
MUSE S2
EPISODE 90
S2 \~ ENDING
\~ Ciumanku kembali mendarat pada tubuh indahnya, tubuhku mulai menghujamnya dengan kenikmatan yang dihasilkan dari sebuah kata yang penuh makna. Sebuah kata yang disebut CINTA \~
•••
Dua bulan yang lalu.
“KALILA!!!” teriakku, Aku terkerjab dan langsung bangkit dengan seketika.
“Arvin!!” Mama ikut berseru karena kaget.
“Mama? Arvin masih hidup?”
“Kau itu kenapa, sih, Vin?! Kenapa kau begitu bodoh?!” teriak Mama.
“Aku nggak bodoh, Ma. Aku melakukan semuanya demi Kalila!”
“Siapa itu Kalila?”
“Wanita yang aku cintai, Ma.”
“Yang tertabrak bersamamu?” Mama menatapku dengan wajah setengah tak percaya. Ia tak percaya anaknya rela memberikan seluruh darah dan nyawanya demi seorang wanita.
“Di mana dia, Ma?”
“Di ICU.”
“Aku harus melihatnya.”
“Arvin!!! Kau mau apa?” Mama mencegahku mencabut jarum infus.
“Lepasin Arvin, Ma!!”
“Arvin!!!” Mama tetap menahankan tangannya.
“Pliss, Ma. Arvin lebih baik mati daripada kehilangan dirinya.”
Aku mencabut paksa selang infus yang menancap pada punggung tanganku dan bangkit berdiri. Darah segar mengucur dari lubang jarum. Menetes pada lantai kramik rumah sakit yang berwarna putih.
“Arvin!!” panggil Mama.
Aku tak mempedulikan panggilan Mama dan nekat berjalan menuju ke ruang ICU. Kepalaku terasa begitu berat dan pening. Aku hampir terjatuh sebanyak tiga kali sebelum sampai ke ruang ICU.
“Kalila?!”
Di mana Kalila? Kenapa dia tak terlihat. Aku mengitari ujung sampai pada ujung berikutnya. Aku hanya bisa melihat ke dalam ruang ICU melalui kaca pembatas karena selain saat jam besuk, keluargapun tidak diperbolehkan masuk ke dalam.
“B*jingan!! Kau apakan Kalila??!!” tiba-tina Angga datang dan mencengkram kerahku.
“Di mana Kalila?” tanyaku padanya.
BRAK!!
“Kau tak berhak untuk tau!!!” Angga mendorongku sampai menabrak dinding.
“Kau membuatnya meregang nyawa! Dan kau masih berani datang mencari dirinya?”
“Di mana Kalila?”
“Kau bin*tang, Arvin!!” bentak Angga, dia kembali mencengkram kerahku, dan memberikan sebuah pukulan pada wajahku.
“Iya, aku memang bin*tang.” Aku terperosok ke bawah, menangis, aku merasa kehilangan.
“Pergilah!! Jauhi Kalila!! Dia lebih baik tanpamu!!” teriak Angga.
“Tidak!! Jangan jauhkan aku darinya!”
“B*jingan tak tau diri.” Angga kembali memukulku. Aku tak menghindarinya, aku memang pantas menerimanya.
“Kalila!! Di mana Kalila?” tanyaku lagi.
Aku belum menyerah, aku ingin mengetahui bagaimana keadaanya? Setidaknya izinkan aku melihatnya sekali ini saja.
Rasa anyir memenuhi rongga mulutku, pukulan Angga menyisakan darah pada mulut dan juga hidungku.
“Izinkan aku bertemu dengannya!!” Aku mencengkram kaos Angga.
“Baiklah!! Temui dia satu kali, lalu pergilah dari hidupnya!!! Selamanya!!!”
“Baik. Aku akan pergi darinya.”
Setelah aku membuat janji, Angga mengantarku menemui Kalila. Atas ijin dokter jaga kami diperbolehkan masuk ke dalam ruangan dingin itu.
Aku menangis saat melihat keadaannya. Tubuhnya terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit dan tak sadarkan diri. Kulitnya yang putih semakin memucat. Bibirnya tak lagi merekah merah.
“Apa yang telah ku lakukan padamu, Kalila?” Aku menitikkan air mataku.
“Dia koma, dan itu semua karena dirimu.” Angga mendekati ranjang, ia mengelus wajah cantik Kalila.
“Kalila, bangun, Baby!!! Bangun!!!” teriakanku seakan tak berarti. Kalila tetap terlelap, terpejam dalam tidurnya yang panjang.
“Maafkan aku, baby. Maafkan aku.”
— MUSE S2 —
•••
Sudah satu Minggu Kalila tak sadarkan diri. Aku hanya bisa melihatnya dari balik kaca pembatas. Mengawasinya, detik demi detik sampai akhirnya dia tersadar. Aku menangis bahagia saat mengetahu Kalila telah sadar dan dia baik-baik saja.
Namun, sebuah ironi yang menyakitkan terjadi. Saat melihatny tersadar, Kalila sama sekali tak mengingat diriku. Ia tak mengingat keberadaanku. Ia tak mengingat akan cinta dan kenangan yang pernah terjadi di antara kami.
“Kau lihat sendiri betapa dia membencimu!! Pergilah Arvin. Jangan pernah muncul lagi di depannya!” Angga menemuiku, menagih janjiku padanya.
Aku mengangguk, aku mengerti. Aku akan pergi dan menghilang dari kehidupannya. Aku tak ingin kembali menyakitinya dengan kedua tanganku sendiri.
“Jangan kembali lagi!!” Angga berbalik dan meninggalkanku.
Dengan berat akhirnya aku memutuskan untuk pergi meninggalkannya. Kini aku hanya bisa berharap dia hidup dengan bahagia.
•
•
•
Aku kembali ke apartemenku, melihat dirinya untuk terakhir kali sebelum kembali ke kota J. Kulihat Kalila sedang membersihkan tanaman kaktus yang lama tak terawat. Aku mengintipnya dari balkon, aku langsung bersembunyi begitu Kalila berbalik dan melihat ke arah balkon rumahku.
Air mata menetes dari matanya.
Kenapa kau menangis, Kalila?
Apakah kau merasakan kehadiranku?
Ataukah kau mendengarnya? Degupan jantungku yang melaju dengan cepat saat melihat wajah cantikmu?
Aku terperosot, terduduk pada tepian dinding. Mendengarnya menangis dibalik dinding. Kami memang terpisah oleh dinding kamar, namun rasa sakitnya sama-sama begitu mengiris tajam dalam hati kami masing-masing.
Ingin rasanya aku merobohkan dinding ini untuk memeluk dirimu, Kalila.
Tapi aku lebih ingin melihatmu hidup dengan bahagia.
Maafkan kesalahanku dulu, baby.
— MUSE S2 —
•••
Saham Maxsoft merosot tajam karena berita kecelakaanku. Apa lagi aku mulai menutup kantor cabang di kota S dan kembali ke ibu kota. Ketidak hadiranku dalam mengurus perusahaan membuat Maxsoft mengalami kerugian besar.
Aku terpaksa memindahkan sahamku pada Arron, keponakanku. Kini Maxsoft bisa bertahan karena pengaruh nama Julius ayahnya. Juga dengan kehadiran CEO yang baru membuat harga saham kembali menguat. Laba Maxsoft tak lagi menguap di pasar saham.
“Kau menyerahkan Maxsoft padaku, Paman?” Arron mendelik kaget.
“Benar, urus Maxsoft dengan baik, Arron.”
“Lalau apa rencana Paman setelah ini?”
“Aku akan ke luar negeri. Menikmati hidup nyaman dengan sisa uangku.” Aku menjawab pertanyaan Arron sambil tertawa.
“Kapan?”
“Secepatnya.”
“Akukan akan bertunangan! Paman jangan pergi sebelum pestanya digelar, ya!”
“Baik, aku akan datang saat pesta pertunanganmu, Ron!” Aku menepuk pundak Arron. Anak kecil ini sudah besar rupanya, dia bahkan sudah berani meminang anak orang.
“Sip!!”
“Jaga calon istrimu baik-baik, ya.” Aku tak ingin Arron mengulangi kesalahanku.
“Paman sendiri kapan menikah?”
“Doakan saja.” Aku meninggalkannya sambil melambai.
“Jangan lupa datang!!!” teriak Arron.
“Iya!!”
— MUSE S2 —
•••
Aku menatap tajam pada wanita di depanku saat ini. Air mata terus terjatuh dari kedua bola mata bulatnya. Aku mengelus wajahnya dengan ibu jari, menghapus butiran air bening yang turun mengalir membasahi wajah cantiknya.
“Kalila?!” panggilku setengah tak percaya.
“Kenapa kau meninggalkanku?!” tanyanya, suaranya terdengar begitu sengau.
“Maaf,” hanya kata maaf yang bisa ku katakan padanya saat ini.
Aku memeluk tubuhnya dengan erat. Badannya sekarang begitu kurus. Apa dia tak hidup dengan benar? Apa dia tak makan dengan benar? Apa di tak bahagia selama ini?
“Aku yang harusnya minta maaf, Kak. Aku menyesal telah melupakanmu dua bulan belakangan.” tangis Kalila lebih kencang.
“Jangan menangis!!” pintaku.
Aku tak masalah kalau kau melupakanku, Kalila, asalkan kau hidup dengan bahagia.
“Jangan pergi lagi! Maafkan aku, aku tak bisa hidup tanpamu.” Kalila memohon.
“Kalila, dengarkan aku! Kau bisa hidup bahagia tanpaku. Aku hanya menyakitimu lagi dan lagi.”
Kalila hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
“Aku takut, Kalila. Aku takut akan menyakitimu lagi. Bahkan bisa saja lebih parah dari sebelumnya!” lanjutku.
“Kau bilang aku adalah obatmu!! Kau bilang aku adalah penawar dari jiwamu yang rusak.”
“Tapi nyatanya aku malah menyakitimu terus, Kalila.” Aku tertunduk malu, mengakui kesalahan dan juga kekuranganku.
“Aku akan jauh lebih sakit saat kau tak ada di sisiku, Kak.” peluk Kalila.
“Kalila?!”
“You are my Muse, Arvin. Ingat janjimu padaku!”
“Baby?”
“Jangan tinggalkan aku!!”
“Iya.”
“Be my MUSE, and the true color of mine. My art just like a blank space without you in my arm.”
“I will, baby.”
Kalila tersenyum dan kembali mencium bibirku. Menguluumnya begitu lekat dan dalam. Membuatku tak kuasa menahan lagi rasa rindu di dalam hatiku. Aku melingkarkan tanganku pada pinggangnya yang ramping. Aku memeluk dan menciumnya sampai tubuh mungilnya terangkat ke atas.
— MUSE S2 —
•••
“Apa kau akan bertunangan, Kak?” Kalila melepaskan pelukkannya.
Sepertinya dia tidak tahu kalau bukan aku yang bertunangan malam ini. Jabatan CEO Maxsoft sudah berpindah ke tangan Arron.
“Bagaimana kau tahu?” Aku putuskan untuk sedikit menggodanya.
“Jadi benar, ya?” Kalila menundukkan wajahnya dan bersedih.
“Kau mau aku membatalkan pertunangan itu?” tanyaku.
“Bolehkah?!” Kalila langsung mengangkat wajahnya.
“Ternyata kau sangat kejam,” senyumku.
“Bukankah kau juga kejam.” tuduh Kalila. Dia mengerucutkan bibirnya.
“Baiklah, kalau begitu ayo ikut aku!”
“Kemana?”
“Bawa aku kabur dari pertunangan ini!”
“Serius?!” Kalila tercengang.
“Tentu saja.”
Aku menarik tangan Kalila dan mengajaknya berlari. Masuk ke dalam kamar hotel tempat kami bertemu pertama kali dulu. Hotel ini memang milik keluargaku. Aku selalu menginap di kamar yang sama. Lantai 14, kamar nomor 05.
— MUSE S2 —
•••
Aku langsung memepetkan tubuh Kalila begitu pintu kamar terkunci. Menciumnya. Melumaatnya dengan kasar, bermain dengan bibirnya yang begitu merah dan penuh. Aku begitu merindukan rasa manis dari bibirnya itu.
“Ah, Kak. Bukankah ini terlalu terburu-buru?” Kalila mendorongku sedikit menjauh.
“Kenapa? Kau tidak mau?”
“Aku berkeringat dan pasti sangat bau.”
“Benarkah? Kau mau aku membersihkan dirimu dulu?!” godaku.
“Erg....”
“Kau mengajakku kabur dari pertunangan itu, Kalila. Sekarang kau menolakku? Apa aku kembali saja ke sana?” Aku menggodanya lebih lagi.
“Tidak!! Jangan!!” Kalila langsung melingkarkan tangannya pada leherku dan kembali mencium bibirku.
“Dasar, kucing nakal!”
Aku langsung membopong tubuh Kalila pada pundak dan merebahkannya di atas ranjang. Aku membuka jas dan juga kemeja yang menutupi tubuhku sebelum kembali memeluknya. Kalila menutup wajahnya yang bersemu merah. Aku menggenggam pergelangan tangannya dan membuatnya memperlihatkan wajah cantiknya yang begitu merona.
Kalila tersenyum manis, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. Ya Tuhan, aku begitu merindukan senyuman manis itu, sudah lama aku tak melihatnya.
“Hallo, Om Ganteng.” Kalila mengelus cerukan di bawah dahi sampai pada ujung hidungku dengan punggung jari telunjuknya.
“Hallo, juga, Meong!” Aku membalas sapaan manjanya.
“Hahahaha..., siap meong?”
“Wanitaku yang selalu mau-mau tapi malu untuk mengakuinya,” tukasku.
Aku kembali fokus untuk mencium lehernya dan menyesap lembut setiap jengkal kulit tubuhnya yang halus. Bau parfum manisnya mengingatkanku akan kenangan masa lalu yang begitu indah.
Aku masih mengingat malam itu.
Kalila mendatangiku dengan seragam sekolahnya. Dengan wajah yang tegar dia masuk ke dalam pelukanku. Aku masih mengingat juga betapa aku terpesona dengan kedua bola matanya yang hitam dan pekat. Yang paling membuatku tak bisa melupakannya adalah rasa bibirnya yang terkecap begitu manis.
“Kalila, aku mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu, Kak.”
Kalila menarik tubuhku agar semakin mendekatinya. Kami bersentuhan, membagi kehangatan suhu tubuh dan juga rasa cinta yang meluap.
Air mata mengalir dari sudut matanya saat pandangan kami bertemu. Kebahagian menyelimuti hatiku. Melihatnya begitu dekat dan merasakannya begitu hangat membuatku ikut menangis bahagia.
“Panggil namaku, Kalila!” pintaku di sela-sela cumbuan kami.
“Ar—vin,” lengguhnya panjang.
Aku menikmati lengguhan panjangnya yang memanggil namaku. Menyiratkan betapa berartinya diriku di dalam hidupnya.
“Menikahlah denganku, Kalila.”
“Arvin?”
“Hiduplah denganku.”
Kalila menjawabnya dengan anggukan dan getaran hebat pada bibirnya yang terus tersenyum bahagia. Air matanya keluar tak terbendung lagi.
“Aku bahagia, Kak.” Kalila memelukku dan mencium garis rahang di bawah telingaku.
“Aku juga bahagia, Kalila.”
Ciumanku kembali mendarat pada tubuh indahnya, tubuhku mulai menghujamnya dengan kenikmatan yang dihasilkan dari sebuah kata yang penuh makna. Sebuah kata yang disebut CINTA.
“Argh....” Kalila merancau sambil menjambak rambutku pelan.
“Rasakanlah, Kalila!!”
“Rasakanlah betapa aku mencintai dirimu.”
— MUSE S2 END —
MUSE S2 END.
Tetap dukung kisah cinta mereka ya.
Tetap like, comment, juga Vote.
Jangan lupa masih ada event berhadiah kaos bertuliskan MUSE untuk 3 voter terbanyak.
Lop yu my readers
Habis ini masih ada epilog. So, Stay read ya.
Juga saksikan kisah cinta Kanna dan juga Leon pada MUSE S3 yang akan terbit di bualan Mei.
Salam manis
dee.Melina
❤️❤️❤️
Lap yu