
MUSE S5
EPISODE 39
S5 \~ PERTEMUAN KEMBALI
\~Dekapan hangat, detak jantung yang berirama, dan luapan rasa cinta yang membuncah di hati keduanya membuat mereka enggan untuk beranjak. Rasa ini terlalu indah untuk dilewatkan, terlalu berharga bagi keduanya\~
________________
Awan gelap menyelimuti angkasa, Nick dan Bella memecah keheningan malam dengan laju motor mereka yang terus menderu kencang.
“Kau tidak mengantarku pulang, Nick?” tanya Bella keheranan saat Nick membelokkan motornya pada jalur lain.
“Menginaplah di rumahku, Bella. Bertanggung jawablah padaku!” Nick berteriak agar Bella bisa mendengar ucapannya di tengah deruan angin kencang.
“Hahaha ... baiklah Tuan Pertama Kali, kita lalui malam ini tanpa tidur, persiapkan dirimu!” Bella mengencangkan pelukkannya.
“As you wish, My Queen!” Nick menepuk punggung tangan Bella yang melingkar pada pinggangnya.
•
•
•
Bruuk!!
Bella mendorong tubuh Nick sampai mentok pada dinding kayu. Bella tertawa kecil melihat ekspresi Nick, tanpa menunggu ia meraup bibir kekasihnya. Melepaskan kaosnya sebelum kaos Nick.
“Kau nakal, Bella.” Nick menjujung naik tubuh Bella dan mendudukkannya di atas meja pantry.
“Bukankah kau suka gadis-gadis seperti di dalam majalah itu? Nakal dan menggoda, seperti apa pose mereka Nick? Seperti ini? Ini? Begini?” Bella menirukan beberapa pose panas para model majalah dewasa pada kekasihnya. Nick langsung mimisan, membut Bella terkikih geli.
“Ck, kau itu ada-ada aja sih?! Bukan sekali dua kali kita melakukannya!” Bella mengusap darah yang keluar dari hidung Nick dengan tisu makan.
“Jangan tunjukan ekspresi dan gerakan itu pada orang lain, Bella! Aku akan mati karena ketidak relaan!” Nick menjatuhkan kepalanya di pundak Bella, napasnya yang panas membuat Bella nyaman.
“Hahaha ... kau benar-beran lucu, Si Lucu Yang Tampan.” Bella mengelus rambut Nick, membuat Nick memandang wajahnya, dengan perlahan Bella mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir Nick.
Pertama hanya kecupan-kecupan ringan disertai dengan gigitan lembut. Lama-lama berubah menjadi luapan rasa dan gairah. Panas dan begitu dalam, saling bertukar kecapan rasa manis. Tiap alunananya membuat mereka berdua masuk dalam keindahan cinta yang lebih intens lagi.
Tangan Nick mengelus pinggul Bella, mendorongnya maju ke depan untuk semakin mendekapnya erat. Bella mengaitkan kedua kakinya pada tubuh Nick, sedangkan tangan Bella melingkar pada leher Nick.
“Mau coba di sini?” tanya Nick.
“Ini pantry, Nick!” Bella sedikit keberatan.
“Memang kenapa?”
“Ini tempat menyajikan makanan.”
“Ck, bukankah memang aku akan memakanmu! Bukankah kau memang hidanganku malam ini?!” Nick gantian menggoda Bella.
“Wah, Tuan Kikuk belajar menggombal.” Bella tertawa, dia heran kenapa mudah sekali memberi julukan pada kekasihnya itu?
Nick meletakan telunjuknya di depan mulut Bella. Ia menyatukan hidung ke duanya.
“Jangan banyak bicara, Queen, adikku sudah tidak sabar,” ucap Nick sebelum membuka percintaan mereka malam ini.
•
•
•
Fajar mulai mengganti gelapnya malam dengan seberkas sinar kuning. Kemilaunya mulai terlihat cantik saat menyentuh permukaan laut. Suara burung-burung camar mulai bersahutan, terbang ke arah lautan luas untuk mencari makan. Udara dingin masih terasa, pantai masih sangat sepi. Hanya terlihat dua orang insan yang berjalan perlahan, menggores kaki mereka dengan lembutnya pasir putih.
“Kemarilah, Bella. Aku tunjukan tempat rahasiaku.” Nick menggandeng Bella, mempercepat langkah kaki mereka.
“Masih ada tempat rahasia lagi?” tanya Bella tak percaya, “tempat rahasia pertamamu dulu sudah banyak yang tahu.”Bella tergelak.
“Kali ini belum banyak yang tahu.” Nick mengajak Bella duduk di balik batuan karang yang menonjol. Dari sini mereka bisa melihat sinar matahari yang baru saja muncul.
“Bagaimana?” Nick menyuruh Bella duduk di sampingnya.
“Wah, indahnya!” tukas Bella bahagia.
“Next kita ajak Aiden kemari.” Nick merangkul pundak Bella.
“Thanks, Nick. Sudah mencintaiku dan juga Aiden.” Bella merebahkan kepalanya pada dada Nick. Nick mengusap lengan Bella dan mengecup pucuk kepalanya.
Mereka diam sesaat, menikmati keindahan matahari dari balik batu karang. Hamparan pasir putih menjadi alas duduk, dan deruan ombak menjadi music indah pengantar pagi. Dekapan hangat, detak jantung yang berirama, dan luapan rasa cinta yang membuncah di hati keduanya membuat mereka enggan untuk beranjak. Rasa ini terlalu indah untuk dilewatkan, terlalu berharga bagi keduanya.
Nick mempererat dekapannya dari belakang. Bella menyibakkan rambutnya agar Nick bisa mengecup leher dan tengkuknya.
“Kau mau mencobanya disini?” bisik Nick.
“Nick!! Apa kau gila?!”
“Sepertinya.”
“No, Nick!!” tolak Bella.
Nick tetap ******* bibir Bella ia mendorong tubuh Bella sampai menyentuh pasir putih, dengan pandangan penuh cinta Nick menggenggam erat jemari Bella.
“Jangan memandangku seperti itu!”
“Kenapa?”
“Kau membuatku merasa kalah!” lirih Bella.
“Aku mencintaimu, Bella. Jangan pernah tinggalkan aku.” Nick mengendus tengkuk Bella, membuat Bella menggeliat geli. Aroma pasir pantai menggeser aroma manis dari tubuh Bella, namun Nick tetap menikmatinya.
“Aku juga mencintaimu, Nick. Maaf, maaf karena terlambat mencintaimu.” Bella mengusap rambut Nick.
“Tak apa, Bella. Cinta tak mengenal kata terlambat.”
“Kau benar.”
“Setelah ini berhentilah menari! Aku tak rela semua orang memandangmu dengan luapan nafsu di mata mereka,” tutur Nick, otot lehernya menegas karena cemburu.
“Ck, Kau menyuruhku berhenti menari tapi membelikanku sepatu!” Bella berdecih dengan tingkah kekasihnya itu.
“Sepatu???” Nick bingung.
“Bukan darimu? Bukan kau yang membelikannya?” Bella terkesiap, ia menutup mulutnya bingung.
“Sepatu yang kau pakai kemarin?” Nick membantu Bella bangkit, kini mereka duduk dan saling bertatapan.
“Iya, trus siapa pengirimnya kalau bukan kau?” Bella mengusap dahinya.
“Ketakutanku kini terbukti, Bella! Pria-pria itu tak mungkin tak menginginkanmu! Dan kini salah satu dari mereka tahu alamatmu!” Nick menghembuskan napasnya kasar.
“Ah, bodohnya aku.” Bella menggigit bibirnya.
“Pindahlah kemari, Bella, sementara waktu sebelum kita cari rumah baru.” Nick mencengkram lengan Bella.
“Kontrakanku masih 6 bulan lagi Nick! Sayang!” Bella menelan ludahnya.
“Kalau sampai terjadi apa-apa padamu harga itu tak sebanding Bella. Dan kau juga berhentilah menari! Aku akan membayar ganti rugi kontrak kerjanya, aku punya sejumlah uang yang ku tabung, aku rasa cukup,” tutur Nick panjang lebar, ia tak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk pada Bella.
“Duh, jangan begini, Nick. Aku tak ingin membebanimu, lagi pula ada Mark yang menjagaku.” Bella melingsuti ucapan Nick.
“Setidaknya pindahlah, Bella! Tinggallah di rumahku sementara waktu.” Nick menghela napas karena tak berhasil membujuk Bella berhenti menari.
“Baiklah, aku akan tinggal di rumahmu sementara.” Bella tersenyum, “jangan terlalu takut, OK! Tak akan terjadi hal buruk, sudah dua tahun lebih aku menjalani hidup seperti ini dan semuanya baik-baik saja.”
“Tapi, Bell ....”
“Sssttt ... sudahlah, Nick!” Bella mengalungkan lengannya dan mencium Nick. Menghentikan wejangan keluar dari bibir kekasihnya.
Nick menikmati kecupan manis Bella, mendekap tubuh kekasihnya. Dalam hati Nick hanya bisa berdoa, memohon kepada Tuhan agar tak ada satu pun marabahaya yang menghantui Bella.
Triing ... 🎶
Bunyi ponsel milik Nick mengagetkan mereka.
“Siapa?” tanya Bella.
“Dosen pembimbingku,” jawab Nick.
“Angkat donk! Pasti penting.”
“OK.”
Nick mengangkat telephonnya. Ia berbicara sebentar, alisnya berkerut, sesekali ekspresinya berubah bingung.
“Kenapa?” tanya Bella penasaran setelah Nick mematikan panggilannya.
“Oh, ya sudah donk! Ke kampus saja.”
“Terus kamu bagaimana? Aku tak bisa meninggalkanmu sendiri.”
“Aku akan pulang ke rumahku dan membereskan beberapa pakaian.”
“Kau ikut saja ke kampus.”
“Dengan pakaian penuh pasir dan baju bau acem?! No way! Sudah sehari semalam aku memakai baju ini.” Bella menolak.
“Kau bisa pakai bajuku,” sela Nick.
“Ayolah, Nick!! Izinkan aku pulang saja dan membersihkan diri. Aku akan membereskan semua pakaianku dan tinggal di rumahmu.” Pinta Bella. Akhirnya Nick mengangguk setuju.
“Nah, gitu donk! Ayo cepat!! Keburu terlambat!” Bella bangkit dan menggandeng Nick kembali.
— MUSE S5 —
Ciit ...
Motor Nick berhenti tepat di depan rumah Bella. Bella turun dan menyisir rambutnya yang kusut karena angin dengan jari.
“Aku akan langsung menjemputmu begitu konsultasinya selesai, Bella. Bawa saja pakaian secukupnya. Setelah kondisi aman kita pindahkan barang-barangmu yang lain.” Nick mengelus wajah Bella, dengan berat hati dia harus meninggalkan kekasihnya karena tuntutan pendidikan.
“Ck, santai saja, Nick! Aku bisa menjaga diriku sendiri,” ujar Bella.
“Kunci semua pintu, Bella, jangan buka pintu untuk siapapun selain aku.” Nick mengecup kening Bella sebelum mengulumm lembut bibirnya.
“Kau terlalu paranoid, Nick!” sergah Bella, ia mengetuk pelan dahi Nick gemas. “Sana berangkat, Hati-hati!”
“Huft, apa kau ikut denganku saja ke kampus, Bella!” Nick mencengkram pergelangan tangan Bella saat hendak berbalik.
“Dengan penampilan seperti ini? No!! Sudahlah jangan terlalu khawatir. Lebih baik cepatlah berangkat agar kau bisa cepat pulang.” Bella tersenyum dan melambai pada Nick.
“Ingat!! Kunci pintunya!!” teriak Nick.
“Iya!!!” balas Bella.
Nick melajukan motornya dan memilih untuk percaya pada Bella. Meyakinkan diri tak akan ada sesuatu yang buruk menimpa Bella hari ini.
•
•
•
Bella masuk ke dalam rumahnya, ia mengunci semua pintu seperti perintah Nick. Sambil bersenandung Bella menanggalkan satu per satu pakaiannya sembarangan sembari berjalan dari kamar tidur menuju ke kamar mandi. Bella menepuk pelan pundak dan lehernya, permainan cintanya pagi ini membuat tubuhnya pegal, lengket, dan tidak nyaman.
“Ih lengket sekali! Mana bau lagi!” Bella mengdengus saat mencium aroma dirinya sendiri.
“Mandi, ah!” gumamnya.
Hangatnya air shower mengguyur rambut panjang Bella. Bella mengusapnya lembut dengan shampo dan membersihkannya. Bella tengah membilas rambutnya saat tiba-tiba sebuah suara terdengar.
BRAK!
Bunyi pintu di buka paksa mengagetkan Bella. Tubuhnya berjengit.
Siapa? Apa Nick sudah kembali? Kenapa cepat sekali?! Pikir Bella kalud.
“Babe? Is that you?” teriak Bella. Hening. Tak ada jawaban.
Jantung Bella otomatis bergedup tak karuan. Cepat-cepat Bella menyahut handuk, ia mengunci pintu kamar mandi, Bella tak bisa keluar lantaran hanya memakai lilitan handuk.
BRUK!! KLEK!!
Kali ini pintu kamar tidur terbuka paksa. Bella menutup matanya spontan karena suara hantaman keras itu.
Siapa??! Ya Tuhan siapa?! Hatinya diliputi dengan kepanikkan.
Bella bergegas menghidupkan air panas pada shower, mengaturnya pada suhu terpanas. Tangan Bella bergetar, tubuhnya menggigil, tak hanya karena dingin, namun juga ketakutan. Bella membekap mulutnya sendiri agar napasnya yang tak teratur tak terdengar orang.
BRAK!!! BRAKK!!!
handle pintu kamar mandi di oglak-oglak paksa, seseorang berusaha menerobos masuk ke dalam kamar mandi.
“Hiks ...!” Bella menangis pelan, air matanya otomatis meleleh bersamaan dengan peluh. Ia ketakutan, rasa takut yang sama saat hampir kehilangan Aiden dulu kembali terngiang dibenak Bella. Kembali mengobrak-abrik hatinya saat ini.
“Aku tahu kau di dalam, Sayang! Keluarlah, aku tak akan menyakitimu,” tutur orang itu. Ia mencium celana dalam Bella yang dipungutnya dari lantai.
Bella terbelalak, ia seperti mengenali suara itu.
Tidak, mau apa orang itu kemari?! Bella menggelengkan kepalanya, masih membungkam sendiri mulutnya.
“Ayo keluarlah!!” serunya.
Bella menyesal, harusnya ia mendengarkan Nick. Harusnya ia ikut saja ke mana pun Nick pergi.
Tiba-tiba menjadi hening. Hening yang mencekam ... Bella semakin panik, ia berdiri perlahan-lahan dari sudut kamar mandi, mengambil ancang-ancang untuk kabur.
BRRUUKK!!!
Pintu terbuka paksa oleh tendangan keras. Seorang pria bertubuh tegap dengan banyak tatto pada lengannya membuat Bella terbelalak.
“Halo, Bella!”
“HIII!!!” Bella menyemprotkan air panas ke arah wajah pria itu berharap menemukan celah untuk kabur.
“ARGH!!! SIALAN!!” umpatnya saat rasa panas menghujani wajahnya.
Bella tak melewatkan kesempatan itu. Dia langsung berlari keluar dari kamar mandi. Dengan ketakutan Bella berusaha mendorong tubuh pria itu.
“KYAAA!!!” Bella menjerit kesakitan saat pria itu ternyata berhasil menjambak rambutnya.
Bella terjatuh, ia mendesah kesakitan saat kepalanya terbentur lantai. Rasa pusing membuat pandangannya sedikit kabur.
“Dasar j4lang!! Tak tahu berterima kasih! Aku memberimu bunga tiap kali kau tampil, aku menyemangatimu, aku memberimu sepatu mahal.” Pria itu ternyata adalah penggemar Bella yang akhir-akhir ini terlihat di club.
“Ja-jadi sepatu itu darimu?” Bella mendelik ketakutan.
“Benar, dan aku senang kau memakainya semalam Bella!! Aku senang kau akhirnya menyambut perasaanku.” Pria itu menjilatt telinga Bella, membuat Bella merinding ketakutan.
“B4jingan!! Lepaskan aku!!” Bella moronta-ronta, ia mencoba sekuat tenaga untuk bangkit dari cengkraman pria itu.
“Ah, jangan terburu-buru wanitaku. Kita lakukan pelan-pelan OK!” sergahnya sembari membuka pakaian. Menampilkan otot tubuh yang kencang dan juga badan penuh dengan tatto.
Bella begidik, jantunya melaju sangat cepat!! Bella tak bisa melawan tenaga pria itu, dia sangat kuat. Namun Bella tak bisa terus berpasrah diri, dia harus melawan. Tapi sekuat apapun Bella melawan, pria itu tetap saja berhasil menyudutkannya.
“Hiks ... hiks ... kumohon lepaskan aku!!” Bella mengiba, ia terisak.
“Aku berjanji akan lembut, Sayang!” Tangannya melepaskan kait celana.
Bella tak menyia-yiakan kesempatan ini. Dia mencakar wajah pria itu dan mencoba untuk merangkak pergi.
“Wanita sialan!! J4LANG tak tahu diri!! Sok jual mahal!!” Dengan semakin berangasan dia menarik kaki Bella, lagi-lagi kepala Bella terantuk lantai.
“Kemari kau, P3lacur!” teriaknya.
“ACH!!” Bella memekik, tangannya masih menggenggam erat handuk agar tidak terlepas dari tubuhnya.
“Siapa yang kau panggil p3lacur??” Tiba-tiba sebuah tangan menjambak rambut pria itu sampai terangkat naik.
“ARGH!! F*ck!!” geramnya.
“Beraninya kau menyentuh, Ella?!! Beraninya kau menyentuh milikku!!” Ia langsung memberikan pukulan telak pada wajah pria itu, tanpa ampun ia menghajarnya dengan kepalan tangan yang berhiaskan knuckle dari tembaga.
BAK BUK!!
Tanpa ampun ia terus melayangkan pukulan, membabi buta dengan luapan emosi dan amarah. Darah segar mengalir keluar, pria itu terkulai lemas, perlawanannya seakan sia-sia karena lawannya lebih ganas darinya. Tak berapa lama seseorang mencegah hantamannya, menarik paksa tangannya agar tak membunuh b4jingan itu.
Bella masih tergeletak lemas di lantai rumahnya yang dingin. Dengan samar-samar ia mendengarkan perkelahian itu. Bella mengerjapkan matanya, berusaha mencari fokus pandangannya yang mulai kabur.
“Ella!!” Panggil pria itu. Ia mendekati Bella.
“Lucas ...?” lirih Bella sebelum kesadarannya menghilang.
— MUSE S5 —
Waduoh ...!
Lucas jangan kau bawa Bella!!!
Kasihan Nick!!
LIKE, VOTE, COMMENT, dan jangan lupa di kasih bintang 5