MUSE

MUSE
S7 ~ REMATCH II



MUSE S7


EPISODE 27


S7 \~ REMATCH II


Bunyi guruh bersahut-sahutan, seakan memberi peringatan bagi keduanya untuk berhenti. Namun bukannya berhenti Farel malah melesat semakin cepat. Rahangnya mengeras, menahan amarah karena hampir saja kalah oleh Levin. Tinggal beberapa puluh meter lagi garis start.


___________________


“BERHENTI, kumohon kalian berdua!! Berhenti!!” Leoni mencegah dengan berteriak, ingin berlari untuk menahan keduanya tapi tangannya masih tercekal.


“Pada hitungan ke tiga.” Farel menghidupkan motor, begitu pula Levin.


“Satu,” Farel dan Levin menutup kaca helm mereka.


“Dua,” Farel dan Levin memutar gas motor.


“Tiga ....!!!” Motor keduanya melesat cepat masuk pada jalan raya.


“TIDAKKK!!!!” teriak Leoni kalap.


Namun terlanjur, keduanya sudah melesat cepat, mengikuti rute balapan yang diberikan oleg Farel. Mereka akan lurus terus sampai ke balaikota, lalu belok ke kiri sampai ke pusat perbelanjaan, lalu ke kiri lagi sampai bertemu dengan rumah sakit umum daerah, ke kiri lagi sampai kembali ke jalan layang lalu menuruni jalan ke titik start.


Awan pekat mulai menutupi bulan dan bintang. Gelegar guruh dan sambaran kilat terlihat membelah langit malam. Leoni masih tercengang sendiri dengan kenekatan keduanya saat ini. Tak ada yang bisa gadis itu lakukan selain menunggu dan berpasrah. Berdoa agar Levin dan Farel selamat, juga agar hujan tidak turun.


Levin menatap titik-titik yang berkedip pada layar pipih di pergelangan tangan. Miliknya dan milik Farel, keduanya berjalan seimbang. Jalanan malam mulai sepi, hanya beberapa orang yang terlihat masih beraktifitas. Segelintir kendaraan terlihat menaikkan kecepatan agar bisa segera sampai ke tujuan sebelum hujan turun.


Motor keduanya melaju, membelah jalanan, tak ada yang mengalah. Sama-sama melaju dengan kecepatan ekstra, berkelit di antara kendaraan dan juga lautan manusia yang hendak menyebrang jalan. Lampu penyebrangan sudah menjadi hijau, tanda kendaraan harus diam dan manusia bergerak. Semuanya rata-rata adalah padestrian yang telah menyelesaikan shiff sore pada kantor balaikota.


“Kyaaa!!!” jerit ibu-ibu pegawai negeri yang tak jadi menyebrang karena hampir terserempet motor Farel, Levin menyusul berikutnya.


“Sialan!! Brandalan!!” umpat semua orang. Mereka menyumpah serapah pada kedua joki motor besi yang sedang beradu kecepatan terbaik itu.


Levin mendesah lega, tak ada yang terluka. Levin kembali fokus, jalanan terlihat ramai karena semakin mendekati pusat perbelanjaan. Farel juga menatap siaga, tiba-tiba ada mobil, hampir menabraknya. Tapi Farel dengan mudah menghentikan laju motor, ia menahan motor sambil menderukan gas motornya, meraung singkat lalu mengerem. Sekejap kemudian Farel telah berhasil memutar kendali motor dan kembali melaju.


“Bocah sial!! Di mana matamu hah?!” teriak sang pengendara mobil.


Levin terkesima, perkembangan kemampuan Farel meningkat pesat. Namun tak ada waktu untuk memuji hal itu, Levin tak boleh kalah. Leoni pasti ketakutan saat menunggunya.


Pusat perbelanjaan! Levin menatap Neon-neon besar dan semaraknya lampu kota, tanda ia telah mendekati tikungan berikutnya.


GLUDUK!! GLEGAR!!


Bunyi keras guruh menyambut datangnya hujan. Hujan deras mulai mengguyur kota, membuncahkan berton ton kubik air. Levin dan Farel terkesiap, namun tetap tak ada yang mau mengalah. Baik Levin dan Farel punya tujuan mereka sendiri. Tak ada yang bisa menghentikannya, bahkan hujan sekali pun.


“Sialan!!” umpat Farel.


Mobil berlalu lalang, derasnya hujan menghalangi jarak pandang. Keduanya buta sesaat. Sebuah mobil hampir menabrak Levin, beruntung Levin bisa melingsut dengan menambahkan gas. Levin lolos dari maut.


Farel masih dalam kondisi siaga penuh, menatap jalan yang tersorot oleh cahaya dari lampu-lampu jalanan. Farel memimpin, Levin menyusul di belakangnya, terpaut jarak yang cukup lebar.


“Aku harus menang, itu satu-satunya kesempatan untuk menyelamatkan Leoni,” gumam Levin, bibirnya mulai menggigil karena dingin, pakaiannya basah kuyup dan tangannya mulai mati rasa.


“Aku harus menang!! Akan aku buktikan aku lebih layak darinya.” Farel juga bergumam, merasakan hal yang sama. Hawa dingin merasuk sampai ke tulang, ngilu dan membuat gigi saling bergemeletuk.


Tikungan Rumah sakit!! pikir Levin, tikungan terakhir dan satu-satunya kesempatan Levin untuk menyalip Farel. Kalau tidak, sudah dipastikan dia akan kalah.


300 meter menuju tikungan.


200 meter menuju tikungan.


100 meter menuju tikungan.


50 ... 40 ....


Belum Levin, belum!! pikir Levin. Farel menjaga kecepatannya stabil, tak ingin tergelincir saat berbelok dengan tajam pada tikungan. Levin berpikir hal sebaliknya, menambah kecepatan agar berhasil menyalip Farel.


30 ... 20 .... 10 ... 7 sekarang!!!!


Levin menambah lagi kecepatannya, menukik miring dengan menggunakan sebelah kakinya, mengarahkan motor besar itu berbelok tajam pada tikungan, menyalip Farel. Farel menatap Levin dengan pandangan setengah tak percaya. Menufer Levin membuatnya terkejut.


“Shit!!!” Farel menyusul, berbelok tajam juga.


Levin memimpin, tikungan terakhir telah ia lalui. Tinggal satu buah turunan yang sedikit menikung menuju ke basecamp mereka. Levin semakin memperbesar kecepatan motornya, Farel tak mau kalah.


GLEGAR!!!


Bunyi guruh bersahut-sahutan, seakan memberi peringatan bagi keduanya untuk berhenti. Namun bukannya berhenti Farel malah melesat semakin cepat. Rahangnya mengeras, menahan amarah karena hampir saja kalah oleh Levin. Tinggal beberapa puluh meter lagi garis start.


Farel kehilangan pengendalian akan motornya. Ia tergelincir, jatuh pada turunan jalan raya. Motornya terseret beberapa meter, sedangkan Farel terbanting.


“FAREELLL!!!” jerit Levin.


Leoni dan kedua teman Farel ikut tercengang dengan kejadian itu. Mereka langsung berlari sekuat tenaga ke tempat kejadian. Hujan membasahi pakaian Leoni, sekencang apapun Leoni menyeret tubuhnya terasa begitu berat.


Serpihan kaca sepion berhamburan. Farel menggelepar pelan menahan sakit. Levin melepaskan helm racing yang menyangkut pada kepala Farel, berharap Farel tidak pingsan.


“Kenapa?!” teriak Farel, ternyata bocah itu masih sadar.


“Apa maksudmu?” Levin mencengkram lengan Farel.


“Kenapa kau selalu saja menang dariku?!”


“Farel!! Hentikan, cukup!” Levin menghempaskan kerah Farel.


Farel mengambil serpihan kaca spion yang cukup besar. Ia hendak menghunuskannya pada lehernya sendiri.


“FAREL!!!” teriak Leoni.


“FAREL!!!” teriak Levin.


...— MUSE S7 —...


...💋💋💋...


...Vote...


...Like ...


...Comment...


...Lop yu Bellecious...