
MUSE S7
EPISODE 19
S7 \~ PEMBANTU
Levin mengusir Leoni, Leoni pergi dengan menggerutu sambil menendang kaki meja, semakin hari permintaan Levin semakin aneh-aneh saja. Sepertinya Levin selalu tersenyum puas saat berhasil menjahili Leoni. Bagi Levin wajah cemberut Leoni terlihat sangat menarik di matanya.
_________________
Hari Minggu yang cerah, sesuai dengan janjinya Levin datang berkunjung ke rumah Leoni, menjadi model untuk seni patung. Levin memejamkan matanya saat jemari Leoni menggerayaangi tiap inci permukaan wajahnya. Mengukur tiap lekukan, mulai dari cekungan mata, bentuk bibir, sampai juga pada cerukan pada garis tulang hidungnya yang mancung.
"Jangan bergerak terus donk, Vin!" pinta Leoni.
"Habis geli sekali, aku tak bisa menahannya.' Levin akhirnya terkikih, sudah tak bisa menahan rasa geli.
"Ya, sudah, kita istiraht dulu saja. Aku juga sedang menunggu adonan semen putih pada cetakkan mengering." Leoni melepaskan tangkupan tangannya dari wajah Levin.
"Cuci wajamu biar tak berjerawat."
"Ok." Levin menurut dia pergi ke wastafel dan mencuci mukanya.
Mereka berdua ada di studio milik Leon. Area cukup luas itu ada di dalam rubana, atau ruang bawah tanah yang memang khusus dibuat untuk mengerjakan keramik. Pekerjaan Leon sebagai seorang penjunan mengharuskannya memiliki tempat luas dengan sirkulasi yang tidak terlalu panas, —tanah liat tidak cepat kering saat berputar.
"Kau sudah dengar berita tentang Farel? Sudah satu minggu dia tak masuk ke sekolah. Kami mengkhawatirkannya. Saat bertandang ke bengkelnya kemarin, ternyata Farel sedang berlatih balapan motor." Levin duduk di atas meja, sedangkan Leoni pada kursi kayu, terlihat mempersiapkan beberapa peralatan pahat. Ada pasah, tatah, palu, amplas, dan beraneka macam ukuran kuas dan sundip.
"Iya, aku sudah tahu. Farel berpamitan padaku sebelum ia membolos sekolah," ucap Leoni.
"Hah? Benarkah? Dia bahkan tak memberi tahu kami tapi malah memberitahumu?" Levin tampak kaget, terbesit rasa tidak senang dalam hatinya.
"Serius? Masa Farel tak mengobrol dengan kalian tentang hal ini? Bukankah kalian bersahabat?" Leoni ikut terbelalak.
"Sebenarnya apa hubungan kalian? Apa kalian berkencan?" tanya Levin ingin tahu hal yang lain.
"Tentu saja tidak. Lagi pula kita baru kelas 7, Vin. Papa dan mamaku pasti pingsan saat tahu aku punya kekasih. Apa lagi Papa, dia pasti mati-matian menentang. Dan yang paling penting, aku hanya menganggap Farel sahabat. Aku tak punya perasaan apapun padanya." Leoni terkikih membayangkan wajah sangar Papanya saat marah.
"Benar juga, Papamu menyeramkan."
"Aku berharap Farel bisa memenangkan pertandingan. Dia bertaruh banyak akan hal ini." Leoni menghela napas, ikut prihatin membayangkan kehidupan Farel yang jauh dari kata cukup.
"Bagaimana kalau kita datang mendukungnya saat lomba?" tanya Levin.
"Boleh." Leoni tampak antusias.
"Aku akan coba menanyakan jadwal tandingnya." Levin tersenyum, dalam hati merasa lega karena Farel dan Leoni tak ada hubungan apapun.
...— MUSE S7 — ...
Waktu berjalan cepat, hari demi hari berganti. Sudah 10 hari semenjak Farel membolos sekolah. Bocah remaja itu benar-benar mendedikasikan semua waktunya untuk berlatih. Dalam sepuluh hari, Farel hanya masuk satu kali, itupun digunakan untuk tidur di dalam kelas. Levin yang kebetulan rangking satu membantu Farel mengejar ketertinggalannya. Walaupun tidak maksimal setidaknya nilai Farel tidak kosong. Gawat kalau kosong, bisa-bisa Farel di keluarkan dari sekolahan.
Tak hanya Farel yang bersemangat dengan hobi barunya. Leoni juga sangat bersemangat dengan keterampilan baru yang diasahnya beberapa hari belakangan ini. Leoni sedang mendalami perannya sebagai seorang stone crafter atau pemahat batu. Ia mencontoh wajah Levin untuk karya terbarunya saat ini. Cowok itu menurut saja saat Leoni memainkan wajahnya. Meraba tiap-tiap incinya dengan tangan kosong. Imbal baliknya. Leoni juga pasrah saja saat Levin menjadikannya seorang pembantu sebagai imbalan atas jasa model.
"Kan aku bilang susu pisang, bukan susu coklat." Levin mengembalikan botol susu pada Leoni.
"Tadi kamu bilang coklat, Bryan juga dengar, iyakan, Bry?" Leoni bertanya pada Bryan, mencari saksi hidup.
"Nggak, susu pisang kok." Tentu saja Bryan akan mendukung Levin, dia dan Leoni kan sama. sama-sama budaknya Levin.
"Sialan!! Percuma nanya sama Bryan dan Chiko, keduanya pasti dukung Levin," lirih Leoni sebal.
"Sudah sana, beliin susu pisang." Levin mengusir Leoni, Leoni pergi dengan menggerutu sambil menendang kaki meja, semakin hari permintaan Levin semakin aneh-aneh saja. Sepertinya Levin selalu tersenyum puas saat berhasil menjahili Leoni. Bagi Levin wajah cemberut Leoni terlihat sangat menarik di matanya.
"Kenapa wajah cemberutnya imut sekali?" Levin bergumam sendiri.
"WOI!! Jatuh cinta, Bro?" ledek Chiko.
"Kek drama Korea aja kucing sama tikus saling jatuh cinta." tambah Bryan. "Coba ada Farel di sini, bisa mati ketawa dia."
Levin memandang pohon mangga yang tumbuh subur di taman belakang sekolah. Sayang sekali belum musim mangga, jadi tak ada buah yang bergelantungan. Saat musim mangga tiba, Farel dan Levin selalu memanjat pohon itu untuk memetik buahnya, dibagikan pada dua ekor temannya yang lain. Levin teringat keangan bersama Farel. Kenapa mendadak hatinya sesak? Rasaya hubungan persahabatan mereka kini kian jauh. di tambah dengan sosok Leoni yang muncul di antara keduanya. Gadis itu punya andil dalam mengisi hati mereka berdua saat ini.
Kenapa harus Leoni? Levin hendak memupus perasaannya, sebelum rasa itu berubah menjadi cinta.
Tapi sepertinya, sulit sekali. Karena CINTA bukan sesuatu yang bisa ditahan, apalagi dipupus.
...— MUSE S7 —...
Pulang sekolah, Levin berjalan mengimbangi Leoni. Hari ini cowok itu sengaja tak membawa sepedanya agar bisa pulang bersama Leoni.
"Woi, Singa!" Panggil Levin.
"Kenapa lagi sih?" Leoni mencibirkan bibirnya, lelah sudah seharian menjadi kacung si lacknut ini. Pulang sekolah masih harus barengan.
"Jangan kasar kenapa?? Anak cewek itu harusnya lembut, cantik, pengertian, kayak Jesca itu hlo!" Levin membandingkan Leoni dengan si cantik Jesca.
"Ya udah jangan jalan sama aku, jalan sana sama Jesca. Tuh, dia lagi ngelihatin kita." Leoni berjalan lebih cepat, sesekali ia menyedot es teh manis dari dalam plastik bening. Levin menoleh, ada Jesca yang memang terlihat sebal terhadap hubungan Levin dan Leoni belakangan ini.
"Enak nggak es tehnya?" tanya Levin.
"Masih enak susu pisang tadi. Lagian ngapain nanya-nanya es teh? Mau juga?"
"Kalau mau, emang mau beliin?" balas Levin.
"OGAH!! M-A-L-E-S!!"
"Hei, Singa. Kan janji mau jadi kacungku selama aku jadi modelmu." Levin melangkah mendahului Leoni, berbalik arah, kini mereka saling berhadapan, Levin berjalan mundur.
"Jangan memanfaatkan keadaan, ya!" sergah Leoni.
"Kan kau sendiri yang bilang nggak keberatan jadi kacung." Levin menyeringai. "Jadi aku minta apapun harus kau turuti donk!"
"Ya udah minta apa? Es teh?" Leoni mengalah.
"Bukan."
"Terus apa?"
Levin berbisik di telinga Leoni.
"Kasih lihat celana dalammu donk warnanya apa?!" Levin terkekeh, wajah Leoni langsung merah padam saat mendengarnya.
"Aying, Cowok Mesum, lucknut!!" Leoni menyemprotkankan es teh ke arah Levin.
'Week, nggak kena!!" Levin dengan lincah menghindar. Leoni mengejarnya, bahkan sampai semua es tehnya terbuang percuma pun, Leoni tetap tak bisa mengenai Levin. Tak bisa membalasnya. Cukuo lama mereka kejar-kejaran.
"Ampun, Singa, aku hanya bercanda." Levin ngos-ngosan, ia kembali berjalan dan mengatur napasnya. Begitu pula Leoni. kejar-kejaran dengan Levin membuatnya lelah.
Leoni berjalan perlahan, menyelusuri trotoar jalan menuju ke perumahan elit. 15 menit berjalan kaki mereka akan sampai pada rumah masing-masing.
"Minggu Depan Farel bertanding," kata Leoni, ucapannya itu langsung menyita perhatian Levin.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Levin heran. Sekali lagi, Farel bahkan tak memberitahukan padanya.
...-— MUSE S7 —...
...Like...
...Vote...
...Comment,...
...Follow...