MUSE

MUSE
S2 ~ NAMAKU KALILA



MUSE S2


EPISODE 34


S2 \~ NAMAKU KALILA


\~Aku berdiri di hamparan hujan hanya untuk berharap semu agar hujan menghapus semua noda ini.\~


Keclapan kilat terlihat bercahaya di langit yang gelap. Awan pekat menyelimuti langit malam, tak ada bulan dan bintang yang terlihat. Hanya cahaya lampu jalanan yang menyinari langkah kakiku.


Angin malam berhembus sangat dingin malam ini. Hujan turun rintik-rintik, dingin dan basah menyelimuti permukaan kulitku. Entah sudah berapa lama aku termenung seperti ini, berdiri di antara hujan yang terus menari saat terjatuh pada permukaan tanah. Aku berdiri di hamparan hujan hanya untuk berharap semu agar hujan menghapus semua noda ini.


Pernahkah kau merasa bahwa hidupmu begitu hampa?


Pernahkah kau merasa bahwa kehilangan itu begitu menyakitkan?


Pernahkah kau merasa bahwa cinta tak pernah berpihak padamu?


Kesedihanku..


Kebodohanku..


Deritaku...


Aku hina..


Aku kotor dan ternoda..


Demi apa aku begini?


Demi apa?


— MUSE —


(Dua bulan yang lalu.. Sebelum kejadian bersama dengan Arvin.)


Namaku Kalila, usia 17 tahun. Kalila dalam bahasa Arab artinya kesayangan, cinta, kekasih. Mungkin itu doa kedua orang tuaku agar aku selalu dicintai dan dikasihi oleh banyak orang. Aku memang gadis yang pemalu, tapi aku pandai menyimpan perasaan dan juga kuat. Aku gemar melakukan sesuatu yang bermakna dalam hidup dan sangat penyayang kepada anak-anak. Karena itulah aku selalu ingin menjadi seorang guru TK.


Aku baru saja menikmati indahnya masa-masa SMA saat Angga, kakak kelas sekaligus kapten tim basket sekolah menyatakan cintanya padaku. Yup.. aku sudah menyukainya dari kelas 1, dan kini ia menyambut perasaanku. Kami sama-sama punya rasa, sama-sama punya hati, sama-sama punya cerita. Aku benar-benar mencintainya. Wajahnya yang tampan dan cara bicaranya yang supel selalu membuatku tersenyum bahagia.


Kami selalu berbagi rasa dan cerita bersama. Dia sering menyayikan sebuah lagu cinta untukku saat kami bersama. Dia terlihat tampan dan begitu keren saat memegang gitarnya. Bukan berarti dia tidak terlihat ganteng saat bermain basket. Tapi aku memang sangat menyukai sosoknya saat bermain musik.


Tiduran atau bersandar pada punggung lebarnya saat ia bermain musik membuat hatiku tenang, nyaman, dan damai. Suaranya yang merdu selalu berhasil membiusku masuk dalam dimensi yang lain. Mungkin dimensi inilah yang di sebut oleh orang-orang dengan kata CINTA.


— MUSE S2 —


Triiingg 🎶


Bunyi ponsel membuatku terbangun. Aku melirik jam, masih pukul 1 dini hari. Siapa yang menelfonku di malam selarut ini?


Dengan malas aku beranjak, mengangkat ponselku. Masih berusaha mengumpulkan sisa-sisa jiwaku yang berterbangan di alam mimpi sesegera mungkin.


“Dengan keluarga bapak Isman? Ini dari rumah sakit.....”


Aku masih tak bisa mencernanya, telfon dari rumah sakit membuat diriku bingung. Mereka bilang Papa dan Mama-ku koma di ICU karena mobil yang dikendarai Papa mengalami kecelakaan di jalan Tol malam ini.


Pasti mereka bingung..


Pasti mereka salah..


Pasti mereka berbohong..


Sebelum tidur Mama dan Papa menelfonku. Mereka akan pulang malam ini. Papa dan Mama baru pergi mengurus keperluan bisnis dengan koleganya di luar kota. Mereka berjanji pulang dengan selamat, berjanji akan mengantarku ke sekolah setelah mereka sampai besok pagi.


Ya.. Mereka pasti berbohong...


Sesaat kemudian tubuhku ambruk, aku oleng.. tangisku pecah..


Kenapa??


Apa yang terjadi??


Apa yang harus aku lakukan???





Sekali lagi air mataku mengalir, jatuh tak tertahankan. Membasahi seluruh wajahku. Aku hanya bisa tertunduk, menangis dalam dekapan Angga. Angga yang menemaniku ke Rumah sakit malam itu. Dia yang menenangkanku.


“Minum sayang.” Angga menawarkan sebotol air mineral.


“Thanks.”


Aku meneguk pelan, lalu kembali menangis. Aku menangis dalam lekuk pundaknya. Kenapa aku begitu lemah saat ini? Aku hanya bisa menangis sampai lupa berdoa pada sang pemilik kehidupan.


— MUSE S2 —


Sudah hampir satu bulan Papa dan Mama koma. Biaya rumah sakit menumpuk sangat tinggi dan tak tergapai lagi olehku. Aku sudah memberikan semua tabungan orang tuaku, juga tabunganku. Kini tinggal rumahlah satu-satunya aset yang ku miliki. Mau tidak mau aku harus menjaminkannya ke bank.


Tanpa berpikir panjang aku meminta bantuan paman, satu-satunya adik dari Papa. Saat ini aku belum memiliki KTP, hanya anak-anak. Mana mungkin bank mau menerima surat tanah sebagai jaminan saat aku yang memberikannya.


Tapi ternyata..


lagi-lagi aku mengalami kepahitan hidup. Paman yang ku kenal baik itu dengan kejamnya membawa lari uang satu-satunya yang bisa memperpanjang umur ke dua orang tuaku.


Ironi sekali saat uang bisa membuat hubungan darah yang begitu kental menjadi seencer air, mengalir tak berarti.





“Kalila.. Kalila..” lamunanku buyar saat Melody menggoyangkan tubuhku.


“Hei, Mel,” sapaku. Aku tak bersemangat menjawab panggilannya. Dulu kami sering bertengkar karena Melody juga menyukai Angga. Entah ada angin apa dia memanggilku, yang pasti aku malas menanggapinya.


“Kau butuh uang bukan?” bisik Melody.


“Iya, kenapa? Ada uang yang bisa turun dari langit?” tanyaku bercanda, kali aja ada solusi dari masalahku.


“Hei, mana ada. Tapi kalau dapet duit gampang ada.” Melody menyelipkan sebuah kartu nama.


“Apa ini? Siapa?” Aku mulai tertarik.


“Agen, kau bisa dapet duit banyak lewat dia. Dijamin semua rahasia aman. Nama, alamat, data diri semua bisa di manipulasi.” Melody kembali menepuk pundakku.


“Emang kita kerja apa?” tanyaku heran, hari gini ada pekerjaan yang gampang dapetin duit.


“Sexx.” bisikkan Melody membuatku bergidik takut. Aku mendelik, memandang wajahnya marah.


“Hei!! Kau kira aku cewek gampangan..?!” Aku berteriak, Melody langsung menyumpal mulutku dengan telapak tangannya.


“Hei, kalau nggak mau ya uda. Nggak usah nyolot.” Melody terlihat sebal.


“Lepasin!!” Aku menarik tangannya menjauh.


“Kaukan cantik, body oke, putih, mulus, lagian kau masih gadiskan? Harganya pasti mahal. Kapan lagi? Tapi terserah kamu sih. Pikir aja baik-baik. Aku nggak maksa.” Melody menyelipkan kartu nama itu pada saku seragamku.


Kini aku tahu dari mana datangnya semua kemewahan yang menempel pada tubuhnya itu.


Aku menghela nafasku panjang.


Tidak..


Aku tak bisa melakukannya...


— MUSE S2 —


Hallo..


Tinggalin banyak jejak


Banyak like


Banyak comment..


❤️❤️


Lap yu readers.


Buang sampah pada tempatnya.. jangan lupa bawa kantong plastik sendiri saat berbelanja, ya ^^