
MUSE S5
EPISODE 25
S5 \~ PULAU PARA DEWA
\~ Kehidupan manusia itu rumit. Kadang ada banyak hal yang terjadi tak sesuai dengan harapan kita, namun kita tetap harus bersyukur pada-Nya. Saat kau bersyukur kau akan bisa melihat nikmat dan manisnya kehidupanmu, bahkan tiap tarikkan napasmu pun akan berasa begitu indah\~
___________________
AUTHOR POV
Tak butuh waktu lama untuk menyebrangi lautan sempit di antara Pulau J dan Pulau B. Bis yang ditumpangi Bella hanya butuh waktu 2,5 jam untuk mengantarnya sampai ke terminal di pinggir pelabuhan. Bella turun disambut dengan beberapa pengamen jalanan, Bella memberikan sisa uang kecil yang dimilikkinya. Melihat wajah bahagia para pengamen kecil yang mendapatkan uang membuat Bella ikut tersenyum.
Bella melirik ke arah jam ponsel, pukul 12 malam, dia harus segera mendapatkan penginapan terdekat karena lelah. Tanpa menunggu Bella menyandang tasnya dan bergegas mencari motel atau guest house setempat.
“Ini kunci kamarnya, Nona.”
“Terima kasih.”
Bella cukup mudah mendapatkan motel bersih di sekitar terminal, Pulau B memang terkenal sebagai kota pariwisata, keindahan alam, budaya, dan juga hiburan malamnya, tak heran banyak bertebaran penginapan dari harga paling murah sampai harga selangit yang penuh dengan kemewahan.
“Capek sekali!” Bella merebahkan tubuhnya, ia mengambil ponselnya, mulai mencari keberadaan alamat milik bibinya dengan g*ogle maps.
“3 jam perjalanan dengan motor, 3,5 jam dengan bis, aku harus berganti bis dua kali.” Bella menggeser-geser peta pulau ini dengan jari telunjuknya
“Sudahlah aku harus mandi.” Bella beranjak dari kasur dan bergegas membersihkan diri, ia selalu memandang ke arah cermin pantulan dirinya. Melihat sudah sejauh apa perutnya menonjol.
“Wah, belum terlalu terlihat, ya?” Bella sedikik kecewa, namun tetap tersenyum. Usia kandungan Bella baru memasuki 6 minggu hari ini, tentu saja belum menonjol, paling hanya sebesar buah stawberry.
Untunglah tidak terjadi apa pun padamu sayang. Sepertinya Mama bakalan kehilangan keinginan untuk hidup andaikan harus kehilanganmu juga. Bella bergumam dalam hati.
Bella meminum susu dan juga makan sedikit roti sebelum beranjak untuk tidur. Bella sudah tidak sabar untuk memulai harinya dengan luapan energi yang baru. Sudah tak sabar menata kembali hidupnya.
Semangat Nak! Kita jalani hari esok dengan senyuman dan kebahagiaan.
•
•
•
Namun saat pagi harinya ...
“Hoek!! Hoek!!” Bella kembali muntah, hamil muda memang sangat menyiksa, ia harus terus mengalami morning sickness yang membuatnya lemas.
“Haduh, Nak!! Mama nggak kuat kalau harus muntah terus seperti ini tiap pagi,” ucap Bella sambil mengelus perutnya.
Setelah merasa lebih baik, Bella membuka-buka artikel seputar kehamilan. Bagaimana cara meredam morning sickness agar tidak terlalu parah. Ia mencatat tiap detail artikel itu, mulai dari makanan sehat, sampai perawatan diri saat hamil. Bella juga mencatat beberapa panduan umum saat hamil muda, ternyata suasana hati sangat berpengaruh pada hormon kehamilan.
“Teh jahe, buah segar, dan suasana hati. Dukungan orang-orang terkasih bisa membuat morning sickness terasa lebih ringan.” Bella menggumamkan artikel yang sedang dibacanya.
Ck, sudah tak punya orang yang terkasih. Gerutu Bella dalam hati.
Bella menghentikan tulisannya dan mulai mengelus dadanya, ia tak boleh menangis. Harusnya ia senang karena kini ia bebas, sudah tak ada lagi mama, Lucas, atau pun teman-teman sekelas yang biasa menghinanya. Bella harus bangkit, dia tak boleh berlarut-larut dalam kesedihannya. Dia harus menata hati agar anaknya pun bisa tumbuh dengan sehat.
Bella mengepak kembali barang-barangnya. Ia menghitung uangnya, Bella harus sangat mengirit sekali biaya hidupnya sampai dia bisa menghasilkan kembali uang. Tak mungkin dia hanya mengandalkan uang pemberian Lucas selamanya. Uang itu tak akan bertambah dengan sendirinya kecuali lewat bunga bank, itu pun tidak seberapa.
Bella sebenarnya juga sempat pesimis lantaran statusnya belum lulus SMA. Walupun ujiannya sudah berakhir tapi pengumuman kelulusan dan pengambilan izasahnya belum sempat dilakukan. Jadi pendidikan terakhir Bella hanyalah SMP, itu pun juga tertinggal di rumah.
— MUSE S5 —
Sebuah rumah dengan nuansa khas pulau ini tersuguh di depan Bella. Ada pura-pura kecil sebagai tempat ibadah kepada para Dewa pada bagian terdepan. Lalu gapura kecil berundak dengan pintu kayu besar penuh ukiran menghiasi gerbangnya. Bella melangkah dengan sedikit ragu, namun ia telah membulatkan tekatnya demi anak ini. Bella tak punya siapa-siapa untuk bersandar, dan dia berharap bibinya akan mengenalinya saat ini.
Dok Dok Dok!!
Bella mengetuk pintu.
Seorang wanita sedikit lebih tua dari umurnya membuka pintu. Ia menggunakan kebaya putih dengan jarik dan ikat pinggang kain berwarna kuning. Rambutnya tersanggul dengan rapi dan ada tanda pada dahinya.
“Cari siapa?” tanyanya ramah.
“Apa benar di sini rumah Aunty Elise?” tanya Bella balik.
“Benar, tapi Nyonya Elise sedang mengajar pagi ini, dia ada di sanggar,” jawabnya.
“Bolehkan aku bertemu dengannya??” tanya Bella lagi.
Wanita itu mengerutkan alisnya sejenak, mengamati Bella dari ujung kepala sampai kaki. Penuh luka, rambut tak terlalu rapi, dan membawa tas besar. Penampilan Bella mirip dengan korban KDRT yang kabur dari rumah. Ia menghela napasnya panjang sebelum kembali bertanya pada Bella, “anda siapa? Ada keperluan apa? Saya perlu alasan untuk mengganggu proses latihan beliau.”
“Tidak, aku tidak akan mengganggunya. Aku akan menunggunya sampai dia selesai.” Bella menggelengkan tangannya.
“Siapa namamu, Dek?”
“Nama saya Bella, saya keponakan Aunty Elise.” Bella menyebutkan namanya.
“Ah, baiklah, akan saya sampaikan. Bagaimana kalau kau masuk ke dalam?”
“Terima kasih.” Angguk Bella.
Bella mengikuti wanita itu masuk ke dalam rumah. Rumah itu sangat luas dan masih asri, penuh dengan pepohonan dan juga taman yang luas. Daerah ini memang terkenal dengan nuansa perdesaan yang masih sangat jauh dari sentuhan modern. Tak heran sanggar-sanggar yoga banyak berkembang di sini, karena hamparan sawah dan hawa sejuk pegunungan cocok bagi mereka yang mencari kenyamanan hati dan menjernihkan pikiran.
Bella melihat ke sebuah sanggar yang cukup luas. Ia melihat wanita yang juga seumuran dengan mamanya sedang duduk bersila dan telapak tangan bersatu di depan dada. Ia mengajar beberapa murid yang menirukan gerakannya. Aroma bunga melati merebak hambir ke seluruh ruangan, memberikan sinyal pada otak untuk merelakskan pikiran. Bella memilih duduk pada taman, melihat dari kejauhan wanita cantik itu dengan antusias.
“Namaste!” ucapnya saat mengakhiri sesi latihan.
Setelah memberikan hormat, para murid Elise diizinkan beristirahat, sedangakan ART tadi melaporkan perihal keberadaan Bella kepada Elise. Wajah Elis yang tertegun, perasaannya tak bisa dideskripsikan, ia seakan mendengar berita membahagiakan sekaligus menyedihkan secara bersamaan.
Elise langsung berlari untuk menghampiri Bella, tak mengindahkan kakinya yang menyentuh tanah basah tanpa alas kaki.
“Bella?! Kau benar Belaciaquin??” Elise mendekap wajah Bella dengan tangkupan tangannya sembari menggerakkannya perlahan, ia mengecek wajah keponakannya yang kacau dan penuh dengan luka.
“Bell?? Apa yang terjadi padamu?” Elise tak kuasa menahan tangis dan juga harunya saat melihat keponakkannya begitu menderita.
Elise memang bukan bibi kandung Bella, tapi dia sangat menyayangi Bella karena dia mencintai papa Bella. Setelah papa Bella meninggal, Elise seakan juga larut dalam deritanya dan memilih untuk pergi. Menata hati juga kehidupannya dengan mendalami meditasi dan yoga di pulau ini.
“Ceritanya panjang Aunty.” Bella kembali terduduk pada bangku taman.
“Aunty punya banyak waktu untuk mendengarnya.” Elise menggandeng Bella naik ke sanggar berbentuk pendopo, cukup luas. Mereka duduk berdua sambil memandang hamparan sawah yang membentang luas. Menikmati hembusan angin sejuk menerpa wajah mereka berdua.
Bella menceritakan semuanya, segala derita, masalah, pertemuan, cinta, air mata, dan juga kehamilannya. Bagaimana hidupnya hancur karena mama, bagaimana dia nekat datang kemari, bagaimana kandasnya kisah cintanya karena Lucas ternyata tak cukup dalam mencintainya.
Rasa cinta yang timbul dan tak bisa menghilang dalam hatinya membuat Bella terus merasa sesak dan menderita.
“Jangan salahkan cintanya, Bella. Mencintai seseorang bukanlah hal yang salah, buktinya kau merasa bahagia saat bersama dengannya dan juga saat mengingat dirinya, bukan?” Elise menepuk pundak Bella, ia juga menghapus air mata yang menetes pada wajah cantik Bella. Bella mengangguk sebagai jawaban, benar kata Elise dia begitu bahagia saat Lucas mendekapnya dulu, dia juga begitu bahagia saat mengingat hal-hal kecil dalam manisnya kisah cinta mereka.
“Jangan bersedih, tidak baik untuk janinmu.” Elise mengelus perut Bella, spontan Bella langsung memeluk tubuh kurus wanita di hadapannya saat ini. Bella menangis, menangis, dan menangis. Membuncahkan semua perasaan dan luapan emosi. Elise mendekapnya, memberikan kekuatan yang Bella perlukan untuk bertahan dalam menjalani hidupnya.
— MUSE S5 —
“Apa Aunty sudah menikah? Punya anak?” Bella bertanya panjang lebar seputar kehidupan bibinya.
“Sudah, aku menikahi guru meditasiku sendiri. Sayangnya dia meninggal dua tahun yang lalu, beda usia kami terpaut cukup jauh,” jawab Elise sambil mengguyur rambut Bella dengan air. Elise sedang memandikan Bella sebagai ritual bebersih diri dari hal-hal buruk dan nasib sial. Kepercayaan yang dianut penduduk asli pulau itu.
“Apa Aunty punya anak?” tanya Bella.
“Sayangnya tidak, belum rejeki kami, para Dewata tak memberikannya.” Elise dibantu oleh Sekar, ART nya menggunting dan merapikan rambut Bella. Ia melakukannya juga sebagai simbol membuang kesialan dari hidup Bella.
Bella menurut saat Elise membelitkan kain jarik dan memakaikan kebaya putih serta ikat pinggang kuning. Dengan telaten Elise mengeringkan rambut Bella dan juga menyisirnya dengan rapi. Kini rambut Bella panjangnya hanya menyentuh bawah telingan saja.
Elise memohon perlindungan Dewata dengan menghidupkan dupa dan menggerakkannya sembari berdoa. Ia menancapkan dupa dan juga menyerahakan sesajen di pura kecil depan rumahnya, ia juga mengajak Bella untuk berdoa.
“Semoga Para Dewata memberkatimu, Nak. Memberimu kebahagiaan dan hidup yang baru.” Elise tersenyum dan memberikan tanda di dahi Bella, Bella membalasnya dengan senyuman yang tak kalah hangat.
— MUSE S5 —
Bella keluar dengan dress katun berwarna hijau yang segar. Warna apa pun sangat cocok bila di sandingkan dengan kulitnya yang putih. Bella menggandeng tangan Elise, bibinya itu memang sengaja mengajak Bella keluar menikmati pemandangan dan tarian adat desa setempat.
Elise berharap dengan melihat hiburan dan menghirup udara segar akan membuat perasaan Bella jauh lebih baik.
“Kita mau ke mana, Aunty?” Bella berjalan dengan antusias, ia terus menatap ke arah pedagang kaki lima yang menjual berbagai macam kudapan. Beberapa turis mancanegara juga terlihat memenuhi kawasan festival.
“Melihat pentas tari,” jawab Elise.
Bella membeli beberapa camilan untuk menemaninya menonton acara. Sekarang Bella sangat doyan makan, suasana hatinya yang membaik membuat rasa mualnya menjadi sedikit berkurang. Bella jadi bisa menahannya dan makan dengan lahap.
“Duduklah di sini, Nak.”
Bella mengikuti instruksi Elise dan duduk di sampingnya. Ia begitu antusias melihat perhelatan tari yang sengaja di selenggarakan karena hari raya besar akan terjadi beberapa hari lagi. Gelapnya malam tersapu oleh terangnya nyala api yang berasal dari obor dan juga lampu minyak. Desa ini memang masih mempertahankan kearifan lokal dan meminimkan penggunaan barang modern.
Tak lama. Musik yang berasal dari seni karawitan mulai berbunyi. Bergemerincik seiring dengan bunyi kostum saat para penarinya melanggak-lenggokan tubuh. Mereka terlihat anggun dan sangat elok. Beberapa penari pria dengan kostum kala dan barongan emas keluar, membuat semua penonton berdecak kagum seraya bertepuk tangan. Para turis asing terlihat sibuk mengabadikan tarian dengan ponsel mereka.
“Kau lihat, Nak! Tarian itu digunakan untuk memuja Sang Hyang Widi. Sang Pemilik Kehidupan.”
“Benarkah?” Bella terkagum.
“Segala sesuatu diciptakan oleh Sang Pencipta, dan harus dikembalikan oleh manusia untuk menghormati-Nya.” Elise menerangkan arti tarian itu kepada Bella.
“Di sini semua orang begitu menjunjung tinggi nilai kepercayaan dan juga pemujaan mereka, ya, Aunty?”
“Maka itulah disebut Pulau Para Dewa.” Elise merangkul pundak Bella dan mengecup pucuk kepalanya.
“Ingatlah, Bella. Hidupmu kini bukan hanya milikmu. Jadi kau harus menjaganya.” Elis mengelus lagi perut Bella.
“Kehidupan manusia itu rumit. Kadang ada banyak hal yang terjadi tak sesuai dengan harapan kita, namun kita tetap harus bersyukur pada-Nya. Saat kau bersyukur kau akan bisa melihat nikmat dan manisnya kehidupanmu, bahkan tiap tarikkan napasmu pun akan berasa begitu indah, Bella.”
“Aunty, ucapanmu sangat dalam.” Bella memeluk tubuh bibinya.
“Nikmatilah, Bella. Nikmati keindahaan rasanya dan lepaskan kesesakkan yang membelenggu hidupmu.”
“Baik, Aunty.”
Bella mulai berani menatap masa depannya. Benar yang diucapkan bibi Elise, Bella harus selalu bersyukur agar bisa memberikan cinta dan kasih sayangnya pada malaikat kecilnya kelak.
(Visual bibi Elise mirip sama Sophia Latjuba, saya terinspirasi sosoknya dari artis terawet muda yang satu ini.)
— MUSE S5 —
SEKILAS INFO.
Arvin : Hai, baby. Ketemu sama aku lagi nih. Gimana kabar kalian? Bagus donk ya pastinya, masih di rumah saja dan jaga kesehatankan??
Readers budiman : Author ke mana Vin?
Arvin : Lagi sibuk nangkepin ikan cetol diselokkan buat makan si kadal, jadi sekilas infonya saya yang pimpin.
Readers budiman : emang kadal makan cetol?!
Arvin : iya ya 🤔🤔
Readers budiman : Authornya keknya agak sarap ya sekarang.
Arvin : wkwkwk, bukan gw yang ngomong!! ya udah para readers yang budiman, nungguin author cari cetol kalian like dan comment dulu OK. Siapa yang comment paling panjang dan menarik ntar aku cium 💋💋
Kalila : (dateng trus jewer telinga Arvin) gombal terooosss.... ngerayu terooosss....
Arviin : ampun baby, hanya kau satu-satunya.
NOTED :
Morning sickness adalah mual muntah yang terjadi saat hamil. Meski disebut morning sickness, kondisi ini tidak hanya terjadi pada pagi hari, tetapi juga pada siang, sore, atau malam hari. Kebanyakan ibu hamil mengalami morning sickness pada trimester pertama kehamilan. Walau tidak membahayakan ibu dan janin, morning sickness dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari. (Sumber: alodokter)