, Adrian. Kami bertemu di koridor tadi.” Gabby langsung memeluk Adrian, bersikap sok manja dalam dekapan pria itu, Adrian mengangguk paham.


“Jangan marah ya, habisnya aku kesepian karena meetingmu lama sekali.” Gabby semakin beracting dengan lugas.


“Iya, maaf, ya, Sayang sudah membuatmu menunggu.” Adrian membalas dengan pelukkan mesra, sesekali mengelus pinggang Gabby. Pemandangan ini sungguh membuat hati Ivander memanas.


“Terima kasih, Kak. Sudah menemani KEKASIHKU selama aku meeting.” Adrian sengaja memberikan penekanan pada title yang tersemat pada Gabby.


“Bukan masalah.” Ivander mengepalkan tangannya. Wajahnya memang terlihat tak bisa menyembunyikan rasa geramnya, rasa cemburunya, dia mulai tak tenang. Adrian sangat menyukainya, akhirnya dia bisa juga melihat semburat kekalahan membekas pada wajah Ivander.


Adrian duduk di kursinya, Gabby menyusul untuk duduk di pangkuannya. Tersenyum manis dan hangat, sesekali Gabby memainkan tanganya pada lengan Adrian.


“Apa kau akan bekerja sambil bermesraan seperti itu?” Ivander menghela napas panjang, mengatur emosi.


“Memang kenapa? Gabby kan pacarku. Papa dan Mama setuju, mereka akan melamarnya secepat mungkin.” Adrian mengecup pipi mulus Gabby.


“Tidak enak kalau para bawahan melihatnya.” Ivander mencari-cari alasan, padahal sebenarnya dia hanya tidak rela.


“Oh, ya? Di sini hanya ada kita bertiga, jadi tak ada yang melihatnya selain kita bertiga. Kalau kau memang keberatan melihat kemesaraan kami, kau bisa keluar, Kak.” Adrian semakin melingkarkan lengannya memeluk erat pinggang Gabby, Gabby menyeringai. Adrian terlalu hebat memutar perkataan Ivander, pria itu pasti sangat geram sekarang.


Gabby melingkarkan lengannya pada leher Adrian, bergelayut manja dengan nyaman. Matanya memandang Ivander, wajah Ivander berubah merah karena emosi.


“Baiklah! Aku keluar.” Ivander menggertakan giginya sebal, ia keluar, membanting pintu dengan keras.


“Dasar!!!” Adrian mendorong tubuh Gabby agar turun darinya.


“Kau gila Adrian! Bagaimana kalau dia marah padamu dan mencari-cari kesalahanmu?!” Gabby tertawa cukup keras, ia tak habis pikir dengan kelakuan Adrian yang memaksa Ivander keluar.


“Aku suka melihat eskpresi kekalahan pada wajahnya, Gabby! Dan aku rela membayarnya untuk melihat wajah kakunya itu tak berkutik.” Adrian terkikih.


“Pria arogan itu terbungkam karena ucapanmu.” Gabby duduk di atas sofa.


“Thanks to you.” Adrian mengikutinya duduk.


“Kenapa kemari Gabby?” Adrian membuka pembicaraan serius mereka.


“Aku merasa kasus ini semakin aneh saja. Bagaimana bisa tak ada perkembangannya sama sekali?! Seakan tak ada bukti apapun yang menyatakan bahwa ini adalah kasus pembunuhan.” Gabby nyolot, mengomentari kinerja kepolisian yang menurutnya semakin buruk saja.


“Polisi bilang ditemukan obat tidur dalam jumlah cukup banyak, mereka akan menyimpulkan Krystal bunuh diri.” Adrian mengangguk, memahami ucapan Gabby.


“Bullshit!! Bagaimana mungkin orang bunuh diri dengan pisau menancap pada dadanya, dan luka lebam disekujur tubuhnya?!” Gabby berdecak.


“Lalu apa yang akan kau lakukan?”


“Adrian, dulu kau bilang Ivander menyuruhmu mengantarkan dokumen?”


“Benar.”


“Dengan ponselnya?”


“Dengan ponsel Krystal, dia bilang Ivander yang menyuruhnya,” jawab Adrian. Ia menunjukan chat pesan terakhir dari Krystal. Hampir pukul 10 malam, tepat saat Gabby selesai bermain biola.


“Dokumen apa?”


“Dokumen perencanaan yang baru saja aku perbaiki,” kata Adrian.


“Haruskah malam itu juga?” sergah Gabby.


“Hmm, entahlah, Ivander tipe pria yang gila kerja, mungkin saja.” Adrian mengangkat bahunya.


“Di mana ponsel Krystal saat ini?? Itu bisa jadi bukti yang memberatkan untuk Ivander.” Gabby menggigit bibirnya sebal, ponsel Krystal menghilang dari TKP. Tentu saja pembunuhnya tak akan meninggalkan bukti mencolok pada kepolisian.


“Aku juga tidak tahu, Gab.”


“Buntu sekali kasus ini, apa telah direncanakan dengan matang?” Gabby memijit pelipisnya.


Adrian terdiam.


“Ah, aku harus secepatnya mendapat kepercayaan Kakakmu, aku tak bisa membuang waktu. Hanya 6 bulan waktu yang diperlukan untuk menutup sebuah kasus.” Gabby merogoh tasnya.


“Berikan ini untuk Ivander, suru dia menonton konserku besok malam.” Gabby memberikan sebuah tiket VIP.


“Satu hal lagi, Adrian.”


“Apa?”


“Terima kasih sudah menjadi sahabat yang baik,” ucap Gabby, ia lalu bergegas meninggalkan ruang kerja Adrian.


Adrian menggosok rambutnya dengan kasar. Ia benar-benar frustasi dengan tindakkan Gabby, alih-alih menyerahkannya pada kantor polisi ia lebih memilih untuk mencari kebenarannya seorang diri.


— MUSE S6 —


Malam ini, Gabby tampil glamor dengan gaun model kemben berwarna emas, bagian roknya mengerucut ke bawah sepanjang 3/4 kaki, sebuah sabuk kulit hijau tua lebar melingkar pada pingganganya yang langsing. Gambar burung merak menghiasi gaun yang dikenakan Gabby.


Dengan sengaja Gabby mempertajam riasan matanya, menonjolkan sorot matanya yang indah. Untuk rambut, Gabby sengaja menggerainya, membiarkan rambutnya yang hitam dan lurus bergerak bebas saat ia bermain biola.


Sebuah heels tinggi mengiringi langkah kaki Gabby naik ke atas panggung. Tim stage dan juga band pengiring telah siap sedia. Gabby menghela napasnya panjang dan merenggangkan jari jemarinya, ritual yang selalu ia lakukan sebelum memulai permainan biolanya.


“Permainan biola saya kali ini, saya tunjukan untuk seseorang yang paling saya cintai. Yang paling saya sayangi, saya harap dia bisa mendengarnya pada malam yang indah ini, enjoy.” Gabby membuka pertunjukkan ya dengan speech singkat.


Suara merdu dari melody yang dihasilkan oleh gesekkan mulai terdengar. Melanturkan harmoni dan keindahan suaran dari alat musik gesek itu. Membius para hadirin dengan pesona elegannya, membuat tiap bulu kuduk mereka berdiri, beberapa bahkan hampir meneteskan air matanya haru. Gabby bermain dengan penuh perasaan, tangannya bermain indah pada senar biolanya, sedangkan tangan yang lain sibuk bergerak maju mundur agar rambut busurnya mengenai dawai.


Rambut Gabby ikut bergoyang, memberikan tambahan visual yang indah pada performanya malam ini. Dari bangku VIP terlihat Ivander sedang duduk menikmati permainannya. Matanya terus berbinar melihat bagaimana cara gadis cantik itu memainkan biolanya. Tatapan tajam Gabby menyapu ruangan, berhenti pada Ivander. Ivander hampir membatu karena pesona tatapan mata indah Gabby.


Cintai aku Ivander, cintai aku sebanyak Krystal memberikan cintanya padamu. Pikir Gabby, air matanya menetes perlahan.





Plok Plok Plok!!


Derap tepukan tangan silih berganti memenuhi teater. Semuanya bahkan memberikan standing ovation untuk menghormati penampilan Gabby yang memukau.


“Terima kasih.” Gabby membungkuk, lalu berjalan pelan untuk menuruni stage.


Di belakang stage, Ivander telah menunggu Gabby, lengkap dengan sebuket bunga berwarna warni yang indah.


“Kau yang hadir? Di mana Adrian?” Gabby kembali beracting. Beberapa orang tim back stage dan manager Gabby membantunya melepaskan microphone dan mengembalikkan biola ke tempatnya.


“Adrian ada urusan, dia memintaku menggantikannya.” Tentu saja Gabby tahu, dia yang menyuruh Adrian berbohong.


“Ah, begitu.”


“Ini, bunga yang cantik untuk penampilanmu yang luar biasa.” Ivander memberikan bunga itu, Gabby menerimanya dengan wajah berseri bahagia.


“Thanks!” Gabby mencium aroma wangi bunga.


“Bagaimana kalau kita nikmati malam yang indah ini berdua?” Ivander menawarkan lipatan sikunya pada Gabby, tentu saja Gabby mau, ia tak boleh membuang kesempatan ini, apalagi waktunya membuktikan Ivander bersalah semakin menipis.


“Sure.”


Ivander menggiring Gabby memasukki mobil sportnya. Melaju kencang membelah jalanan ibu kota yang mulai legang.


“Kau mau membawaku ke mana?” tanya Gabby saat mobil Ivander keluar jalur ke arah luar kota.


“Ke tempat yang sangat indah, Gabby.” Ivander mengecup punggung tangan Gabby. Sepanjang perjalanan panjang mereka, Ivander terus menggenggam erat tangan Gabby. Menaruhnya pada perseneling mobil, seakan tak ingin melepaskannya barang sedetikpun.


Sesekali Ivander tersenyum, Gabby mau tak mau ikut membalas senyumannya. Manis namun penuh kepalsuan.





Mobil menepi pada sebuah vila kecil di pinggir danau buatan. Perlu satu jam perjalanan agar mereka bisa meraih vila milik Ivander. Terletak di sebuah desa pada perbukitan dengan hawa yang sejuk dan penuh dengan pepohonan rindang. Tiap malam suara serangga mengerik indah dan kunang-kunang bermain di atas danau.


“Waw, indah sekali.” Gabby memuji pemandangan alam buatan yang tersuguh di hadapannya, walaupun gelap namun cahaya lampu taman yang berpendar memberikan cukup sinar untuk netranya.


“Kau tidak kedinginan?” Ivander menyelimutkan jasnya pada bahu Gabby yang terbuka.


“Dinginlah, namanya juga pegunungan,” jawab Gabby.


“Kalau begitu, Ayo lekas masuk!” Ivander menggandeng Gabby memasuki kompleks vilanya, hanya seorang penjaga rumah dan seorang pelayan yang menyambut mereka.


“Air panasnya sudah siap. Saya tinggal, Tuan.” Pamit si tukang kebun setelah membukakan pintu untuk mereka berdua.


“Terima kasih.”


Ivander merebahkan dirinya di atas sofa, ia menepuk sofa di sebelahnya agar Gabby mau duduk bersamanya. Gabby menurut ia duduk di samping Ivander. Seorang pelayan separuh baya keluar dari dapur, menyuguhkan secangkir teh panas dan juga camilan hangat. Ubi dan pisang goreng umum di nikmati di wilayah puncak saat malam dingin mendera.


“Terima kasih,” ucap Ivander, Gabby mengerutkan alisnya heran, dari tadi Ivander selalu mengucapkan terima kasih pada tiap orang yang membantunya. Sikap arogannya seperti menghilang begitu saja.


“Sama-sama, Tuan. Silahkan di nikmati. Aku harap Nona menyukainya, orang kota pasti jarangkan makan hidangan desa seperti ini?”


“Ah, aku suka kok.” Gabby mencomot satu pisang goreng dan menggigitnya masuk, “Ah, ah, panas!” Gelagap Gabby kepanasan.


“Pelan-pelan, donk!” Ivander meniupkan udara ke dalam mulut Gabby agar pisangnya cepat dingin.


“Saya senang Tuan sudah memiliki pasangan. Pasti Nyonya sangat bahagia melihat anda seperti ini dari alam sana.” Pelayan itu menghapus beningan air dari sudut matanya.


“Dari alam sana?” Gabby menelan pisangnya dengan kesusahan.


“Ah, saya terlalu banyak bicara. Silahkan dinikmati, saya undur diri dulu.” Pamitnya.


Ivander lagi-lagi menghela napasnya panjang, ia hanya bisa terdiam kaku dan penuh penyesalan.


“Kenapa diam saja?” Gabby merasa tak nyaman karena suasananya mendadak suram.


“Ah, maaf. Suasananya jadi tidak enak, ya.” Ivander bangkit, ia lalu menyodorkan tangannya ke arah Gabby. Alis Gabby memincing, seperti sedang bertanya, ingin ke mana?


“Ayo ke kamar!” ajak Ivander, Gabby melongo, kini sorot matanya gantian menyiratkan, mau apa?


“Ngapain?” tanya Gabby, alisnya tertaut.


“Tentu saja menghangatkan badanmu, Honey!” Senyum Ivander. Wajah tampannya berseri bahagia.


— MUSE S6 —


MUSE UP!!


Like


Love


Tips


Vote


Comment


Maaf gaes aku bikinnya sama momong anak piyik, jadi agak kacau, hihuhu!! 😭😭😭


Semoga masih bisa dinikmati ya.


Setelah mb susnya balek aku perbaiki OK! Love yu gaes 😘😘😘