MUSE

MUSE
S6 ~ DENDAM



MUSE S6


EPISODE 26


S6 \~ DENDAM


\~ Ini seperti lingkaran setan yang tak akan pernah berakhir, Van\~


______________________


“Adrian, tolonglah, berhenti melakukan semua kebodohan ini. Kau hanya akan semakin terperosok pada jurang penyesalan.” Gabby mencoba meraih perhatian Adrian, ia mengulur waktu, di belakang Adrian, Ivander tengah berjengat jengit pelan agar Adrian tak mengetahui keberadaannya. Ia memberi kode pada Gabby untuk terus mengalihkan perhatian Adrian.


“Penyesalah? Aku sudah tak memilikinya sejak Ivander merebut segalanya dariku. Padahal aku berharap setelah kau menyingkirkan Ivander aku akan melamarmu, Gabby!! Tapi kau mengkhianatiku!! Kau membuatku kecewa! Dengan mudahnya kau jatuh cinta padanya!” tutur Adrian, Gabby bergeleng pelan.


Adrian mengangkat tangan kirinya, ia menggenggam erat pisau dan menyeringai ke arah Gabby.


“Akan ku buat Ivander menemanimu juga!!” Adrian mengayunkan pisaunya.


“KYYAAA!!!!” teriak Gabby.


JLEB!! Pisau milik Adrian menusuk pada bahu Ivander. Ivander menerima serangan Adrian untuk melindungi Gabby.


“Ivander!!” Gabby terbelalak, matanya melotot saat melihat pisau itu menancap pada bahu belakang atas Ivander.


Adrian ikut terbelalak, ia tak menyangka Ivander akan datang, bahkan sampai memberikan tubuhnya.


“ARGH!!!” Ivander bangkit, ia mencabut paksa pisau dari bahunya, darah mengucur deras, membasahi pakaiannya.


“Kak Ivan?!”


“Adik tak tahu diri, brengsek!!” Ivander membuang pisaunya, dengan menahan rasa sakit pada bahunya Ivander mendatangi Adrian, memukul wajahnya. Adrian tersungkur, sudut bibirnya mengeluarkan darah.


“Kau yang brengsek!!” Adrian bangkit, ia meludahkan darah, lalu memasang kuda-kuda.


Mereka berdua saling beradu pandang. Ivander menggelengkan kepalanya, rasa sakit dan kehilangan banyak darah membuat fokusnya memudar.


“Fu*k!!” Ivander menampar dirinya sendiri agar fokusnya kembali. Namun tiba-tiba sebuah pukulan mematikan mengenai wajahnya. Hidungnya mengeluarkan darah, Ivander terhuyung-huyung dan jatuh.


“VAN!!” Panggil Gabby, rasa takut dan cemas kembali menggelayuti hatinya.


Gabby kebingungan, ia menggoyang-goyangkan kursinya, berharap kursi itu terbanting ke lantai, ingin meraih pisau yang tergeletak di bawah lantai.


“C’on ... c’on!!” desah Gabby.


Adrian kembali datang, menarik kerah kaos Ivander sampai pria kekar itu ikut terangkat. Adrian memandang nanar pada Ivander, karena kakaknya inilah semua miliknya hilang. Kasih sayang sang Ayah, perusahaan, impian Ibunya, sampai cintanya.


“Kau terlalu serakah, Kak!!” seru Adrian dengan geram.


“Hentikan Adrian! Hentikan sekarang juga! Sudahi semua tindakan jahatmu, menyerahlah. Kau masih punya masa depan yang lebih baik?!” Ivander dengan lemas menasehati Adrian.


“Jangan gila!! Kau memintaku kembali tenggelam dalam bayang-bayangmu?? Mengekor seperti anj1ng?” Adrian mencengkram luka Ivander, membuat darah segar semakin menetes deras.


BRAK!!


Adrian menatap ke arah datangnya suara, kursi Gabby terjatuh, Gabby sudah menghilang.


“Gabby?!”


Saat Adrian kehilangan fokusnya, dengan segenap tenaga yang tersisa Ivander menyikut perut Adrian dengan lututnya. Membuat Adrian kesakitan, ia meringkuk. Ivander tak berhenti begitu saja, ia melayangkan pukulan demi pukulan, bertubi-tubi pada wajah adiknya.


“Kau harusnya sadar!! Aku melakukan semuanya karena sayang padamu!!” Ivander berseru-seru.


“Sayang?! Heh?? Hahahaha!! Omong kosong apa lagi ini? Kau bilang sayang padaku?? Sejak kepulanganmu aku bahkan tak bisa sehari pun luput dari amarah Papa dan Mama!!” Adrian tertawa mendengar ocehan kakaknya, ia menganggapnya hanya gombalan semata.


“Kau tak tahu sekeras apa usahaku menggapai posisi ini, Adrian?! Kau tak pernah bekerja di bawah teriknya matahari dan merasakan keringatmu bercucuran karena panasnya!!” Ivander mengangkat tubuh Adrian, ia tak peduli dengan lengannya yang berdenyut perih.


“Aku mendapatkannya juga dengan kerja keras!! Umpatan dari atasan!! Juga merangkak pelan-pelan dari enol!” Ivander menyeret tubuh Adrian, mendudukkannya pada kursi tempatnya mengikat Gabby.


“Brengsek kau mau apa?!” Adrian meronta saat Ivander mengikatnya!!


“Sepertinya aku tak bisa bicara denganmu lewat kata-kata!” Ivander mengambil pisau yang tergeletak dari lantai.


Gabby yang berdiri di dekat pilar berjengit. Ia kaget saat Ivander mengambil pisau dari lantai. Apa yang ingin Ivander lakukan pada Adrian?!


“Sialan!! Beginilah nasibku? Mati di tangan Kakakku sendiri?!” Adrian terkikih, mulutnya berwarna merah, karena darah segar.


“Ini akibatnya karena berani menyentuh Gabby! Bagiku wanita itu jauh lebih berharga dari pada nyawaku sendiri.” Ivander mengangkat pisaunya.


“Aku adikmu, brengsek!!”


“Bukankah kau juga ingin membunuhku? Setelah menghadapi ajalmu kau baru mau mengakuiku sebagai Kakakmu! Betapa menyedihkannya dirimu, Adrian!” Ivander memandang nanar pada wajah adiknya itu. Hatinya sakit, namun sungguh Ivander tak pernah menyangka bahwa Adrian sendiri yang ingin membunuhnya dan juga Gabby.


“Bagaimana kau akan menjelaskan pada, Papa?!” tanya Adrian.


“Tinggal bilang bahwa kau kabur dari rumah, pergi entah ke mana! Toh tak akan ada yang menemukan mayatmu di tempat terpencil ini,” jawab Ivander.


“Hahahaha!!!” tawa Adrian lantang, ia menertawakan hidupnya yang berakhir begitu saja.


“Simpan tawamu di neraka, b4jingan!” Ivander mengayunkan pisaunya.


“TIDAK!!!” Gabby mencegah tusukan pisau dari Ivander, melindungi Adrian. Pisau yang diayunkan dengan kekuatan penuh itu menusuk masuk pada telapak tangan kiri Gabby, menembus tepat di tengah-tengahnya.


“GABBY!!!” teriak Ivander dan Adrian secara bersamaan.


“ARRRGHH!!” Gabby menahan rasa sakit saat ia mencoba untuk mencabut pisau dari tangannya. Rasa sakit yang teramat sangat, darah mengucur deras, membuat Ivander panik.


“Kenapa kau melindunginya, Gabby?” Ivander tak habis pikir.


“Aku tak ingin kau menimbulkan dendam yang lain lagi, Ivander. Kau merebut segala milik Adrian karena dendam pada Ibunya, lalu Adrian dendam padamu dan melampiaskannya pada Krystal, aku dendam karena Krystal terbunuh dan hampir membunuhmu. Kini kau dendam dan akan membunuhnya, lalu ibunya akan mendendam padamu. Ini seperti lingkaran setan yang tak akan pernah berakhir, Van.” Gabby kembali mencoba menarik pisau dari telapak tangannya.


“Gabby!!” terik Adrian.


“Diam kau!!” Ivander menampar pipi Adrian.


“Hah ... hah ... hah ...!” Napas Gabby tersenggal, setelah proses menyakitkan itu pisaunya berhasil tercabut, namun tangannya mati rasa.


“Kau brengsek, Adrian!! Kau pikir aku menyelamatkanmu?! Aku menyelamatkan Ivander dari dosa dan kesalahan. Dari dendam yang mungkin akan muncul setelahnya.” Gabby mendatangi Adrian.


BRUK!!


Gabby meniju wajah Adrian sekuat tenaga dengan tangan kanannya. Membuat Adrian terpental, pandangannya kembali kabur. Gabby meneteskan air matanya, ia menyesali nasib persahabatannya dengan Adrian dan juga Krystal yang berakhir dengan begitu menyedihkan.


“Itu untuk Krystal. Dan ini untukku ...!” Gabby memeluk tubuh Adrian, menangis terisak dalam dekapannya, darah segar Gabby membasahi seluruh wajah Adrian.


“Aku memaafkanmu, Adrian! Jalani sisa hidupmu dengan baik.” Gabby bangkit, ia menarik dirinya dari dekapan Adrian. Adrian meneteskan air matany.


“Gabby!” Ivander menghampiri Gabby, menyobek kain lengan kemejanya, ia mebebatkannya pada luka mengangganya.


“Kita harus segera mengobatinya, Gabby.” Ivander menggendong lengan Gabby, namun bahunya juga berdenyut kesakitan. Wajahnya mengeruyit, menahan rasanya.


“Jangan paksakan dirimu, Van. Aku tidak apa-apa.” Gabby mengangguk.


Ivander mengambil ponsenya, menghubungi ambulan dan kepolisian. Mereka berdua duduk di lantai, bersandar pada dinding. Tenaganya sudah mulai habis, kehilangan banyak darah menguras kesadaran keduanya. Ivander mendekap tubuh Gabby, tetap membuatnya hangat.


“Dingin sekali, Van.”


“Sabar, Gabby.” Ivander mengecup kening Gabby dengan bibir pucatnya.


Pandangan Gabby memudar, samar-samar ia bisa melihat sahabatnya Krystal berjalan mendekatinya. Gabby tersenyum saat mendengar suara lirih Krystal memanggil namanya.


Gabby, Gabby ...


Gabby mencari keberadaan Krystal, sejauh mata memandang hanya ada hamparan rumput hijau, langitnya sangat cerah dan berwarna biru. Banyak bunga indah yang tumbuh di sana.


Gabby, Gabby, kenapa kau kemari?


“Krystal? Di mana kau?”


Tempatmu bukan di sini, Gabby, kembalilah, jalani hidupmu yang masih panjang.


“Tidak, aku merindukanmu, Krystal. Aku merindukanmu!! Kemarilah!! Ajak aku!” Gabby berputar, berlari mencari keberadaan Krystal, mengarungi hamparan yang tak berujung itu sendirian.


Ada Ivander, jagalah dia untukku, aku mencintainya sama seperti aku mencintaimu, Gabby.


Tiba-tiba Gabby merasakan kehangatan yang luar biasa memeluk dirinya. Tak berwujud, namun terasa begitu hangat.


“Kaukah itu, Krystal?”


Iya, Gabby. Berbahagialah dan hiduplah demi diriku. Kau sahabat terbaikku, sekali lagi maafkan aku, Gabby. Aku membuatmu kecewa dan menderita.


“Tak ada derita atas nama cinta, Krystal.” Gabby memejamkan matanya, menikmati kehangatan dekapan Krystal.


Thanks, Gabby.


“Apa kau bahagia, Krystal?”


Sangat, Gabby, now go!!


Gabby merasakan rasa hangat itu perlahan-lahan berpindah, tak lagi memeluknya, hanya menggandeng tangannya dan akhirnya menghilang.


“KRYSTAL!!!” teriak Gabby, ia terbangun pada sebuah ruangan serba putih.


“Gabby kau sudah bangun?”


“Mommy?? Daddy??” Wajah Arvin dan Kalilalah yang pertama memenuhi iris matanya.


“Kau baik-baik saja, Girl?” Arvin memeluk anak ke tiganya itu. Air mata Kalila menetes perlahan.


“Di mana ini?”


“Rumah sakit.”


“Kenapa tanganku tak bisa bergerak?” Gabby mengangkat tangan kirinya, jemarinya kaku dan mati rasa.


“Hiks ....” Kalila menangis semakin kencang.


Gabby meneteskan air matanya, luka beratnya telah membuat jemarinya mati rasa karena kehilangan banyak darah. Syarafnya rusak, butuh pemulihan jangka panjang, terapi khusus. Dan yang paling berat, Gabby tak akan lagi bisa memainkan biolanya.


“Maafkan kami, Sayang.” Arvin mengelus rambut hitam Gabby.


“Aku tak akan bisa bermain biola lagi?” Gabby menangis.


“Tidak!! Daddy akan carikan dokter terbaik, terapis terhandal, kau akan bisa bermain biola lagi, Gabby.” Arvin menenangkan Gabby, Kalila ikut memeluknya erat.


“Ivander?? Di mana dia?!”


“Ivander masih di ICU, Gabby. Dia belum sadarkan diri semenjak kalian masuk ke RS.” Kalila menggenggam tangan Gabby.


“Tidak!! Tidak mungkin!!” Gabby menyibakkan selimutnya, sekuat tenaga ia bangkit dari ranjanganya.


“Nak!! Jangan gegabah!!”


“Lepaskan!! Lepaskan!!” Gabby sempat terjatuh beberapa kali karena memberontak dari dekapan Ayah dan Ibunya.


“Aku harus menemuinya.” Gabby mendorong tiang infus, berpegangan pada tiang dan tertatih-tatih menuju ke ICU, tempat Ivander di rawat.


Tubuh Ivander tergolek lemah di atas ranjang rumah sakit. Bau obat dan juga diffuser tercium pekat. Kulit Ivander memucat, penuh luka bekas pertarungannya dengan Adrian.


“Ivander!!” Gabby merosot pada dinding kaca yang memisahkn keduanya.


“Bangun, Schatz! Kau bilang akan mengajakku ke ladang bunga lavender?!” Gabby menangis terisak-isak.


“Bangun dan katakan kau mencintaiku!” Gabby memukul pelan dinding kaca.


“Ich liebie dich, Ivander!!” Gabby meraung.


— MUSE S6 —


Jangan lupa dukung dan baca novel author yang judulnya ZEN. Ini novel buat ikutan kontes gaes. 😘 minta like dan commentnya ya, thxque