MUSE

MUSE
S2 ~ DISISIKU



MUSE S2


EPISODE 68


S2 \~ DISISIKU


\~ aku tak pernah menyangka memiliki seseorang untuk berbagi rasa dan juga cinta akan begitu terasa bahagia. Aku terhibur saat dia ada di sisiku. Aku tersenyum saat melihatnya tersenyum.\~


•••


Uap air panas menghilang seiring selesainya aku mengeringkan tubuhku. Aku tersenyum senang karena telah berhasil menggoda Kalila pagi ini.


“Kau sudah selesai mandi, Kak? Aku bikin roti bakar dan susu panas.” terdengar suara Kalila yang berteriak dari arah balkonnya.


Masih dengan hanya berbalutkan handuk putih, aku menyembul keluar pada balkon untuk menjawabnya, “sudah, aku ke sana sekarang, ya.”


“Awas kalau nggak pakai baju lagi!!” ancam Kalila sambil berlalu kembali ke dalam kamarnya.


Aku tersenyum, aku benar-benar gemas saat melihat wajahnya tersipu malu. Kalila selalu saja malu-malu kucing, beda di mulut beda di hati. Aku yakin hatinya sudah mulai terbuka untukku, dia hanya masih terlalu gengsi untuk mengakuinya.


TING TONG...


Kali ini aku masuk dengan cara yang benar, dari pintu masuk, bukan dari balkon.


“Masuklah, Kak! Nggak dikunci!” teriakan Kalila terdengar menggema. Karena sudah mendapatkan izin aku membuka pintu dan masuk sendiri.


“Aku panaskan susunya. Mau madu atau coklat?” tanya Kalila, tangannya masih sibuk menyiapkan sarapan di atas meja pantry.


“Hmm..., tawar saja.” Aku mendekat dan berdiri di dekat kursi tinggi di depan meja pantry.


Kalila terlihat asyik berjoged ringan sambil mendengarkan musik, sesekali tangannya bergerak membalik roti pada pan.


“Dengerin apa?” tanyaku penasaran dengan suara penyanyi yang keluar dari speaker bluetooth -nya.


“Justin, aku fans dia.” kikih Kalila.


“Oh, ternyata Beibers mania,” sambungku.


“Hahaha..., kau benar. Duduk, Kak! Sudah matang.”


“Oke.”


Kalila menata roti panggang, telur mata sapi, bacon, dan tomat, lalu menutupnya lagi dengan selembar roti panggang.


“Mau saus tomat? Sambal? Mustard? Mayo?” tawar Kalila.


“Sambal aja, deh,” jawabku. Kalila menekan botol saus sambal pada pinggiran piring.


Kalila memakan sisa potongan tomat, lalu mengaduk dan meminum susu hangat. Mulut dan tangannya terus bekerja, sementara dagunya manggut-manggut karena irama musik. Aku bergeleng pelan melihat kelakuannya.


“Kenapa?” tanyanya.


“Nggak kok, aku menyukai caramu menikmati hidup.” Aku tersenyum padanya.


“Yah, beginilah. Mendengar musik bisa membangun mood di pagi hari.” Kalila tersenyum, ah, senyum yang manis.


Kami mengobrol dan tertawa bersama. Tak banyak cerita yang bisa kami bagi, karena kami memang belum lama saling mengenal. Walaupun hanya percakapan singkat tetap saja rasanya seperti semakin mengenal dan semakin sayang.





Kami duduk berdua pada sofa coklat, aku duduk di ujung kanan dan Kalila duduk pada sisi lainnya. Kami saling berhadapan. Aku menekuk sedikit lututku agar nyaman, begitu juga Kalila. Kalila menekuk lututnya dan menjadikan pahanya sebagai sandaran sketchbook.


Kalila terlihat sangat cantik dengan kemeja biru tua yang kebesaran. Kemeja yang dipakainya selalu membuat salah satu pundaknya terlihat. Kalila sesekali membetulkannya, walaupun ia tahu tak lama kemudian kerahnya akan kembali melorot ke bawah.


Tak ada yang spesial darinya, tanpa make up, tanpa assesoris, tanpa pakaian mewah. So, kenapa wanita dengan penampilan biasa seperti ini bisa membuatku begitu tergila-gila padanya?


“Kenapa melihatku begitu lekat? Ada yang aneh?” tanya Kalila, ia meraba wajahnya.


“Cantik, aku melihatmu karena kau cantik, baby.” Aku tersenyum dan kembali menikmati minuman hangat.


“Dasar!” Kalila bergeleng pelan, ia pasti menyembunyikan wajahnya yang tersipu.


Aku kembali mengamati wajahnya, rambutnya yang hitam dan panjang turun pada sisi depan wajahnya karena terlalu serius menggambar.


“Oh, ini kemeja Papaku. Aku selalu memakainya saat tidur. Saat memakainya aku merasa Papa sedang memelukku, jadi aku bisa tidur dengan nyenyak.” Kalila menjawab pertanyaanku, namun tangannya masih menggores buku sketchnya.


“Apa kau merindukan mereka?”


“Selalu. Tiap detik dan menitnya.” Kalila terdiam sebentar, ia menaruh pensilnya dan memandangku dengan matanya yang berkaca-kaca.


“Maaf, Kalila. Aku tak bermaksud membuatmu mengingat kenangan itu.” Aku bangkit untuk memeluk dirinya.


“Kenapa aku harus kehilngan mereka, Kak? Kenapa?!” lirih Kalila sedih.


“Aku tidak tahu, Kalila. Tapi pasti Tuhan telah mengatur hal indah dibalik setiap kejadian.” Aku mengelus kepala Kalila.


“Bahkan kematian merekapun menjadi kado untuk ulang tahunku. Kenapa? Kenapa Tuhan begitu bercanda dengan kehidupanku?” Kalila menangis dan terisak dalam pelukkanku. Ia memukul pelan dadaku dengan kepalan tangannya.


“Menangislah, Kalila. Kalau itu bisa membuatmu lega.” Aku menepuk punggungnya, hanya ketenangan itu yang bisa ku berikan padanya.


“Aku kadang membenci mereka! Kenapa mereka meninggalkanku sendirian?! Kenapa aku masih harus hidup?! Kenapa mereka tak mengajakku?!” Kalila berteriak dan meraung, air matanya mengalir tak terbendung lagi.


“Maaf, Kalila. Maaf,” bodohnya aku yang mengungkit tentang orang tuanya.


“Huhuhu...,” suara tangisan Kalila membuat hatiku pilu. Aku sendiri merasa bersalah telah menodainya di saat ia kehilangan orang tuanya. Dikala ia kehilangan segalanya.


“Hei, baby, lihat aku,” ku selipkan tanganku pada sisi luar wajahnya, mengangkat kepalanya agar pandangan kami bertemu.


“Hiks...,” Kalila masih terisak, namun tetap memandangku.


“Yakinlah selalu akan ada pelangi setelah hujan, yakinlah bahwa mereka bahagia di surga sana, yakinlah bahwa kehidupan yang kau jalani sekarang adalah anugrah dari mereka.” Aku mengelus dan menghapus air matanya dengan ibu jari.


“Hatiku begitu sakit, Kak,” Kalila meremaat dengan erat baju di depan dadanya.


“Ini menyakitkan...,” lanjutnya.


“Aku tau, Kalila.”


“Kadang aku berharap untuk ikut dengan mereka saja.” ujarnya penuh rasa kecewa.


“Lalu aku bagaimana? Kalau kau pergi aku bagaimana?!” seruku sedikit keras.


Aku mencarinya selama ini, aku selalu merindukannya, aku menginginkannya, dan aku juga membutuhkannya. Kalau dia pergi aku harus bagaimana? Bagaimana kehidupanku tanpa dirinya? Aku membutuhkannya untuk sembuh.


“Kak Arvin.” Kalila memandangku dengan mata bulatnya yang melebar karena kaget.


“Jangan pernah mencoba pergi dari sisiku, Kalila!! Jangan!!” Aku memeluknya erat, aku yakin aku pasti menyakitinya dengan pelukkanku.


“Masih ada orang yang mencintaimu, Kalila. Yang mengharapkanmu,” lirihku pada telinganya.


Aku mengusap lembut wajahnya dan juga merapikan rambutnya yang kacau. Wajahnya menegang karena sedih.


“Masih ada aku yang mencintaimu, baby. Masih ada aku yang menginginkanmu.”


Kalila melingkarkan lengannya pada leherku. Aku mencium bibirnya, mengullumnya lembut, aku tak pernah menyangka memiliki seseorang untuk berbagi rasa dan juga cinta akan begitu terasa bahagia. Aku terhibur saat dia ada di sisiku. Aku tersenyum saat melihatnya tersenyum.


“Berjanjilah kau akan selalu berada di sisiku, baby.”


— MUSE S2 —


Yo MUSE UP


LIKE DAN COMMENT..


VOTE DONK GAES


JANGAN LUPA MASUK GC


Love yu gaes...!


Makasih gaes...


Aku cintah kalian semua..


Kurangi penggunaan plastik, kurangi penggunaan air dan listrik yang berlebihan.


Jangan lupa tetep di rumah aja, cuci tangan, pakai masker, jaga kesehatan.


IG. dee.meliana/ Ie_fen