
MUSE S2
EPISODE 73
S2 \~ BISA
\~ Tapi satu hal yang pasti, aku melihat bahwa kebahagiaan itu bisa timbul hanya karena sepotong pizza dengan bumbu bernama ‘kebersamaan’.\~
•••
Aku menarik napas panjang-panjang sebelum menghidupkan mesin mobil. Kepalaku sangat pusing. Rasanya ingin aku enyahkan saja wanita itu sama seperti sebelum-sebelumnya!
Tapi terus bagaimana komitmenku untuk sembuh?!
Kalau aku kembali membunuh seseorang, aku akan kembali berubah menjadi seorang monster. Aku akn kembali lagi mengotori tanganku. Lagi pula Diana adalah keponakan Julius, kalau aku membunuhnya, bagaimana nasip kakakku?
Ya, Tuhan, kenapa masalahku jadi sepelik ini? Haruskan aku berkata jujur pada Kalila sekarang? Bagaimana kalau dia memandangku sebagai monster yang menjijikkan? Bagaimana kalau dia tak bisa menerimaku? Kami baru 2 hari ini memadu kasih.
Aku membenamkan wajahku pada setir mobil. Mencoba untuk mengatur emosi. Aku tak bisa menemui Kalila dengan emosi seperti ini. Bisa-bisa aku menjadi gampang meledak. Satu hal yang harus kalian tahu, aku tak hanya sadistis, namun juga sedikit syco. Aku tak hanya suka menyiksa, namun juga gampang emosi. Dulu aku tak segan menjatuhkan dan bahkan membunuh seseorang. Walaupun dengan meminjam tangan orang lain, tetap saja aku yang salah bukan?
Setelah mengatur napas kembali dan menenangkan diri, aku menginjak gas untuk menuju ke palette cafe, aku penasaran siapa yang mengirim bunga untuk Kalila?
•
•
•
Kriiingcing Kling... 🎶
“Kak Arvin?” Kalila heran karena aku sampai begitu cepat.
“Halo, baby,” senyumku kembali tersungging saat melihatnya.
“Kau mengebut?” tuduh Kalila.
“Yah, sedikit,” jawabku.
“Sudah aku bilangkan! Nggak boleh ngebut! Ini kota kecil, Kak! Kau bisa membahayakan nyawa orang lain.” Kalila mengomel, aku suka omelannya, suaranya yang lembut sangat tidak cocok untuk marah-marah.
“Hei, Om! Selamat, ya!” teriak Caca dari balik pantry ia sedang mencuci cangkir kotor.
“Jangan panggil aku, Om!”
Kalila tertawa, aku ikut tertawa. Aku merasa begitu lega hanya dengan melihat wajahnya yang cantik. Pesona kecantikkannya selalu membuatku ingin menjadi pendamping yang terbaik untuknya. Memberikan segalanya.
“Jadi mana bunganya?” tanyaku.
“Itu, aku membaginya pada pelanggan cafe. Sayang juga kalau dibuang begitu saja.” Kalila kembali ke belakang meja kasir dan menunjukan rangkaian bunga yang tinggal beberapa tangkai saja.
Aku mendekat, tidak ada kartu ucapan atau pun kartu nama dari toko bunganya. Apa bunga itu dipesannya secara khusus?
“Kak?! Kok bengong?!” Kalila mengibaskan tangannya di depan wajahku. Wajahnya sedikit khawatir.
“Tidak kok.”
“Tenang saja, aku tak akan menerima bunga lagi selain darimu, Kak.” kata Kalila sembari membuat latte art.
Aku suka melihatnya menggambar di atas foam susu, padahal hanya membentuk beberapa gambar sederhana. Tapi kenapa, ya, dia bisa terlihat begitu cantik?
“Kau sudah makan, Kak?” tanya Kalila, ia meletakkan hot latte di depanku.
“Belum,” jawabku sembari menghirup aroma kopi dari cangkirnya.
“Kau mau makan pizza? Melody memesannya.” tawar Kalila.
“Boleh,” kuterima tawarannya sambil meminum kopi buatan Kalila.
Tiba-tiba Kalila tertawa renyah, membuatku bingung. Ia melihatku sambil tersenyum lebar, tanpa aba-aba Kalila menghapus foam susu yang menempel di sekitar mulutku.
“Umur berapa, sih? Kok masih kayak Keano?!” Kalila tertawa sambil membandingkanku dengan si monster kecil.
Jantungku berdetak cepat saat tangannya mengusap bibirku. Bagaimana bisa hal kecil seperti ini benar-benar membuatku begitu merasa bahagia?
Oh, God, aku bersyukur bisa mengenal semua rasa itu lewat wanita ini, lewat Kalila.
“Tara, pizza datang!!!” Melody mengangkat dua bungkus pizza begitu masuk ke dalam cafe.
“Asyik!! Ayo makan!!” Caca menghentikan kegiatannya dan mengeringkan tangannya yang basah.
“Eits!! Jangan lupa!!” Kalila berteriak.
“Berdoa dulu!” jawab mereka kompak.
Aku melihat mereka bertiga berdoa dengan keyakinan mereka masing-masing sebelum membuka kotak pizza. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya. Benar juga, sudah lama aku tak berdoa dan mendekatkan diri pada Tuhan.
“Wah, baunya wangi.” kata Kalila. Mereka bertiga duduk di sofa paling ujung agar tidak mengganggu pelanggan cafe lain. Kalila mencomot satu slice pizza dan langsung memakannya.
“Oke.” Aku bangkit dan mendekat.
“Cuci tangan dulu.” Kalila berbisik padaku.
“Oke.”
Aku kembali setelah mencuci tangan, Kalila sudah menyiapkan satu slice pizza untukku. Lengkap dengan saus sambal dan juga bubuk keju.
“Thanks, baby.”
“Welcome, dear.”
Mereka tampak menikmati acara makan siang menjelang sore. Mengobrol ringan sambil sesekali bercanda. Entah apa yang mereka katakan, aku kadang bingung mencernanya. Mungkin karena perbedaan umur kami yang cukup jauh. Tapi satu hal yang pasti, aku melihat bahwa kebahagiaan itu bisa timbul hanya karena sepotong pizza dengan bumbu bernama ‘kebersamaan’.
Saat bersama Kalila dan teman-temannya, sejenak aku melupakan semua masalah dalam kehidupanku.
— MUSE S2 —
•••
Aku menunggu Kalila menutup cafenya di dalam mobil. Menerawang kosong ke luar jendela sambil menghisap rokokku dalam-dalam.
Krrriing....
Sebuah panggilan membuyarkan lamunanku.
Mama is calling...
“Mama? Kenapa lagi?” pikirku.
Aku mengangkat panggilannya, “hallo, Ma?”
“Arvin, kau sekarang tinggal di mana? Kenapa nggak pernah pulang?”
“Oh, Arvin tinggal di dekat kantor, menyewa apartemen.” Aku berbohong.
“Apa kerjaanmu sesibuk itu?”
“Benar, masih banyak yang harus dibereskan karena kantor cabang baru, Ma.” Aku kembali beralasan.
“Oh begitu. Baiklah. Jaga kesehatan, jangan terlalu banyak lembur! Kau sudah makan?”
“Belum, Ma. Aku akan makan sebentar lagi.”
“Lalu bagaimana dengan janjimu?”
“Janji apa?”
“Kau bilang dalam seminggu akan membawa pacarmu bukan? Dua hari lagi genap satu minggu!” kata Mama. Ah, benar juga aku sampai melupakannya!
“Oke, aku pasti membawanya menemui Mama dua hari lagi,” jawabku dengan yakin, tentu saja aku yakin, Kalilakan sudah jadi milikku.
“Awas kalau nggak! Mama lamarin kamu bulan depan.”
“Nggak, Ma. Arvin pasti bawa calon menantu buat Mama.”
“Oke!! Mama tunggu, ya.”
Klik...
Mama menutup panggilannya.
Benar, aku hanya perlu mengatakan semuanya pada Kalila, mengenalkan dirinya pada kedua orang tuaku, melamarnya, dan menyembuhkan diri. Aku tak perlu merisaukan ucapan Diana. Aku hanya perlu membuktikan padanya bahwa aku bisa sembuh, bisa berubah. Akan aku buktikan bahwa aku bukanlah monster itu lagi.
Aku pasti bisa melalui semuanya asalkan bersama dengan Kalila.
— MUSE S2 —
Ada giveaway menarik buat para readers setia MUSE.
Caranya gampang;
•Baca dan like tiap episodenya, comment bila berkenang.
•Vote MUSE sebanyak-banyaknya.
•Masuk ke Grup Chat Author.
•Di tutup 15 Mei 2020.
•Pengumuman pemenang di Grup Chat!!
3 orang Readers yang vote MUSE paling banyak akan mendapatkan kenang-kenangan dari saya berupa kaos bertuliskan MUSE, bahan katun combet 30s.