
MUSE S4
EPISODE 12
S4 \~ RA CEMBURU?
\~Aku mengepalkan tanganku di samping pinggang. Ingin marah namun tak bisa, ingin berlari untuk merebutnya namun tak punya hak. Dan parahnya, aku bahkan masih tak mengijinkan Ken keluar untuk mengambil alih tubuh ini.\~
___________________
RA POV
Dua hari yang lalu ...
Inggrid tampak begitu cantik dengan dress biru langit bertaburkan bunga-bunga kecil malam ini. Ternyata dia bisa juga berdandan dengan manis. Aku kira dia sudah tak ada sisi kewanitaan dalam dirinya.
Malam ini dia memang sengaja datang untuk memberikan baju Aladin padaku. Memintaku untuk fitting baju itu. Aku menurut dan memakainya, mencobanya lalu memamerkannya pada Inggid.
Wajahnya melongo melihatku, mungkin terpesona, mungkin juga sedang berpikir nakal. Aku tak bisa menghentikan rasa geli yang menggelitih hatiku. Wajahnya benar-benar imut dan lucu. Aku menyukai ekspresinya itu.
Aku menyentikkan jariku beberap kali agar pandangannya kembali fokus padaku sembari menggodanya, “Kau mikir mesum ya?”
“Nggak kok!”
“Jangan bohong!”
“Dibilang enggak!!” serunya sebal. Dia pasti bohong, ekspresinya sangat lucu soalnya.
“Oh, ya sudah.”
Inggrid duduk di bibir ranjang. Aku mendekatkan langkah kakiku dan berhenti tepat di depannya. Aku memandang wajahnya yang mendongak untuk memandangku. Entahlah, wajahnya begitu terlihat manis dan seakan menarikku dengan pesonanya.
Woh!! Apa kau sudah gila, Ra? C’om..., Dia hanya sedikit lebih cantik dari biasanya!
“Omo...!” Inggrid semakin berjengit ke belakang.
“Kau tak pantas memakai baju seperti itu, Inggrid.” Aku tak tau kenapa yang keluar bukanlah pujian! Padahal aku ingin memujinya saat itu.
“Ra?!” panggilnya.
Aku menyelipkan kedua telapak tanganku di belakang kepalanya. Aku ingin memonopolinya saat itu, ingin mengatur ritme permainan bibir kami. Tapi aku tersadar, bukankah aku membencinya??!! Ini pasti sebuah kesalahan! Argh....! Gila Ra!! Kau sudah gila. Tanpa sadar aku masuk dan membiarkan Ken keluar.
KEN POV
Ra sialan, dia mencium Inggrid! Padahal dia bilang sangat membencinya! Sebenarnya apa maunya?!
Aku melanjutkan ciuaman kami, sudah lama aku merindukan kenikmatan itu bercampur dalam manisnya indra pengecap. Inggrid memang begitu cantik hari ini, tak ada yang bisa menolak pesonanya. Tidak juga dengan Ra.
•
•
•
Esoknya aku menjemput Inggrid pulang sekolah. Kami kembali bertemu di rumah, menikmati semangka dan juga minuman dingin sebelum beranjak naik ke kamar.
Inggrid menceritakan semua ide dan gagasannya mengenai jalanan kumuh di belakang perumahan. Aku begitu senang, Inggrid punya hati yang sama denganku. Memang seperti itulah harusnya seorang manusia, berbagi cinta dan kasih sayang dengan sesama. Tidak harus dalam wujud uang, dengan membantu memikirkan nasib mereka saja pasti sudah sangat berarti bagi mereka.
“Thanks, girl.” Aku mengecup kepalan tangannya.
Ah, Mencintainya benar-benar sebuah anugrah yang begitu indah.
Aku ikut berbaring di sampingnya. Bercanda dan berbagi cerita. Baik Inggrid dan aku sama-sama tak pernah bosan mendengarkan cerita dari pasangan kami. Karena dengan mendengar kau bisa merasakan dan ikut menikmati kehidupan pasanganmu.
“Cium aku Ken!”
“Sekarang?” Aku kaget dengan permintaannya.
“Iya.”
Aku hendak mendekatkan wajahku, dan mencium bibir ranumnya yang terlihat penuh. Mataku tak bisa luput dan terus memandang binar matanya yang begitu indah. Namun..., belum sempat aku menciumnya, Ra sudah menekan jiwaku masuk.
RA POV
Kenapa??
Kenapa aku tak rela Ken menciumnya?!
Ada apa dengan diriku?!
“Hei ganjen!! Kenapa tiap saat minta cium?”
“Ra?”
“Kenapa tidak pulang dan malah main ke mari? Keano mesti belajar kau tahu!!” Aku mencari-cari alasan untuk mengusirnya.
“Kenapa kau muncul pas Ken mau menciumku sih?! Nyebelin deh!” gerutu Inggrid.
“Ck ck ck, cewek ga ada ahklak!!”
“Kau yang nggak ada ahklak!! Bisa-bisanya keluar saat aku ingin berciuman.” balasnya keras.
“Sudah sana pulang!!” usirku. Aku tak bisa menahan hasrat tubuhku padanya dan bisa saja aku menciumnya saat ini.
Inggrid bangkit dengan sebal dari atas kasur dan menyahut tasnya.
“Hei!” Panggilku.
“Apa?”
“Tidak!! Tidak jadi, pulanglah.” Aku tak bisa mengatakan padanya agar tak mencium Ken. Memangnya siapa aku?
“Dasar aneh!”
Inggrid kembali membuka pintu dan keluar, namun ia berhenti karena teringat sesuatu, “hei! Nanti malam kau jangan keluar, aku akan berlatih dansa dengan Ken.”
•
•
•
Sudah jam 7 malam, aku masih berusaha menahan jiwa Ken agar tidak keluar. Aku akan menggantikannya berlatih dansa dengan Inggrid. Perasaanku memang tak masuk diakal, aku begitu ingin menemuinya dan berdansa dengannya. Bahkan aku bisa dengan mudah berusaha menipunya dan mengatakan padanya kalau aku adalah Ken.
“Ken!!” Sapa Inggrid.
“Hallo, girl.” Aku menirukan cara Ken memanggil namanya.
“Ken? Ra?” Inggrid sedikit curiga.
“Ken, Inggrid.” jawabku.
“Ken!!” Inggrid berlari dan memelukku.
“Sudah makan? Mau aku masakkan sesuatu?” tawarku basa basi, aku harus bisa meniru Ken atau dia akan curiga.
“Nggak, aku sudah makan. Dan kita harus berlatih dansa, waktunya semakin mepet Ken.”
“Baiklah, ayo kita mulai.”
“Jangan terlalu kaku OK!” pintanya.
“OK, Inggrid.”
“Terus kau bilang pada Ra jangan muncul dan mengacaukan semuanya OK!” ucapan Inggrid membuatku sebal, namun aku menahannya.
“OK.” sebenarnya aku ingin membiarkan Ken yang mengambil alih tubuh ini saat ulang tahun Inggrid besok. Tapi berhubung gadis ini begitu benci padaku, tak ada salahnya juga aku membuatnya semakin sebal. Aku akan menggodanya besok.
Aku meletakkan tanganku pada pinggangnya. Lengannya bergelayut manja pada leherku. Membuatku merasakan aroma tubuhnya yang manis saat tubuh kami berdekatan. Wajahku menghangat, benarkan aku terpesona pada cewek bar-bar ini? Inggrid berjinjit agar bisa mengecup bibirku, membuatku kaget dan merasa aneh.
WAh, Aku ingin merasakannya lagi, merasakan ciumannya yang manis dan begitu memanjakan tubuhku ini.
“Aku mencintaimu Inggrid.” Apakah saat ini aku sedang berbohong? Atau mungkin berkata jujur?
“Aku juga Ken. Aku sangat mencintaimu.”
— MUSE S4 —
•••
RA POV
Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku menekan jiwa Ken dan keluar untuk menghadiri pesta ulang tahun Inggrid malam ini. Dengan balutan baju Aladin yang kurang bahan aku menemui Inggrid di ruang tunggu.
Dia begitu cantik, dia begitu mempesona dalam balutan baju berwarna toska. Perutnya yang ramping membuatku ingin memeluknya. Mengelusnya pelan atau bahkan mungkin menciumnya perlahan. Hish..., kenapa aku bisa memikirkan hal nakal hanya dengan melihat perutnya yang ramping?
Inggrid berdiri dan memandang ke arahku dengan riang. Dia kira aku Ken, dia pasti bahagia karena mengira Ken yang telah datang kemari.
“Kau cantik sekali.” pujiku. Aku mengatakannya dengan jujur.
“Thanks, Ken. Kau juga sangat tampan.” senyum Inggrid. Ck, kenapa aku tak suka dia memanggilku Ken? Bahkan memuji Ken!
“Aku bohong, kau jelek!” karena sebal aku jadi menghinanya. Kenapa aku jadi seperti anak kecil sih?
“Apa??”
“Sory, Inggrid. Aku Ra, aku datang menggantikan Ken.”
“Kenapa?”
“Kenapa ya? Karena Ken malu berpakaian seperti ini.”
“Kau bohongkan?”
“Oh, kalau kau tak ingin aku yang menemanimu aku akan keluar.” Aku menunjuk ke arah pintu keluar dengan ibu jari.
Akhirnya Inggrid menyerah, dia mengizinkanku mendampinginya naik ke atas panggung acara. Aku melepaskan gandenganku begitu Inggrid sampai ke singgasananya. Lalu bergegas menempatkan diri berbaur dengan para tamu undangan lainnya. Di sana aku bertemu dengan Momo, sudah lama aku tank membalas chat darinya. Momo menanyakan kabar dan juga hubunganku dengan Inggrid belakangan ini.
“Sepertinya Kak Keano masih begitu menyukai Kak Inggrid.” katanya.
“Benar, jadi mungkin lebih baik kita berteman saja Momo.” kataku membalas ucapannya.
“Hiks, padahal Momo mulai suka dengan Kak Keano.” Momo meninju bahuku pelan, seakan ingin protes dengan keputusanku.
“Maaf ya!” Aku menepuk bahunya dan tertawa. Momo juga tertawa, lalu mengobrol ringan dan sesekali bercanda. Yah, lumayanlah mengisi waktu dengan mengobrol.
Prosesi acara demi acara terselenggara. sampai tiba saatnya kami berdansa. Aku bangkit dan berpamitan pada Momo untuk menuju ke panggung belakang. Namun bukannya mendapatkan senyuman manis, yang ada aku malah mendapatkan pandangan nanar dan juga amarah dari Inggrid.
Sebenarnya ada apa dengan cewek ini? Kenapa moodnya cepat sekali berubah?! Menyebalkan sekali. Sepertinya ini memang hanya karena pengaruh tubuhku! Tak mungkin aku benar-benar telah jatuh cinta pada cewek bar-bar ini.
“Kita tak perlu berdansa Ra!!” ucapannya membuatku membelalak tak percaya.
“Lalu kau akan berdansa dengan siapa?”
“Entahlah, yang pasti aku tak ingin berdansa dengan lelaki menyebalkan sepertimu!” Kenapa tiba-tiba amarahnya semakin menjadi-jadi? Apa salahku?!
“Apa maksudmu Inggrid? Kita sudah latihan bersama!” Aku menanyakan alasannya.
“Kau bisa berdansa dengan Momo.”
“Apa maksudmu?!”
“Hei, easy!!” Kak Daffin muncul. Kenapa cowok ini di sini?
“Aku akan berdansa dengan Kak Daffin.” Inggrid langsung melingkarkan lengannya pada lengan Kak Daffin. Membuat rasa geram menyelimuti hatiku. Namun aku menahan amarahku, tak ingin mengacaukan pesta ulang tahunnya.
Aku melihat Inggrid berdansa dengan Daffin. Mereka tersenyum seakan-akan dunia ini milik berdua.
“Ra!! Kau berengsek!! Gara-gara kau Inggrid berdansa dengan cowok lain!” Tiba-tiba suara Ken muncul dalam benakku. Ia menyalahkanku karena menekan jiwanya.
“Diamlah, Ken!”
“Kau egois dan jahat, Ra!! Harusnya aku bisa menemaninya di sana! Kita bisa berdiri di sana dan berdansa dengan Inggrid.” cela Ken. Aku sadar aku jahat dan mulutku pedas, tapi aku benar-benar tak tau apa salahku!
“Gara-gara kau bicara dengan Momo!” Jelas Ken.
“Hanya karena itu?”
“Inggrid tidak suka kau bicara dengan cewek lain memakai tubuhku.”
“Ini juga tubuhku.”
“Sialan kau Ra!! Cepat bertukar posisi!” pinta Ken.
“Tidak!! Aku akan menyelesaikan semuanya dengan Inggrid!”
“Kau jangan bodoh! Jangan kacaukan pestanya!” Ken melarangku marah.
“Diamlah Ken!!” sekali lagi aku membentaknya dalam benakku.
Akhirnya aku mengalah, memilih pergi ke luar dari ballroom. Mengeluarkan unek-unekku dengan mengepalkan tangan pada pembatas balkon. Aku berteriak, suaraku tenggelam dalam hiruk pikuk lantunan musik yang meriah. Tak lama Inggrid keluar dengan Daffin pada balkon sebelah. Mereka berpegangan tangan! Kini amarahku tak bisa lagi ku bendung. Aku bergegas menghampiri balkon sebelah tepat sebelum Daffin memberikan ciumannya pada Inggrid.
“Brengsek!! Kau mau apa?!” tanyaku Kasar. Aku memukulnya sampai tersungkur. Aku mencengkram kerahnya dan mengakatnya naik ke atas.
“Jangan!!” cegah Inggrid, dia berteriak dari belakang.
Aku melepaskan cengkramanku dari kerah Daffin. Dengan segera aku menghampirinya. Mengusap kasar bibirnya yang kotor karena ciuman Daffin. Kenapa aku melakukannya? Kenapa aku begitu peduli dengannya? Peduli pada cowok lain yang mendekatinya?! Seakan aku tak ingin pria lain memilikinya juga.
“Kenapa??!” tanya Inggrid bingung, namun aku tak mempedulikan ucapannya, aku sendiri masih bingung dengan perasaanku padanya.
“Ke...,” sebelun Inggrid kembali bertanya. Aku telah lebih dahulu membungkam bibirnya dengan bibirku. Melumattnya dengan begitu dalam, aku ingin memilikinya. Benar! Aku hanya ingin memilikinya saat ini.
“Lepasin!” Inggrid meronta, terpaksa aku melepaskan panggutan kami.
“Bukankah kau pacar Ken?! Kenapa kau mengkhianatinya?!” Aku mencengkram bahunya.
“Pacar Ken?!! Dia bahkan tak bisa mengalahkan jiwamu dan keluar untuk menemuiku!” jawab Inggrid, ia sepertinya kecewa.
“Dia bahkan tak punya cukup keinginan agar bisa menekan jiwamu dan datang ke pesta ulang tahunku.” Air mata menetes dari pelupuk matanya. Hatiku berdesir perih, aku ikut sakit saat air mata itu terjatuh.
Inikah rasanya memiliki keterikatan dengan batin orang lain? Keterikatan akan hubungan timbal balik yang disebut dengan cinta?
Tidak!! Aku tak pernah menyukai Inggrid. Aku tak pernah menyukai cewek bar-bar ini. Tak mungkin aku sakit hanya karena melihat dirinya menangis.
“Ayo Kak Daffin. Kita masuk!” Inggrid menampik tanganku yang hendak menghapus air matanya. Ia lebih memilih menghampiri cowok itu.
“Baiklah.” jawab Daffin seraya mengikuti Inggrid kembali ke dalam ballroom.
“Inggrid!!” Panggilku.
“Apa lagi?!”
“Kau benar mengacuhkanku dan Ken demi cowon itu?!”
“Iya! Kalian sama saja!! Sama-sama b*rengsek! Yang satu pengecut yang satu arogan!!” Air mata Inggrid terus mengalir. Daffin menggenggam tangan Inggrid yang bergetar hebat.
Aku mengepalkan tanganku di samping pinggang. Ingin marah namun tak bisa, ingin berlari untuk merebutnya namun tak punya hak. Dan parahnya, aku bahkan masih tak mengijinkan Ken keluar untuk mengambil alih tubuh ini.
“Benarkan seorang Ra cemburu?”
Pertanyaan yang muncul dalam benakku menutup malam yang kacau ini dengan rasa penuh penyesalan.
— MUSE S4 —
Ternyata selama ini Ra bukan Ken!
Argh dasar Ra. Udah jadi bucin nggak mau ngaku.
Nantikan kembali keseruan mereka.
Next episode ya readerskuh.
Jangan lupa vote, like, comment.
Ditunggu!! Yang banyak!!!
❤️❤️❤️😘😘😘