MUSE

MUSE
S7 - MEMANDIKAN SINGA



MUSE S7


EPISODE 05


S7 \~ MEMANDIKAN SINGA


\~Begitu sampai Levin berdecak kagum saat melihat banyaknya motor-motor modifikasi. Sebagai anak ingusan, dunia otomotif merupakan hal baru bagi Levin. Hal terkeren yang ia jumpai selama hidupnya. Ia beserta tiga orang teman sekelasnya sudah beberapa kali ini mendatangai area balapan liar. Mencoba menaiki motor berkecepatan ekstra sambil mengadu adrenalin. Levin jatuh cinta dengan sensasinya.\~


________________


Di kamar mandi yang lain. Levin menahan derita dan rasa malu. Ia satu kamar mandi dengan Leon. Hanya memakai handuk yang menutup burung kebanggaan mereka masing-masing. Leon berdekap tangan, Duduk sambil memandang Levin lamat dengan sorot mata tajam. Menunggu bak terisi oleh air hangat, singa jantan itu menatap mangsanya.


“Ini. Bebatkan di tanganmu!” Leon memberikan handuk pada Levin.


“Ma — mau apa Om?” Levin terperangah.


“Adu tinju, ya tentu saja mandilah!!” Leon berbalik badan.


“Ini buat apa Om?” tanya Levin masih kebingungan.


“Sembari nungguin airnya penuh, gosok punggungku deh.” Leon menuangkan sabun pada handuk kecil di tangan Levin.


“Baik, Om.”


Levin menurut, menggosok punggung lebar Leon yang penuh tato. Semula Levin kaku, tapi lama-lama terbiasa juga melihat badan kekar Leon yang mirip preman.


“Pake tenaga donk! Cowok bukan sih?” Sindir Leon.


“Siap, Om!” Levin menambahkan tenaga pada gosokkan handuknya. Membuat Leon merasa jauh lebih nyaman.


“Kemarikan, giliranku menggosok punggungmu!” Leon memutar tubuhnya menghadap tubuh Levin. Menggosokkan handuk baru yang telah dilumuri sabun terlebih dahulu.


“Oke.” Dengan senang hati Levin menikmati gosokkan itu.


“Dari dulu Om pengen punya anak cowok. Tapi belum kesampaian. Kalau punya anak cowokkan enak, mandi bisa barengan, nonton bola barengan, main barengan.” Leon tersenyum, “bukan berarti Om ga sayang Leoni hlo, cuma enak aja kalau punya anak cowok.” Lanjut Leon, masih tetap sambil menggosok punggung Levin.


“Ya bikin lagi donk Om.” Usul Levin.


“Bikinnya emang gampang. Tapi jadinya yang susah. Halah, malah ngomongin apaan sih? Masih kecil juga!!” Leon mengusik rambut Hitam tebal Levin dengan shampo.


“Di sekolah kalian sering bertengkar? Sering adu mulut?” Tanya Leon.


“Sering, Om. Leoni ga pernah mau ngalah.” Curhat Levin.


“Ck! Tetep aja seorang pria harus mengalah pada wanita. Jangan bikin Leoni nangis ya! Nanti Om hukum kamu!” Leon mengapit Levin dengan lengannya.


“Iya. Duh, Le—lepasin, Om, sakit.” Berontak Levin.


“Sudah, ayo berendam. Airnya sudah penuh.” Ajak Leon.


— MUSE S7 —


Lain dengan Levin. Leoni sudah selesai membersihkan diri. Dibantu mamanya, Kanna. Leoni sedang menikmati hangatnya hair dryer. Pengering rambut itu berbunyi menderu seiring dengan udara panas yang keluar. Leoni tersenyum senang, rasanya segar.


“Sudah, rambutmu jadi lembut dan kempeskan.” Kanna menyisir rambut anak gadisnya.


“Harusnya kamu pakai masker dan serum rambut setiap hari Leoni, jadi rambutmu tak lagi kering dan berubah kayak singa.” Kanna kembali cerewet.


“Iya, Ma. Iya.”


“Mama potongkan semangka. Ajak papa dan Levin kalau mereka sudah selesai mandi.” Kanna menepuk bahu Leoni.


“Oke.”


Tak lama Kanna sudah kembali dengan potongan buah semangka. Membawanya ke ruang keluarga. Leoni duduk, dua kakinya naik ke atas sofa sebagai bantalan buku yang sedang ia baca.


“Papa belum selesai?”


“Belum,” jawab Leoni sambil mencomot semangka.


“Ngapain sih, berendam lama-lama? Mau pedang-pedangan?” gerutu Kanna.


Tak lama Leon dan Levin keluar dari kamar mandi dan menyusul untuk duduk di ruang keluarga.


Levin menatap Leoni lamat, gadis remaja itu belum sadar kalau musuh bebuyutannya tak mengalihkan pandangan. Terpesona dengan penampilan baru Leoni yang manis.


“Semangka?” tawar Kanna.


“Eh, iya Tan.” Levin tersentak, malu ketahuan menatap Leoni.


“Puft.” Kanna menahan tawanya.


“Bukan apa-apa kok.” Levin panik.


“Leoni cantik bukan?” Bisik Kanna pada telinga Levin, membuatnya berubah warna.


“Hahaha, asyiknya godain anak orang.” Kanna mengelus pucuk kepala Levin. Membuat Leoni dan Leon semakin bingung.


“Sudah jangan diam saja, ayo dimakan semangkanya!” Leon menyodorkan semangka pada Levin.


Setelah obrolan panjang akhirnya baju seragam Levin kering. Bocah tengil itu bergegas memakai kembali seragamnya dan berpamitan.


“Terimakasih Om, Tante buat semangka dan makan siangnya.” ucapnya.


“Sama-sama! Baik-baik sama Leoni ya! Jangan bertengkar terus. Kalian itu kayak kucing sama anjing aja.” Kanna merangkul Leoni.


“Awas kalau bikin Leoni nangis.” Timpal Leon.


“Wkwkwkwk!” Leoni tertawa lantang, melihat ekspresi kalah di mata Levin sungguh membuat hatinya bahagia.


“Tawa aja terus.” Levin sewot.


Akhirnya tubuh pria remaja itu melesat menjauh pergi dari kediaman keluarga Leoni menuju ke rumahnya.


— MUSE S7 —


Malam harinya Levin menyahut sepatu kets dan juga jaket bomber dari balik pintu kamar. Sambil mengendap-endap turun dari lantai dua, Levin memakai jaketnya.


Jam menunjukkan pukul 12 malam. Rumah terlihat gelap gulita, hanya beberapa penerangan remang dari taman ataupun lampu indirect. Levin memutar kunci perlahan-lahan. Tak ingin membangunkan semua orang. Bisa-bisa Levin kena omel mommy dan daddynya yang super cerewet.


“Oke! Rintangan pertama selesai. Ringangan ke dua.” Levin mengendap-endap, terlihat satpam rumahnya tertidur lelap di posnya. Kumis tipisnya sesekali bergerak karena dengkuran.


Perlahan-lahan, Levin mengambil sepeda, membungkuk di bawah pos satpam menuju ke pintu gerbang. Sampai akhirnya pintu baja besar itu terbuka pelan-pelan. Levin berhasil keluar dari rumah.


“Yes!!”


Levin bergegas mengkayuh sepeda, menuju ke sebuah perkumpulan. Hari ini dia dan semua teman-temannya berjanji berkumpul untuk melihat balapan liar.


— MUSE S7 —


Begitu sampai Levin berdecak kagum saat melihat banyaknya motor-motor modifikasi. Sebagai anak ingusan, dunia otomotif merupakan hal baru bagi Levin. Hal terkeren yang ia jumpai selama hidupnya. Ia beserta tiga orang teman sekelasnya sudah beberapa kali ini mendatangai area balapan liar. Mencoba menaiki motor berkecepatan ekstra sambil mengadu adrenalin. Levin jatuh cinta dengan sensasinya.


“Kau bawa motor?” tanya Levin pada salah seorang temannya.


“Benar, motor kakakku. Modifikasi penuh,” tuturnya bangga.


Hamparan tanah lapang pada pinggir kota disulap menjadi area balapan. Lahan bekas pabrik kosong ini begitu luas dan jauh dari keramaian. Cocok untuk menggelar balapan. Tak hanya balapan, mereka juga menjual sparepart motor baik legal maupun curian. Semuanya ada, mau modifikasi biasa sampai ekstream pun ada.


“Aku akan menyewa motor, kita balapan.” Ajak Levin.


“Sure!!”


Levin anak orang kaya, tentu saja menyewa motor merupakan pekara kecil baginya. Levin sebenarnya ingin punya motor sendiri, tapi dia baru kelas 1 SMP. Anak bau kencur ingusan yang bahkan belum akil balik. Jadi Levin biasanya hanya berputar-putar untuk mengetes motor sewaannya. Balapan dengan teman-temannya. Atau sekedar menikmati modifikasi dan bau minyak mesin.


Akhirnya tiba pada pengunjung acara. Balapan profesional tapi ilegal. Suasana balapan semakin malam semakin panas. Semuanya bertaruh untuk riders favorit mereka. Levin juga ikut bertaruh, memasukkan uang pada pembalap dengan nomor urut 8.


Bunyi motor menderu-deru, empat orang riders berjajar dengan motor trail mereka. Satu persatu menutar gasnya, menimbulkan suara yang memekakkan telinga. Tapi bagi Levin suara itu terdengar indah. Pada pinggiran Lapangan semua pendukung bersorak tak kalah riuh. Mereka meneriakkan sorak dukungan dan juga kesempatan taruhan. Tak lama seorang wanita cantik dengan pakaian sexy terjun ke tengah-tengah area pacu. Ia melepaskan syal pada lehernya.


“Ready?” tanyanya lantang, keempat pembalap mengangguk dalam helm racing.


“Go!!” Syal terlepas, tanpa balapan akan dimulai.


Mata Levin membulat antusias. Ingin rasanya beradu balap juga dengan mereka semua. Menikmati terpaan angin kencang dan juga suntikkan adrenalin yang tak terkira.


“Ayo!! Ayo!!” Levin terus bergumam, menyemangati pembalap idolanya. Ketiga temannya ikut bertepuk tangan. Mereka menonton dari balik pembatas kayu pinggir lapangan.


Keseruan dan juga antusiasme mendadak buyar saat sebuah suara sirine kepolisian terdengar. Semua mata langsung membelalak. Mereka semua lari tunggang langgang. Tak ingin tertangkap, bagaimana pun balapan liar adalah tindak kriminal. Dan taruhan juga adalah semacam judi.


“Lari, Levin!!” teriak temannya.


“Oke.” Levin berlari, menembus kekacauan dan mengambil kembali sepedanya.


Levin mengkayuh cepat, bergegas menembus semak-semak dan keluar menuju ke jalan raya. Entah bagaimana nasip ketiga temannya yang lain. Levin saat ini hanya bisa berharap polisi tidak menangkapnya. Atau Daddy dan Mommy pasti akan sangat marah padanya.


...— MUSE S7 —...


...Ternyata Levin nakal banget!!...


...😱😱...


...Minta digebukin nih si bocah!!...