
MUSE S6
EPISODE 7
S6 \~ KRYSTAL
\~ Rasa rindu yang membuncah dalam hati Gabby tiba-tiba menyeruak keluar. Gabby ikut meneteskan air mata dan merangkuh tubuh wanita yang dicintainya itu. \~
_____________________
Krystal menerawang kosong pada meja kaca di depannya. Jemarinya yang lentik berhiaskan kuku-kuku cantik tengah mengetuk berirama pada permukaan kacanya. Entah apa yang sedang dilamunkannya, yang pasti sudah hampir satu jam dia berdiam diri seperti itu. Latte yang dipesannya bahkan sudah mengembun dan tak lagi dingin.
Apa aku keterlaluan pada Gabby?! Pikir Krystal.
Ah, tidak!! Aku harus lepas dari bayangan Gabby. Aku tak bisa membiarkannya mengatur hidupku seakan dia adalah kekasihku, tepis Gabby dalam benaknya.
Krystal melirik lagi pada ponselnya, kenapa Ivander sama sekali tak membalas pesannya? Apa dia sedang sibuk?
Krystal mau tidak mau harus merepotkan Ivander karena ia memutuskan pergi dari apartemen Gabby. Krystal tak punya tempat tinggal saat ini. Tak punya tujuan lain selain Ivander.
Krystal membenamkan wajahnya pada lipatan tangan. Teringat saat-saat masa lalunya bersama dengan Gabby. Bagaimana pun Gabby punya andil besar dalam menghibur dan menjaga Krystal saat dirinya terpuruk. Kematian orang tuanya lalu kematian Oma Welly yang mendadak.l, Krystal akan terpuruk seorang diri bila tidak ada Gabby di sampingnya.
Walaupun Krystal selalu iri dengan Gabby, namun semua yang dimilikinya saat ini juga karena Gabby dan keluarganya.
“Aku akan meminta maaf padanya besok,” desah Krystal.
Tring ... 🎶
Bunyi ponsel menghentikan lamunannya.
IVANDER :
Di mana kau sekarang?
Aku akan menjemputmu.
KRYSTAL:
Cafe dekat kantormu
•
•
•
Tak lama kemudian Ivander datang menjemput Krystal, ia membantu Krystal membawa kopernya ke dalam bagasi mobil. Ivander membawa Krystal ke apartemennya. Ia memberikan sebuah kamar apartemen untuknya tinggal.
“Kau bisa tinggal di sini sementara,” kata Ivander, ia memberikan pascode apartemennya pada Krystal.
“Thanks, Van.”
“Baiklah, aku kembali ke kantor. Sampai ketemu nanti sore.” Ivander mengecup kening Krystal sebelum meninggalkan gadis itu.
“Oke.” Krystal merasa bahagia.
Sepeninggalan Ivander, Krystal mengelilingi apartemen mewah itu. Matanya terus membelalak kagum, tak ayal melihat begitu lengkap dan bagusnya apartemen milik Ivander. Milik Gabby juga tak kalah lengkap, namun dari pada ke arah mewah, apartemen milik Gabby cenderung ke arah luas.
“Ah, bahagianya.” Krystal membanting diri ke atas ranjang dan tertidur.
•
•
•
Krystal mengerjap pelan, sesuatu mengganggu tidurnya. Ada rasa basah dan hangat terkecap pada lehernya. Ternyata Ivander sudah pulang dan menyerang Krystal dalam tidurnya.
“Ivander?”
“Apa aku mengganggu istirahatmu?” Ivander tersenyum pada Krystal.
“Tidak, aku senang kau sudah kembali.”
“Baguslah! Kita bisa bercinta sekarang.” Ivander mencium bibir Krystal, ia mulai meraupnya dengan kasar.
“Argh ... Apa tak sebaiknya kau membersihkan diri dulu, Van?” tanya Krystal disela lengguhannya.
“Tidak, aku tak bisa menunggu lagi. Kau membuatku begitu menginginkanmu.” Ivander melucuti semua pakaiannya sebelum pakaian Krystal.
Muka Krystal memerah saat melihat betapa tampan wajah dan sempurnanya tubuh Ivander. Namun yang paling membuatnya bahagia adalah mengetahui kalau Ivander mencintai dirinya dengan sepenuh hati.
“Merancaulah, Krys! Semakin kau berteriak aku semakin bersemangat.”
“Argh, Ivander!! I love you!” rancau Krystal.
“Yes, seperti itu!”
“Ahh ...!”
•
•
•
Ivander menghisap rokoknya di samping Krystal, tangannya merangkul sambil mengelus hangat lengannya yang terbuka. Krystal memainkan jemarinya di atas otot perut Ivander, bergerak sembarangan.
“Boleh aku meminta sedikit uang, Van?” tanya Krystal.
Ivander memincingkan sudut bibirnya, ternyata Krystal sama saja dengan wanita lainnya. Sambil meniupkan asap rokoknya ke atas kepala Ivander bertanya, “berapa?”
“Emm ... berapa, ya?” Krystal bingung menyebutkan nominalnya.
“Seratus juta cukup?” tanya Ivander.
“Apa?? Seratus juta?” Krystal langsung bangkit, ia memandang Ivander dengan berbinar, tak percaya dengan tawaran pria itu.
“Cukup?”
“Cu—cukup, lebih dari cukup.” Angguk Krystal senang.
“Aku kirim uangnya besok.”
“Thanks, Van.” Peluk Krystal.
“Sebagai gantinya kau harus memuaskanku lagi malam ini, bagaimana?”
“Tentu saja, sebanyak yang kau inginkan.”
“Oh, iya, jangan lupa minum ini!” Ivander membuka laci nakas di samping ranjang. Memberikan beberap jenis pil pada Krystal.
“Apa itu?” Krystal bingung.
“Pil kontrasepsi! Aku tak suka memakai pengaman, tapi aku juga tak ingin menjadi seorang Ayah!” tandas Ivander.
“Hah???” Krystal baru kali ini melihat pil itu.
“Baik.”
“Lalu jangan pernah datang ke kantorku!”
“Kenapa?”
“Tak ada alasannya. Apa kau mengerti?!” Tatap Ivander tajam.
“Iya.” Krystal mengangguk.
“Good, Girl.” Ivander melanjutkan lumattannya.
Terlalu terbuai oleh nafsu dan cintanya, Krystal melupakan Gabby. Memilih kehidupan barunya yang terasa begitu berwarna saat bersama dengan Ivander.
— MUSE S6 —
Krystal menjalani kehidupannya dengan baik bersama Ivander. Sudah dua bulan mereka bersama, Krystal memegang rekor terlama wanita yang pernah menjadi pacar Ivander. Semakin hari Krystal semakin mencintai Ivander. Namun, seakan perasaan Ivander berbanding terbalik dengan Krystal, semakin hari Ivander semakin bosan padanya.
Krystal mulai bingung saat Ivander mulai jarang datang ke apartemennya. Ivander juga jarang membalas chatnya, kadang sengaja membiarkan panggilan Krystal tak terjawab.
Krystal bingung, uangnya mulai menipis, mau tidak mau Krystal harus mencari pekerjaan. Ia tak bisa bergantung pada Ivander. Untung saja kuliahnya sudah selesai, Krystal tinggal menunggu wisudanya. Berbekal surat pengantar seadanya dari kampus, Krystal bisa melamar pekerjaan pada beberapa perusahaan.
“Kenapa sekarang Ivander tak pernah datang? Ia bahkan tak meneleponku?” Krystal bergumam, kakinya menendang kerikil-kerikil kecil pada trotoar jalan, ia baru saja pulang dari melamar pekerjaan.
•
•
•
Pertanyaan Krystal seakan terjawab saat mendapati pintu apartemennya sedikit terbuka. Semula hati Krystal begitu bahagia, dia kira Ivander kembali padanya, datang untuk menemuinya.
Namun ....
Tas yang digenggamnya terjatuh, Ivander berdiri di depannya dengan seorang wanita cantik. Mereka sedang bercumbu, tangan Ivander sudah masuk ke dalam rok wanita itu.
“Ada yang datang, Van.”
“Biarkan saja.”
“Siapa kau?!” teriak Krystal, ia hampir menangis.
“Siapa?? Siapa aku, Van?” tanya wanita itu dengan genit.
“Mi Amore.” Ivander mengecup mesra bibir merah wanita yang tampak lebih tua darinya itu.
“Sialan!! Ivander adalah pacarku!” Krystal menghampiri mereka, ia hendak menampar pipi wanita itu, namun ditepis oleh Ivander. Membuat Krystal terpelanting ke samping.
“Ivander?!” jerit Krystal penuh amarah.
“Maaf, Krys, aku sudah tak lagi suka padamu. Kau bisa angkat kaki dari apartemen ini secepatnya.” Lirik Ivander tajam.
“Apa??” Krystal mencelos tak percaya.
“Itu kopermu, sudah aku beresin barang-barangmu!”
“Hiks ... kenapa, Van? Padahal aku begitu mencintaimu.” Krystal menggelengkan kepalanya sambil menangis. Tak percaya pria yang begitu dicintainya akan mengkhianatinya begitu saja.
“Maaf, tapi aku tak pernah mencintaimu,” ucapan Ivander membuat hati Krystal bagaikan teriris sembilu, nyeri dan perih sampai mual rasanya.
“Hiks ...!” Krystal bangkit.
“Aku sudah mengirimkan uang ke rekeningmu, anggap itu kompensasi keperawananmu.”
“Hiks, jahat sekali kau, Van!!”
“Enyahlah dari hadapan kami!!” Usir wanita itu.
Akhirnya Krystal menyahut kopernya, menghapus air matanya, dan beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.
Sepanjang perjalanan Krystal terus menangis. Tak ada tempat lain yang bisa ditujunya saat ini selain Gabby. Dalam hati Krystal berharap Gabby mau memaafkan dan menerimanya kembali.
— MUSE S6 —
Ting ... Tong ...!
Gabby tengah mengoleskan damar pada rambut busurnya saat terdengar bel pintu berbunyi.
“Sebentar!” seru Gabby dari dalam rumah.
Gabby menaruh biola dan busurnya, bangkit untuk membukakan pintu. Alangkah terkejutnya Gabby saat pintu dibuka, Krystal langsung menghambur masuk ke dalam pelukkannya. Sambil terisak dan penuh dengan uraian air mata ia kembali pada Gabby.
“Gabby, maafkan aku.” Tangis Krystal.
Rasa rindu yang membuncah dalam hati Gabby tiba-tiba menyeruak keluar. Gabby ikut meneteskan air mata dan merangkuh tubuh wanita yang dicintainya itu.
“Ke mana saja kau, Gadis Bodoh?!! Aku mencarimu ke mana-mana! Kenapa mengabaikan panggilanku?! Kenapa pergi dariku, Krys? Kenapa?” Banyak pertanyaan yang ingin Gabby lontarkan, ingin Gabby ketahui. Dua bulan Gabby memendam perasaan dan rasa rindunya pada Krystal.
“Maaf, Gab.” Krystal sesunggukan.
“Sudahlah, yang penting kau baik-baik saja.” Gabby menghapus air mata Krystal, mengusap pipinya dengan lembut.
“Kau benar! Ivander bukan pria yang baik.” Krystal kembali memeluk Gabby, Gabby memeluk erat Krystal, menyalurkan rasa tenang.
“Kalian bertengkar?”
“Ivander mengkhianatiku dengan wanita lain.”
“Apa?!”
“Padahal aku sangat mencintainya, Gab.” Krystal kembali menangis, hatinya sakit dan menderita. Krystal merasa telah melakukan sebuah kesalahan besar karena ia telah memberikan segalanya untuk Ivander. Baik hati maupun keperawanannya.
“Sabar, Sayang. Seiring berjalannya waktu kau pasti akan melupakannya.” Gabby menenangkan Krystal.
“Hiks, semoga, Gab. Aku terlalu mencintainya.” Krystal duduk di sofa.
“Tunggu, aku ambilkan air hangat.”
“Aku mau bir,” sela Krystal, “aku mau melupakan rasa sakit ini, Gabby!”
“Baiklah, aku ambilkan.”
Gabby kembali dengan dua kaleng bir dingin, memberikannya pada Krystal, dengan cepat Krystal menenggaknya. Meluapkan kekesalannya dengan minuman beralkohol itu. Tak puas menenggak satu kaleng, Krystal menyahut juga milik Gabby.
Lelah menangis Krystal tertidur di pangkuan Gabby. Gabby mengelus rambut Krystal, berusaha membuat tidurnya nyenyak. Sesekali Krystal sesunggukan, sisa tangisan masih membayangi waktu istirahnya. Gabby terus mengelus rambut Krystal, membisikkan kata-kata semangat.
“Semuanya akan baik-baik saja, Krys. Kau kan punya aku.” Setelah berucap lirih, Gabby mengecup dahi Krystal.
— MUSE S6 —
Ah, kasihan Gabby.
😭😭😭
Jangan lupa di comment sama di like, terus di vote!