MUSE

MUSE
S5 ~ DUNIAKU



MUSE S5


EPISODE 204


S5 \~ DUNIAKU


\~ Ck, sihir apa yang kau gunakan, My Queen? Aku sungguh tak bisa berkedip saat menatapmu! Duniaku seakan berhenti berputar, karena kau yang bergerak begitu indah. \~


_____________________


AUTHOR POV


(NB: Disarankan melihat video pole dance dan dengerin lagu DARK HORSE - Katy Perry terlebih dahulu gaes. Biar bisa menghayati peranan Bella.)


•••


Bella terbelalak, Nick memandang Bella, ia mengelus wajah Bella dan mengangkat dagunya. Mereka saling mendekap dan memandang.


“Apa kau masih belum bisa membuka hatimu untukku, My Queen?” Nick mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir Bella.


Bella langsung membuang wajahnya dan menghindari ciuman Nick. Ia membungkam mulut Nick dengan telapak tangannya dan bergegas bangkit.


“Maaf.” Bella duduk bersila, membelakangi Nick.


Nick mengdengus kasar, kenapa Bella masih belum bisa melupakan pria itu padahal mereka sudah berpisah selama empat tahun? Kenapa masih belum bisa move on padahal hanya rasa sakit yang ditorehkan olehnya begitu dalam? Apa cinta Bella sekuat itu untuknya?


“Aku bisa mencintaimu seperti dia, Bella. Bahkan mungkin lebih darinya.” Nick mengelus naik mulai dari telapak tangan ke arah pundak Bella.


“Aku tahu kau bisa, Nick. Tapi aku masih mencintainya.” Bella membenamkan wajahnya pada lipatan siku, kebodohan dan obsesinya akan Lucas membuatnya tak bisa membuka diri untuk pria lain saat ini.


Benar kata Nick, sudah empat tahun berpisah, sudah empat tahun kehilangan, harusnya Bella mulai move on dan menata hatinya. Tapi nyatanya, cinta yang bercampur lara itu malah membekaskan nama Lucas lebih dalam lagi di dalam hatinya.





Nick merasa ganjil dengan guratan kasar pada siku Bella saat mengelus naik tadi, ia lantas bertanya, “bekas luka apa ini, Bella?”


“Ini ....” Bella terdiam sesaat, “ ... bekas luka saat aku memanjat kabur dari jendela kamar mandi, tersayat kaca, karena membiarkannya lama tidak memperoleh pengobatan jadi membekas.”


“Shit!! Kenapa dulu kau tidak menceritakan semuanya padaku?? Kenapa kau hanya minta tolong padaku untuk mengantarmu pulang saja?? Hatiku sakit mendengarnya, Bella! Aku bersalah padamu.” Nick mencengkram lengan Bella sampai tubuh rampingnya bergoncang.


Bella memandang Nick, binaran mata Nick terlihat serius. Padahal semua itu bukan salahnya, padahal semua itu bukan masalahnya. Semua itu sudah berlalu, bahkan cintanya pun tak bisa melindunginya, lalu kenapa malah orang lain yang berharap untuk melindunginya?


“Kau sangat baik, Nick.” Bella mengelus wajah pria tampan itu dengan punggung tangannya yang lain.


Nick terdiam sesaat sebelum mencium bekas luka milik Bella, semula Bella hendak menarik tangannya tapi Nick menahannya.


“Seandainya dulu saat SMA kita bertemu lebih dahulu, apa kau akan mencintaiku?” Nick menarik Bella dalam dekapannya.


“Entahlah, Nick. Mungkin saja.” Bella memejamkan matanya dan menikmati dekapan tubuh Nick yang hangat. Detak jantung Nick seakan menjadi musik indah tersendiri bagi Bella saat ini, menenangkan.


“Aku menyesal, Bella. Harusnya aku menemukanmu dari dulu,” tukas Nick sembari mengencangkan pelukannya.


Bella hanya terdiam dan memejamkan matanya. Menikmati aroma bergamot dan batuan amber dari balik baju Nick.


Ah, detak jantungnya membuatku merasa nyaman, pikir Bella, kini detakan itu mulai saling bersahutan dengan milik Bella dan melaju sama cepatnya.


Bella melepaskan diri dari pelukan Nick, ia tersenyum dan mendekatkan wajahnya untuk mencium pipi Nick. Nick langsung memegang pipinya sambil melongo tak percaya. Wajahnya memerah, sama merahnya dengan cahaya merah yang tenggelam di ufuk barat.


“Sementara pipi saja, OK! Buat aku jatuh cinta padamu, bantu aku melupakan Lucas, dan akan ku cium kau setiap hari, Nick.” Bella bersandar pada tepian ranjang.


“Baiklah!! Akan ku buat kau jatuh dalam pesonaku, My Queen!” Nick ikut bersandar pada tepian ranjang.


Mereka berdua duduk, saling diam dan menikmati senja yang kian menghilang. Hangatnya memang mulai menghilang, namun keindahannya tak pernah berkurang.





Bella memakai kembali pakaiannya yang telah selesai dicuci. Nick juga mengambil jaket dan juga bersiap untuk mengantarkan Bella pulang.


Setelah obrolan yang cukup serius mereka memutuskan untuk kembali bermain game, mengusir kecanggungan di antara mereka, menggantinya dengan luapan suka cita. Bella masih terus menang tanpa tahu kalau Nick selalu mengalah untuknya.


Mereka hanyut dalam keceriaan, tanpa terasa malam semakin larut, dan Bella harus segera pulang. Ia harus istirahat atau besok performa tariannya tidak akan maksimal.


“Apa kau besok mau melihatku menari?” tanya Bella di tengah perjalanan.


“Sure.” Nick menepuk punggung tangan Bella yang melingkar pada pinggangnya.


“Jangan lupa berkedip OK?!” goda Bella.


“Hahaha ... wah kalau itu aku tidak janji, Queen! Apa kau tahu kalau duniaku berhenti berputar saat pandangan kita bertemu?” tutur Nick.


“Benarkah? jadi aku duniamu?!” tanya Bella sembari menggoda.


Ciit ... motor Nick berhenti di tengah jalanan sepi.


“Iya, kau duniaku, Bella,” - Nick menghentikan laju motornya hanya untuk mengelus wajah Bella- “jangan ragukan itu.”


Wajah Bella memanas, jantungnya berdegup tak karuan. Tak pernah menyangka bahwa Nick akan seserius ini dalam menanggapi candaannya.


— MUSE S5 —


Bella menyapukan blush on pada riasan tebalnya, membuat rona peach pada garis tulang pipinya. Ia tengah merias diri di ruang ganti artis. Menatap kaca selama kurang lebih satu jam untuk mempertonjolkan wajahnya yang sensual. Sentuhan terakhirnya, tentu saja lipstik dengan warna merah menyala.


Bella bergegas melepaskan jubah mandinya, Mark yang berdiri di belakangnya langsung menerima jubah itu.


“Apa kau siap?” tanya Mark.


“Tentu saja.” Bella menarik napas panjang dan tersenyum.


“Ayo!” Mark menggandeng Bella menuju ke atas panggung.


Bella terlihat begitu mempesona saat berjalan perlahan melintasi beberapa meja. Hari ini ia berdandan bak Ratu Cleopatra, konon merupakan Ratu tercantik di Mesir. Ia memakai bra berwarna emas gemerlapan dengan cape dari bahan tile tipis berwarna putih. Bella menggunakan wig lurus hitam dengan pony rata.


Bella sudah berpindah kontrak, ia kini berada di sebuah bar and lounge yang mewah. Hanya orang-orang berduit yang mendambakan suasana berbeda yang datang kemari. Penampilan Bellapun harus mengikuti selera mereka, tampil sensual, elegan, dan juga indah agar tipsnya banyak.


Bella berjalan perlahan di atas sepatu heels setinggi 25 centi. Sesekali Bella melirik ke arah penonton, mencoba untuk mencari keberadaan Nick.


Bella memasuki sebuah sangkar emas, di tengahnya ada tiang berwarna senada. Bella berpegangan pada tiang, ia mulai berjalan memutari tiang, sambil sesekali mengerling sebagai kontak mata.


“BELLLA!!!” Suara para tamu yang di dominasi kaum borjuis meneriakkan namanya. Rata-rata mereka telah mengenal nama Bella dari club-club malam lain, dan dengan setia melihat penampilan Bella yang begitu menggoda jiwa lelaki mereka.


( 🎶 I knew you were


You were gonna come to me


And here you are


But you better choose carefully


'Cause I'm capable of anything


Of anything and everything 🎶 )


Musik mulai terdengar, mengalun dengan arasemen baru. Bella berlenggok, ia meliukkan tubuhnya dengan gerakan sensual namun tetap indah.


Make me your one and only


But don't make me your enemy, your enemy, your enemy 🎶)


Bella memutar tubuhnya pada tiang, ia mengaitkan sebelah kakinya agar tubuhnya bisa berkhayang ke belakang. Dengan liukan tangannya Bella membius semua pengunjung yang di dominasi kaum Adam itu. Bella mendapati seseorang yang tak berkedip saat melihatnya, tanpa sadar Bella langsung tersenyum manis.


( 🎶 So you wanna play with magic


Boy, you should know whatcha falling for


Baby do you dare to do this


'Cause I'm coming atcha like a dark horse. 🎶)


Ck, sihir apa yang kau gunakan, My Queen? Aku sungguh tak bisa berkedip saat menatapmu! Duniaku seakan berhenti berputar, karena kau yang bergerak begitu indah. Nick berdecak dalam hatinya. Pesona dan kecantikan Bella telah berhasil membiusnya sejak pertama kali mereka bertemu di club malam itu.


Bella semakin naik ke atas tiang, ia membuka kakinya sampai bisa mengikuti tiang, ia membuat tanda V besar dengan kakinya. Bella lalu berputar beberapa kali di atas dan turun dengan hentakan pelan sambil sedikit menunggingg di atas panggung. Bella menggerakan kakinya sensual, membuat semuanya bersorak karena terkesima.


Nick juga tetap terpana karena pandangan Bella yang tak beralih dari dirinya. Mereka berdua seakan sedang berbicara dalam tatapan mata dan hanya keduanya yang tahu. Seperti telepati yang tak bersuara, hanya rasa yang membuncah.


( 🎶 Are you ready for, ready for


A perfect storm, a perfect storm


'Cause once you're mine, once you're mine


There's no going back. 🎶 )


Katy Perry - DARK HORSE


“There’s no going back!!” Bunyi sorakan tamu mengakhiri performa Bella hari ini.


Riuh tepuk tangan dan decak kagum memenuhi Lounge, Bella membungkukkan tubuhnya sebagai bentuk penghormatan dan juga pamit undur diri.


“Ini.” Seorang pelayan menghampiri Bella dengan seikat besar buket bunga.


“Dari siapa?” Bella kaget.


“Tuan yang ada di sana.” Tunjuk pelayan itu pada seorang pria dikursi VVIP, ia tersenyum dan mengangkat gelas sampaye-nya saat Bella melihatnya.


Pria itu belum terlalu tua, namun juga sudah tidak muda. Mungkin berumur antara 35 sampai 40 -an, Bella mengangguk dan tersenyum sebagai wujud formalitasnya.


“Siapa dia Mark? Apa kau mengenalnya?” Bella menerima tangan Mark yang membantunya turun dari panggung.


“Wajahnya tidak asing, Bella. Banyak anak buah yang berjaga di sekitarnya. Sepertinya dia berasal dari dunia gelap. Lebih baik jangan berurusan dengannya.” Mark menyelimutkan jubah pada Bella.


“Baiklah, aku akan menghindar.” Bella masuk ke dalam ruang ganti.





Bella baru saja selesai membersihkan riasannya saat Nick tiba-tiba muncul dan membuatnya berjengit kaget.


“WA!! Dasar!! Aku kaget tahu!” Bella memukul lengan Nick.


“Ups, sorry.” Nick merangkul pundak Bella.


“Bagaimana penampilanku?” tanya Bella.


“Amazing!! Daebak! Luar biasa! Apa lagi, ya? Ah, yang pasti kau membuatku kehilangan akal sehat!” Nick mengangkat tubuh Bella, mendudukkannya di atas meja rias membuat pandangan mereka kini sejajar.


“Jangan terlalu memujiku, Nick, nanti helmnya tidak cukup.” Bella terkikih.


“Tapi kau benar-benar luar biasa, Queen!” Nick mengecup punggung tangan Bella.


“Ayo kita pulang, aku masakkan agli olio! Aku sangat lapar,” keluh Bella. Ia memang tak pernah makan sebelum tampil menari. Jungkir balik setelah makan bisa membuat perutnya mual.


“OK!”


“Bye, Mark!” Bella menepuk pundak tinggi Mark dan mengecup pipinya.


“Hati-hati, Bella.” Mark menepuk pundak Bella.


“Bye, Mark!” pamit Nick.


“Jaga, Bella.”


“OK!!”


Mark tak banyak bicara, namun wajah garangnya sangat jauh berbeda dengan hatinya yang hangat.


— MUSE S5 —


Di belahan bumi yang lain. Lucas sedang memutarkan kain putih untuk melilit punggung tangannya. Ia melakukannya untuk memasang bantalan sebelum memakai sarung tinju.


Lucas melompat beberapa kali sebagai pemanasan dan memasang kepalan tangannya di depan dada. Ia menyerang dan memukul sandsack dengan sekuat tenaga. Selain alkohol dan bekerja, cara paling ampuh untuk melupakan Bella adalah dengan bertarung. Lucas masih terus mengikuti pertandingan underground dan juga terlibat dalam perkelahian antar geng lain.


Lucas menantang bahaya hanya untuk mendapatkan kepuasan semu dari nikmatnya pekelahian dan kemenangan.


Buk Bak Buk!!!


Bunyi gaduh sandsack menggema di ruang latihan. Keringat Lucas mengalir membasahi sela-sela otot dada sampai ke absnya.


“Tuan.”


“Ada apa?” Lucas menghentikan kegiatannya.


“Ini, kami berhasil melacak keberadaan Nona Bella. Empat tahun lalu ia mengambil uang sejumlah 450 juta di kota B, dan memasukkannya kembali pada rekening lain. Selama ini kita tak bisa melacaknya karena ia tak pernah menggunakan nama KTP-nya, Belaciaquin, tapi hanya Bella.” Seorang menyerahkan rentetan rekening koran pemindah bukuan dan transaksi Bella selama ini.


“Dia hidup selama empat tahun hanya dengan uang ini??” Lucas menutup mulutnya, tercekat, betapa kejamnya dia membiarkan wanita yang dicintainya membesarkan anaknya dan hidup dengan begitu menderita. Harusnya dulu ia memberikan uang yang lebih banyak untuk Bella.


“Kami kehilangan jejaknya, Tuan. Tapi satu hal yang pasti, dia ada di Pulau B, semua penarikan dan transaksi berputar di daerah itu.”


“Siapakan penerbangannya, kita ke sana.” Lucas menatap lurus ke arah foto Bella yang terpajang cantik di atas meja.


“Baik, Tuan.”


Lucas merematt kertas laporan itu sampai menjadi kusut. Hatinya begitu sakit dan terluka. Ia menyesali kesalahannya, menyesali kebodohannya, dan juga menyesali empat tahun kekosongan hatinya.


Aku akan menjemputmu, Bella. Pulanglah bersamaku, kita rawat anak kita bersama.


Lucas mengusap keringat dari wajah tampannya.


Aku akan menebus semua kesalahanku, aku pasti akan membuatmu bahagia.


— MUSE S5 —


Sweet Nick


Amazing Bella


Poor Lucas


Like comment vote