MUSE

MUSE
S5 ~ SEORANG IBU



MUSE S5


EPISODE 51


S5 \~ SEORANG IBU


\~Biarlah yang berlalu menjadi masa lalu. Biarlah janji yang baru menjadi jaminan akan hidup yang bahagia.


Biarlah pengampunan yang kuberikan menjadi awal cinta yang baru.\~


___________________


BELLA POV


Aku keluar dari dalam ruangan ICU. Bersandar pada pintu keluar sambil menatap langit-langit koridor. Lucas kembali memintaku untuk kembali bersama dengannya. Dia berjanji akan memberikan keluarga yang utuh pada Aiden.


Aku tak tahu harus menjawab apa, aku tak tahu harus berkata apa. Sebenarnya aku sudah membulatkan tekatku sebagai wujud janjiku karena Lucas mengizinkanku menemani Nick selama sebulan ini. Tapi walaupun sudah membulatkan tekat, tetap saja hatiku masih belum rela melepaskan Nick. Aku masih mencintainya.


Lalu muncullah kejadian malam ini. Di mana Aiden sakit dan hanya Lucas yang bisa menolongnya. Aku lantas tersadar, dalam tiap-tiap pembuluh darah Aiden ada darah Lucas di dalamnya. Aku sadar betul siapa yang lebih Aiden butuhkan dalam hidupnya.


Kudenguskan napasku, menata hati dan juga pikiran. Lebih baik aku bergegas. Aku harus membelikan makanan untuk Lucas, dia harus memulihkan tenaganya setelah kehilangan begitu banyak darah.


“Bella, bagaimana?” Nick berlari kecil menghampiriku.


“Kau terlihat lelah, Nick.” Aku menggenggam tangan Nick, mengelus bekas luka bakarnya dengan ibu jariku. Tatto itu sudah menghilang, inisial KING pada tangannya sudah menghilang.


“Tak selelah dirimu,” ucap Nick sambil mengelus wajahku. Aku tersenyum kecut, bahkan disaat seperti ini pun perhatiannya tak pernah berkurang.


“Kau mau ke mana? Aku temani.”


“Aku mau membeli susu dan makanan untuk, Lucas. Dia pasti lemas karena kehilangan dua kantong darah,” ujarku.


“Ayo.” Nick menggandeng tanganku, kami berdua turun pada cafetaria rumah sakit, di sana ada mini market yang buka dua puluh empat jam.


“Minum ini, Bella. Kau juga butuh kekuatan.” Nick memberikan segelas coklat panas.


“Thanks, Nick.” Nick hanya mengangguk.


Sembari menunggu makanan panas dari microwave kami duduk berdua di depan minimarket. Duduk dalam diam, entah apa yang melayang di dalam hati kami masing-masing? Namun yang pasti, keheningan ini jauh lebih membuat perasaan kami nyaman dari pada sekedar ungkapan kata.


“Nick, aku ....”


“Aku tahu, Bella,” sela Nick, aku langsung menoleh padanya.


Kembali hening. Canggung dan terasa mengiris hati.


“Apa hatimu sama sakitnya denganku saat ini, Nick?” tanyaku ragu. Rasa bersalah menjalar pada seluruh hatiku.


“Sakit, sih, tapi aku lebih ingin melihatmu hidup dengan bahagia,” tukas Nick, ia tak berani menatap wajahku.


“Apa menurutmu aku akan bahagia bila hidup bersama dengan Lucas?” jentikku saling tertaut, bermain untuk menyembunyikan lara.


“Aiden jauh lebih membutuhkannya, Bella. Kau yang paling tahu itu,” Nick mendengus kasar — mengambil jeda — “bukankah kebahagian Aiden adalah kebahagiaan terbesarmu?”


“Kau benar, Nick. Maaf, aku sungguh-sungguh meminta maaf padamu.” Air mataku meleleh turun, aku terus menunduk, tak berani memandang wajah Nick. Aku sangat merasa bersalah kepadanya. Aku memberikan cinta yang tak pernah bisa ia miliki. Aku memberikannya kesempatan palsu yang menyakitkan.


“Bella, ada banyak wujud rasa cinta di dunia ini. Yakinlah, cinta seorang ibu adalah yang terbaik, kau tak perlu merasa bersalah kepadaku. Justru aku yang harusnya bahagia pernah merasakan cinta yang tulus dari wanita sebaik dirimu.” Nick bangkit, berjongkok di depanku, menggenggam erat tanganku, menguatkan hatiku.


Ya, Tuhan, hatiku begitu sakit. Pria ini sangat baik, cintanya sungguh besar dan tanpa sadar aku telah menyakitinya.


“Aku bisa mencintaimu dengan cara yang lain.” Nick mengecup punggung tanganku.


“Hiks ...!” Aku mulai menangis.


“Aku bukan Raja untukmu, My Queen. Namun aku akan tetap selalu menjadi kesatriamu.” Nick mencium bibirku, mengecupnya ringan. Itulah kecupan terakhir dari bibirnya yang merekah penuh.


Saat itu, sudah tak ada lagi kata-kata yang bisa keluar dari mulutku. Hanya getaran bibir dan juga air mata yang menjawab semua penuturan Nick. Aku menangis terisak dalam dekapannya. Aku menangisi kisah cinta kami yang telah berakhir. Berakhir dengan penuh linangan air mata. Juga kelegaan yang membuncah.


Terima kasih untuk beberapa bulan yang begitu indah dan penuh cinta, Nick. Terima kasih telah memberiku sebuah kesempatan untuk merasakan cinta yang tak bersyarat.





“Kenapa Papi menangis?” tanya Aiden, apa Lucas sedang menangis untuk anaknya?


“Tidak. Hanya kelilipan.” Dia berbohong.


“Kata Mami anak laki-laki tak boleh menangis. Nanti terlihat jelek di depan wanita. Kata Mami, Papi sangat kuat dan tak pernah menangis, dia selalu memenangkan pertandingan tinju.” Aiden menghibur Lucas, membuatku tersenyum, dia masih mengingat cerita tentang Papinya, padahal aku bercerita saat dia masih berusia tiga tahun.


“Kau sungguh lucu, Nak.” Lucas mengusik kepala Aiden, ia mengecup keningnya.


Aiden tersenyum hangat, mereka berdua tampak dekat, aku merasa bahagia. Ah, benar, melihat keduanya bahagia aku ikut merasa bahagia.


“Terima kasih, Sayang sudah hadir ke dunia ini. Terima kasih karena berkatmu aku bisa menjadi seorang ayah.” Lucas menggenggam tangan Aiden, mendengar ucapannya membuatku menangis haru.


Pria kasar itu bisa berubah juga saat berhadapan dengan anaknya. Ikatan darah memang tak bisa dipungkiri. Mungkin ada mantan suami, tapi tak ada mantan Ayah di dunia ini.


Aku mengelus dadaku, ada kelegaan yang memuncak saat melihat keduanya tersenyum. Bukankah hal ini yang dari dulu aku rindukan? Sebuah keluarga yang hangat untuk Aiden, seorang Ayah yang mengayomi keluarganya, yang menjadi figur dan panutan bagi anak-anaknya.


Mungkin benar, Lucas dulu pernah bersalah padaku dan juga Aiden.


Mungkin benar, Lucas dulu telah membuang kami karena amarah dan kesedihannya.


Tapi, bukankah dulu aku begitu mencintainya saat kami bersatu dan membuahkan janin? Aiden adalah bukti cintaku pada Lucas, dan bukti cinta Lucas kepadaku. Cinta kami saat itu mungkin tak sempurna, mungkin penuh kesalahan, mungkin penuh penderitaan, namun semuanya itu telah berlalu.


Biarlah yang berlalu menjadi masa lalu.


Biarlah janji yang baru menjadi jaminan akan hidup yang bahagia.


Biarlah pengampunan yang kuberikan menjadi awal dari cinta yang baru.


Mungkin susah ...


Mungkin berat ...


Mungkin juga perlu waktu ...


Namun,


Aku yakin bisa melakukannya.


Karena aku ... seorang ibu.


— MUSE S5 —


Nah hlo!! Nick siney siney ...


Aku cinta padamu Nick!!


Jangan lupa VOTE! Like! Comment.


Sekilas Info:


Reders budiman: Thor cerita donk dapet ide cerita dari mana?


Othor Rengginan : dari mana ya?? Coba kita lihat atu-atu.


MUSE S1 \= dari model albino Rusia, aku lupa namanya. Cantik, dan luwar biasa. Foto-fotonya mengagumkan, saat itu Othor mikir, bagaimana kalau dicintai oleh pria yang hanya fokus pada dirinya. Jadi deh sosok Julius dengan lensa kameranya.


MUSE S2 \= dari Author Riny HS, dia minta dibuatin toxic relationship, yg cowok suka kasar dan pemaksa gitu deh. Terus mikir, iya juga ya, kenapa ga bikin yang sadist dan mesokis gitu. Akhirnya jadi deh sosok Arvin dan Kalila. Thx Thor! (NB: benernya seharusnya aku bikin Arvin beneran meninggal demi Kalila. Tapi aku nggak tega bikin hancur hati kalian. )


MUSE S3 \= kalau ini kisah nyata ya, saudara sendiri. Pengen aja ngasih tahu ke semua ladies kalau kalian itu berharga, mau seperti apapun bentuk dan pribadi kalian. (Leon itu nama yang aku sukai, wild banget ya. Uch, gemash... 🥰🦁)


MUSE S4 \= terispirasi dari death note. Kok bisa?? Jauh amat Thor?? Hehehe, di death note itu si Raito (yang punya bukunya) sebenarnya hanya membunuh orang yang jahat aja. Dia seakan punya sisi baik namun juga buruk karena main hakim sendiri. Jadi deh sosok Ra dan Ken. Sayangnya saya kurang bisa menggambarkan keduanya dengan bagus. Susah sekali bikin dua kepribadian dalam satu tokoh. Maapin Othor yang belum cukup lihai.


RB : ow jadi gitu Thor.


OR : yoik. Enaknya lanjut MUSE S6 nggak? Atau sudah mulai bosan dengan ceritanya yang itu itu aja 😭?


RB : .... (silahkan di isi gaes!!)