MUSE

MUSE
S2 ~ MORNING



MUSE S2


EPISODE 59


S2 \~ MORNING


\~ Aku melakukan semua ini demi berdekatan dengan seorang wanita, demi Kalila. Ternyata aku benar-benar sudah dibuat gila karenanya.\~


•••


Kalila dan juga Angga sama-sama diam terpaku. Pandangan mereka menyiratkan ada sesuatu hal yang belum terselesaikan dalam hubungan mereka. Dan aku tak menyukainya.


“Kalian saling mengenal?” tanyaku penasaran.


“Iya. Kami...,” jawab Angga.


“Kami teman sekolah dulu,” sela Kalila. Wajahnya sedikit panik.


“O..., begitu.” Aku berusaha untuk mengerti.


“Baik, silahkan dinikmati kopinya.” Kalila menjauh pergi. Kembali ke dalam cafe.


Aku meneruskan obrolanku dengan Angga. Designer muda di depanku ini punya prestasi yang cukup gemilang. Kreatifitas dan idenya untuk mengembangkan karakter game agar bisa dinikmati oleh semua kalangan usia cukup membuatku kagum. Padahal masih muda tapi harus ku akui dia begitu luar biasa.


“Kapan saya mulai bekerja?”


“Aku akan membuat kantor cabang di kota ini. Kau bisa bekerja di sini ataupun di pusat. Pilihan di tanganmu.”


Angga tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk bekerja di kota ini, “saya akan bekerja dengan baik, Tuan.”


“Baiklah. Senang mengenalmu, Angga.”


“Saya juga. Game buatan anda benar-benar menyelamatkan masa kecil saya.” senyumnya senang, aku ikut senang mengingat hasil kerja kerasku membekas di hati seseorang.


“Tuan, pemilik gedung dan notaris mengajak makan malam untuk tanda tangan dan balik nama bangunan.” Aleina mendekat padaku.


“OK, naik mobilku saja.” Aku melempar kunci mobilku pada Aleina.


“Tuan Angga, anda bisa kembali ke hotel dengan sopir. Silahkan bersantai dan nikmati kopi anda.” Aleina meninggalkan Angga dan masuk ke dalam mobil.


Akupun bergegas menemui Kalila, setidaknya akan banyak hal yang harus aku urus beberapa hari ke depan. Pembentukan kantor cabang akan menyita waktuku. Aku harus melihat senyumnya sebelum berpisah bukan?


“Baby...?” panggilanku membuyarakan lamunannya. Siapa yang dia lamunkan? Jangan bilang Angga!


“Ah, kenapa, Kak?”


“Aku pulang dulu, ya. Aku akan kemari lagi besok.”


“OK,” tangannya membentuk tanda OK sebagai isyarat setuju.


“Jangan nakal, baby!” bisikku, aku sebenarnya ingin mengecup pipinya. Tapi dia pasti akan marah dan memukulku lagi.


Setelah berpamitan aku masuk ke dalam mobil. Aleina sudah menungguku. Bisa ku lihat dari kaca spion, Angga terlihat memandang ke arah cafe dengan wajah sendu, sebelum akhirnya memasuki mobil. Membuatku penasaran dengan hubungan mereka dahulu.


“Aleina, setelah semuanya selesai. Selidiki masa lalu Angga dan apa hubungannya dengan Kalila?” perintahku.


“Baik, Tuan.”


— MUSE S2 —


•••


Sudah seminggu ini pekerjaanku begitu menguras energi. Bagaimana tidak, aku tak bisa bertemu dengan Kalila. Entah apa dia juga merasakan hal yang sama?


Noah dan beberapa ahli IT ikut pindah ke kota ini. Aku juga membeli hampir setengah juta dollar sambungan perangkat lunak dan perangkat keras sebagai penunjang perusahaan. Maxsoft adalah perusahan game dan software yang bonafide tentu saja perangkat pendukungnya harus yang terbaik.


Belum terhitung uang yang aku keluarkan untuk membeli gedung dan juga mess karyawan. Aku melakukan semua ini demi berdekatan dengan seorang wanita, demi Kalila. Ternyata aku benar-benar sudah dibuat gila karenanya.


“Tuan, ada yang mencari anda.”


“Siapa?”


“Nona Diana.”


“Ah, bagaimana dia bisa tahu?” pikirku aneh.


Tak lama setelah Aleina keluar Diana masuk. Wanita cantik itu duduk di depanku, sedangkan pria tua yang mengikutinya membawa karangan bunga plastik dan meletakannya di meja tamu.


“Selamat atas pembukaan kantor cabangmu, Vin.” ujarnya.


“Bagaimana kau tahu? Aku bahkan tak mempublikasikannya ke media.” tanyaku heran.


“Tante Rose yang bilang.”


“Ah, Mama.”


“Bagaimana kabarmu? Kau tak pernah menghubungiku?” Diana meletakan lengan kurusnya pada sandaran kursi.


“Seperti yang kau lihat, aku sibuk mengurus kantor baru ini.”


“Sekedar makan malam tak akan membuatmu rugi, bukan?” Diana melipat tangannya di depan dada.


“Tidak, Diana. Aku tidak bisa,” tolakku. Aku saja kehabisan waktu untuk Kalila, mana mungkin aku malah memberikan waktuku untuk wanita lain.


“Baiklah, setidaknya hubungi aku.” Diana berdiri dan keluar dari ruang kerjaku.


“Sama-sama.”


Bunyi hentakan sepatu hak tinggi terdengar semakin lirih dan akhirnya menghilang seiring dengan kepergiannya. Aku menghela napas dan menghubungi Mama.


“Ma, kan udah Arvin bilang. Arvin punya pacar. Kok masih hubungin Diana?” protesku.


“Mana buktinya? Mama nggak mau kamu bohongin, Arvin. Diana itu cadangan Mama kalau kamu coba tipu-tipu, Mama. Jadi kalau Minggu depan kamu nggak kenalin pacarmu, Mama lamar Diana untukmu!!”


“Apa???!! Jangan, Ma!! Arvin pasti bawa pacar Arvin minggu depan!”


“Good!! Awas kalau bohong.” ancam Mama.


Klik...


Mama mematikan panggilanku.


Wah, bisa gila aku. Sampai saat ini saja Kalila masih belum mau membuka hatinya untukku. Bagaimana bisa mengajaknya berpacaran dalam waktu satu minggu? Aku menjambak rambutku pelan. Pusing dengan situasinya.


“Tuan Arvin.” Aleina mengetuk pintu.


“Ada apa, Na?”


“Apartemen di samping kamar nona Kalila sudah selesai direnovasi. Anda sudah bisa menempatinya.” laporan Aleina membuatku tersenyum bahagia. Ah, akhirnya, baby, aku bisa melihatmu waktu bangun dan sebelum tidur.


“Saya sudah siapkan baju dan juga perlengkapan lainnya di sana.” tambah Aleina.


“Baik, Aleina. Terima kasih.” Aku menyeringai senang.


— MUSE S2 —


•••


Esok paginya aku sudah terbangun di rumah baru, tepat di sebelah kamar apartemen Kalila. Aku pulang cukup malam semalam, jadi aku tak bisa bertemu dengannya. Kalila juga pasti sudah tertidur karena lelah dan aku tak ingin mengganggu istirahatnya.


Kamar apertemen yang aku huni saat ini adalah gabungan dari 2 kamar lainnya. Karena terlalu sempit aku membeli 2 buah apartemen berjajar dan menyatukannya dengan connecting door. Bagaimana bisa Kalila tinggal di studio sempit seperti ini?


Untung saja designer interior yang dipilih Aleina membuat kamar ini menjadi terlihat cukup luas. Warna putih dan sedikit aksen kayu terlihat dominan melengkapi permukaan furniture. Iapun memilih sofa yang terbilang minimalis. Alasannya memilih warna-warna terang pasti supaya atmosfernya tak terkesan berat dan sempit.


Ada balkon pada tiap-tiap kamar. Sepertinya banyak tetangga yang memanfaatkan balkon untuk menjemur pakaian. Ada juga yang membuatnya sebagai teras untuk memandang langit biru. Beginilah kehidupan dalam apartemen, terkungkung dalam sebuah kamar semput dan kau harus bisa melakukan segala sesuatu di dalamnya.


Aku menguap dan berjalan menuju ke balkon. Mencari udara segar sebelum membersihkan diri. Siapa tahu juga aku bisa bertemu dengannya sebelum bekerja. Seminggu tak bertemu membuatku kehilangan semangat.


“Kalila sudah bangun belum, ya?” Aku melirik ke arah balkonnya. Hanya ada sebuah kursi rotan dengan beberapa pot cactus di pinggirnya.


SRAAK...,


Tiba-tiba suara pintu geser terbuka dari arah balkon Kalila. Suara itu langsung menyita perhatianku. Benar saja, Kalila muncul dengan secangkir air. Ia menguap dan merenggangkan tangannya ke atas. Dan yang paling membuatku tak berkedip adalah dirinya yang hanya memakai kemeja lengan panjang dan celana hot pants pendek. Besarnya kemeja membuat sebelah pundaknya terlihat.


“Keberuntungan di pagi hari,” pikirku nakal.


Rambutnya yang hitam dan panjang masih terlihat berantakan, tapi entah mengapa malah terlihat begitu sexy bagiku. Di tambah dengan pahanya yang terlihat putih dan mulus. Membuat pikiran-pikiran liar terus bermain di dalam otakku.


Aku menyangga daguku dengan telapak tangan dan meletakkan sikuku pada pembatas balkon. Aku tersenyum sambil menunggunya menyadari kehadiranku. Setidaknya aku memilih diam agar bisa menikmati pemandangan indah ini lebih lama.


Akhirnya Kalila menoleh dan...,


BRUSHHH...!!!!


Kalila menyemburkan air di dalam mulutnya begitu ia melihatku.


“Arvin???!” teriaknya syok.


“Morning, baby!” sapaku senang.


— MUSE S2 —


MUSE UP


LIKE


COMMENT


VOTE


THANKS SAYANGKUH


Ada giveaway menarik buat para readers setia MUSE.


Caranya gampang;


•Baca dan like tiap episodenya, comment bila berkenang.


•Vote MUSE sebanyak-banyaknya.


•Masuk ke Grup Chat Author.


•Di tutup 15 Mei 2020.


•Pengumuman pemenang di Grup Chat!!


3 orang Readers yang vote MUSE paling banyak akan mendapatkan kenang-kenangan dari saya berupa kaos bertuliskan MUSE, bahan katun combet 30s