MUSE

MUSE
S4 ~ I LOVE YOU RA



MUSE S4


EPISODE 27


S4 \~ I LOVE YOU RA


\~ Gairah panas terpercik di antara kami berdua. Menutup malam dengan indahnya persatuan dan desahan penuh cinta. Tak pernah ku rasakan betapa kelembutan bisa terasa begitu indah.\~


__________________


(21+ lewatkan saja kalau belum cukup umur, tidak akan mengganggu jalannya cerita. Harap bijak dalam membaca dan menyikapinya readers!! ❤️❤️)


Tubuhku bergetar dengan hebat dan kakiku terasa begitu lemas. Aku tak tahu lagi, pandanganku buram dan mulai menghilang.


BUK!!


Terdengar bunyi pukulan dan teriakan. Lalu sekejap kemudian aku telah berada di dalam pelukan Keano, pelukkan hangat itu menyadarkanku dari rasa takut dan gentarku.


“Ra?”


“Iya, ini aku Inggrid.”


Bisa ku lihat wajahnya yang begitu kacau, bengkak dan penuh luka. Darah menetes dari pelipis, hidung, dan sudut mulutnya. Mereka telah melukai tubuh Keano, dan semua karena diriku.


“Pakai ini.” Ra melepaskan bajunya dan memakaikannya padaku. Aku langsung menerimanya, menutup lagi tubuhku yang hanya berbalut pakaian dalam saat ini.


“Tunggu sebentar, aku selesaikan semuanya!” Ra menghapus air mataku sebelum maju ke depan dan membasmi mereka. Menghajar dan menghukum mereka satu per satu.


Aku kadang menutup mulut dan juga mataku saat Ra menghajar mereka dengan brutal. Aku tak menyangka bahwa Ra sekuat itu. Bahkan Ra mematahkan persendingan tangan para b*debah brengsek itu. Menimbulkan teriakan kesakitan yang memekakkan telinga.





Ra menghampiriku begitu pertarungannya selesai. Ia menawarkan punggungnya saat aku begitu lemas untuk berjalan.


Aku mengalungkan tanganku pada lehernya, berpegangan erat pada tubuh telanjangnya. Ra terpaksa harus bertelanjang dada karena memberikan kaosnya untukku.


Sepanjang perjalanan aku hanya bisa menangis dan menangis. Aku menyesali kesalahanku, aku menyesali perbuatanku.


“Maaf, Ra, maaf,” isakkanku semakin dalam dan cepat.


“Sudahlah, Inggrid.”


“Aku bersalah padamu. Aku jahat padamu.”


“Itu semua juga keinginanku sendiri.”


Akhirnya kami sampai di rumah, Ra mengambil sebongkah es batu dan mengopreskannya ke wajahku. Mencoba mengurangi bengkak yang mungkin saja di tinggalkan akibat tamparan mereka tadi.


“Untung saja tak ada yang terluka. Kalau sampai membekas aku akan sangat merasa bersalah.” Ra tersenyum.


“Hiks ...! Aku takut Ra.” Bayangan menakutkan akan jamahan, tatapan menjijikan, dan seringai mereka kembali menghantuiku. Memberikan rasa takut dan aku gemetar karenanya.


“Mandilah Inggrid, bersihkan rasa kotornya.” Ra bangkit mengambil kaos dan juga celana yang bisa ku kenakan.


Aku menurut, bangkit dan membersihkan diri. Menghapus tiap-tiap kotoran dan rasa kotor karena jamahan mereka. Air mata keluar dari sudut mataku, aku tetap merasa sakit hati, merasa takut, dan merasa benci.


Aku meringkuk dan memeluk lututku di atas kasur Keano. Aku menikmati cahaya remang dari sinar bulan yang masuk ke dalam jendela.


“Kenapa lampunya tidak dinyalain?” tanya Ra.


“Ra ...,” lirihku.


Ra duduk di bibir ranjang. Luka-lukanya sudah dibersihkan dan berwarna kecoklatan karena obat merah. Tinggal bagian punggungnya yang belum karena tangan Ra tidak bisa menjangkaunya.


“Oleskan donk!” pinta Ra.


Ra memberikan botol obat merah kepadaku, dengan cepat aku mengambil botol itu dan meneteskannya pada setiap luka di punggung Ra. Ternyata luka goresnya sangat banyak, untung saja tidak dalam jadi tidak ada yang perlu di jahit.


Hatiku tersayat melihat lukanya, dengan lembut aku mengelus punggungnya. Air mataku kembali menetes, aku mencium punggung Ra. Aku tak bisa membayangakan bagaimana jadinya tubuh ini kalau Ra sampai tidak keluar.


Aku begidik takut, tak bisa kubayangkan apa jadinya aku kalau Ra tidak keluar. Bayangan tangan mereka kembali menghantuiku. Membuatku merinding dan kembali bergetar dengan hebat.


“Hiks ...! Aku takut Ra! Aku takut.”


“Kemari.” Ra langsung memutar tubuhnya dan memelukku.


“Rasanya begitu kotor!! Mereka menyentuh tubuhku dengan tangan kotornya.” Aku terisak.


Ra mengepalkan tangannya geram.


“Maaf, Inggrid. Aku harusnya bisa segera keluar dan menolongmu!”


Kuangkat wajahku untuk memandang wajahnya. Pandangan mata kami bertemu, Ra memandangku dengan matanya yang tajam namun penuh perhatian.


Sekejap kemudian Ra menempelkan bibirnya di atas bibirku. ********** dengan lembut, dalam, dan penuh hisapan mesra. Alunan gerakan kami saling bersahutan, Ra memang begitu hebat saat berciuman. Membuatku merasakan cinta dan nafsu secara bersamaan.


“Aku akan menghapusnya, Inggrid! Rasa kotor itu,” kata Ra, aku langsung mengalungkan lenganku dan menarik tubuhnya turun.


Ra mencium pundakku, mengelus hangat perut dan naik ke arah punggung. Mengusap dan mengalirkan suhu tubuh kami masing-masing. Tangannya dengan cepat telah berhasil melucuti setiap pakaianku. Aku kembali tersipu saat melihat bentuk tubuhnya yang indah.


“Aku mencintaimu, Inggrid.”


“Aku juga, Ra.”


Ra menghapus lelehan air mata dengan kecupannya. Perlahan-lahan dan terus bergerak, menghujani tiap jengkal kulitku dengan rasa basah dan geli. Ra terus memainkan jarinya di setiap area sensitif. Membuatku terus menggigit bibirku menahan sensasinya. Aneh, tapi membuatmu terus menginginkan lebih.


Debaran jantung kami berdua melaju dengan cepat. Suaranya saling bersahutan, peluh menetes dari tubuh kami berdua, melebur menjadi satu. Suhu tubuhku terus meningkat seiring dengan gerakan-gerakan sensualnya.


Ra mengangkat tubuhnya, memandang wajahku dengan penuh gairah. Wajahnya memerah, akupun merasakan hal yang sama. Wajahku menghangat.


“Apa kau siap?” tanya Ra. Matanya terus menatapku lekat. Pandangannya itulah yang membuatku lupa diri, yang membuatku kehilangan akal sehat.


“Iya, Ra.”


“Baiklah, aku akan masuk pelan-pelan OK. Bilang kalau sakit Inggrid.”


“Huum.” Aku menelan ludahku, sedikit takut juga karena ini adalah yang pertama bagiku dan Ra.


“Arg ...!” rancauan kembali terdengar saat Ra mulai menerobos masuk.


Ra menggenggam tanganku, menautkan jari jemari kami. Akupun mengencangkan genggamanku untuk menahan rasa sakitnya.


Rasanya sangat menyakitkan, namun juga sekaligus membuatmu ketagihan dengan rasa sakitnya. Rasanya begitu aneh, aku ingin mendorong tubuhnya namun juga ingin mendekapnya. Aku ingin menolak sekaligus menerimanya, aku ingin terus mendessah dan berteriak.


“Kau cantik, Inggrid. Kau cantik, Baby.”


“Ra ....” air mata kembali menetes, namun bukan air mata kesedihan. Air mata bahagia dan rasa haru karena aku kembali menemukannya dalam diri Keano. Aku bisa kembali mendekapnya, menjumpainya di dalam tubuh Keano.


“Argh ... hemp!!” Aku hendak merancau, namun Ra membungkam rancauanku dengan mulutnya.


“Jangan keras-keras, Inggrid, Mama bisa mendengar kita,” bisik Ra.


“Kau benar! Kalau begitu kau juga jangan cepat-cepat, donk geraknya!” protesku.


“OK, aku akan melakukannya pelan-pelan.” Ra memperlambat laju gerakan pinggangnya.


“Hm ... kalau ini terlalu lambat!” protesku lagi.


“Kau ini banyak maunya!” Ra mencubit pipiku.


“Kenapa rasanya sakit dan perih?”


“Oh, ya? Aku hanya merasa hangat dan enak saja kok.” Ra menaik turunkan alisnya meledekku.


Plak!! Aku mengeplak kepalanya sebal. Sialan, malah ngeledekin.


“Bukankah sakit dan perihnya juga terasa enak di tubuhmu? Buktinya tubuhmu terus bergetar saat aku menyesap tiap bagian sensitifnya.” Ra semakin menjadi-jadi, menggodaku dengan senyumannya yang manis.


“Sialan!” Aku memukul dada bidangnya.


“Lupakan rasa anehnya, rasakan saja rasa bahagianya, Inggrid. Seperti aku begitu bahagia bisa memilikimu saat ini.” Ra mencium pergelangan tanganku.


Aroma musk yang sporty membiusku, membuatku begitu menikmati sentuhan dan juga dekapannya. Benar kata Ra, nikmatiin saja rasa bahagianya. Nikmati saja indahnya persatuan ini.


Aku memeluknya, menariknya untuk semakin mendekat. Membuat tubuh kami bersentuhan, berbagi hasrat dan juga suhu tubuh. Napasnya yang panas terasa menggelitik leherku. Ra terus mengecupnya, sesekali memberikan gigitan pelan.


“Say that you love me, baby! Say it!” bisik Ra.


“I love you Ra!”


Ra tersenyum puas dan kembali melanjutkan aksinya. Melakukan tiap-tiap gerakan tubuh yang membuat kami berdua terpuaskan. Gairah panas terpercik di antara kami berdua. Menutup malam dengan indahnya persatuan dan desahan penuh cinta. Tak pernah ku rasakan betapa kelembutan bisa terasa begitu indah.


— MUSE S4 —


Wahahaha!! Ken tertikung 😝😂


MUSE UP


YUK DUKUNG AUTHOR DENGAN VOTE


VOTE KALIAN 10 pointpun berarti buat saya gaes.


Suport saya dengan dukungan point dan koin.


Jangan lupa juga buat like dan commentnya.


Biar MUSE FEMES!! Author rengginan jadi author femes!! 🤭🤭🤭


Jangan lupa bagi cinta untuk banyak orang


Jangan lupa cintai alam


Jangan lupa bawa kantong belanja sendiri


Jangan lupa kalau saya cinta kalian